Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Menerima Takdir (Part 19)



Yuukaru pun kembali ke alam nyata, di mana Ryugai beserta dirinya tengah menengadahkan kepala memandangi bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit berwarna biru gelap. Bulan separuh yang tadinya berada di puncak langit mulai beranjak ke arah barat, siap untuk terbenam.


"Hei." Ryugai membuka pembicaraan setelah beberapa menit yang diisi oleh keheningan dan suara serangga malam berlalu. "Apa kau pikir tindakan yang kau lakukan sudah tepat?"


"Eh?" Senyum di wajah Yuukaru memudar. Dia menolehkan kepalanya ke arah Ryugai yang kemudian turut mengalihkan pandangannya dari langit berbintang. "Maksudmu?"


"Apa kau pikir dengan melarikan diri dari kenyataan, kau bisa mendapat kebahagiaan abadi?"


"Tentu saja," ujar Yuukaru. "Dengan melarikan diri dari kenyataan, kita bisa mendapat kebahagiaan yang seharusnya kita dapatkan."


"Kau salah." Ryugai menatap Yuukaru dengan tatapan serius.


"Eh?"


"Melarikan diri dari kenyataan untuk sesaat itu memang diperlukan, tapi kau harus pulang kembali kepada kenyataan. Kita semua memiliki rumah kita masing-masing, dan rumah kita bukan di sini. Ini memang tempat yang ideal untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi bukan tempat untuk pulang."


"Kau lupa? Kau punya keluarga juga. Keluarga yang setia menunggumu di rumah. Tempat di mana ada orang-orang yang menunggumu untuk pulang, tempat itulah yang pantas untuk menjadi sebuah rumah. Lagipula, bukankah kita semua ada di sini karena ingin mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi? Jika kita tidak pulang ke dunia nyata, lalu siapa yang akan mewujudkan dunia itu? Pelajaran-pelajaran hidup berharga yang kita dapatkan di sini akan berakhir sia-sia.”


“Bagaimana? Kau ingin tetap tinggal di sini selamanya dan mengabaikan tubuhmu di dunia nyata? Kau ingin membuat keluargamu yang berada di dunia nyata khawatir dan bersedih?"


"I-Itu ...."


Yuukaru menenggak ludahnya sendiri. Dia telah kehabisan kata-kata. Ucapan Ryugai memang benar. Dunia virtual ini adalah tempat yang ideal untuk merasakan kebahagiaan, tapi bukan tempat untuk pulang. Dia harus kembali ke rumahnya di dunia nyata. Dia tak ingin membuat keluarganya khawatir.


Ya. Kata-kata Ryugai telah mengalahkan keegoisannya sekaligus membangkitkan semangat juang di dalam dirinya. Dia tak bisa lari selamanya dari dunia nyata. Dia harus kembali bertarung dan tidak hanya bersembunyi seperti kura-kura.


"Hei ...." Mulut Yuukaru yang tadinya terkatup mulai terbuka kembali. "Jika aku pulang sekarang ..., apa menurutmu mereka akan menerimaku kembali? Aku sudah melarikan diri dari mereka."


Kilasan dari masa lalu mulai terproyeksi di benak Yuukaru. Sebuah kilasan ketika ia masih balita. Pada hari itu, dia keasyikan bermain bersama temannya sehingga menjadi lupa waktu dan tak sadar bahwa matahari sudah terbenam. Akhirnya, dia pulang ke rumah pada jam tujuh malam dengan sembunyi-sembunyi karena takut dimarahi orangtuanya. Dia tak berani membuka pintu dan masuk ke rumah, hanya bisa bersembunyi di balik tembok dekat jendela dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Namun, akhirnya ketahuan juga oleh ibunya yang keluar rumah beberapa menit setelah dia datang untuk membuang sampah.


"Oh, akhirnya kau pulang juga, Yuukaru." Di luar dugaan, bukannya marah, justru Sang Ibu tersenyum lembut. "Masuklah. Makan malam sudah siap di meja. Nanti keburu dingin, lho."


"Ibu ...." Dengan takut-takut, Yuukaru melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya. "Ibu tidak marah?"


"Untuk apa? Kau sudah pulang ke rumah sekarang, jadi untuk apa ibu marah?" Sang Ibu membelai rambut emas putri kecilnya dengan lembut. "Asalkan kau minta maaf dan berjanji takkan mengulanginya lagi, tidak ada masalah."


"Tapi .... Aku anak yang nakal ...." Yuukaru menundukkan kepalanya.


"Ibu adalah orangtuamu, dan ini adalah rumahmu. Jadi, ibu akan selalu membiarkan pintu rumah ini terbuka, karena ibu tahu kau akan pulang. Sebagai keluarga, ibu dan ayahmu akan selalu menerimamu kembali. Sekarang, ayo masuk. Nanti makanannya keburu dingin."


Mendengar kata-kata ibunya yang penuh kasih sayang, ketakutan Yuukaru kecil pun sirna. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum riang."Ya!!"


Senyum mulai terlukis di bibir Yuukaru. Dia bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya yang diterpa cahaya rembulan menghadap ke arah Ryugai. Angin malam membuat rambut keemasannya sedikit berkibar. “Aku sudah memutuskan. Aku akan berhenti lari dari kenyataan. Aku akan kembali bertarung. Aku tak ingin selamanya bersembunyi seperti pengecut.”


“Aku ... akan kembali ke dunia nyata!!”


To be continued


Next Chapter:


Day 63: Surat Cinta (Part 20)