
"Hei, Otomura!!" Suara feminim itu memanggil di tengah-tengah keramaian Akademi Sihir Zanz saat jam pulang sekolah. Otomura menoleh dengan malas. Tampak seorang gadis berambut keemasan sebahu dan berseragam tengah berdiri di sampingnya. Ya, dia adalah Yuukaru.
"Apa kau memiliki rencana malam ini? Atau kau senggang?" tanyanya dengan agak memiringkan kepala.
"Tidak ada. Aku tidak memiliki rencana dan tidak ada PR juga, tapi aku juga tidak ingin ke mana-mana. Aku ingin segera pulang ke ranjang yang empuk di rumah itu," sahut Otomura dengan acuh. "Atau kalau bisa, aku ingin cepat-cepat keluar dari dunia virtual yang penuh dengan kepalsuan ini. Semua ini palsu, kau tahu?"
"Memang, tapi setidaknya semua orang di sini baik hati, 'kan?" ujar Yuukaru.
"Apanya yang baik hati?" Otomura mengerutkan keningnya dengan kesal. "Kita tidak tahu para developer sialan itu memprogram jiwa virtual mereka seperti apa. Bisa saja mereka sebenarnya diprogram untuk menjadi mesin pembunuh yang menyiksa kita secara virtual. Aku tidak pernah ingin dikirim ke dunia yang penuh dengan kepalsuan dan ketidakjelasan ini, dan aku juga tidak ingin bersekolah di Akademi Sihir ini. Kekuatan sihir yang kudapatkan cuma kumpulan data, apa gunanya? Sialan. Kita jadi terjebak di sini gara-gara para developer sialan itu."
Sebulan telah berlalu sejak Otomura serta Yuukaru dipaksa melakukan login ke dunia virtual ini. Mereka berdua tinggal bersama pria tua kemarin — Kakek Yurato — di desanya yang bernama Arafubi. Yuukaru mampu bergaul dengan banyak warga desa dengan mudah karena sifat periang serta ramahnya. Sebaliknya, Otomura justru lebih sering memancarkan aura kebencian kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga hanya ada satu-dua orang yang mau menjadi temannya. Itupun tanpa pengakuan dari Otomura sendiri. Pemuda berambut emas yang penggerutu itu hanya menganggap mereka sebagai orang-orang menyebalkan yang selalu mengganggunya, walaupun sebenarnya mereka sedang mencoba untuk berteman dengannya.
Atas saran Kakek Yurato, kini Otomura dan Yuukaru bersekolah di Akademi Sihir Zanz karena akan sangat merepotkan jika mereka tidak menguasai sihir di dunia virtual yang penuh dengan hal-hal fantasi ini. Beruntung sekali, karena mereka datang ke dunia virtual itu tepat di awal tahun ajaran baru. Yuukaru amat senang karena dia bisa mendapatkan teman-teman baru, sedangkan Otomura hanya menggerutu setiap harinya. Yah ..., kita tak bisa menyalahkannya, sih .... Dia menjadi seperti itu karena kisah hidupnya yang kelam.
"Jangan begitu. Siapa tahu kesempatan menjalani kehidupan virtual yang damai ini cuma datang sekali seumur hidup," sahut Yuukaru.
"Apanya yang 'damai?' Ini semua palsu!!! PALSU!!!" Saking gusarnya, Otomura sampai menendang dinding sekolah. Ia kemudian melenggang menuju pintu gerbang akademi yang berada beberapa meter di depannya, meninggalkan Yuukaru di belakang. "Lupakan. Aku mau pulang."
"Hei!! Tunggu!! Tunggu!! Tunggu!! Tunggu!!" Yuukaru menarik bahu Otomura dengan kasar, membuatnya nyaris tersandung dan terjatuh ke belakang.
"Apa-apaan, sih?!" Otomura menoleh ke belakang dengan penuh amarah.
"Kakek Yurato bilang kalau ada panti asuhan yang selalu dikunjunginya setiap kali dia mempunyai waktu luang. Dia akan mengunjunginya malam ini. Kau juga harus ikut, ya."
"Haaahh?" Otomura memasang sorot mata malas dan memalingkan wajahnya. "Buang-buang waktu saja. Lebih baik aku bergelung di balik selimutku yang nyaman di kamar itu. Walaupun sendirian, setidaknya nyaman dan damai. Kau saja yang ikut."
"Kalau kau seperti itu, tidak akan ada yang mau menjadi temanmu, lho," tegur Yuukaru. "Baik di dunia virtual ini maupun di dunia nyata."
"Biarkan saja. Teman juga tidak ada gunanya. Hanya datang di saat mereka butuh kita saja," sahut Otomura. "Mereka itu parasit."
"Kau harus ikut." Yuukaru mulai memaksa.
"Kau tidak bisa memaksaku." Otomura tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Kalau begitu ...." Yuukaru menyeringai bengis dengan aura mengerikan di sekitarnya. "Tidak ada makan malam untuk hari ini ...."
Mendengar itu, kedua mata Otomura membelalak. Tiba-tiba, dia memasang posisi berlutut dengan satu kaki layaknya gaya hormat prajurit kepada kaum bangsawan. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. "Perintah anda adalah segalanya bagi saya, Tuan Putri."
"Nah, begitu, dong." Seketika, aura jahat menghilang dari udara di sekitar mereka berdua. Senyum riang tergambar di bibir Yuukaru. "Sekarang, ayo kita pulang."
Yuukaru melangkah menuju gerbang akademi, sementara Otomura mengekor di belakangnya sambil mendengus dan berdecak kesal.
"Sialan ...."
To be continued
Next Chapter:
Day 63: Panti Asuhan (Part 16)
Tepat pada chapter ini, Purity Online berhasil tembus 50 ribu kata jika dihitung total katanya secara keseluruhan, lho!! Wah!! Dan viewsnya juga sudah tembus 6K!!
Terima kasih atas dukungan kalian para readers setia walaupun kadang masih ada yang jadi siders 😅(eh kok malah jadi curhat woi!!). Tanpa kalian, pencapaian ini takkan terwujud. Terima kasih banyak. Terus pantengin novel ini sampai selesai, ya. Ini sebenarnya juga sudah mau tamat, sih. Cuma sisa backstorynya Otomura dan Yuukaru, Epilog, dan After Story. Yaahh ..., kira-kira 13 chapter lagi laaahh ^^ Kalau bisa author akan tamatin tepat di chapter 80. Doakan ya supaya author punya cukup niat dan waktu luang untuk menamatkan novel satu ini sehingga tidak terbengkalai.
Sekian dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^ Bye!!
-Author (AojinSuzaku)