Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 58: Kebangkitan dan Kematian Dua Api Semangat



Ini benar-benar seperti mimpi buruk. Orangtua kami berjuang hingga mengorbankan nyawa mereka untuk melawan gerombolan serigala, hanya untuk tewas dan membiarkan ruang penyimpanan dibobol oleh binatang-binatang buas itu. Jadi, sebenarnya apa arti dari perjuangan mereka?


Apakah semua perjuangan dan pengorbanan mereka adalah suatu kesia-siaan? Jadi, apa sebenarnya makna dari hidup mereka? Apa yang mereka rasakan ketika sedang berada di detik-detik terakhir hidup mereka? Apakah mereka bahagia ... ketika mengetahui bahwa ending dari hidup mereka seburuk itu? Apakah mereka mampu menerimanya? Ataukah mereka mati dalam penyesalan dan keputusasaan akibat ketidakberdayaan mereka?


Apakah mereka ... bahagia di alam sana? Ketika mengetahui bahwa meskipun mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk hidup secara maksimal, ending yang menanti mereka adalah ending yang seperti ini?


Pada saat itu, aku membatin: "Takdir pasti sedang bercanda. Dewa juga pasti sedang bercanda. Hei, jika memang dugaanku ini benar, biarkan aku menyampaikan bahwa CANDAAN KALIAN TIDAK LUCU SAMA SEKALI!!!"


Ya .... Apa yang lucu dari penderitaan kami? Apa yang lucu dari semua tragedi yang menimpa keluarga ini? Apakah Dewa merasa lucu ketika sedang menyiksa kami seperti ini? Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku berharap agar setidaknya Dewa memberi Happy Ending pada kisah dari keluarga kami, tapi kenyataannya ....


Di mana Happy Ending yang selalu dibicarakan oleh orang-orang itu? Apa kami masih harus menunggu? Berapa lama lagi kami harus menunggu untuk itu? Satu tahun lagi? Satu dekade lagi? Setengah abad lagi?


"Sekarang, satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah menerima begitu saja hidup yang kejam dan tidak adil ini. Ya ..., kurasa pasrah adalah jalan terbaik. Satu-satunya jalan yang membawaku menuju 'kedamaian', walaupun aku sendiri tidak tahu apakah itu bisa disebut sebagai kedamaian atau tidak." Begitulah isi pikiranku waktu itu.


Namun, kemudian aku teringat akan pesan yang terlontar dari mulut ayah dan ibuku sebelum mereka pergi bersama Senshi untuk melindungi ruang penyimpanan pada suatu malam. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada kami bertiga, tolong lanjutkan perjuangan kami dan berusahalah untuk menjalani hidupmu secara maksimal meski sendirian. Jika Senshi selamat, rawat dan jagalah dia dengan baik seperti kau menjaga dan merawat sebuah peti harta karun. Berjanjilah bahwa kau akan memenuhi permintaan kami ini. Kau adalah anak tertua di keluarga ini. Kami mengandalkanmu, Yamarashi." Begitulah bunyi pesan mereka.


Pada saat itu juga, aku menyadari bahwa justru kekejaman dan ketidakadilan dalam hidupku inilah yang membuatku harus terus berjuang. Jika aku diam saja dan mengabaikan kekejaman ini serta menyamarkannya sebagai kedamaian, hidupku akan terasa seperti sebuah kebohongan. Aku harus menggunakan hidupku semaksimal mungkin, tak peduli ending seperti apa yang akan kudapat di bagian akhir nanti. Tragedi ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku harus terus berjuang, sebab aku tidak akan pernah bisa menerima hidup yang tidak adil ini.


Hidup ini adalah satu-satunya yang kumiliki. Aku tidak bisa menggantikannya secara paksa dengan hidup lain yang lebih bahagia dan damai. Aku tidak bisa memalsukan hidupku yang tragis sebagai sebuah kedamaian. Aku sendirilah yang harus mewujudkan kedamaian itu dalam hidup ini.


Kobaran api semangat kembali mengisi jiwaku. Aku pun meneruskan perjuangan kedua orangtuaku serta berusaha menjalani hidupku secara maksimal. Namun, kelihatannya Senshi masih belum mampu untuk pulih dari tragedi di malam itu. Setiap hari, dia selalu mengurung diri di kamarnya sambil menangis dengan suara keras. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk menghiburnya dan membujuknya keluar, tapi semuanya gagal. Hari demi hari berlalu dan keadaan Senshi belum membaik juga.


Akhirnya, tiga minggu setelah tragedi itu terjadi, Senshi berhenti menangis dan keluar dari kamarnya. Aku tersenyum senang karena kukira dia sudah kembali menjadi adikku yang biasanya. Namun, ketika aku menyapanya, dia menjawab dengan nada suara dan wajah yang datar. Kedua matanya juga tak memancarkan sedikitpun harapan untuk hidup. Detik itu juga, aku menyadari bahwa dia bukan Senshi yang dulu lagi. Senshi yang kukenal sudah mati, dan akulah yang telah membunuhnya.


 --------------------------------------------------------


"Begitu, ya ...." Yamamura meraba dagunya. "Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, Yamarashi. Jika kau tidak mencegah Senshi kembali ke depan ruang penyimpanan saat itu, mungkin saja dia sudah tidak ada di dunia ini lagi sekarang. Kata-katamu pada waktu itu memang terkesan keras dan negatif, tapi itu satu-satunya cara yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkannya."


"Ya, tapi tetap saja aku merasa bersalah atas-"


"AAAAUUUU!!"


Lolongan serigala yang nyaring memecah ketenangan malam sekaligus memotong ucapan Yamarashi, disusul oleh lolongan-lolongan dari serigala-serigala lain. Kawanan serigala itu pasti sudah berada di dekat rumah.


"Suara lolongan Dire Wolf yang pertama tadi lebih nyaring daripada lolongan-lolongan yang pernah kudengar sebelumnya," ujar Yamamura dengan raut wajah yang tampak waspada dan serius.


"Berarti sumber suaranya berada di dekat sini .... Jika lolongan itu bertujuan memberi sinyal untuk berkumpul dan bersiap menyerang pada kawanannya, maka itu artinya ... kawanan serigala buas itu akan beraksi lagi malam ini!!" sahut Yamarashi dengan raut wajah yang tak kalah serius.


"Kita harus bersiap-siap, Yamamura!!"


To be continued


Yak, mohon maaf karena author sudah menghilang lagi selama hampir dua bulan dikarenakan harus mengurusi sekolah, tugas, dan kuliah 😅 Ini juga tahun depan pasti saya sibuk dengan berbagai ujian dan UTBK, karena semester depan adalah semester terakhir saya di SMA. Jadi, mumpung masih ada waktu luang dan sedang libur akhir tahun, saya akan usahakan untuk setidaknya menamatkan arc ini sebelum tahun 2021 berakhir.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, vote, dan comment. Sampai jumpa di chapter berikutnya!!


-Author