
"Ukh ...." Ryugai beranjak dari posisi berbaringnya ke posisi duduk. Di luar masih gelap karena ini baru jam tiga pagi. Pemuda itu tengah berada di ranjang klinik akademi sihir sehabis menjalani perawatan semalam. Dilihatnya temannya sedang tidur, beristirahat di ranjang di sampingnya. Luka-luka temannya tampak lebih parah daripada luka yang ia dapat. "Sepertinya Dewi Fortuna sedang memberkatiku," ucapnya sembari tersenyum.
Senyum tersebut kemudian digantikan oleh wajah serius. "Tapi, tak kusangka dia akan bertindak sejauh ini. Kupikir itu hanya omong kosong karena seminggu sudah berlalu dan tak ada apapun yang terjadi. Sial. Harusnya aku segera menyuruhnya mengaku menggunakan bukti itu."
"Hm? Di mana dokternya? Sedang pergi, 'kah? Kalau begitu, ini kesempatan!! Mungkin bukti ini bisa membantu penyelidikan. Untung aku selalu membawanya untuk berjaga-jaga, dan kelihatannya bukti ini tidak terkena dampak ledakan. Untung saja ada kertas hitam yang tersimpan di rumah, walaupun aku tidak tahu siapa pemiliknya dan dari mana ia mendapatkannya. Mungkin sistem dari game VRMMORPG ini yang menyediakannya."
————————————————————————————————
Security Spy Lamp (SSL) Documentation Room, Akademi Sihir Zanz, Desa Arafubi.
"Hmm ...." Seorang pria berkumis yang mengenakan seragam kepolisian dengan lambang pedang merah terang serta armor biru tua di punggungnya juga tulisan A.C.P. (Arafubi Central Police) di bawah lambang itu bergumam pelan. Pandangannya terfokus ke layar-layar sihir yang menampakkan hasil rekaman dari SSL (Security Spy Lamp) atau lampu pengintai yang berada di setiap ruangan. Fungsi lampu ini kurang lebih sama seperti CCTV. Lampu SSL berada di setiap ruangan di Akademi Sihir Zanz dan diciptakan dengan fungsi perekam dari sihir komunikasi tertanam di dalam tubuhnya. Disamarkan sebagai lampu sihir agar tidak terlihat mencurigakan meskipun dipasang di semua ruangan.
Bayangkan jika menggunakan benda lain, stiker misalnya. Semakin lama perekatnya akan semakin lemah sehingga suatu saat nanti pasti stiker itu takkan mau menempel lagi di dinding. Patung? Lebih aneh lagi. Akan aneh, 'kan, kalau ada patung di toilet?
"Berdasarkan rekaman SSL, sumber ledakan itu adalah semacam bom di dalam loker milik salah seorang korban, Ryugai, dan sekali tak ada yang menyentuh loker itu selain korban sendiri."
"Kalau begitu, kemungkinannya hanya satu, inspektur," ucap pemuda berseragam polisi di dekatnya. "Pelaku menggunakan sihir peledak."
"Putar rekaman SSL yang berada di ruangan-ruangan lain saat loker meledak!!" perintah Sang Inspektur.
"Baik!!" Operator SSL mengangguk tanda paham, kemudian bergegas memutar rekaman yang diminta.
"Pada waktu kejadian, ada tiga orang di sekolah selain kedua korban. Dua orang sedang mengerjakan remedial di kelas masing-masing dan satu orang tengah berada di toilet," terang operator tadi. "Satu orang lolos dari tuduhan, karena posisi SSL tidak membelakanginya. Kalau dia merapalkan sihir peledak, pasti langsung ketahuan."
"Kalau begitu, yang berada di toilet juga lolos dari tuduhan," ujar inspektur. "Karena untuk merapalkan sihir, dia harus mengeluarkan tongkat sihir yang dia sembunyikan di dalam seragam. Kalau sampai tongkat itu terpantul di cermin dan bayangannya terekam di SSL, tamatlah dia."
"Benar juga," timpal anak buahnya yang lain. "Kalau begitu, anak yang tersisa inilah pelakunya. Letak SSL membelakanginya, jadi dia bisa diam-diam mengeluarkan tongkat sihir mini dari dalam seragamnya dan merapalkan sihir tanpa ketahuan."
"Benar juga, anak ini menguasai sihir peledak bertipe kegelapan," sahut kepala sekolah. "Dia dari kelas yang sama dengan Ryugai. Kalau tidak salah, namanya Genbu Mikazaki. Kudengar dia memiliki dendam pribadi terhadap Ryugai."
"Berarti sudah pasti dia pelakunya. Tapi, susah, ya." Inspektur meraba dagunya. "Kalau cuma seperti ini, dia takkan mau mengaku. Kita perlu bukti. Berkas cahaya terakhir yang akan menerangi benang merah yang tersembunyi di bagian terdalam dari bayang-bayang misteri."
Suara tersebut membuat perhatian semua orang yang berada di ruangan dokumentasi SSL teralihkan. Tampak Ryugai sedang berjalan dengan langkah yang agak pincang memasuki ruangan. Perban masih membalut luka-lukanya. Senyum terukir di wajahnya.
"Ryu-Ryugai!!" Kepala sekolah menghampiri murid itu. "Kenapa kau ke sini? Bukannya lukamu belum sepenuhnya sembuh?"
"Saya datang untuk mengantarkan kebenaran kepada para polisi," sahut Ryugai.
"Mengantarkan kebenaran? Apa maksudmu?"
"Sebenarnya ..., sebelum teror bom itu terjadi, saya menerima sebuah surat ancaman. Namun, saya mengabaikannya karena saya pikir itu cuma ulah orang iseng. Saat saya pergi ke luar untuk berangkat sekolah, saya menemukan bukti ini." Ryugai mengenakan sarung tangan, merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan secarik lipatan kertas hitam dan membuka lipatannya. Tampak jejak dari sol sebuah sepatu tercetak di sana.
"Jejak sepatu ini tidak cocok dengan sol dari sepatu-sepatu yang ada di rumah saya. Saya ingat jejak ini. Ketika hari hujan dan saya berangkat ke sekolah sendirian, saya melihat Genbu sedang melangkah memasuki sekolah ini. Waktu itu, saya dan dia datang paling pagi sehingga tak ada jejak sepatu lain. Jejak ini mirip dengan ... jejak lumpur dari sol sepatu Genbu yang tercetak di lantai waktu itu. Saya melihatnya karena saya berjalan di belakangnya. Sangat jelas, sebab jejaknya tidak tercampur dengan jejak-jejak lain."
"Jika dia menggunakan sepatu sekolah saat menyusup ke rumah saya, jelas dia tak punya sepatu lain. Kalau tidak, dia pasti tidak akan mau mengambil risiko besar seperti ini. Dengan kata lain, kemungkinan besar pada jam enam pagi nanti dia akan datang ke sekolah dengan sepatu yang sama!! Tinggal cocokkan sol sepatunya dengan jejak sepatu ini dan dia takkan bisa mengelak."
Melihat cetakan jejak sepatu di kertas hitam tersebut, Sang Inspektur tersenyum.
"Berkas cahaya terakhir ... sudah ditemukan ...."
To be continued
Yap kenapa novel ini tiba-tiba jadi novel misteri? 😅Wkwkwkwk gapapa lah ya. Biar genrenya banyak dan readers makin tertarik.
Identitas si pelaku akhirnya terungkap!! Akankah dia mengaku? Saksikan di chapter berikutnya :v
Coming Soon:
Next Chapter:
Day 45: Pengakuan (Part 2)