
Dua belas tahun lalu ....
Desa Suzume, lereng Gunung Shizen.
Alarm kedatangan kereta berbunyi nyaring, disusul deru yang mengusir burung-burung yang tengah hinggap di pepohonan di sisi kanan dan kiri rel. Beberapa saat kemudian, rangkaian gerbong kereta api melintas dengan amat cepat, membelah udara. Begitu mendekati stasiun, masinis lekas-lekas mengerem kereta. Gerakan ular besi itu semakin lama semakin melambat, hingga akhirnya berhenti sepenuhnya. Satu-persatu pintu gerbong terbuka secara otomatis. Para penumpang bergiliran turun dari kereta, diikuti oleh orang-orang yang hendak masuk ke dalam gerbong kereta. Tentu saja dengan mendahulukan wanita hamil dan lansia. Setelah memastikan bahwa semua penumpang yang hendak naik telah naik dan seluruh penumpang yang hendak turun telah turun, pintu-pintu ditutup dan masinis kembali menjalankan kereta.
Di antara wanita-wanita hamil yang tadi turun terlebih dulu, terdapat seorang wanita dengan rambut keemasan yang diikat ekor kuda. Ia didampingi seorang pria berambut biru dengan gaya rambut acak-acakan yang menenteng tas kulit sintetis besar berwarna coklat cream. Mereka berdua adalah Ryugai dan Yuukaru.
"Akhirnya sampai juga." Yuukaru menghirup udara segar khas pedesaan sambil tersenyum senang. Dipandangnya langit biru yang cerah dan berhiaskan awan-awan seputih salju serta burung-burung yang sedang terbang bebas. Matahari tampak masih belum berada terlalu jauh dari cakrawala. Tepat di depan matanya, puncak Gunung Shizen terlihat dengan jelas.
"Sudah lama sekali, ya. Aku masih ingat saat aku dan orangtuaku meninggalkan desa ini untuk pindah ke kota. Kalau tidak salah, waktu itu umurku delapan tahun."
"Dasar .... Di mana-mana, orang itu kalau bulan madu ke luar negeri atau luar kota. Ini malah pulang kampung," gerutu Ryugai.
"Tidak masalah, 'kan? Sesekali kita perlu menyejukkan mata dan hati dengan pemandangan alam yang masih asri seperti ini. Anggap saja sebagai refreshing," sahut Yuukaru sembari mengalihkan pandangan ke arah suaminya.
"Tapi-"
"Ah, aku merasakan tendangan pelan dari dalam perutku. Tuh, anakmu juga tidak suka kalau ayahnya mengeluh terus. Kalau nanti anak kita ketika sudah besar jadi penggerutu, bagaimana?" Yuukaru menginterupsi protes dari Ryugai. Dia meraba perut buncitnya. Buncit karena berisi janin, lho, ya. Bukan karena kebanyakan makan.
Umumnya, pergerakan janin mulai terasa di usia 16-20 minggu atau 4-5 bulan. Usia kandungan Yuukaru sudah mencapai angka delapan bulan, jadi sudah memungkinkan bagi sang janin untuk bergerak. Namun, sebetulnya yang tadi itu hanya kebohongannya. Dia berpura-pura merasakan pergerakan supaya memiliki alasan untuk cepat-cepat mengakhiri perdebatan.
"Curang. Masa' memanfaatkan anak sendiri sebagai senjata untuk menyelesaikan masalah secara paksa." Ryugai mendecih kesal, kemudian memalingkan pandangan. Digembungkannya pipinya. Kini ia tampak seperti seorang anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan permen.
"Aku tidak memanfaatkannya, kok. Memang begitu faktanya." Sang istri menyahut sekali lagi. Itu membuat suaminya langsung mengangkat kedua lengannya sebagai tanda menyerah.
"Oke, deh. Kamu yang menang. Aku tidak akan mengeluh lagi."
"Janji?" Yuukaru mengacungkan jari kelingkingnya yang segera disambut oleh jari kelingking Ryugai. Senyum terukir di wajah pria berambut biru tersebut. Kedua kelingking mereka bertautan.
"Iya, janji."
"Oh, ya. Kenapa orangtuamu tidak ikut kemari? Ini, 'kan, kampung halaman mereka juga." Tiba-tiba, Ryugai mengajukan pertanyaan.
"Sudah kutawari untuk ikut, tapi mereka bilang tidak mau mengganggu bulan madu kita. Lagipula belakangan ini kulihat mereka agak lebih sibuk dari biasanya. Sepertinya mereka tidak mungkin punya waktu untuk ikut, deh," jelas Yuukaru.
"Oh, begitu .... Ya sudah, kita langsung saja ke rumah nenekmu. Dia pasti sudah menunggu."
"He-Hei, jangan lari-larian. Ingat, kau sedang mengandung."
"Iya, iya."
(Author: Gini amat nulis adegan romance :"(
Ryugai: Kenapa? Galau? Memang kau belum pernah pacaran, thor?
Author: Belum.
Ryugai: Ish, ish, ish. Kasihan.)
————————————————————————————
"Eh, Yuukaru!!" Bibi dari Yuukaru yang sedang menyirami tanaman di kebun depan rumah terlihat terkejut sekaligus senang melihat kedatangan keponakannya. "Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, Bi. Ayah dan Ibu juga baik-baik saja, hanya agak terlalu sibuk sehingga tidak bisa berkunjung kemari," ujar Yuukaru.
"Kabarku juga baik, Bi," ucap Ryugai. Dia tak perlu memperkenalkan diri terlebih dulu karena semua anggota keluarga besar Yuukaru telah mengetahui bahwa perempuan itu sudah menikah.
"Mari, masuk."
"Baik. Permisi ...."
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 46: Keluarga Besar
*Dango, dango, dango, dango. Dango, daikazoku~~*
Ryugai: Si author kenapa malah nyanyi, dah 🗿
(Buat yang gak ngerti, dalam bahasa Jepang, daikazoku \= keluarga besar. Dai \= besar. Kazoku \= keluarga.)