
Seperti yang sudah ditulis di penutup chapter sebelumnya, Arc 3 dengan judul Magic of Christmas sudah berakhir. Dengan ini, secara resmi (azek resmi, udah kek peresmian cabang perusahaan aja :v) Arc 4: Despair, Past, and Hope akan dimulai. Arc ini akan lebih berfokus ke **flashback dan kondisi para chara generasi pertama di Bumi. Jadi meskipun sekarang MCnya sudah ganti jadi Yamamura, para first generation tetap tidak akan diabaikan. Apalagi dinerf seperti di Boruto. Dan mereka juga akan punya peran yang cukup besar nantinya dalam plot. Penasaran? Ikuti terus novel ini :v (ditabok)**
Readers: promosi teros _-"
Oke. Tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai arc ini.
------------------------------------------------------------------
Matahari terbit dari balik cakrawala, menyinari kota Tokyo, Jepang. Sudah dua hari berlalu semenjak hari itu. Hari di mana Yamamura terjebak di dalam dunia virtual-reality yang ternyata merupakan hasil modifikasi dari sebuah dunia nyata bernama Neironius. Ryugai dan Yuukaru sudah melakukan segala cara, bahkan sampai memanggil petugas medis dan ahli alat VR, tapi hasilnya nihil. Mereka berkata kalau mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Pasangan suami-istri tersebut pun mulai putus asa.
Sementara itu, Otomura baru saja lepas dari kesibukannya dan bisa bernapas lega untuk sementara setelah sekian lama sibuk berkutat dengan pekerjaannya sebagai penulis. Dia memutuskan untuk menghirup udara segar sejenak di beranda apartemen sambil menikmati pemandangan musim semi yang hanya ada sekali dalam setahun.
Sesaat kemudian, pria berambut emas tersebut menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Meski masih musim semi, tapi tidak ada bunga sakura yang mekar. Malah mereka semua berguguran ke tanah tanpa ada satupun yang tersisa di pohonnya.
"Kenapa tidak ada yang mekar satupun?" Tatapan matanya mulai berganti menjadi serius.
Memang benar, durasi mekarnya bunga sakura berbeda-beda tiap tahunnya dan juga ada beberapa faktor lain yang memengaruhi seperti angin dan curah hujan, tapi ini terlalu aneh. Kalau gugurnya secara bertahap, mungkin masih masuk akal. Tapi, seingat pria itu sekitar dua hari yang lalu bunga-bunga sakura masih mekar sempurna. Bagaimana mungkin semua bunga sakura bisa berguguran hanya dalam waktu dua malam?
"Ini ... sama seperti waktu itu ...." Dia mengingat kembali kejadian ketika bunga sakura mekar di tengah musim salju, beberapa saat sebelum ia menemukan dan membaca surat terakhir dari adik perempuannya, Iruna.
"Kalau alam sudah menunjukkan fenomena aneh seperti ini, artinya ada sesuatu yang terjadi. Mungkinkah ini sebuah pertanda?"
"Waktu itu, sakura bermekaran dan aku mendapatkan kembali kebahagiaanku setelah membaca surat terakhir dari Iruna. Berarti, gugurnya bunga-bunga sakura yang janggal ini menandakan sesuatu yang buruk."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" batinnya sembari menggenggam poni emasnya, berusaha untuk berpikir.
"Perasaan apa ini?"
"Kenapa aku merasa cemas?"
"Rasanya seperti ... sesuatu yang gawat telah terjadi."
Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Otomura segera menyalakan hologram phone-nya dan mengecek message yang masuk. Di antara sekian banyak pesan elektronik itu, ada satu yang paling menarik perhatiannya. Pesan dari adik angkatnya, Yuukaru.
'Kakak, cepatlah ke sini. Ini gawat. Yamamura sekarang sedang koma. Kesadarannya terjebak di dalam dunia permainan virtual. Ryugai mulai putus asa dan kehilangan kendali. Dia butuh semangat dari kita.'
Melihat pesan itu, kedua mata Yamamura pun membelalak. Saking terkejutnya, dia nyaris menjatuhkan hologram phone-nya ke bawah beranda.
"Sudah kuduga ...."
"Firasatku ... ternyata benar!!"
"Aku harus cepat ke sana!!"
To be continued
Hai semuanya, author kembali. Maaf karena jarang up- *dilemparin pake tomat sama readers*
Wey, santai dong, santai :v Oke. Jadi sebelum para pembaca ngamuk, maka saya akan langsung closing saja tanpa basa-basi lagi. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya!! Author mau kabur dulu, bye!! *lari secepat kilat menghindari kejaran readers*