
"Kalau begitu, sampai nanti, ya, Senshi."
"Bersihkan rumahnya dengan baik, ya!!"
Setelah kedua kalimat itu terucap dari mulut Yamamura dan Yamarashi, pintu rumah pun tertutup, menyisakan keheningan yang dibumbui suara-suara langkah kaki samar mereka berdua. Sementara itu, Senshi mendengus kesal sembari membalikkan badannya. Ia baru saja diberi tugas tambahan oleh kakaknya.
"Kenapa aku harus dapat jatah membersihkan rumah sendirian di hari yang sama dengan jatahku untuk berburu? Kakak sialan, seenaknya saja. Mentang-mentang dia yang memiliki otoritas untuk menyusun dan memodifikasi jadwal," gerutunya.
"Tapi, ini tidak sepenuhnya buruk juga. Ketenangan seperti ini adalah hal yang paling kusukai," lanjutnya sambil mengambil kemoceng, sapu, dan serokan. "Baiklah, waktunya bekerja."
Namun, kelihatannya semesta tak memberi kesempatan bagi remaja malang itu untuk mendapatkan mood bagus. Baru saja dia memasuki dapur untuk mulai menyapu, sesuatu kembali membuatnya naik pitam. Dengan kekuatan penuh, ia meninju dinding dapur hingga menghasilkan suara yang nyaring.
"Dua orang itu ...." Urat-urat di wajah Senshi mulai timbul. "KALAU TIDAK MAU MEMBANTUKU MEMBERSIHKAN RUMAH, SETIDAKNYA CUCI PIRING KALIAN SEHABIS SARAPAN!!!"
(Author: Sabar, atuh, Senshi. Kalau nge-gas mulu, ntar bensinnya habis, loh ('-')/
Senshi: DIAM!!!)
------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa lama kemudian ....
"Akhirnya pekerjaan di lantai 1 beres juga." Senshi menyeka keringat di dahinya sambil menyandarkan punggungnya ke tembok. "Sekarang, tinggal membersihkan lantai 2."
Bocah itu melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga satu-persatu. Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di lantai dua. Dia segera memulai kegiatan bersih-bersihnya dari kamar yang dulu ditempati oleh kedua orangtuanya.
"Baguslah. Walaupun adventurer itu kelihatannya memiliki gaya hidup yang agak acak-acakan, dia ternyata tahu tata krama dalam menggunakan kamar bekas orang yang sudah tiada." Senshi menghembuskan napasnya dengan lega ketika melihat kasur dan perabotan yang tertata rapi.
Pikirannya mulai melayang, memasuki kenangan saat dirinya masih berusia lima tahun. Saat-saat di mana dirinya belum dihadapkan kepada kejamnya dunia dan masih berada di bawah perlindungan kedua orangtuanya.
------------------------------------------------------------------------------------
"Ayah ..., Ibu ...."
Ayah Senshi segera berpindah posisi dari berbaring menjadi duduk ketika melihat anak bungsunya itu berdiri di depan pintu kamar yang terbuka. Cahaya dari lampu yang ada di luar membuat suasana kamar yang tadinya gelap gulita berganti menjadi remang-remang. Pria tersebut mengucek-ucek matanya karena masih mengantuk, tapi masih menyempatkan diri untuk menyapa anaknya itu dengan sebuah senyuman.
"Yo. Ada apa, Senshi?" ujarnya. "Mimpi buruk lagi?"
"Pasti. Memangnya alasan apa lagi yang bisa membuatnya datang ke kamar kita malam-malam begini?" sahut Ibu Senshi yang juga baru saja terbangun sambil tertawa kecil. "Kalau takut, kamu boleh tidur bersama kami, kok, Senshi."
"Terima kasih, tapi ...." Senshi menyingkir dari depan pintu, memperlihatkan Yamarashi yang sedang berdiri di sampingnya.
"Lah, Yamarashi juga? Kalian berdua dapat mimpi buruk di saat bersamaan?!" ucap Sang Ayah dengan terkejut.
"Apa boleh buat .... Malam ini, kita tidur berempat. Kalian berdua akan tidur di tengah," ucap Sang Ibu.
Mendengar itu, Senshi dan Yamarashi tampak senang. Mereka berdua langsung tersenyum dan melakukan high-five.
"Yeay!!!"
------------------------------------------------------------------------------------
"Benar-benar aneh. Padahal mereka sudah tidak ada lagi di sini, tapi aku masih merasakan aura hangat yang biasanya mereka hasilkan." Senshi berucap sambil menatap perabotan peninggalan kedua orangtuanya.
"Hei, Ayah, Ibu. Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti. Kenapa kalian berjuang sekeras itu ... walaupun sudah tahu akan kalah?"
"Aku bahkan juga tidak mengerti, kenapa diriku yang dulu memaksakan diri untuk berjuang, dan mengapa kakak tiba-tiba menjadi sama seperti diriku yang dulu. Kenapa manusia rendahan seperti kami begitu nekat, sampai mempertaruhkan segalanya dan membiarkan diri kami dibutakan oleh harapan? Kenapa manusia-manusia lemah tidak bisa menyadari sesuatu yang bernama 'kemustahilan' dan menerima ketidakadilan serta kekejaman dalam dunia ini?"
"Kenapa ... manusia terus bertarung dan menolak untuk menerima kenyataan? Apa gunanya terus bergelantungan pada idealisme mereka?"
"Tindakan yang tidak rasional itu ..., aku sangat tidak mengerti kenapa manusia melakukannya."
"Sebagai makhluk hidup yang memiliki akal pikiran, seharusnya manusia tidak bersikap seperti robot yang merupakan benda mati."
"Tunggu ..., benda mati?"
Mendadak, Senshi teringat kembali akan motivasi aneh yang diberikan oleh Yamamura tadi pagi.
"Ucapanmu itu memang benar. Namun, terkadang kita juga bisa mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang dalam dari mereka yang tidak bernyawa, bahkan jauh lebih dalam daripada nilai-nilai yang kita dapatkan dari mereka yang bernyawa."
"Nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil dari benda mati ..., apakah yang dia maksud adalah ketegaran? Tapi, apakah itu pantas menjadi nilai kehidupan? Tisu tidak memiliki kesadaran, jelas saja dia tidak bisa mengeluh."
"Tunggu ..., itu dia!!" Kedua mata Senshi membelalak. "Jika benda mati memiliki ketegaran tinggi, maka itu adalah suatu hal yang biasa karena ia tidak memiliki kesadaran dan saraf perasa sakit. Namun, jika manusia yang memiliki kesadaran dan saraf perasa sakit mampu menyaingi ketegaran yang dimiliki oleh benda-benda mati, maka itu jelas suatu hal yang luar biasa."
"Jadi, inilah yang dia maksud dengan 'hidup seperti tisu toilet'. Meski hidup dengan dipenuhi rasa sakit, tapi tetap memberi manfaat untuk orang lain."
"Memberi manfaat bagi orang lain akan berujung pada relasi, sesuatu yang paling aku hindari. Lagipula, takdir makhluk kecil sepertiku bukanlah menjadi pahlawan, penolong, atau penyelamat. Aku hanya lahir untuk gagal dan menjadi pecundang."
Kilas balik detik-detik sebelum kematian kedua orangtuanya mulai memenuhi pikirannya, membuatnya menundukkan kepala dalam-dalam.
"Bahkan aku gagal untuk menyelamatkan ... dua orang yang paling berharga bagiku ...."
Kemudian, ia teringat kembali akan sebuah momen yang terjadi di masa lalu. Momen yang jauh dari kalimat 'adegan terbaik dalam drama kehidupan', tapi cukup untuk memberi kebahagiaan yang besar baginya.
------------------------------------------------------------------------------------
"Hah~~ Akhirnya kawanan serigala itu pergi juga." Ayah dari Senshi dan Yamarashi menyandarkan punggungnya di dinding dan duduk sambil menghela napas lega. Senjatanya ia baringkan tepat di sebelahnya.
"Kau tidak apa-apa, 'kan, suamiku?" tanya istrinya, yang juga merupakan ibu dari Senshi serta Yamarashi.
"Tak perlu khawatir," sahut Sang Ayah. "Aku hanya memperoleh luka-luka ringan yang akan sembuh dalam hitungan hari. Bagaimana denganmu?"
"Sama denganmu," sahut Sang Ibu.
"Baguslah .... Ah, ya. Senshi!! Kemari sebentar. Ayah ingin bicara sesuatu denganmu."
"Ya? Ada apa?" ujar Senshi sambil menolehkan kepalanya setelah usai menyeka keringatnya.
Dia segera menghampiri ayahnya itu, tapi langkahnya segera terhenti begitu ia melihat aura gelap dan mengerikan yang terpancar dari tubuh ayahnya.
"Kau ini ...." Kedua tangan kekar milik pria tersebut mencengkram kerah baju Senshi. Sepasang matanya memancarkan cahaya putih yang seram. "Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk mundur jika kau terpojok?! Kenekatanmu itu bisa membunuhmu, tahu!! Dasar bodoh!!!"
"Hiii!!! Maaf!! Maaf!! Maafkan aku!!" Senshi berulang kali meminta maaf dengan ketakutan.
""He-Hei, bukannya itu terlalu berlebihan?"" Yamarashi dan ibunya tampak khawatir melihat aksi kepala keluarga mereka tersebut.
"Ah, sudahlah. Tak perlu meminta maaf." Sang Ayah melepaskan cengkeramannya, kemudian kembali bersandar ke tembok ruang penyimpanan daging.
"Ayah tidak marah?" tanya Senshi.
"Untuk apa marah?" ucap Ayah sambil tertawa. "Kau sudah melakukan hal yang bagus. Berkat keberanianmu, potongan besar daging terakhir kita berhasil terselamatkan."
"Yah, walaupun hasilnya jauh dari kata 'sukses besar', tapi tindakanmu itu cukup hebat untuk seorang pemula. Kerja bagus, nak. Tak sia-sia aku menamaimu 'Senshi'." Ia tersenyum lebar dan meraba puncak kepala anak bungsunya tersebut.
Senshi pun turut tersenyum lebar, hingga lesung pipitnya terlihat. Rasa takutnya telah digantikan oleh kebahagiaan dan kebanggaan.
"Terima kasih, Ayah."
------------------------------------------------------------------------------------
"Sudah lama sekali ... aku tidak merasakan rasa senang dan bangga itu," ucap Senshi.
"Perasaan yang muncul karena berhasil melindungi sesuatu dan berjasa bagi orang lain. Selama ini, aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya karena ragu apakah aku masih mampu melangkah maju lagi atau tidak setelah tragedi di malam itu. Namun, sebenarnya aku sangat merindukannya. Kata-kata penuh rasa syukur dan bangga itu ... adalah kata-kata yang paling ingin kudengar."
"Mungkin ini akan berakhir dengan kesia-siaan, tapi ... aku akan mencoba melangkah maju satu kali lagi. Aku akan mencoba bertindak tidak rasional seperti kakak dan adventurer berambut emas itu." Ia melanjutkan ucapannya sambil menatap langit biru berhiaskan awan putih di luar jendela kamar. Kelihatannya, tekad lamanya sudah mulai kembali.
"Malam ini ..., aku akan memberi satu kesempatan lagi kepada diriku."
"Untuk menguji konsep 'kekuatan tekad' yang dipegang teguh oleh adventurer itu."
To be continued
Halo, halo. Selamat pagi. Author kembali setelah cuti (baca: mati suri) selama 4 bulan 🐦🙏
Readers: Anda siapa, ya?
Me: Njir, dilupakan *mojok sambil muter soundtrack Sadness and Sorrow*
Readers: Ya habis anda lama banget ngilangnya, kirain sudah ke isekai ('-')/
Me: Mana ada ke isekai, oi!! Masih hidup saya!! 🤬🤬🤬 Lagian saya ngilang juga karena kuliah.
Readers: Ah, boong .... Bukannya gara-gara kecanduan nonton Kamen Rid- *dibekap mulutnya pake pentagram of creator*
Me: Yak, sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment. Oh, ya. Selamat menikmati weekend. Sampai jumpa di chapter berikutnya. Bye bye!!
Readers: Dasar author tukang mute suara pembaca _-"