
"Setelah kematianku, aku bertemu dengan wanita berjubah hitam itu."
"Wanita yang di kemudian hari memberiku ... sesuatu untuk kulindungi."
Setelah itu, penglihatan Yamamura dipenuhi oleh warna hitam kelam, sebelum akhirnya kesadaran bocah itu kembali. Ia mendapati dirinya masih berada di Winter Region, menahan serudukan sang monster rusa. Dia lengah sesaat gara-gara penglihatan tadi dan terlempar ke belakang. Busurnya terlempar sejauh beberapa meter ke arah berlawanan. Untung saja tanduk tajam milik si rusa tidak menghujam di bagian vital. Ia mengelap darah di bibirnya sembari terduduk di salju.
"Wanita yang dimaksudnya itu ... apa dia juga yang menjebakku di dunia ini, ya?" batin Yamamura. "Soalnya waktu itu suara menggema yang kudengar dari langit juga suara seorang wanita."
"Sebaiknya hal itu tidak kutanyakan. Lagipula, mana mau dia menjawabnya. Itu sama saja membocorkan identitas bosnya sendiri."
"Jadi, kau dulu juga manusia sepertiku? Tapi kau menjalani hidup yang tragis. Lalu ... kau sampai di dunia ini dan mendapatkan wujud ini?" tanya Yamamura.
"Dan sesuatu untuk dilindungi yang kau maksud ... adalah Winter Region ini, bukan?"
Si monster rusa, Rudolf, menggeram dengan suara yang menyeramkan sebagai jawaban.
"Aku tidak mengerti. Kenapa kau memberi penglihatan ini kepadaku yang notabene adalah musuhmu? Kenapa kau membiarkanku tahu tentang masa lalumu?" Yamamura mengerutkan alisnya.
"Itu karena ... informasi itu tidak akan pernah tersebar luas. Kau tidak akan bisa keluar dengan selamat dari wilayah ini," sahut Rudolf. "Kau akan mati di sini."
"Kau meremehkanku, ya?" Yamamura tersenyum karena merasa tertantang. Dia mengambil pedang yang merupakan senjata cadangannya dari inventory, kemudian melesat dan menebas tubuh Rudolf. Namun, sekali lagi serangannya gagal. Pedangnya malah terpental dan menancap di tanah bersalju.
"Kau tidak belajar dari pengalaman, ya?!" bentak Rudolf sambil kembali menyeruduk Yamamura hingga terpental.
Luka-luka baru yang lebih besar daripada luka sebelumnya muncul di tubuh Yamamura, mengeluarkan darah segar berwarna merah yang membanjiri tanah bersalju. Pemandangan yang terbilang mengerikan bagi seorang anak berusia dua belas tahun.
Kedua mata Yamamura membelalak lebar. Tubuhnya gemetaran melihat darah yang mengaliri sekujur tubuhnya. Langit mendadak berubah warna menjadi semerah darah dan badai salju berubah menjadi badai darah.
"Kuakui, untuk seorang adventurer baru, nyali, kecerdasan, dan keberuntunganmu cukup tinggi juga," ucap Rudolf. "Kau berani datang ke daerah di mana banyak adventurer profesional menghilang tanpa jejak meski rank-mu masih rendah. Kau bahkan berhasil melewati jebakan-jebakan dan memecahkan teka-teki di Great Wall Dungeon. Tapi ..., keberuntungan itu berakhir di sini!! Kau akan mati!!!"
"Da-Darah ...?"
Yamamura kembali teringat akan mimpinya pagi tadi. Ternyata dugaannya benar. Adegan ini mirip dengan mimpi itu. Apa yang selama ini ditakutinya benar-benar terjadi. Dia menyesal telah meremehkan rumor tentang Winter Region.
"Kepahitan dalam hidupku ... telah memberiku kekuatan ini!! Kau sudah mengganggu rencana kami. Jadi, sekarang kau harus mati!!! Matilah seperti serangga!!! Hahahahaha!!!"
Tawa jahat Rudolf mengiringi suara badai. Wajah Yamamura semakin pucat. Bocah itu semakin ketakutan. Bayangkan, anak yang baru berumur 12 tahun disuruh melihat pemandangan yang penuh darah seperti itu. Ditambah lagi, semua persenjataan yang dimilikinya sudah terlempar. Armor-nya juga sudah rusak parah.
"Jadi ini ... kekuatan Nightmare Reindeer Rudolf yang sebenarnya? Kekuatan yang membuatnya dijuluki sebagai monster dan ditakuti oleh orang-orang ...."
"Kekuatan mimpi buruk!!"
To be continued
Next Part:
[Season 2] Chapter 32: Kembali Ke Dunia Nyata?! Mimpi atau Bukan?!