
Di sini bagian dramanya sudah dimulai, jadi siapkan tisu sebanyak-banyaknya yaaa XD Kalau bisa bacanya sambil dengar lagu-lagu anime bertema depression, seperti Unjust Life dari Angel Beats dan Searching For Light dari Re: Zero S2.
------------------
"Hari-hari Natal di masa kecilku selalu dipenuhi oleh keajaiban. Rasanya seperti masuk ke dalam dunia dongeng. Tapi ..., keajaiban Natal itu ternyata tidak bisa bertahan selamanya."
"Seiring berjalannya waktu, aku terus tumbuh dewasa dan keajaiban Natal mulai berubah menjadi kutukan Natal."
Pemandangan yang serba putih tadi digantikan oleh pemandangan di mana seorang pria paruh baya yang sudah beruban sedang berlutut sambil memohon kepada pria lain yang berwajah sangar di halaman penginapan yang dilapisi oleh salju. Para pengurus panti ikut memohon, tapi si pria sangar terus mengeraskan hatinya.
"Ini ...." Yamamura melihat ke sekeliling. "Musim dingin? Tanggal berapa ini?"
"Hari Natal, setahun setelah aku bertemu dengan Santa untuk yang terakhir kalinya," ujar Rudolf yang berwujud monster.
"Terakhir? Apa maksudnya?" tanya Yamamura.
Tak ada jawaban. Hanya suara permohonan si pria paruh baya yang terdengar. Kelihatannya pria tua tersebut adalah pemilik panti asuhan ini.
"Tolong, Pak!! Jangan tutup panti ini!! Bagaimana dengan masa depan anak-anak di sini?"
"Aku tidak peduli!!! Jika kau tidak ingin mempertaruhkan panti ini, lalu kenapa kau sampai berhutang begitu banyak kepadaku?!"
"Uang kami semakin menipis, sedangkan kebutuhan anak-anak panti semakin banyak. Tolonglah, Pak."
"Kenapa tidak kau buang saja anak-anak tidak berguna itu?! Mereka memang sudah tidak punya masa depan dari awal!!!"
"Bagaimana mungkin saya tega melakukan hal sekejam itu, Pak."
"Sudahlah!! Tidak usah pakai banyak drama lagi!! Panti ini akan kututup!!! Tanah ini sekarang adalah milikku!!!"
Setelah melontarkan bentakan terakhir, sang pria sangar melangkah pergi dari halaman panti, meninggalkan para pengurus beserta sang pemilik panti yang tengah terduduk putus asa di atas salju.
(Note: Buat yang belum tahu, lintah darat adalah orang atau badan yang usahanya memberikan pinjaman dana kepada orang atau badan lain dengan mengenakan bunga yang sangat tinggi. Pemberian pinjaman ini biasanya dilakukan dengan cara memanfaatkan kelemahan atau kesulitan hidup dari peminjamnya. Seorang lintah darat tidak jarang mengancam bahkan tak segan-segan mengambil barang-barang milik peminjam apabila terjadi keterlambatan pembayaran.
Source: KBBI Online :v)
"Pemilik sudah berusaha sekuat tenaga untuk melunasi hutang itu, tapi takdir berkata lain. Pada akhirnya, tidak ada yang bisa menyelamatkan panti asuhan dari keserakahan sang lintah darat. Malam itu, panti asuhan yang merupakan tempatku tumbuh besar, tempatku pertama kali berinteraksi, dan tempat di mana aku mendapat kebahagiaan ... ditutup dan diratakan."
"Jika ini di film, mungkin akan terjadi keajaiban dan pemilik panti tiba-tiba mendapat uang yang sangat banyak, entah imbalan untuk kejujurannya karena mengembalikan dompet orang kaya yang terjatuh di jalanan atau pinjaman dari teman baiknya. Kemudian pemilik melunasi hutangnya dan panti asuhan berhasil diselamatkan. Tapi ..., itu semua terlalu bagus untuk terjadi di dalam realita .... Panti itu benar-benar diratakan untuk selamanya dan akan diganti dengan bangunan baru."
"Semua kebahagiaanku ..., semua kenangan yang sudah kuukir ..., dan semua relasi yang sudah kubuat, semuanya hilang hanya dalam waktu satu malam. Aku terpisah dengan teman-teman satu pantiku dan kami kehilangan tempat tinggal."
"Selama kurang lebih setahun, aku menjalani hidup dengan keras di jalanan. Tapi, aku terus berjuang untuk hidup. Aku masih belum mau menyerah. Aku tidak ingin menjadi pengemis sementara kondisi tubuhku masih memungkinkanku untuk bekerja. Aku bekerja sekuat tenaga. Dan aku berhasil ...."
"Aku diangkat menjadi anak oleh pasangan suami-istri yang baik dan berhasil mengembalikan kebahagiaanku yang dulu. Aku kembali bersekolah dan berteman dengan banyak orang. Tentu saja aku juga tidak melupakan soal Santa. Aku terus menunggunya datang setiap malam Natal. Berbeda dengan teman-temanku di panti dulu, orangtua angkatku tidak pernah menertawakan kegiatanku itu."
"Tapi ..., sejak panti itu ditutup, Santa tidak pernah datang lagi."
"Meskipun begitu, aku terus menunggu tanpa kenal lelah. Aku terus bekerja keras. Aku berusaha meraih prestasi di sekolah, baik di bidang akademik maupun olahraga. Aku terus berteman dengan banyak orang. Aku terus berjuang dalam hidupku secara maksimal supaya aku bisa membuat Santa bangga dengan pencapaianku saat kami bisa bertemu lagi nanti. Aku ingin membuatnya senang. Aku masih percaya pada Santa. Aku masih percaya pada keajaiban Natal. Mungkin bagi orang lain ini konyol, tapi aku tidak peduli."
"Tahun demi tahun berlalu. Aku sekarang sudah duduk di bangku SMA. Namun, pola pikirku masih sama seperti dulu. Aku masih berpikir kalau Santa itu benar-benar ada. Aku masih menunggunya setiap kali malam Natal tiba."
"Hingga ... hari itu tiba ...."
"Hari di mana aku menyadari ... bahwa keajaiban Natal hanyalah sebuah kebohongan."
To be continued
Next Part:
[Season 2] Chapter 29: Curse of Christmas (3)