Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 98



🌹 Happy Reading 🌹


"Mah, ayo kita pulang." Ajak Albert yang sudah melepaskan pelukanya pada tubuh Jenni.


Jenni bingung kali ini, apa yang akan dia lakukan sekarang. Dia menoleh pada kakaknya sekilas lalu kembali menatap ke arah Albert. "Mamah akan pulang ke Mansion Emilio ya Nak." Balas Jenni yang lebih memilih untuk pulang ke Mansion kakaknya.


Albert terdiam sesaat, lalu menoleh pada kakaknya yang berada di belakangnya untuk meminta solusi, "Mah, Albert udah menikah loh," sahut Alson yang mendapatkan ide agar Mamahnya itu mau pulang ke Mansion Papahnya.


Jenni tersenyum seketika, "benarkah Nak? Albert apa kamu sudah menikah Nak?" Tanyanya penuh antusias.


Albert menanggukan kepalanya singkat, "benar Mah, dan sekarang di perut istri Albert sudah ada Caby,"balasnya lagi dengan semangat yang penuh menceritakan tentang dirinya yang sebentar lagi menjadi seoarang ayah.


Jenni menyeritkan keningnya bingung. "Caby?" Lirihnya pelan bingung dengan sebutan yang sangat asing di telinganya itu.


"Caby itu calon baby Mah," sahut Alson yang lebih dulu menjawan pertanyaan Mamahnya.


Dan tiba-tiba saja Robert datang dan melangkah menuju Arvan yang masih belum mendapatkan perawatan.


"Lord, luka anda harus segera mendapatkan perawatan," seru Robert yang melihat wajah Arvan sudah memucat.


Arvan mengedipkan matanya memberikan kode pada Robert sebagai jawaban bahwa dia mau untuk ikut mendapatkan perawatan.


Robert yang melihat kode itu, kini langsung mendekat untuk memapah Tuanya itu.


Arvan melihat ke arah Jenni yang kini membuang pandanganya ke arah lain, lalu dia beralih pada Albert dan memberikan kode lewat matanya.


Albert yang melihat kode dari Papahnya itu langsung menganggukan kepalanya singkat sebagai jawaban bahwa dia akan berjuang agar Mamahnya mau pulang ke Mansion Papahnya.


Setelah mendapatkan jawaban pasti dari putra ya, Arvan dan Robert kini melangkah menuju mobil yang sudah siap untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.


Dan kini terisisa Twins A, Jesper dan Jenni yang berada di Mansion itu, sedangkan Brio dan Gina saat ini sudah berada di sebuah ruangan khusus di dalam Mansion itu, mereka berdua terus mencari bukti tentang apa yang masih tersimpan di dalam kerjaan bisnis milik Jacob.


"Mah, apakah Mamah tidak ingin bertemu dengan istriku?"tanya Albert dengan penuh harapan jika ini akan menjadi alasan untuk Mamahnya.


"Iyah Mah, istri Albert cantik loh Mah," sahut Alson juga, namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Albert.


"What?" Tanya Alson dengan santai, karna dia merasa jika tidak ada masalah jika dia hanya mengatakan bahwa Briell itu cantik.


"Jangan suka mikirin istri orang kak gak baik," lirih Albert yang membuat Alson memutar bola matanya malas.


Alson yang sudah malas mendengarnya kini langsung menggendong tubuh Jenni. "Ayo Mah, kita pulang," ucap Alson sambil menggendong tubuh Tua Mamahnya.


Jenni menganggukan kepalanya dengan lemah, lalu Jesper mengikuti langkah keduanya dari belakang.


"Cikh, dasar," umpat Albert ketika melihat Alson yang kali ini lebih unggul darinya.


Dan tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya, ingin melangkah mengikuti jejak kakak dan Mamahnya untuk pergi dari tempat ini, sebelum di munashkan oleh Robert.


Namun ketika dia berdiri, dia seperti merasa ada yang sedang memperhatikanya dari jauh, hingga dia menolehkan dirinya sekilas dan mencari sosok itu, namun dia tidak melihat siapa pun di sekelilingnya.


"Mungkin hanya perasaanku saja," imbuhnya pelan, berfikir jika apa yang dia rasakan saat ini adalah sebuah firasat yang tidak buruk.


Albert terus melangkahkan kakinya pergi menyusul langkah Alson dan Jenni yang lebih dulu meninggalkanya.


Sedangkan Gina dan Brio kini sudah lebih dulu keluar dari Mansion itu, dan berhasil menyalin data-data penting dari ruangan Jacob tadi.


Seakan-akan mereka masih menemukan kejanggalan yang masih belum bisa di ungkapkan.


Setelah melakukan perjalanan beberapa menit, kini Albert dan Jenni tiba di sebuah rumah sakit besar di negara itu untuk mendapatkan perawatan terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke Mansion Arvan.


Albert yang mendapatkan ruangan berbeda dari yang lainya, karna dia mengalami luka robek sangat banyak, membuatnya harus di observasi lebih lanjut.


Namun dia sedih, karna sahabatnya James harus mengalami keadaan kritis akibat luka yang begitu parah, bahkan dia harus melakukan transfutasi darah agar bisa melewati masa-masa kristia itu.


Albert kini berusaha menghubungi istrinya yang begitu sangat dia rindukan.


Tapi ini sudah panggilan ke tiga dia menelpon tidak di angkat oleh Briell. "Kemana istriku? Mengapa dia tidak menangangkat panggilan ku," lirihnya pelan menatap layar ponselnya yang mati.


"Telpon lagi lah," ucapnya lagi, lalu kembali menelpon istrinya.


Tuttttt,,tuttt,,tuuttt.


"Hallo." Sahut Briell di ujung sana.


Ada rasa kelegaan sedikit di hati Albert ketika mendengar suara istrinya. "Sayang, kamu kemana aja? Aku telponin dari tadi gak di angkat," cercanya pelan menuntut jawaban dari istrinya.


Dia begitu khawatir sekali istrinya itu akan kenap-kenapa, atau Caby mereka yang bermasalah.


"Aku tadi habis belajar masak sama Mommy dan Airein di bawah sayang," jawab Briell yang mengerti jika suaminya itu khawatir.


"Why, are you okay ? are you all safe ? Tell me all," timpalnya lagi, dengan suara yang sangat khawatir dan terdengar menangis, menuntut jawaban pasti jika semuanya baik-baik saja


Albert yang mendengar istrinya begitu khawatir padanya, kini tanpa terasa ikut meneteskan air mata kebahagiaanya. "Semua baik-baik saja sayang, Mamah juga sudah selamat, dan yang lain juga selamat," balasnya pelan namun terdengar jelas jika dia juga sedang menangis.


"Are you crying ha ? Albert apa kamu menangis?" Tanya Briell yang begitu mengenali suara suaminya yang pasti sedang menangis saat ini.


Albert menggelengkan kepalanya bodoh, karna jelas-jelas Briell tidak akan bisa melihat itu.


Hingga Briell mengalihkan panggilanya ke Mode Vidio.


Dan dengan cepat Albert mengangkatnya. "Sayang, apa kamu berada di rumah sakit?" Tanya Briell lagi yang melihat lengan suaminya kini terperban rapi.


Albert kembali menganggukan kepalanya pelan sebagai jawaban. "Iya sayang, aku dan lainya sedang berada di rumah sakit." Jawab Albert dengan tersenyum ramah, namun tidak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


Briell yang melihat suaminya menangis, sontak jadi merasakan khawatir yang berlebihan. "Sayang aku ke sana ya, aku takut loh, lukanya sakitkan, ada banyak gak lukanya? Aku ke sana ya," rengeknya seperti anak kecil yang ingin menemui orang tuanya.


"Tidak sayang, kesehatan kamu dan Caby kebih penting, aku baik-baik saja. Ini hanyalah sebuah luka kecil yang tidak berarti apa-apa dari hasil yang di dapatkan. Anggap saja jika ini adalah sebuah bayaran atas pembebasan Mamah." Jawab Albert lagi dengan senyuman kebahagiaan.


Melihat istrinya yang khawatir seperti itu, membuatnya sangat yakin jika Briell saat ini benar-benar sudah mencintanya.


Terlebih dari tatapanya matanya itu. Mata yang dulu memandang benci dan jijik kepadanya, kini telah berubah menjadi tatapan sendu penuh cinta.


Membuatnya merasakan kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan lagi, berkumpul bersama dengan orang tua, istri dan Caby mereka adalah impianya sejak dulu yang sedikit lagi akan menjadi kenyataan.


Visual Jennifer Emilio



To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra