Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 19



Happy Reading


Hari ini adalah hari pemakaman Lola, sepanjangan prosesi, Jenni hanya terdiam tanpa harus berkata apapun.


"Ayo kita pulang," ajak Arvan pada Jenni, yang terlihat duduk sambil memandangi ke arah batu nisan yang terdapat foto Lola.


Namun, bukannya mendengarkan perkataan dari Arvan, Jenni kembali diam dan tidak menanggapi sama sekali ajakan dari suaminya.


"Jenni!" Sentak Arvan, membuat Jenni menarik nafasnya panjang, sungguh dia tidak suka berada di dalam posisi ini.


"Bawa Queen kalian pulang sekarang juga!" Perintah Arvan pada beberapa pengawalnya.


"Baik Lord," jawab mereka dengan penuh rasa hormat.


Dengan paksaan beberapa pengawal Arvan, langsung menggendong paksa tubuh Jenni agar mau ikut pulang bersama dengan Arvan.


"Tidak, Arvan lepasakan aku!" Pekik Jenni, sembari memukuli tubuh pria yang tengah mengangkat tubuhnya.


Akan tetapi, Arvan lebih memilih diam dan tidak berniat sama sekali untuk menanggapi teriakan istrinya.


"Arvan, brenggsssekk! Lepasakan aku! Apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu mengurungku seperti ini?" Jenni masih berusaha untuk menggedor - gedor pintu kamarnya. Dan berharap jika Arvan akan mendengarnya.


Namun, hasilnya nihil, Arvan sama sekali tidak menanggapi teriakannya sama sekali.


Jenni kembali terduduk, dengan menyadarkan tubuhnya di belakang pintu. Apa niat Arvan melakukan ini dengannya? Padahal baru saja dirinya berniat untuk membicarakan tentang pembatalan kontrak pernikahaan, namun dirinya sudah lebih dulu ditahan oleh Arvan seperti ini.


"Annnkkkiii," teriak Arvan memanggil salah satu anak buahnya yang paling senior.


"l - iya Lord," jawabnya, sembari berlari menghampiri Arvan yang saat ini terlihat sangat marah.


"Letakan penjagaan yang ketat di depan kamar saya! Jangan pernah kalian lengah dengan satu kegiatan! Karena aku tidak mau jika Robert akan masuk dan menculik istriku! Apa kalian paham?!" Arvan sudah lebih dulu berantisipasi kejadian yang tidak dia ingikan.


"Baik Lord, kami akan mengerahkan dan memperketat keamanan di Mansion ini," jawab Anki penuh dengan keyakinana. Pasalnya, semua kejadian buruk apapun yang terjadi di Mansion ini, semua adalah tanggung jawab dia pribadi. Apa lagi ini dia menyangkut dengan keselamataan Queen mereka.


Yang pastinya dia membawa semua orang atau yang biasa dibilang, dia mempertaruhakan banyak nyawa jika dia sampai gagal melakukan tugas ini.


Karena biar bagaimanapun, Robert adalah anak buah milik bos mereka, asisten pribadi milik Arvan, tentu saja Robert akan tahu setiap pergerakaanya termasuk kelemahaan yang dimiliki oleh bos mereka.


"Bagus! Aku sama sekali tidak mau mendengar masalah setelah ini! Jangan pernah lengah! Dan jangan pernah biarkan Robert masuk ke Mansion ini! Dan kalau itu sampai terjadi, nyawa kamu dan seluruh anak buah kamu, akan hilang saat itu juga, Camkan itu baik - baik!" Anki menelan salivanya kasar, meskipun dia sudah tahu akhir dari sebuah kegagalan adalah mati. Tetapi tetap saja dirinya merasa takut dan ragu ketika menjalankan salah satu tugas dari Lord mereka.


Setelah memerintah Anki dan seluruh anak buah yang Iainnya, Arvan memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan saat ini, yang jelas untuk melepaskan Jenni, dia masih belum bisa dan sama sekali tidak ingin melakukaanya.


Karena tujuan utamanya adalah untuk me dapatkan keturunan, sedangkan sampai saat ini Jenni masih belum hamil - hamil.


"Sepertinya aku harus memeriksa keadaanya, kalau dia sama sekali tidak bisa menghasilkan anak untuk aku, maka dengan cepat aku pasti akan menceraikaanya," ucapnya lirih dengan bersungguh - sungguh.


Baginya tidak akan pernah ada hal yang berharga di dunia ini selain cintanya kepada Mira. "Maafkan aku Mira, tetapi ini sudah terlalu lama, jika dia benar - benar tidak bisa menghasilkan anak untuk kita, lalu aku menikahinya buat apa? Tidak ada untung sama sekali," ungkapnya berbicara pada bingkai foto Mira yang selalu setia terpasang di setiap sudut ruanganya.


"Mira, aku janji tidak akan pernah mengecewakan kamu, aku tidak akan mencintai wanita lain Iagi, oke," Arvan benar - benar bersikap tidak waras, dia beranggapan jika saat ini foto Mira itu sedang berbicara panjang denganya, sedang menemaninya ngobrol dan berbagi cerita lainnya.


Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib Jenni yang sedang dia kurung di dalam sana.


***


Sedangkan di sisi lain, Robert yang mempunyai akses masuk rahasia miliknya pribadi, sangat membuatnya merasa beruntung karena


Arvan sama sekali tidak memperhatikaan pergerakaanya.


"Terkadang otak asisten itu lebih berguna dibandingkan otak yang kosong yang hanya dipergunakan untuk berpikir tentang masa lalu," sindirnya pelan, ketika dirinya mendengar kalimat demi kalimat yang Arvan ucapkan di dalam ruangan sana.


Robert beralih memberikan gas yang mengandung obat tidur pada anak buah Anki, dan tidak lupa dia memberikan racun ular mematikan yang langsung disuntikan ke dalam tubuh Anki, di saat pengawal senior itu lengah dengan keadaan.


"Sangat mudah mengelabuhi kalian semua, lain kali jangan pernah berurusan dengan asisten pribadimu Lord Arvan yang terhormat," Robert menampilkan senyum iblisnya. Merasa menang karena bisa menyelamatkan Jenni dari gengaman Arvan.


"Maafkan aku Anki, tetapi ini semua sama saja menurut aku, karena jika Arvan mengetahui Jenni berhasil kabur, maka kamu dan semua anak buahmu pasti akan mati."


"Jadi lebih baik aku yang memilihkanmu mati dengan racunku, karena jika Arvan yang membunuh kalian, aku tidak yakin jika dia akan melakukaanya dengan lembut," ucap Robert, sembari memandangi wajah Anki yang sudah mulai membiru.


Lalu dia menatap ke arah beberapa anak buah Anki yang hanya pingsan akibat obat bius yang dia berikan.


Setelah dirinya merasa semuanya aman, barulah Robert dengan cepat membukakaan pintu untuk Jenni.


"Jen," panggil Robert, ketika melihat wanita yang dia cintai sudah lemas dengan wajah pucat. Jenni menggelengkan kepalanya pelan, dengan pandangan yang nyaris memudar.


"Robert," lirih Jenni pelan, lalu dia terjatuh pingsan dengan Robert yang langsung menopang tubuhnya.


"Aku harus segera membawanya keluar, sebelum Arvan masuk kemari," ucapnya Iagi pelan, sembari menggendong tubuh Jenni agar segera keluar dari tempat terluknud itu.


Sebelum Arvan mengetahuinya dan malah menangkap keduanya.


"Jen, bertahanlah, kita akan segera mendapatkan pertolong Jen, kumohon bertahanlah," Robert berusaha berlari membawa tubuh Jenni yang terlihat sangat lemas sekali. Entah apa yang terjadi sebelumnya pada Jenni, yang jelas dia tahu bahwa semua ini adalah perbuatan dari Arvan.


To Be Continue.


Jangan lupa Like, Komen, Vote Dan Hadiahnya ya, agar Mimin semakin semangat untuk updatenya. Dan jangan lupa untuk mampir ke karya aku yang lainnya ya.


Terima Kasih.