Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 39



 Happy Reading BESTie 😘


"Kakak bukanlah type orang yang selalu bicara dengan omong kosong seperti ini, dan sekarang kenapa kakak berbicara dengan berputar — putar, aku sungguh sangat pusing untuk memikirkannya." Jenni memijat keningnya sedikit pusing.


Dia merasa tiba — tiba sangat tidak mengenali kakaknya sendiri saat ini.


Jesper kembali menarik nafasnya dengan dalam, lalu mengehembuskan — nya dengan berat, terlihat seperti orang yang sedang terkena masalah berat.


"Jenni, semalam kamu mendengar sendiri jika keluarga Enrique datang kan?" Jesper ingin melihat sendiri, bagaimana reaksi adiknya ketika dirinya sedang berbicara membahas orang lain.


Jenni memutar bola matanya malas, kenapa di tengah pembicaraan antara dirinya bersama dengan Jesper, malah memasukan nama keluarga orang lain.


"Kak, please,"


"Jenni, jawab kakak dulu! Apakah kamu mendengarnya?" tanya Jesper, memutus kalimat Jenni yang pasti ingin protes dengannya.


Jenni kembali menganggukkan kepalanya, memilih untuk menjawab saja apa yang di tanyakan oleh kakaknya ini, walaupun hasilnya nanti akan malah menjadi bertele — tele.


"Jadi begini dek, semalam keluarga mereka datang, dengan tujuan niat ingin melamar kamu menjadi istri dari David." Jesper mengatakan hal itu dengan sangat serius.


Bahkan Jenni sampai membulatkan matanya dengan besar, ketika dia mendengarkan hal tersebut. "Kakak," lirihnya pelan.


Jesper tahu, jika saat ini adiknya pasti tidak bisa memberikan sebuah respon apapun. "Kakak belum menerima ataupun menolak lamaran mereka sayang, tetapi kakak masih meminta waktu kepada mereka, agar mau menunggu sampai kakak membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan kamu," sambung Jesper lagi.


Namun, di detik ini Jenni hanya bisa menangis, dia menetesakan air matanya bahkan mengalihkan pandanganya ke arah lain.


"Kenapa kakak tidak menolaknya saja? Kenapa kakak masih harus meminta waktu?"


Jenni melipat kedua kakinya, dan menyembunyikan wajahnya berada di dalam lipatan lututnya.


Jesper yang melihat adiknya seperti itu, kini mulai merasa bersalah, "sayang, kakak belum menerimanya, tetapi kakak juga memang belum menolaknya. Kamu bebas berpendapat, kakak tidak akan memaksamu untuk menikah dengan David." Ucap Jesper lagi, sembari mendaratkan beberapa kecupan di puncak kepala adiknya, kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat.


"Kakak hanya ingin kamu berdampingan bersama dengan pria yang begitu mencintai kamu."


"Jen, kakak hanya ingin memberikan adik perempuan kakak satu — satunya ini kepada orang yang tepat -,"


"Tetapi apakah dengan David itu menurut kakak pilihanya sudah tepat kak? Kakak apa tidak memikirkan perasaan aku? Perasaan takut yang selama ini bahkan tidak bisa aku hilangnya, tetapi kakak dengan beraninya ingin menikahiku," protes Jenni, ketika dia mulai berani lagi mengangkat pandanganya menatap Jesper yang kini juga menatapnya.


Namun, sesegera mungkin Jesper mengalihkan tatapan itu, dan lebih memilih untuk menenangkan adiknya.


"Kakak hanya berpikir, keluarga Enrique adalah keluarga yang memang selalu berdampingan dengan kita Dek, apa lagi kamu tahu sendiri jika Pak Dony sendiri adalah sahabat yang sudah dianggap saudara oleh Papah, dan keluarganyalah yang selalu mendampingi kita selama lima tahun ini sayang, mengertilah apa yang kakak pikirkan untuk kamu," Jesper mencoba memberikan pencerahan kepada adiknya, persis dengan pemikiran yang dia dapatkan semalam.


"Kak, please, jangan paksa Jenni untuk melakukan hal yang tidak Jenni sukai, please," mohon Jenni pada Jesper kakaknya.


Dia memandang mata indah kakaknya dengan sendu, Jesper sendiri bisa melihat tatapan takut dari adiknya. Sehingga dirinya mengerti jika dia tidak bisa memaksakan kehendak adiknya.


Hingga Jesper menganggukan kepalanya pelan, mengiyakan apa keinginan adiknya.


"Baiklah sayang, cuuup, adik kakak yang manis dan cantik ini jangan menangis lagi ya, kakak janji, kakak akan bicara dengan keluarga mereka untuk menolak lamaran mereka, kakak janji sayang." Ucap Jesper dengan penuh keyakinan.


Jenni menganggukan kepalanya pelan, dia merasa nyaman ketika berada di dalam pelukan kakaknya dengan belaian lembut tangan Jesper yang ada dikepalanya.


Setelah beberapa lama Jenni terus menangis, akhirnya dia tertidur karena kelelahan, Jesper yang sedari tadi menemani adiknya, kini merasa legah ketika melihat adiknya telah damai dalam tidurnya, dan berharap jika ketika adik kecilnya itu bangung, Jenni akan melupakan segala kejadian yang tadi.


Jesper melihat jam tangan yang melingkar di tanganya, sudah dua jam lebih dia telat untuk masuk ke dalam kantor, dan saat ini dirinya harus segera ke kantor, karena terlihat asisten pribadinya sedari tadi sudah meneleponnya, "ada apa Maks?" Jesper memilih untuk mengirim pesan singkat kepada asistennya tersebut.


Lalu dia segera memasukan ponselnya masuk ke dalam sakunya, dan melangkahkan kakinya keluar. Namun baru saja dia membalikkan tubuh, dia telah melihat Lola yang berada di depan pintu, "ahh, Lola, saya baru saja ingin memanggilmu," ucap Jesper dengan sedikit terkejut melihat kehadiran Lola yang terkesan tiba — tiba.


Lola menundukan kepalanya pelan sebagai rasa hormatnya kepada majikan utamanya tersebut. "Saya mohon maaf Tuan, tadi saya sudah mengetuk pintu, tetapi Anda terlalu fokus dengan ponsel Anda, saya sungguh menyesalinya Tuan, saya mohon maaf," ucap permintaan maaf Lola pada Jesper.


"Baiklah Lola, saya maafkan kamu," jawab Jesper dengan begitu ramah.


"Oh iya, saya akan berangkat ke kantor sekarang, saya harap kamu akan menjaga adik saya hari ini, berikan dia apapun yang dia inginkan, jangan buat dia bersedih, apakah kamu mengerti?!" Jesper menegaskan kalimatnya pada Lola.


"Baik Tuan, saya pasti akan berbuat yang terbaik untuk Nona Jenni," jawab Lola.


"Bagus, kalau begitu kerjakan sekarang!" Ucap Jesper lagi.


Dia memang akan terlihat sangat begitu dingin tanpa ekspresi ketika bersama dengan orang lain.


Akan tetapi dia akan berubah hangat ketika ada Jenni di sekelilingnya. Karena Jesper selalu mendapatkan kemarahan Jenni, ketika dirinya bersikap dingin kepada semua pelayan terkhususnya Lola.


Jesper yang baru saja memasuki ruanganya, kini dikejutkan dengan adanya beberapa orang yang dia sangat kenali ada di dalam ruanganya.


Jesper menoleh ke arah Maks yang berada dibelakangnya, meminta penjelasaan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa orang — orang ini bisa ada di dalam ruanganya.


"Maks?" Panggil Jesper, yang disertai oleh tanda tanya.


"Mengapa Maks mengizinkan pria ini masuk ke dalam ruanganya? Padahal asistennya itu jelas sangat tahu bahwa Jesper sama sekali tidak menyukai pria ini.


"Maaf Tuan, tetapi dia mengancam kami semua dengan keluarga kami yang berada di tanganya, jika sampai kami semua tidak mengizinkannya masuk. Dan tadi saya juga sudah mencoba menelepon Anda, tetapi Anda tidak mau menjawabnya," terang Maks pada Jesper.


Membuat pria itu hanya bisa mengusap wajahnya kasar, karena tidak ada pilihan lain lagi, selain melayani pria yang sangat dia benci itu.


"Selamat siang Tuan Jacob," sapa Jesper, yang langsung membuat laki — laki yang sedari tadi sedang duduk dengan santai itu, kini menoleh ke belakang dan melihat Pria yang sudah dia tunggu — tunggu kini datang juga akhirnya.


Jacob, entah apa yang sedang diinginkan pria ini sekarang, sehingga sudah dua tahun dia baru kembali datang lagi menemuinya.


Jacob yang mendengar pertanyaan Jesper hanya memilih untuk tersenyum sinis, lalu memberikan kode kepada asistennya untuk mengeluarkan beberapa cek yang bernilai sangat fantastis, serta hadiah barang mewah lainnya.


"Maaf, Jacob, saya sama sekali tidak mengerti apa maksud dari Anda membawa semua ini ke sini?" tanya Jesper lagi pada Jacob yang saat ini malah terlihat begitu santai memandangnya.


"Aku ingin menikahi adikmu," jawab Jacob, dengan kalimat yang Lugas dan tegas pada Jesper.


"Apa?" Jesper tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jacob.


Apa niat pria ini? Mengapa sampai dia mengincar adiknya Jenni? Jesper sama sekali tidak bisa menemukan jawaban apapun dari pertanyaanya.


"Tenanglah dude, kita adalah sahabat bukan, kita sudah berteman bertahun — tahun, tentu saja kamu tahu sifatku tidak pernah bermain — main dalam kalimatku bukan?" Jacob mencoba untuk meluruskan kalimatnya. Sehingga Jesper langsung mengepalkan tanganya dengan erat.


"Justru karena kita dulu pernah berteman bertahun — tahulah yang membuat aku tidak akan pernah memberikan adikku kepada orang biadab seperti kamu," batin Jesper, menatap Jacob dengan tajam.


Jika saja dia mempunyai bantuan kekuatan, mungkin saja dia sudah mencoba melenyapkan pria yang berada dihadapannya saat ini.


Namun apalah dayanya, jangankan untuk membunuh, melukai orang lain saja dia tidak berani. Membuat Jesper tidak bisa melakukan.


"Aku tidak bisa menerima lamaranmu," tegas Jesper pada pria yang sedari awal sudah menampakan wajah angkuhnya itu. Dia sangat begitu percaya diri jika Jesper tidak akan menolaknya.


Senyum Jacob tiba — tiba saja langsung menjadi surut, dia tidak menyangka jika Jesper begitu berani menolak lamaran yang dia lakukan.


"Jesper, kamu tidak lupa siapa aku kan?" tanya Jacob, mulai kembali menyombongkan diri pada Jesper.


"Kamu tahu Jacob, aku sudah tahu jika kamu tidak mencintai adikku, tetapi kamu hanya mencintai dirimu sendiri," kali ini Jesper ingin bertindak tegas untuk melindungi adik semata wayangnya.


Jacob tertawa mendengar pernyataan dari Jesper, "bagaimana bisa kamu menilai sebuah perasaan cinta? Memangnya kamu Tuhan," sindir Jacob pada Jesper, dengan menggelengkan kepalanya singkat, merasa bahwa mantan sahabatnya ini telah berubah menjadi seorang comedian.


"Aku bisa mengetahui itu semua dari sifat kenarsisanmu, karena apa kamu tahu? Bahwa sifat ini saja sudah menunjukkan bagaimana kamu sangat mencintai dirimu, lebih besar dari pada kamu mencintai orang lain, jadi kamu tidak pantas untuk mendapampingi adikku." Jesper benar — benar tidak takut, jika Jacob harus marah karena penolakannya dengan kalimat yang begitu kasar ini.


Tidak apa — apa, jika nyawanya yang harus hilang dari pada kehidupan adiknya yang harus rusak karena pria ini.


"Lagi pula Jenni juga sudah akan menikah dengan pria yang sangat dia cintai, mereka akan menikah minggu ini, jadi aku tidak bisa memberikan harapan palsu kepadamu, jadi dengan berat hati aku mengatakan, jika kamu sudah terlambat untuk memilikinya," sambung Jesper lagi.


Kali ini Jacob terdiam mendengar kalimat dari Jesper, sambil merutiki kebodohanya karena terlambat untuk datang melamar wanitanya.


"Baiklah, aku terima jika kamu menolakku," tungkas Jacob, seakan — akan dirinya menerima atas kekalahaanya ini.


Membuat Jesper bisa bernafas dengan legah, karena ternyata mantan sahabatnya itu mau mengerti dengan apa yang dia katakan.


"Terima Kasih Jacob, aku harap kamu bisa mendapatkan wanita yang lainnya lagi ya, yang lebih baik dari adikku," ucap Jesper lagi, memberikan semangat lagi untuk Jacob. Agar tidak menjadikan semuanya dendam di antara mereka.


Tanpa Jesper sadari, bahwa sedari tadi pergerakaanya sedang diperhatikan oleh Jacob, sehingga pria itu tahu, bahwa pernikahaan antara Jenni dengan pria yang dikatakan akan menjadi calon suami dari Wanitanya itu tidak akan pernah ada.


"Kamu memang benar Jesper, aku akan mencari wanita lain yang lebih cantik dari Jenni, dan aku yakin itu," jawabnya dengan kalimat yang terdengar sangat pasrah dan menerima semuanya.


"Tetapi, aku mau kamu mengundangku di acara pernikahaan tersebut, dan itu harus! Bahkan jika kamu saja tidak mengundangku. Aku akan tetap datang, dengan atau tanpa undanganmu." Tegas Jacob dengan tatapan serius menatap Jesper, tanpa sedikitpun terlihat jika pria itu sedang bermain — main dengan kalimatnya.


DEG jantung Jesper terasa berpacu dengan sangat cepat, dia tidak tahu harus berkata apa saat ini.


Karena tidak mungkin dia mengakui bahwa pernikahaan itu tidak pernah ada, dan ini semua benar — benar menjebaknya dalam permainan kebohongannya sendiri.


"Ehmmm, pasti, aku pasti akan mengundangmu dude," jawab Jesper dengan penuh kegugupan.


Bahkan Jacob bisa melihat jelas ketakutan dari wajah pria itu, "baik, jika sampai kamu berani membohongi aku dengan pernikahaan palsu adikmu, maka akan aku pastikan hari itu juga aku akan menikahi adikmu! Apa kamu mengerti?!" Jacob mulai mengeluarkan taringnya untuk Jesper.


Dia sama sekali tidak pernah ingin dipermainkan oleh siapapun, akan tetapi dia masih ingin menangguhkan konsekuensi untuk mantan sahabatnya ini, dia pasti akan memberikan waktu kepada pria ini, tetapi sampai batas waktu yang dia tentukan Jenni tidak menikah sama sekali. Maka dia akan menikahi gadis impiannya itu dengan secara paksa.


Setelah mengungakapkan hal itu, Jacob memilih untuk pergi meninggalkan ruangan milik Jesper.


Membiarkan pria itu berpikir sendiri dengan apa yang akan dia putuskan.


Karena apapun pilihannya, Jacob tetap saja akan menikahi dengan Jenni dalam minggu ini.


Karena sudah dipastikan, jika Jacob akan membuat rencana terbaik untuk membatalkan pernikahaan itu.


"Tidak ada sejarahnya Jacob akan mengalah untuk pria yang tidak ada apa — apanya untukku," gumam Jacob, sebelum benar — benar melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Jesper.


Jesper kini berada di dalam tiga pilihan yang sulit, memikirkan kebahagiaan adiknya, menikahkan Jenni dengan David atau malah harus dengan ikhlas melepaskan adiknya bersama dengan Jacob.


Walaupun sebenarnya Jesper tahu, bahwa tidak akan pernah ada pilihan lain, selain menerima Jacob.


Karena biar bagaimanapun dia mempuanyai rencana, pasti pria itu akan berusaha menghancurkan pernikahaan Jenni.


Jesper sangat mengetahui bagaimana sifat mantan sahabatnya itu, apanlagi ketika dia sudah menyatakan sebuah keinginannya, makan tidak akan pernah ada satupun orang yang bisa merubahnya. Termasuk kematian sekalipun.


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya, untuk, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin ya.


Dan jangan lupa juga untuk Mampir ke Karya Mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih