
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah semuanya telah selesai berkumpul, kini terlihat Albert dan tiga sahabatnya yang tengah duduk di ruang tamu.
"Ngapain kalian semua liatin aku kaya gitu?" tanya Albert dengan kesal, karna sudah setengah jam ini sahabatnya itu hanya melihatnya tanpa berkedip mata.
"Weh gila sultan dia sekarang, his,,hiss,,hiss gak nyangka aku kita berteman sama Lord loh."seru James yang sedari tadi tidak tahan ingin berkomentar.
"Sultan,,sultan, kepala mu, aku Albert, nama ku Albert," tegasnya mengatakan namanya dengan penekanan.
Martin menggeserkan posisinya agar bisa berdekatan dengan Albert. "Ktp mu sudah ganti belum sih ? Nama Morgan aja gaya betul heh ganti-ganti sok kebarat-baratan Albert apa itu, bert, angry bird iya luu," sindir Martin yang langsung membuat Albert membulatkan matanya sempurna.
Plaaakkk dia langsung menoyor kepala bodoh Martin, "yang sopan kalo bicara, Lord loh aku sekarang, kalian taukan, penguasa weh," ucapnya menyombongkan diri di depan teman-temanya.
Sontak James dan Martin langsung mendekat dengan Albert. "Kalian mau apa heh?" tanya Albert ketika melihat kedua temanya itu semakin dekat bahkan tanpa jarak, membuatnya merasa sesak dan jijik.
"Kalian masin waras kan, masih suka cewek kan, astaga jangan bilang selama seminggu aku pergi kalian-," ucapnya terputus menutup mulutnya berfikir tidak-tidak.
Bugghhh--buggghh,,bugghhh.
"Aduuuhhh,,adduuhh woy, kalian ini anak sultan aku woy, beraninya kalian mukul anak Lord weh, di buang kalian di laut sama Papahku mau," ancamnya pada kedua temanya yang saat ini sedang memukulinya dengam bantal sofa.
"Rasain nih, sultan aja belagu. Mati aja kamu di laut sana, sultan kamseupay," seru James yang sedari tadi sudah tidak tahan dengan sikap lebay dari temanya yang dulu terkesan pendiam ini.
"Udah berhenti,,sakit bego, kalian mau-" lagi-lagi kalimatnya terhenti di saat mereka mendengar suara langkah kaki masuk.
Sontak James dan Martin langsung melempar bantal sofa itu ke sembarangan arah lalu berpura-pura memijat tubuh Albert, seperti benar-benar melayani raja.
Membuat Albert terdiam melongo melihat tingkah keduanya yang begitu pandai bersamdiwara.
"Kalian lagi rame ya," suara Alson yang tiba-tiba memecahkan keheningan.
James dan Martin langsung menoleh pada sosok Alson yang baru saja datang dengan senyum manisnya yang seperti gula, tanpa melepaskan pijatan mereka pada Albert.
"Eh iya kak, kita lagi reunian di sini," sahut James asal namun sopan.
"Reunian, itu apa ?" tanya Alson dengan lembut, membuat Martin mendekat ke arah Alson, membuat kakak kembar Albert itu menyeritkan keningnya bingung.
"Woy, kakak ku juga masih normal. Dia gak mungkin frustasi jadi belok gara-gara di PHO hahahha," tawanya sinis, membuat James mengeluarkan ponselnya dan mengarahkanya pada Albert.
"Ngaca dulu bos, bukanya PHONya itu kamu ya," serunya membuat tawa Albert berhenti seketika, dia lupa jika PHO kakaknya adalah dirinya sendiri.
"Bagaimana Lord, apakah anda sudah sadar, jika anda adalah seorang PHO," tanya Martin yang saat ini sudah berada di kubu Alson.
James kali ini juga ikut mendekati Alson, untuk mengakrab kan diri dengan orang yang sangat rendah hati itu.
"Kalian semua sahabat Albert dari kapan?" tanya Alson berusaha memecah kecanggungan yang ada.
"Dari kecil kak, semenjak dia di-" jawab Martin terputus di saat suara Albert juga ikut menimpali.
"Cukup ya, kalian jangan pernah cerita tentang masa lalu ku," serunya dengan datar.
Alson yang melihat itu, bisa mengartikanya sendiri jika dulu adiknya itu hidup dengan sangat menyakitkan, sehingga dia tidak ingin lagi untuk membahasnya.
"Apa kalian semua kerja sama Albert?" tanyanya lagi, kembali untuk mencoba mengakrabkan dirinya lagi pada adik dan sahabat-sahabat dari Albert.
James menoleh sekilas pada Albert yang saat ini juga sedang menatapnya. "Iya kak, tapi kita gak pernah di gaji," Jawab James berbisik namun menggunakan suara yang nyaring.
"Woy apa, siapa kerja sama siapa ? Kalian kerja apa minta di gaji?" bentak Albert tidak terima jika di anggap bos yang tak mau bayar gaji karyawan.
"Dedemit apa ?" tanya Alson yang bingung dengan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mereka.
Martin menoleh sekilas pada Alson yang menampilkan wajah bingungnya. "Dedemit itu dia kak, orang ganteng,"sindri Martin menunjuk pada Albert yang langsung melemparkan bantal sofa ke Martin.
"Aduh sakit bodoh," keluhnya menangkap bantal itu.
Alson tertawa melihat semua tingkah abstrud mereka, "kalian ini semua memang begini ya, berarti Albert memang baik dan tidak pernah bunuh orang seperti yang lainya," ucap Alson secara tiba-tiba.
"Iyalah gak pernah, aku orangnya baik hati dan tidak sombong, jadi gak pernah." Jawab Albert sombong.
"Heleh, enggak pernah salah lagi iya, dia ini adalah pembunuh berdarah hangat,"sahut James yang selalu tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Albert.
Yang menurutnya selalu bersimpangan dengan kenyataan.
Plaaakkk, Martin menoyor kepala James yang tidak tau cara berbahasa.
"Aduhh, kenapa kamu pukul aku," bentaknya kesal sambil menggosok-gosok kepalnya yang terkena toyoran Martin.
"Ya kamu bodoh, di mana-mana itu pembunuh berdarah dingin, bukan hangat, sekolah di mana sih ? Biar aku lajarin gurunya." jawab Martin dengan sikap yang sok dewasa.
"Ih suka hati aku lah, mulutku kou juga yang sewot," balas James kesal.
"Kalian kalo masih mau berantem, nanti aku kawinkan kalian liat aja." ancam Albert yang merasa brisik dengar suara dari kedua sahabatnya.
Berbeda dengan Alson yang hanya bisa tersenyum tanpa mengerti apa yang sebenarnya di katakan oleh mereka semua, dia bingung harus menempatkan dirinya yang seperti apa.
Dan kali ini tatapan Alson beralih kepada Vincent yang duduk menepi di ujung sana.
"Itu teman kalian juga?" tanyanya menunjuk ke arah Vincent yang tidak ikut bergabung di dalam pembicaraan.
Albert,Martin dan James langsung menoleh mengikuti arah dari Alson.
"Iyah, tapi gak tau kenapa dia dari tadi kaya orang banyak masalah gitu," sahut James yang sedari tadi juga bingung melihat tingkah Vincet yang menjauh dari kerumunan.
"Lalu mengapa kalian gak tanya ke dia? Siapa tau saja dia mempunyai masalah hidup," imbuh Alson yang mulai bersikap bijak.
James menoleh sekilas pada Martin dan Albert, berkode meminta jawaban yang pas.
"Ya udah samperin aja, mana tau dia memang butuh kita," jawab Albert yang mengerti arti dari kode yang di berikan temanya itu.
"Ya sudah ayo,"timpal Martin, lalu bangkit dari duduknya mulai mendekat ke arah Vincent yang sedang duduk termenung di ujung sana.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
Maaf ya gengs, beberapa hari ini mimin updatenya satu chpater doang, soalnya keadaan tubuh yang masih belum stabil, membuat mimin susah untuk menulis banyak, dan mungkin untuk kidah arvan dan lucas akan mimin lanjut besok ya 🙏🏻🙏🏻
Maafin ya semua, mimin masih usahakan update kok, meskipun tubuh yang kurang fit, tapi demi kalian semu tercinta mimin usahakan walaupun hanya satu chapter.
Terima kasih pengertianya 🙏🏻🙏🏻