Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Extra Chapter 2



🌹 Happy Reading 🌹


Sesampainya mereka di Mansion besar Arvan, Jenni dan Eden terlihat sudah harap cemas menantikan kedatangan suami-suami mereka.


Bahkan saat ini mereka tengah berdiri dengan formasi lengkap dengan anak-anak yang berdiri di belakang mereka.


Mario melangkahkan kakinya keluar lebih dulu dari pesawat, lalu di susul oleh Arvan.


"Mario, kenapa kamu sendiri? Mana Briell sama Albert?" seru Eden dengan tatapan tanda tanya yang besar karna tak melihat sosok putrinya yang harusnya datang bersama dengan Mario.


"Iya, Anak-anak mana ya ? Papah Twins?" Sahut Jenni memanggil Arvan dengan panggilan Papah Twins.


Namun keduanya sama-sama tidak menjawab, terlebih Eden bisa melihat jelas darah yang masih ada di baju suaminya.


"Mario Jonathan! Jawab aku di mana putriku," bentaknya dengan lantang menanyakan keberadaan putrinya.


Brrruuuggghhhh Mario berlutut memeluk kaki istrinya memohon ampunan. "Hissskk,,hissskk,Edenn,,maafin aku," tangisnya pecah dengan sesegukan, yang semakin membuat Eden merasa keganjalaan yang hakiki.


Eden berusaha melepaskan pelukan Mario di kakinya, "Mario lepas, apa maksud kamu? Kenapa kamu nangis? Katakan ada apa," serunya histresi memikirkan hal yang tidak baik.


Namun Mario hanya terdiam dan mampu menangis saja tanpa bisa menjawab.


Berbeda dengan Jenni yang menatap Arvan dengan tajam, bahkan dia juga bisa melihat jika Arvan saat ini sedang rapuh.


Di saat mereka tengah sibuk bertanya-tanya apa yang terjadi, dari dalam pesawat terlihat sesosok dua jenasah yang di drong ke arah mereka.


"Apa ini? Mayat siapa ini?" Tanya Eden yang memaksakan untuk melihat mayat tersebut.


Bahkan dia sampai menepis dan mendorong tubuh Mario agar menjauh darinya. Lalu dia berjalan mendekat ke arah mayat itu.


Dan dengan gerakan cepat Eden membuka kain yang menutupi kedua jenasah itu dan membulatkan matanya besar melihat siapa sosok itu.


"Tidaaaaaaaaaakkkk,,aaaannnaaakkkkuu," teriak Jenni yang begitu lemah melihat sosok putranya yang sudah terbujur kaku seperti itu, dan karna tidak kuat melihat itu dia langsung terjatuh pingsan, "Mah,mamah,hisskkk,,hisskk," tangis Arvan dan Alson bersmaan melihat kondisi Jenni yang seperti ini.


Sedangkan Mario, Brio dan Brina langsung melangkah mendekat ke arah Eden yang terlihat mulai melemah. "Sayang,,Mommy," tegur Mario dan anak-anak bersamaan.


"Tidaakk,,ini tidak mungkin,, dia bukan putri ku Mario dia bukan,," tangisnya pecah memandang tidak percaya pada apa yang tengah di lihatnya saat ini.


Di susul dengan tangisan Brio dan Brina yang memeluk dan mengguncangkan tubuh kakaknya. "Kak bangunnn,,kak Briell,,hisskk,,hisskk," tangis Brio dan Brina ya g masih tidak rela jika kakaknya itu pergi secepat ini.


"Kak bangunlah, Brio janji gak akan nakal lagi, Brio janji gak akan main game lagi asal kakak bangun,,hisskk,,hisskk, kak," panggilnya lalu menjambak kuat rambut Mayat itu.


Mario yang melihat putranya seperti itu kini berusaha menenangkanya, "Brio son,jangan seperti ini Nak,hiskk,,hiskk,lepaskan nak," seru Mario menarik tangan Brio agar lepas dari jambakan itu.


"Dad, biasanya meskipun tidur kakak pasti teriak kalo rambutnya aku jambak, kenapa sekarang dia diam aja? Dad," tangis Brio yang benar-benar merasa kehilangan sosok kakak yang selalu di usili olehnya.


Sama dengan Brina yang mencoba menggigit tangan Mayat itu dengan sangat keras, "Dad, kalo kakak pergi siapa yang tolongin Brina kalo di jahatin ama kakak Brio, hisskk,,hiskk, pokoknya kakak harus kembali," bentak Brina yang semakin membuat Mario dan Eden terpuruk mendengarnya.


Eden menatap ke dalam mata Mario mencari sebuah kejujuran atas semua ini. "Mario, katakan sama aku ini semua gak benar kan, hisskk,,hissskk, Mario jawab," bentaknya yang ikut tidak bisa merasakan jika putri kebangganya ini pergi dengan begitu saja.


"Lalu di mana cucuku? Perut Briell sudah tidak besar dan menandakan jika dia sudah melahirkan, di mana dia? Jawab Mario," lagi-lagi dia menggila dengan keadaan ini, apa lagi dia mengingat sosok cucunya yang harusnya ada di sini.


Namun melihat Mario yang diam saja membuat Eden mengetahui jawabanya. "I see, kamu gagal juga kan menjaganya," lirihnya dengan tersenyum sinis.


Mario langsung memeluk erat tubuh Eden, "huaaaaa,,anak ku,,hhiisskk, kamu gak berguna Mario,,gak berguna, aku mau anak dan cucuku kembali,,tolong aku,,tolong," tangisnya yang semakin menggila.


"Maafkan aku Eden, aku memang tidak berguna,,maafkan aku,," sahutnya juga ikut menangis sesegukan.


Karna tak mendapatkan jawaban Mario langsung membawanya masuk ke dalam.


Berbeda dengan Alson yang kali ini merasakan keganjalan, dia tidak bisa menangis, namun dia juga tidak merasakan sedih.


Dia hanya merasakan sakit seperti sedang terluka, namun dia tidak merasa mempunyai luka apa pun, lalu dia memandang ke arah Papahnya yang masih sibuk menangani Mamahnya.


Alson menatap tajam ke arah Mayat itu, "kamu bukan adik ku, dan dia bukan iparku," ucapnya dalam hati, karna dia sangat yakin jika mayat ini bukalah adik kembarnya.


Karna dia sama sekali tidak merasakan fell apa pun pada mayat ini.


Namun satu yang pasti dia tau, jika Papah dan Daddy Mario saat ini tengah mengalami kesulitan, sehingga dengan beraninya mereka menggunakan hati istri dan anak mereka yang lain sebagai tameng masalahnya.


"Oke Adik palsuku, mari kita bermain," serunya yang ingin masuk ke dalam sandiwara permainan entah apa judulnya, namun dia ikut saja.


Dan karna tidak ingin mangacaukan rencana Papahnya yang sudah sangat rapi ini, Alson langsung memberikan kabar pada Uncle Jesper tentang berita duka ini, dan tak lupa juga dia berpura-pura bersedih dan menangis.


"Hisskkk,,hisskkk, kenapa kamu pergi Albert, kamu harus bangun dan membantuku menaklukan gadis taman, hisskk,,hissk, kamu janji itu," tangisnya benar-benar pandai dalam bersandiwara.


Sedangkan Jenni yang kini sudah terbangun dari pingsanya, mendadak terdiam dengan pandangan kosong dan air mata yang terus mengalir.


"Sayangg minum dulu ya," seru Arvan memberikan sebuah gelas air minum pada Jenni untuk menetralkan sedikit perasaanya.


Namun tidak ada sama sekali jawaban dari istrinya, Jenni benar-benar merasa terpukul saat ini.


Dia hanya mampu berpikir dan menyalhkan takdir yang begitu pintar dalam bermain di kehidupanya.


"Kembalikan Albert padaku," lirihnya pelan, dan terlihat menangis tanpa suara.


Sikap Jenni saat ini benar-benar membuat Arvan sangat terpukul, dan lebih memilih menangis dengan mengalihkan wajahnya ke sisi lain. Karna tidak sanggup melihat Jenni yang seperti ini.


Baginya lebih baik Jenni menangis histeris dan memukul dirinya, dari pada dia harus menangis dalam diam yang paling berat dalam sejarah kehidupan.


Karna dia pernah dengar seseorang mengatakan padanya, jika manusia lebih baik menangis dan berteriak lalu hatinya menjadi lega, di bandingkan harus menangis dalam diam dan di pendam, karna itu akan berujung pada mental orang tersebut, dan Arvan tidak mau itu terjadi lagi dengan Jenni.


To be continue.


Teman-teman jangan lupa ya mampir di karya Alson, mimin sudah update hari ini, jangan lupa di like, komen dan di favoritekan ya.


Dan yang untuk bertanya karya Aiden, sabar ya Mimin update satu-satu, setiap bulanya.


Dan untuk karya Arvan akan mimin upadate slow karna mengingat karya Ini dan karya Lucas sudah mimin tamatkan besok mudahan ya.


Untuk karya Grifiin, Mimin sudah buat, tapi nanti mimin informasikan lagi ya selanjutnya bagaimana.


untuk kalian semua para readers mimin, yang paling penting di sini mimin mau ucapin terima kasih yang Sebesar-besarnya pada kalian semua yang sudah mendukung dan menyemangati mimin.


Mimin akan sanggupi permintaan kalian yang meminta cerita karya mereka satu persatu, mulai dari Alson,Aiden,Brio,Brina,Griffin yang akan mimin satukan dengan kisah cinta Uncle Jesper ya.


Oh ya, jangan bilang karya mimin rahasia illahi ya, karna jika bukan mementingkan perasaan dan kesenangan kalian semua, mimin gak mungkin membangkitkan Alson, Jenni dan yang lainya.


Jadi karna mimin sangat menghargai kalian, tolong hargai mimin juga.


Terima kasih semuanya🥰🥰


Rere mencintai kalian semua pembaca yang terhormat😘😘🌹❤️