
Happy Reading Bestie 😘
Arvan tertegun mendengar semua itu, dia mengira jika Jenni akan lupa akan kejadian saat itu.
"Lucu sekali bukan? Kalian yang membunuh, namun kamu yang memaksaku seakan — akan ingin menolongku," Jenni masih tidak bisa berpikir, kenapa orang seperti Arvan bisa bertindak sejahat itu kepadanya.
"Jenn, aku melakukan itu semua karena -;"
"Karena memanfaatkan kebodohanku? Atau karena kamu yakin aku tidak bisa berpikir pada saat itu?" Arvan kembali terdiam.
Dia tidak menyangka, saat ini Jenni yang dia kenal sebagai wanita lemah lembut, dan penurut, kali ini telah berubah menjadi sosok wanita yang pembangkang. Bahkan dia terlihat seperti wanita yang ingin menunjukan kekuataanya.
"Kamu memanfaatkanku demi kepuasaau semata, kamu menawarkanku sebuah perjanjian One Night Stand, lalu -,"
"Lalu besoknya kamu memaksaku untuk menikah? Aku pikir kamu tulus, aku pikir kamu akan menikahiku karena kamu menginginkanku, tetapi ternyata kamu menikahiku dengan nama Mira di atasnya."
"Jenni," ucapnya terhenti ketika Jenni kembali menatapnya dengan tajam.
"Aku belum selesai berbicara Van," tegasnya dengan telak, mengunci bibir Arvan yang sepertinya ingin mengelak dari semua kenyataan yang diberikan oleh Jenni.
"Kamu menikahiku, namaku adalah Jennifer, tetapi kamu menggunakan nama Mira, Amira yang kamu tuliskan dalam surat pernikahaan, undangan pernikahaan bahkan di seluruh dunia dalam resepsi pernikahaan kita kamu juga menuliskan namanya."
"Lalu sekarang apa? Kamu bahkan ingin meletakan nama Mira sebagai ibu dari anak — anakku, kamu egois Arvan, kamu benar — benar egois, kamu hanya memikirkan tentang diri kamu sendiri tanpa pernah kamu tahu bagaimana sakitnya perasaaku selama ini."
Jenni terduduk lemah, ketika dirinya telah mencurahkan semua perasaanya.
Sedangkan Arvan, kini hanya kembali diam tanpa bisa berpikir lebih panjang lagi. "Jadi kamu sudah tahu, jika pada saat itu aku dan Robertlah yang telah menabrak Lola? Ucap Arvan dengan begitu santai.
Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun dari pandanganya, bahkan kini Jenni bisa melihat senyuman itu ada di bibir suaminya.
"Tentu saja, dan pastinya kamu merasa bangga karena sudah berhasil membohongiku," sahut Jenni lagi.
Arvan hanya bisa membalas kalimat Jenni dengan helaan nafas kasarnya. Karena semua yang dikatakan oleh Jenni itu adalah benar, dan dia sama sekali tidak memiliki kuasa ataupun sebuah alasan untuk mengelak semua kalimat dari Jenni.
"Kenapa kamu diam? Apakah kamu sudah
Sontak saja, wajah Lola berubah kemerahan seperti kepiting rebus, dia begitu malu pada Jenni, semenjak wanita itu tidak sengaja menemukan buku hariannya yang dengan sadar dia menuliskan bahwa dia mencintai majikannya sendiri.
"Nona," lirih Lola, meminta agar adik majikannya itu berhenti menggodanya.
Jenni tertawa dengan riang, "iya — iya, akukan sudah berjanji untuk merahasiakan semuanya, jadi kamu tenang saja ya," ucap Jenni, membuat perasaan Lola sedikit legah.
Dan tidak lama kemudian, terlihat pintu kamar Jenni yang terbuka, menampilkan sosok laki — laki yang sejak tadi memanggilnya.
"Huftt, adik nakal ya, padahal kamu mendengar jika kakak sedang memanggilmu, lalu kenapa kamu tidak menyahutinya?" Jesper memasang wajah sok galak, namun bukannya takut Jenni malah tertawa melihatnya.
Karena ketika kakaknya itu marah, bukanlah wajah galak yang terlihat, melainkan wajah yang begitu lucu bagaikan badut.
"Jenni, kakak sedang marah dengan kamu," tegasnya, membuat Jenni semakin tertawa dengan nyaring.
"Nona, bisakah Anda berhenti tertawa dan bergerak? Karena nanti riasan rambut Anda bisa berantakan," ucap Lola, meminta agar Jenni bisa kembali tenang seperti tadi.
"Baik — baik, karena aku tidak ingin duduk seperti ini lebih lama lagi, maka aku akan menurutimu," ucap Jenni yang langsung mengehentikan tawanya.
Lalu Jenni mulai mengatur nafasnya agar bisa kembali tenang. "Ada apasih kakak aku yang ganteng ini? Masuk — masuk marah — marah gitu? Nanti gantengnya hilang 10h," Jenni memang selalu saja menggombalin kakaknya, dan itulah yang membuat Jesper sama sekali tidak bisa marah dengan adik manjanya ini.
Jesper menghela nafasnya kasar, lalu dia memilih untuk berbaring di atas tempat tidur adiknya, yang dia anggap terasa nyaman untuk dilewatkan.
"Kakak numpang tidur dulu ya," ucapnya pada Jenni.
"Itu apakah kamu tidak melihatnya?! Kakak membawakan kamu marshmallow kesukanmu, jadi kakak boleh dong tidur di kamar kamu." Jesper menunjuk meja yang berada di sebelah adiknya dengan mata yang tertutup.
Jenni tersenyum dengan lebar, lalu dia segera mengambil bingkisan yang ada di dekatnya.
"Baiklah, tidurlah dengan pulas ya, kakak aku sayang, lain kali marhmallownya bawa yang lebih banyak lagi," ucapnya dengan terkekeh.
"Apakah kamu mau Lola?" tawarnya pada sahabatnya.
"Mau Nona, tetapi saya akan menyelesaikan
tidak memiliki mulut untuk bicara? Katakan kepadaku! Apa maumu sebenarnya? Dan mengapa kamu memperalat wanita seperti aku untuk mendapatkan keinginanmu!” Pekik Jenni, yang sudah terlalu marah melihat Arvan yang tidak ada meresponnya sama sekali.
"Jen, aku tahu kamu saat ini sedang emosi, dan semua yang kamu katakan iłu adalah benar." Arvan tidak mempunyai kalimat yang bagus untuk berusaha membujuk Jenni.
Jika sebelumnya dia mempunyai nyawa Lola sebagai jaminan agar Jenni bisa menurutinya dan takut kepadanya, sekarang dia tidak mempunyai apa — apa, untuk terus membuat Jenni takut kepadanya.
Dan karena keadaan sudah mulai tidak kondusif, Arvan memilih untuk pergi saja dari ruangan iłu, meninggalkan Jenni yang terus saja berteriak — teriak memanggilnya.
"Mau kemana kamu?! Urusan kita belum selesai Arvan!" Teriak Jenni, terus berusaha menghalangi jalan dari pria yang memilih untuk menghindarinya iłu.
Sedangkan di Sisi lain, terlihat seorang pria yang tengah duduk dengan wajah pucatnya.
Sudah beberapa bulan ini dia hanya terlihat seperti hidup tetapi mati dałam jiwanya. Dia terus menghabiskan wakty dengan bekerja sebagai sarana yang membantunya untuk menghilangkan rasa kesepiannya akibat adiknya yang kabur dari rumah.
Pria iłu adalah Jasper, kakak laki — laki dari Jennifer, dialah sosok yang nekad menjodohkan adiknya dengan seorang pria bernama David.
"Jenni, sebenarnya kamu di mana? Kakak benar — benar sangat merindukanmu Jenn, kembalilah sayang," lirihnya pelan, tanpa terasa air mata iłu kembali jatuh menetes di pipinya.
Entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan, terasa sakit jika dirinya harus mengingat ke — egoisannya dulu.
Flash Back On.
"Heiiii, Jenni„ Jenni cantiknya kakak, kamu di mana?" teriak Jesper yang baru saja pulang dari Kantor.
Jenni yang sedang berada di dałam kamar bersama dengan Lola kini mendengar suara teriakan dari kakak kesayanganya iłu.
"Lola, apakah kamu mendengarnya?” tanya Jenni pada Lola, yang tengah sibuk merapikan rambut Jenni.
"Ahh, saya mendengarnya Nona, iłu adalah tuan Jesper yang baru saja pulang dari kantor," jawab Lola dengan lembut dan sopan.
Sepanjang harinya, Lola akan selalu bersama dengan Jenni, baik setiap detik maupun menit, tidak akan pernah Jenni bisa berpisah dengan Lola.
"Lola, apakah kamu masih mencintai kak Jesper?" tanya Jenni dengan sedikit menggoda sahabat sekaligus asistennya iłu.
"rambut Anda terlebih dahulu ya," ucap Lola dengan pelan.
Jenni sebenarnya tahu, jika sahabatnya iłu sedang menahan rasa gemuruh di dałam hatinya karena keberadaan Jesper yang membuatnya menjadi gugup dan salah tingkah.
'Aku akan mempersatukan mereka,' batin Jenni, yang berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan menjodohkan Kakak laki — kakinya dengan sahabat satu — satunya.
To Be Continue.
Hallo Teman - Teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadinya untuk Mimin, agar Mimin semakin semangat lagi untuk updatenya.
Dan Jangan lupa untuk Mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.
Teriama Kasih.