
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah mengudara beberapa jam, kini Jet pribadi milik Arvan itu telah mendarat sempurna di sebuah Markas besar nan mewah milik keluarga Manopo.
Tidak ada yang menampilkan ekepresi wajah biasa, semuanya terkesima dengan kemewahan dan seluruh alat canggih yang berada di Markas ini.
Bagaimana tidak, di sini adalah tempat penyimpanan seluruh barang dan aset mewah keluarga Manopo yang sudah tidak bisa di hitung lagi berapa jumlahnya.
Terlihat dari jejeran Jet dengan merek termahal dunia yang berjejer rapi, hingga tidak bisa di hitung berapa banyak jumlahnya, yang pasti jika di perkiraan Jet pribadi itu lebih dari 50 pesawat.
Dan kini lagi-lagi mereka melihat puluhan pesawat tempur yang berlogokan M yang menandakan itu milik keluarga Manopo.
"Anjir gila sih ini, wajar aja kalo bokap mu di panggil Lord," bisik James di telinga Albert yang juga sama terkagumnya melihat seluruh aset kekayaan Papahnya.
"Kamu gak berniat nikah lagi gitu Albert ? Atau apa? Kita selingkuh aja yok," sahut Martin yang merasakan jiwa kemiskinanya yang meronta-ronta melihat semua ini.
Albert diam tidak menjawab, karna dia sendiri saja tidak menyangka jika dia memiliki orang tua sekaya ini.
Merka terus berjalan, hingga sampai keruangan utama dari Markas itu.
Terlihat Gina yang sedang sibuk dengan komputer-komputer canggih miliknya, dan memproses sesuatu.
"Princess Shea, sudah waktunya." Seru Gina mempersilahkan Stella untuk memasukan beberapa kode untuk mengeluarkan Iris dalam tempatnya.
Dan di saat Iris itu keluar, seluruhnya menatap takjub dengan alat itu, Mereka seperti tidak mengenali Stella lagi karna menggunakan kaca mata itu.
Sedangkan Brio, dia langsung bergabung dengan Gina, untuk mengalihkan dan mengaktivkan seluruh alat dan senjata tekhnolgi yang siap untuk di gunakanan saat ini.
"Gina, lacak Mansionya," perintah Arvan yang sudah merasa siap untuk menyerang ke kediaman Jacob.
"Baik Lord," sahut Gina lalu beralih lagi pada komputernya.
"Location detected," suara operator komputer yang meyatakan jika mansion Jacob telah di deteksi.
Gina kembali melihat apa yang telah di temukan oleh komputernya.
"Lord, berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Mansionya berada di daerah Asia Timur dunia ini, dia membangun Mansion dintengah gurun pasir agar menyulitkan siapapun untuk menemukan dan melacak keberadaanya, dan jika kalian ke sana, kalian harus berhati-hati." Jelasnya memperlihatkan gambar-gambar di sekitar Mansion itu.
"Dia memilik gelombang pelindung di bagian depan, dan Mariam otomatis yang bisa mendeteksi adanya lawan yang datang." Timpalnya lagi membuat Arvan berfikir sejenak langkah apa yang harus di ambil.
Namun tidak dengan Brio yang tersenyum luas dengan hasil kerjanya. "The cannon signal has been disabled ( sinyal meriam telah di nonaktifkan)," lagi suara Oprator yang berbicara.
Namun kali ini membuat Arvan dan lainya menatap serius ke arah Brio. "What the hell? Brio apa kamu berhasil meretas sistemnya?" tanya Mario yang kagum dengan apa yang di lakukan putranya ini.
Brio hanya menaik turunkan alisnya sebagai jawaban yang di butuhkan.
Di usia muda dia berhasil meretas sistem-sistem di berbagai belahan Dunia.
"Baiklah semua, malam ini kita berangkat menyerang, perhatikan senjata kalian baik-baik!"
"Robert akan mengajarkan kalian cara kegunaanya terlebih dahulu, dan kamu Albert, jangan lupa ajarkan kakak kamu bagaimana caranya membunuh dengan sekali tembakan, agar tidak ada lagi kemungkinan mereka akan bangkit dan meyerang. Apa kalian semua paham,"'tegas Arvan yang memimpin pasukanya.
Sedangkan Stella saat ini sedang berada di ruangan khusus untuk mengendalikan dirinya yang berada di bawah tekanan Iris.
Karna alat itu sudah berpuluh-puluh tahun tidak di gunakan, sehingga dirinya mungkin terlihat kaku saat ini.
****
Sedangkan di sisi lain, Briell tak ada hentinya berdoa untuk keselamatan suaminya dan berharap semuanya akan kembali normal dan Mamah Jenni bisa kembali berkumpul bersama dengan keluarga.
Dan tiba-tiba saja Mommynya datang memeluk tubuhnya dari belakang, menyalurkan kekuatan agar Dirinya agar tidak terlalu khawatir dengan keadaan.
"Mommy, apakah mereka akan kembali cepat? Tiba-tiba saja Caby pengen di sentuh oleh Papahnya," lirih Briell sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Eden tersenyum mendengar ucapan putrinya yang terkesan menutupi rasa gelisahnya itu. "Yakin dan berdoalah untuk keselamatan mereka sayang, dan semoga saja setelah ini tidak akan ada masalah besar lagi yang datang menghancurkan dan mengancam keselamatan kita dan yang lainya," harapan Eden yang menatap lurus ke depan.
Dia berharap setelah ini hubunganya dengan suaminya juga akan menjadi lebih harmonis lagi.
********
Di sisi lain di Indonesia.
Aiden kini telah memandang serius ke arah wanita yang kemarin di tabrak olehnya.
"Mengapa kamu keluar rumah sakit tanoa izin dari ku?" bentaknya yang tidak suka dengan cara wanita ini, yang pergi dari rumah sakit tanpa menunggunya terlebih dahulu.
Namun bukanya menjawab wanita itu malah sibuk dengan lukisan-lukisan yang dia buat.
Bragghhhh Aiden menghancurkan den menendang canva yang saat ini sedang ada di gunakan wanita itu.
Bahkan Aiden langsung merampas alat oewarna yang ada di tangan wanita itu dan membuangnya ke sembarangan arah.
Plaaaakkkkkkkn satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Aiden.
"Shitt! Berani-beraninya kamu ya, aku bertanya baik-baik denganmu, begini kah caranya orang tuamu mendidik ha," bentak Aiden dengan keras yang nyaris mendapatkan satu tamparan lagi dari wanita itu, namun dengan cepat Aiden menangkisnya.
"Apakah kamu bisu? Bukankah di awal kita ketemu kamu menangis dengan kencang menggunakan mulut mu ini ha?" teriaknya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari wanita ini.
"Baiklah aku akan membuatmu berteriak dan bersuara senyaring mungkin," ucapnya lalu mendorong tubuh wanita itu ke sofa yang berada di dalam ruangan itu.
"Mau apa kamu ha? Cepat pergi dari sini," bentak Wanita itu yang akhirnya mengeluarkan suarnya.
Namun bukanya keluar Aiden malah tersenyum iblis sambil menanggalkan pakaianya. "Ternyata kamu tidak bisu, namun sudah terlambat jika kamu mengeluarkan suarmu itu sekarang," balanya lalu dengan cepat menindih tubuh wanita itu.
Plaaaaaakkkk sekali lagi wanita itu berhasil menampar wajah Aiden, membuat pria itu benar-benar murka dan merobek seluruh pakaianya tanpa tersisa satupun.
"Kamu mau apa, hisskkk,,hisskk lepas, kita sudah tidak ada urusan lagi," mohonya untuk di lepaskan.
Namun bukannya melepaskan Aiden malah membuka seluruh pakaianya.
Aiden benar-benar gila saat ini, dia membutuhkan pelampiasan dari rasa sakit hatinya kehilangan wanita yang sangat di cintainya.
Wanita itu mengambil kesempatan ketika Aiden tengah sibuk melepaskan celananya.
Dia bangkit diam-diam dan ingin berlari, namun pergerakanya sudah di baca oleh Aiden. Sehingga belum sempat dia melangkah Aiden sudah lebih dulu menangkapnya dan menindih kembali tubuhnya di sofa.
"Jangan please tolong aaaarrrrrrggghhh," teriaknya ketika Aiden sudah berhasil memasukan kukubirdnya itu dan merobek kehormatan milik wanita itu.
"Brengsek kamu bajingan," teriak wanita itu di depan wajah Aiden yang sudah berhasil menghancurkan masa depanya.
Bukanya merasa bersalah Aiden malah tertawa dengan sangat puas. "Kan sudah aku bilang, kamu pasti akan berteriak dan mengeluarkan suaramu itu senyaring mungkin," lirihnya yang membuat wanita itu memandang benci ke arahnya.
Dan detik kemudian, Aiden menggoyangkan pinggulnya dengan sangat kasar, dia bahkan tidak perduli dengan wanita yang berada di bawahnya ini sampai menangis menahan sakit akibat dari penyatuaan mereka.
Aiden melakukanya tanpa ada kelembutan sama sekali, membuat apom wanita itu mungkin sudah robek tidak karuan.
Terbukti wanita itu yang merasakan perih dalam penyatuan mereka, namun Aiden sama sekali tidak mempedulikanya, baginya dia harus melampiaskan kemarahanya saat ini, walaupun dengan wanita yang baru saja dia kenal.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra