
🌹 Happy Reading 🌹
"Ini gak mungkin," lirihnya Morgan dengan pelan, ketika mendapatkan sebuah kenyataan jika ayah kandungnya adalah seorang penguasa dunia.
Terlebih lagi jika Ayahnya itu adalah paman dari pembunuh pamanya. Dengan tatapan sendu Morgan melirik ke arah Briell, "sayang ini gak benar kan, dia bukan Ayah ku kan," Tolaknya yang tidak ingin jika berhubungan dengan orang seperti Arvan.
Mario yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Menantunya itu. Kini melangkah mendekat ke arah Morgan dan memeluknya memberikan sebuah dekapan hangat layaknya seorang ayah kepada putranya. "Takdir tidak bisa kamu tolak Nak, dialah Ayah kandungmu. Dan apa pun yang dia perbuat di masa lalu maka kamu harus memaafkanya untuk kebahagian Mamah kamu di sana," lirih Mario pelan dengan memberikan sebuah nasehat kepada menantunya yang sangat terpuruk saat ini.
Eden bahkan tidak tinggal diam, dia juga ikut memberikan pelukan hangat pada Morgan sebagai seorang Ibu yang menyayangi putranya. Mamah Jenni memang sudah tiada Nak, tapi di sini ada Mommy yang juga telah menjadi ibu kamu," senyumnya tulus membawa Morgan ke dalam dekapan hangat layaknya seorang ibu kandung.
"Hissk,,hisskk, apa ada yang bisa menjelaskan padaku, bagaimana bisa Papah tidak menemani Mamah di saat kami lahir?" Tanyanya yang membuat Mario dan Jesper saling memandang merasakan sesak di dada mereka.
Mereka tidak ingin mengatakanya, karna Mario takut jika nanti Morgan akan membenci ayah kandungnya, Namun ini harus di jelaskan sebelum Morgan mengetahuinya di kemudian hari.
"Albert, kamu harus tau Nak, bahwa semua ini hanyalah sebuah masa lalu, jangan pernah membenci ataupun memusuhi ayah kandung kamu sendiri Nak," seru Mario yang memberikan sebuah peringatan pada Albert yang tak lain adalah Morgan.
"Gak aku Morgan Dad, aku bukan Albert," tolaknya mendapatkan nama baru yang di berikan padanya.
Jesper yang mengerti pisikis Morgan yang tak semudah itu menerima kenyaataan pahit di kehidupanya, kini berjalan mengambil sesuatu dari dalam laci yang sudah tersimpan sangat lama.
Dia mengeluarkan sebuah box yang berisikan buku-buku Diary seluruh curhatan hati Jennifer, beserta foto-foto USG hasil pemerikasaanya dulu ketika mengandung Alson dan Albert."
"Nak ini adalah buku catatan harian Mamah mu, kamu bisa membacanya dan kamu akan menemukan jawaban dari apa yang kamu ingin ketahui, dan di sini tertulis jelas jika Albert adalah nama yang Mamah kamu inginkan untuk melekat pada dirimu, namun orang lain menggantinya," Lirih Jesper sedih di saat Keponakanya itu menolak nama yang di berikan Jennifer kepadanya.
Morgan yang melihat raut wajah sendih dari pamanya itu akhirnya memilih mengalah saat ini. "Baiklah paman, sekarang nama ku adalah Albert Emilio, putra dari Mamah Jennifer," Ucapnya pelan dengan nafas yang terasa sangat berat sekali.
Jesper yang mendengar itu, sontak langsung tersenyum bahagia memandang pada Albert yang wajahnya benar-benar foto coppy dari Jenni, "kunjungilah makam Mamah dan kakak kamu Nak, mereka pasti akan senang jika kini kamu sudah kembali bersama kami." ujar Jesper dengan penuh kebahagiaan.
Dia tidak menyangka, di usianya yang hampir masuk 50 ini, dia baru di pertemukan kembali oleh keponakannya yang hilang selama 25 tahun ini.
Bahkan dia awalnya mengira jika Albert sudah tidak ada lagi di dunia ini, mengingat dirinya yang tidak bisa menemukanya selama ini.
********
Sedangkan di sisi lain di sebuah Mansion besar di kediaman keluarga Lesham, terlihat Arvan yang tengah berada di Overide kemarahanya, kini memasuki Mansion itu dengan tatapan membunuhnya.
"Aiden keluar kamu!" Teriaknya mecari sosok pembunuh putranya, dengan perasaan yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi.
Dalam kemarahan seperti ini, siapa pun tidak akan ada yang bisa menghentikan Arvan termasuk Stella adiknya sekalipun.
Inilah tekhnolgi canggih yang dia ciptakan untuk Dunia, ketika Arvan marah maka Dunia saja bisa hancur di tanganya, mengingat bahwa dia lah otak Dunia yang mengalihkan seluruh tekhnologi-tekhnolgi canggih di Bumi ini.
Bahkan hanya dia yang bisa mengaktifkan ataupun menonaktifkan Satellit jaringan di Bumi, maka tak heran jika dia di juluki sebagai Lord.
"Aiden keluar kamu! Jika tidak akan ku ratakan bangunan ini!" Teriaknya benar-benar menggila.
Dan tak lama keluarlah sesok Stella,Arnon, Airen, Aiden dan Roger suamin airein.
"Kak, ada apa sih kakak teriak-teriak seperti itu? Ini bukan hutan ok," sahut Stella yang kesal dengan kakaknya yang tiba-tiba saja datang dengan berteriak seperti orang kesetanan.
Namun bukanya menjawab, tanpa aba-aba Arvan langsung maju dan menghajar Aiden habis-habisan.
Buggghhhhhhh,bbbuuugghhhh.
"Aaarrggggghhh Uncle," jeritan kesakitanya, di saat tubuhnya di tendang secara brutal oleh Arvan.
"Kakak," teriak Stella dan Arnon bersmaan, setelah melihat putranya di perlakukan seperti itu oleh Pamanya sendiri.
Dengan cepat Stella berjalan mendekati Putranya yang tergeletak dengan darah yang terus menerus keluar dari mulutnya.
"Uhuhhkk,,uhukk," batuknya dengan muntahan darah yang keluar.
Tangis Stella pecah di saat melihat, kepala putranya yang robek akibat terbentur dengan sangat keras.
Arnon merasa tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Arvan saat ini.
Bahkan dia balik menyerang tanpa mengingat bahwa Arvan adalah kakak iparnya.
Buggghhhh,,buggghhh,,bughhh perkelelahian secara brutalpun terjadi di antara Arvan dan Arnon, yang pada akhirnya Arnon terkapar tidak berdaya dengan tangan yang di patahkan oleh Arvan.
Arvan adalah sosok yang nyaris tidak pernah mengeluarkan taringnya, namun kali ini dia harus membalaskan sendiri rasa sakit yang putranya alami akibat kelakuan dari Keponakanya.
Ayah mana yang tidak sakit hati, mengetahui jika putranya di bunuh oleh seseorang sekalipun itu keponakanya sendiri.
Di tambah dengan kesalahan besar yang dia perbuat, menjadikan rasa penyesallan yang terat karna merasa gagal, bahkan sangat-sangat gagal menjadi seorang ayah yang dapat melindungi putranya.
"Hiskk,,hisskk, cukup kak! Sebenarnya ada apa? Kenapa kakak menyerang keluarga Shea seperti ini? Apa salah Aiden kak?" teriakan Seltella histeris di saat melihat Arvan yang kembali mendekat ke arah Aiden.
Buggghhhhh, Arvan mendorong tubuh adiknya agar tidak menghalangi jalanya.
Ckllleeekkkkk, Arvan mengeluarkan pistol yang berada di tanganya semenjak tadi.
"Kakak," teriak Stella lagi di saat Arvan menodongkan pisau itu kepada putranya.
"Uncllee Aiden salah apa sama Uncle? Hissk,hisk, kenapa Uncle tiba-tiba saja menyerang dan ingin membunuh ku seperti ini," tangisnya yang merasakan sakit yang hebat, ketika Arvan menginjak perutnya dengan sangat keras.
"Lepas kak, jangan injak perut anak Shea, nanti dia bisa terluka dalam, kakak sadar!! Kita ini keluarga, kenapa kakak menyerang kami seperti ini secara tiba-tiba!" bentak Stella sambil memukul kaki Arvan yang tidak bisa bergerak dari atas perut Aiden.
Plaaaaaakkkkkkkk satu tamparan berhasil Stella layangkan agar kakaknya itu segera sadar dari hal gila yang terjadi saat ini.
"Kakak, kamu ini kenapa jawab!" bentaknya lagi dengan tegas, dia tidak bisa melihat putranya yang kesakitan seperti ini.
Arvan diam tidak menjawab, dia terus menerus menarik platuk pistolnya bersiap untuk menembak.
"Kenapa kakak mau membunuh putraku kak kenapa hisk,,hiskk," tangis Stella lagi-lagi pecah di dalam kondisi seperti ini.
Jika saja orang ini bukan kakaknya, maka sudah Stella lenyapkan sendiri semenjak tadi.
Namun karna tak mendapatkan jawaban sama sekali, kini Stella berdiri di depan pistol yang Arvan layangkan untuk Aiden.
Stella mengarahkan pistol itu ke kepalanya.
"Mamah," teriak seluruhnya yang tidak menyangka apa yang di lakukan oleh Stella saat ini benar-benar lah berlebihan.
Platuk itu sudah di tarik, maka salah sedikit maka Stella akan mati dengan peluru yang akan menembak kepalanya.
Namun berbeda dengan Arvan yang menatap Stella dengan tatapan penuh amarah.
"Menjauh atau aku akan mengirimu beserta putramu ini untuk menebus dosa atau kematian putraku," ancaman yang di keluarkan Arvan dengan tegas.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
Mampir ke sebelah ya, cerita Arvan sudah mulai Mimin Publish, langsung cek Profil ya😘😘