
🌹 Happy Reading 🌹
"Albert kendalikan dirimu!" Tegur Jesper dengan tegas pada ponakanya yang bar-bar satu ini.
Namun yang di tegur sama sekali tidak menghiraukanya, dia malah semakin menatap tajam ke arah Papahnya.
"Pah, jawab Albert pah jangan diam aja? Kenapa Papah lebih mempercayai orang lain di bandingkan Mamah istri Papah sendiri? Ap salah Mamah sebenanrnya? Kenapa Papah selalu menyakiti Mamah berulang-ulang seperti ini," Dia mengguncang-guncangkan tubuh Arvan, meminta penjelasaan dari semua pertanyaan yang ada di otaknya saat ini.
"Papah percaya dia, karna Papah mengira dia tidak akan berkhianat Albert, orang tuanya yang dulu membantu Nenek Amanda untuk melahirkan Papah dan Aunty Shea, dan dari situ Kakek Andreas selalu percaya dengan keluarganya turun menurun, karna kamu tau kita hidup di dalam kawasan penuh dengan bahaya yang mengancam sehingga tidak mudah bagi kami untuk percaya pada dokter dari luar selain yang sudah di percaya, namun ini semua di luar kendali Papah, keluarga Malik benar-benar sudah melampaui batas," ungkapnya dengan sejujur mungkin, menceritakan keadaan di saat itu.
Dia bodoh karna percaya dengan orang lain, dan begitu tega mengurung istrinya dalam sebuah gudang, dan mungkin di saat ada kesempatan di situlah Jenni kabur dalam keadaan mengandung besar, namun karna amarah yang sudah begitu besar, Arvan membiarkanya saja tanpa ada niat ingin mencari Jenni.
Karna dia beranggapam jika bayi yang di kandung Jenni bukanlah darah dagingnya, melainkan benih orang lain.
"Arrrggghhh brengsek, praaannggg," Albert melampiaskan kemarahanya dengan meninju kaca jendela hingga hancur berantakan.
Alson berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati adiknya.
Dia memeluk tubuh adiknya itu dari belakang, karna dia tau sebagai kakak dia harus memberikan kedamaian buat keluarganya ini.
"Ikhlaskan lah Albert, ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Papah, kita juga harus mengerti keadaan Papah Albert." ucapnya memberikan adiknya ini pengertian agar tidak terus menerus membenci sosok Papahnya.
"Lihat dia Albert," tunjuknya pada sosok Arvan yang saat ini terduduk lemah, menikmati penyesalaan yang tak berguna.
Bahkan dia sama sekali tidak malu dengan seluruh anak buahnya yang menatap keadaanya yang lemah seperti ini.
"Dia Papah kita bukan Tuhan Albert, dia Papah kita bukan Malaikat, dia bukan Dewa Siwa, atau siapa pun, dia adalah manusia biasa yang tak luput dari sebuah kesalahan, dia memang penguasa dunia, tapi dia juga adalah mahluk hidup, sama seperty kamu, seperti aku, seperti Mamah juga." tandasnya benar-benar tidak ingin jika keluarga kecilnya ini saling membenci dan bermusuhan.
Baginya sudah cukup keluarganya terpecah selama 25 tahun ini, sudah cukup hidup mereka bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal selama ini.
Sekarang sudah waktunya mereka untuk bahagia, sekarang sudah waktunya mereka mengungkapkan kasih sayang mereka satu sama lainya.
Dia menarik tangan Albert menuntunya mendekat ke arah Arvan yang terduduk di lantai. Dan saling menyatukan tangan mereka.
"Pah, mungkin dulu memang adalah sebuah kesalahan. Tapi berjanjilah jangan mengulanginya kembali, Alson dan Albert adalah anak Papah, bukan anak orang lain." serunya dengan meneteskan air matanya di depan Arvan.
Arvan menganggukan kepalnya sendu. "Aku Papah kalian, aku yang membuat kalian, kalian anak Papah," tangisnya pecah merangkul tubuh kedua putranya dengan rasa sayang yang selama ini terpendam.
Arvan melirik sekilas kepada dokter pria yang saat ini sedang berdiri dengan kaki yang sudah bergemtaran.
Dia melepaskan pelukannya, lalu menatap tajam lagi ke arah dokter pria itu.
"Jelaskan sekarang! Jangan sampai kamu berkata bohong di sini." Titahanya pada dokter pria itu yang terlihat bingung ingin memulai dari mana.
"Jawab cepat! Punya mulut kan," bentak anak buahnya sambil menghantam wajah dokter itu.
"Maafkan saya Lord, saya hanya di gerakan oleh Tuan Jacob," tangisnya ketakutan, entah apa yang akan di lakukan Arvan kepadanya setelah mengetahui apa yang sudah dia lakukan.
Dokter itu benar-benar tidak tau ingin memulai dari mana, apa yang di lakukanya benar-benar sebuah kesalahan yang sangat-sangat besar.
"Sa,,ya melakukan operasi perubahan wajah pada pasien yang sudah frustasi ingin mengakhiri hidupnya, saya merubah wajahnya agar menjadi sama persis dengan Queen Jenni, dan ketika Queen Jenni melahirkan, di situ kami masih mengulur waktu dengan terjadinya sebuah penculikan salah satu bayi milik Anda Lord, lalu Tuan Jesper mengejar pria itu dengan membawa bayi yang satunya lagi, dan di saat itulah kami menukar Queen Jenni yang asli dengan yang wanita yang sudah kami suntik dengan cairan kematian, dan itu yang membuat Tuan Jesper masih bisa berbicara denganya sebelum kematian itu datang, itu yang membuat tuan Jesper percaya jika itu adalah Queen Jenni istri anda Lord." ungkapnya dengan sejujur-jujurnya.
Arvan mengepalkan tanganya ingin bangkit dari duduknya. Namun Alson menahanya. "Cukup Pah, jangan kotorin lagi tangan Papah dengan darah seorang pengkhianat." Mohon Alson yang sudah tidak tahan melihat Arvan terus menerus menyiksa seseorang meskipun dia salah.
"Bawa dia ke markas! Dan bunuh dia dengan cairan kelumpuhan." Perintah Arvan pada seluruh anak buahnya.
Namun Albert seperti tidak terima dengan keputusan Papah dan kakaknya itu.
"Pah, kak gak bisa gitu aja! Dia itu udah melakukan kesalahan yang sangat fatal, jika kalian gak bisa kasih hukuman biar Albert yang memeberikan hukuman." sahutnya benar-benar tidak terima.
"Albert cukup, jangan kotori tangan mu, ingat Briell sedang hamil, jangan buat dia yang menerima akibat dari apa yang kamu lakukan saat ini." Alson memberikan sebuah peringatan kepada adiknya.
Alson mengendus nafasnya kasar, dia pusing mempunyai Papah dan adik yang mempunyai sifat Psychopat seperti ini.
"Bawa dia ke Zein, biar anak itu yang mengurusnya!" perintah Arvan lagi yang memilih menggunakan Zein yang menyelesaikan hukuman untuk pengkhianta ini.
"Baik Lord," balas seluruh anak buahnya dan dengan segera membawa dokter pria itu, serta membersihkan mayat dokter wanita yang tadi di bunuh oleh Arvan sekaligus sisanya.
"Pah, sekarang Papah bersihkan diri dulu, lalu tenangkan diri Papah dulu ya, nanti kita pikirin lagi gimana solusinya untuk menghadapi Jacob, yang Alson sendiri gak tau apa niatnya dia sebenarnya." ucap Alson dengan lembut, agar Arvan bisa sedikit menenangkan hatinya.
Karna menurutnya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dengan seperti ini terus menerus, ini bukan hanya masalah kecil, namun ini sudah masalah yang besar, tidak mungkin pria itu dengan berani menyekap istri dari penguasa dunia, apalagi sampai 25 tahun seperti ini, jika tidak memiliki dendam besar pribadi dengan Papahnya.
Arvan menangguk menurut pada putra pertamanya, dengan segera dia beranjak untuk pergi membersihkan dirinya dari darah-darah yang menjijikan.
Sedangkan Albert, memandang malas ke arah Alson yang selalu saja bersikap berlebihan, "terserah," bentaknya dengan kasar pada kakaknya, dan lalu melangkahkan kakinya masuk menuju kamarnya untuk meredam emosinya.
Dia ingin meluapkan amarahnya saat ini, dia benar-benar sakit hati dengan apa yang terjadi dengan Mamahnya dulu.
Dia berniat untuk membalas dendam dan pasti dia berjanji akan membawa Mamahnya itu kembali, dalam keadaan apa pun. Itu pasti.
Visual Alson Emilio Manopo
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra