Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 10



🌹 **Happy Reading **🌹


Jenni barlari masuk ke dalam kamarnya, dia menangis dengan sangat kencang, menahan rasa sakit di dadanya.


"Mengapa harus Jenni Tuhan, kenapa harus Jenni yang menjadi korban masa lalunya, hisskk,,hisskk, Jenni bukan Mira, Jenni adalah Jennifer, bukan Amira," tangisnya sesegukan, meningat betapa sakitnya dia mendengar suaminya mencintai wanita lain namun bukan dirinya.


Bahkan di kamar ini, di kamar miliknya bersama dengan Arvan, di kamar yang seharusnya menjadi saksi cinta dan kemesraan mereka, lagi-lagi Arvan melukiskan luka dengan memasang beberapa pasang foto dan lukisan milik Mira, yang seharusnya foto dirinyalah yang ada di sana, bukan Mira yang statusnya hanya seorang kekasih saja.


Dengan tatapan sendu dan air mata yang masih terus mengalir, Jenni menatap tajam ke arah foto Mira menatapnya penuh dengan kebencian.


"Puaskan kamu, lihat sekarang apa yang sudah kamu hasilkan dari perbuatan kamu, harusnya kamu gak mati Mira, karna meskipun kamu Mati tapi kamu masih saja terus mengahantui pikiranya, kenapa ?," teriaknya yang sudah sakit menahan sesak yang sudah tidak bisa dia gambarkan lagi.


Jenni yang merasa depresi, kini mengambil Vasu bunga yang berada di sebelah meja riasnya.


Praaaaaannngggg dia melemparkan Vasu itu hingga menghancurkan foto besar milik Mira.


"Aaaarrrrgggghhhhhh," teriaknya sejadi-jadinya meluapkan amarah rasa sakit hatinya.


"Dia suamiku Mira, dia Suamiku tapi kenapa dia bukan milik ku, kenapa dia bukan kepunyaanku, kenapa dia harus menjadi milikmu, kenapa Mira? aaarrrrrggghhh," tangisnya lagi, kali ini dengan memukul-mukul dadanya yang sedikit merasakan sakit bagaikan tertusuk serinu pisau yang tak terlihat.


"Di sini,,di sini, kalian berdua melukai ku di sini, hisskk,,hisskk, aku gak tau apa salahku pada kalian hingga sampai di hukum seperti ini, aku ingin mundur, tapi Lola, aaaarrrggghhh Mira kembali lah, lebih baik kamu merebutnya secara nyata di bandingkan harus terus menerus berada di otaknya seperti ini, aku ingin memilikinya Mira, aku ingin menjadi istrinya yang sempurna bukan hanya sebuah bayangan atas cintanya ke kamu. Aku mohon kembali lah Mira." lirihnya dengan pelan merasa lelah atas emosinya yang memuncak.


Dan detik selanjutanya dia tertawa dengan sangat kencang.


Dia tertawa mengingat dirinya yang bodoh karna berharap cinta dari pernikahaan di atas perjanjian ini.


"Hahahah, aku lupa jika pernikahaan ini kan hanyalah sebuah perjanjian atas kehidupan Lola, wajar saja jika dia tidak perlu memaksa otaknya untuk melupakan Cintanya." serunya lagi dengan menyenderkan kepalanya lelah.


"Dari awal, ini hanyalah sebuah sandiwara, maka tak heran jika diri ku hanyalah di jadikan pemeran pengganti di saat pemeran utamanya sudah pergi, dan mungkin saja akan ada banyak lagi pemeran pengganti lainya yang harus membuatku siap menahan sakit lebih dari ini," Jenni menghapus air matanya dengan kasar, mengingat betapa bodonya di menangisi laki-laki yang dari awal mengikat dirinya dengan perjanjian kehidupan.


"Ingat, nama kamu adalah Jennifer, kamu adalah wanita kuat dan cantik, jangan merasa jika ini adalah akhir dari segalanya Jenni, banyak yang sayang sama kamu, dan ingat jika Tuhan selalu bersamamu," lirihnya pelan memberikan kekuatan pada dirinya sendiri, agar mampu bertahan dan menahan kesabaraanya menghadapi dan menggantikan peran orang lain sampai nanti tiba saatnya Lola kembali sadar dan dirinya akan pergi ke negara lainya.


Sedangkan di sisi lain, Arvan terlihat tengah sibuk melihat sebuah ballroom hotel termahal di dunia yang harga semalamnya sudah membuat siapapun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bagaimana tidak, Arvan bisa memiliki Hotel yang masuk menjadi hotel termahal nomor satu di dunia, Hotel yang terletak di Switzerland ini mematok harga yang sangat fantastis, siapapun yang menginap di sana harus benar-benar mengecek dompetnya baik-baik, karna satu malamnya hotel ini mematok harga hingga 12Miliyar untuk satu malam saja.


Dan di Hotel itulah Arvan akan mengadakan resepsinya bersama dengan Jenni.


Bukan hanya itu saja, bahkan Arvan sudah menyiapkan dan mengeluarkan dua puluh Jet pribadinya untuk di gunakan beberapa tamu undangan yang berada di berbagai belahan dunia untuk memudahkan mereka bisa sampai di tempat resepsi.


Mungkin saja jika di hitung-hitung biaya resepsi perjamuan ini, sudah menghabiskan biaya ratusan Triliune rupiah, dan hal itu sama sekali tidak membuat kantong seorang Lord Arvan jebol.


"Baik Lord, saya akan memastikan jika semua akan sesuai dengan apa yang ada di pikiran Anda, tapi Lord," balas Robert pelan, namun sedikit menggantung.


"Ada apa Robert? Katakan saja! Apa ada kendala di acara ini? Apa Jetnya masih kurang? Jika begitu tambah saja, aku masih punya 30'Jet yang lainya kan, tambah 10 saya rasa tidak masalah Robert," jawabnya lagi dengan sangat santai.


Namun Robert terlihat mengenduskan nafasnya pelan. "Lord, ini bukan masalah Jet atau biaya lainya," imbuh Robert yang merasa sikap Arvan saat ini sudah melenceng dari biasanya.


"Lalu ada apa Robert? Katakan saja,!" tegasnya yang tidak ingin betele-tele dalam pembahasaan pernikahaan ini.


Dia sangat begitu antusias sekali, karna dia bisa melihat secara nyata bagaiamana indahnya sebuah dekorasi pernikahaan impian dari wanita yang sangat dia cintanya.


Walaupun dia sedikit kecewa karna yang menjadi mempelai wanitanya adalah wanita lain, bukan Mira kekasihnya.


"Lord, maaf jika saya tidak setuju kali ini dengan perbuatan Anda." jawab Robert yang semakin membuat wajah Arvan terlihat kebingunan.


Dengan berani Robert menaikan kepalanya menatap ke arah mata Arvan. "Lord, yang anda nikahai saat ini adalah Queen Jenni bukan Nona Mira, apakah anda tidak bisa membedakan mana cinta masa lalu dan mana cinta masa depan Lord, Jika Anda menganggap Queen Jenni hanyalah sebuah boneka, berarti dia juga akan rusak jika selalu di mainkan dan tidak di rawat dengan baik," ucapnya memberikan peringatan pada Arvan yang masih saja terus terbelenggu dengan cinta masa lalunya.


Arvan yang sudah biasa mendengar perdebataan dari Robert yang selalu saja membantah atau menentang keputusanya itu hanya menggelengkan kepalanya singkat. "Aku tau apa yang harus aku lakukan Robert, aku memerintahmu bukan meminta nasehatmu." balasnya pelan namun membuat Robert semakin kesal kepadanya.


Robert langsung tersenyum sinis melihat Arvan yang tidak percaya dengan kata-katanya itu.


"Terserah saja Lord, saya sudah memberikan sebuah peringatan, jangan sampai menyesal jika sudah kehilangan." ucap Robert, yang lalu melangkahkan kakinya bahkan tanpa permisi.


Namun Arvan tidak mempermasalahkan itu karna Robert memanglah sudah terbisa seperti itu.


Datang di undang dan kadang pergi tanpa di suruh dan di usir.


Visual Amira Claudya Malik



**To be continue. **


Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra