
🌹 Happy Readingg 🌹
Boommmmm
Lagi-lagi meriam di lepaskan oleh pemiliknya.
Arvan memeluk tubuh Jenni untuk memberikan sebuah perlindungan. "Hisskk,,hiskk," tangis Jenni yang merasakan sakit di pergelangan tanganya akibat rantai yang mengikatnya selama 25 tahun itu.
Arvan meringis melihat itu, dia menembak rantai-rantai itu agar terbuka. "Jangan takut ya, aku di sini, aku di sini, kamu masih ingat aku kan," seru Arvan mengelus lembut kepala Jenni yang nampak ketakutan saat ini.
"Gina, lindungi Queen Jenni, dan pastikan rantai-rantai yang masih ada di tangan dan kakinya itu lepas, dan segera obati lukanya," perintah Arvan pada Gina yang memang membawa alat-alat P3K untuk mengobati siapa saja yang terluka nantinya.
"Baik Lord," jawabnya dengan hormat, lalu mengambil alih Jenni yang berada di sisi Arvan.
Setelah memastikan Gina dan Jenni sudah menepi dengan aman, Arvan dan pasukanya kini maju ke depan, di saat melihat sosok Jacob yang baru saja muncul.
"Wah,,waah,, ternyata kita kedatangan tamu saat ini," serunya dengan penuh keramahaan, namun membuat Arvan mengepalkan tanganya meningat bagaimana keadaan Jenni yang di rantai bagaikan hewan peliharaan.
"Oh ayolah kakak ipar, jangan tegang seperti itu, apakah kamu tidak senang bertemu dengan adik kekasihmu ini," ucapnya lagi sengaja memancing kemarahan dari Arvan.
Arvan yang tenang kini perlahan menarik nafasnya dengan teratur. "Apa maumu sebenarnya? Mengapa kamu merantainya?" Tanya Arvan dengan pelan.
"Mau ku? Kakak ipar tanya mauku apa?" tanyanya balik seperti meledek.
"Mauku, kamu mati," ucapnya tegas lalu memerintahkan pasukanya untuk menyerang pasukan Arvan.
Dan kali ini Jacob langsung berhadapan dengan Stella, sosok yang sudah membunuh kakak keduanya yang sangat dia sayangi yaitu Vicky.
"Berhentilah Jacob, jangan jadikan dirimu seperti kedua orang tua dan kakak mu itu, jadilah seperti Mira yang punya sisi kelembutan hati, apa yang kamu dapatkan dari semua ini? Hanya sebuah dendam yang tidak ada penyelesaianya yang akan menghancurkan dirimu sendiri," ucap Stella yang masih memberikan sebuah toleransi.
Jacob tersenyum sinis mendengar itu, lalu tanpa aba-aba dia menyerang Stella dengan membabi buta.
Sehingga peperangan pun di mulai, dengan sangat menegangkan.
Jenni dan Gina tak henti-hentinya terus berdoa untuk keselamatan mereka.
Sedangkan Brio, jangan kalian tanyakan lagi dia.
Bahkan di hadapanya saat ini tengah terjadi perang antara hidup dan mati, dia malah sibuk berperang di dalam gamenya.
Membuat Gina menoleh kepadanya, "apakah hati anak ini sudah mati? Dia jenius namun dia tidak memiliki hati, lihat saja Daddynya berperang mempertaruhkan hidup dan mati, dia malah sibuk bermain mobil legends di sini, oh God." Batin Gina yang merasa prihatin dengan Mario dan Eden yang memiliki putra kecanduan game berlebihan ini.
Namun kejeniusan Brio tidak bisa di ragukan lagi, namun yang Gina perhatikan sedari tadi Brio seakan-akan memonopolikan keadaan lewat game.
"Queen, apakah anda bisa melihat anak ini bermain game namun keadaan di dalam gamenya sama dengan keadaan yang terjadi saat ini, mereka seimbang meskipun yang di kubu biru kekurangan kekuatan." Ucap Gina pada Jenni dengan pandangan yang terus mengarah pada layar ipad Brio saat ini.
Dan sesekali Gina menatap ke arah medan pertempuran.
Satu orang sudah gugur, James yang terkena tembakan di bagian lenganya kini memilih mundur sejenak untuk mendapatkan pengobatan. "Nona, tolong berikan alcohol itu," pintanya sambil menahan sakit di tanganya.
Namun dia lebih dulu menusukan pisau ke lenganya itu dan mengobok-obok luka tembahkan itu sehingga menjadi robek besar, dia mengeluarkan peluru itu secara paksa, lalu menyiramkanya dengan Alchol. "Aaarrrrggghhhhh," erangnya menahan sakit dan perih ketika Alcohol itu menyentuntuh lukanya.
"Are you okay tuan," tanya Gina yang terlihat khawatir.
James menganggukan kepalanya yakin. "I'm okay," jawabnya yakin, lalu membalit lukanya dengan perban untuk sementara, dan kembali lagi ke medan pertempuran.
Keadaan saat ini mulai imbang, dengan Stella yang sedikit kualahan menghadapi Jacob.
Dan di saat Stella mengambil nafas sejenak, Jacob tak memberikanya peluang, Jacob mendekat ke arah Stella dan mengambil tanganya satu.
"Brengsseekkk," umpat Stella menahan sakit, lalu dia mengeluarkan stick di dalam sakunya dan menusukanya ke arah Jacob.
"Aaaarrrggggggghhhhh, wanita sialan," teriaknya di saat stick itu menacap dan mengeluarkan sengatan listrik yang menyengatnya tanpa ampun.
Jacob tumbang seketika, namun dia belum mati, dia masih bisa merangka menjauh dari kerumunan.
Namun dengan keadaan Stella yang sudah melemah, dia mengejar Jacob yang kini sudah melarikan diri.
"Sialan lari kemana dia?" umpat Stella yang sudah tidak menemukan sosok Jacob lagi.
Dan ternyata Arvan menyusul langkahnya. "Apakah kamu oke Shea?" Tanya Arvan yang khawatir dengan adiknya.
"Aku oke kak, dia tidak sampai mematahkan tanganku, hanya saja mungkin ini sedikir terkilir." Jawab Stella memperlihatkan tanganya yang masih bisa bergerak namun sakit.
Arvan memanganggukan kepalanya singkat lalu melihat ke arah sekeliling Mansion. "Kemana dia?" Tanya Arvan yang tidak melihat sosok Jacob.
Stella mengaktivkan Irisnya untuk melihat sekeliling yang tidak bisa di lihat oleh mata telanjang.
"Di sana," tunjuknya pada sosok Jacob yang bersembunyi di ujung sana.
Dengan cepat Stella dan Arvan berlari mendekatinya.
"Kamu mau lari kemana Jacob, ini adalah akhir dari segalanya." Ucap Arvan yang sudah sangat geram melihat tingkah pria satu ini.
Namun bukanya takut Jacob malah tertawa dengan sangat nyaring. "Hahahhahaaha kakak ipar, meskipun kamu membunuh ku saat ini, kamu pasti akan mendapatkan balasanya nanti, kamu tidak percaya maka tunggulah nanti." Ucapnya menantang kepada Arvan.
"Apa maksudmu ha?" Bentak Arvan meminta penjelasaan pada Jacob, sebelum membunuhnya.
"Haahhahahahhaha kamu pikir musuhmu itu hanya aku saja," balasnya lagi dengan senyuman yang mematikan.
Dan melihat Arvan yang tengah berpikir, Jacob mengambil kesempatan untuk menusuknya.
"Awas kakakka," teriak Stella yang menyuruh Arvan untuk menghindar.
Jleeeeebbbbbb, Arvan terlalu lambat untuk bergerak, sehingga satu tusukan itu mampu melumpuhkanya.
"Kakakak," teriak Stella melihat Arvan terduduk menahan sakit akibat tusukan itu.
Stella menoleh pada Jacob dengan tatapan yang mematikan. "Kamu, tidak akan aku ampuni," teriaknya lalu mulai menyerang kembali dengan tangan yang dia gerakan dengan paksa.
Perselisihan antara Stella dan Jacob akhirnya kembali terulang lagi.
Namun kali ini Stella menyerang dengan sangat agresif, dia telah kehilangan kendali sehingga tidak ada yang namanya perasaan lagi.
Karna jika dalam tingkat kemarahaan yang seperti ini, Stella bisa berubah menjadi sosok Psychopat yang mengerikan.
Namun amarah Stella yang tidak bisa terkendali membuatnya di jauhi oleh teman-temanya untuk sementara, karna dia tidak akan pernah bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra