Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 24



Happy Reading


Semenjak Jenni muntah - muntah sedari tadi, kini Robert merasa pusing karena wajah wanita iłu terlihat sangat pucat sekali.


"Apakah kamu mau dibawa ke rumah sakit?” tanya Robert, sembari mengusap lembut punggung belakang milik Jenni, karena permintaan Jenni, dan mau tidak mau Robert mengiyakannya, dengan berusaha untuk membuat Jenni bisa merasa lebih nyaman sedikit.


Jenni menggelengkan kepalanya pelan, merasa bahwa dia tidak ingin lahi merepotkan Robert dengan selalu mengurusi kehidupanya.


"Oh ayolah Jen, aku tidak bisa jika melihatmu seperti ini terus menerus, kehidupan kita ini masih sangat panjang Jen.” Kalimat Robert yang sontak membuat Jenni tertawa sekaligus kesal.


"Dengar ya, Tuan Robert yang terhormat, aku hanya sakit biasa, aku mungkin merasa mual karena terlambat makan tadi, bukan karena aku ingin mati dan menyerah, bodoh!” Ucapnya kesal.


"Aku juga tidak bilang jika kamu akan mati,” balas Robert, dan ini semakin membuat Jenni seketika memandang pria iłu dengan lekat.


Mendapatkan tatapan yang seperti iłu membuat Robert merasa jika aura dingin kini mulai menyeruak, "what?” Tanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Jenni yang sudah merasa sangat malas berbicara dengan pria ini, secepat kilat, dia langsung menggigit lengan Robert dengan sangat keras.


"Aaarrggghhh, Jennii,” teriak Robert, merasakan jika gigi taring yang dimiliki Jenni kini menusuk ke dałam kulitnya.


Jenni meluapkan segala kekesalaan hatinya yang selama ini terpendam. Namun, ketika dia tengah asik mengigit lengan Robert, tiba - tiba saja, rasa mual iłu kembali menyeluruk. "Hueekkk„ huekkk,” Jenni langsung berlari kedalam dapur dan kembali memuntahkan semua isi perutnya.


"Hiskkk„ hisskk, aku lelah,” tangisnya, yang kini mengadu pada Robert bahwa dia tidak menyukai posisi ini.


"Kita ke dokter saja kalau begitu ya,” ajak Robert, dan kali ini tidak ada bantahan sedikitpun dari Jenni.


Dia hanya menurut saja, kemana Robert akan membawanya, karena kepalanya saat ini sangat sangat berat sekali.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Robert yang kembali memulai sandiwara hubungan suami istri mereka.


Dokter wanita yang menggunakan tag name Anuskha tersebut kini tersenyum, memandang hasil pemerikasaan lengkap milik paseinnya.


"Istri Anda baik - baik saja Tuan, hanya saja keadaannya yang seperti ini iłu, disebabkan oleh rasa ngidam yang biasa terjadi di awal bulan kehamilaan,” ucap dokter tersebut. Yang membuat Jenni dan Robert kini saling memandang satu sama lainnya dengan pemikiraan mereka masing - masing.


Sesungguhnya Robert memandang Jenni karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakaan oleh dokter Anuskha tersebut. Begitupun juga Jenni, yang sebenarnya masih merasa ambigu dengan jawaban tersebut.


Dokter Anuskha menyampaikan hal tersebut dengan wajah yang sangat penuh bahagia. Namun, senyum itu perlahan mulai hilang ketika pandanganya bertemu dengan kedua pasangan pasiennya ini hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun.


"Apakah kalian tidak suka dengan berita baik ini?" tanya Dokter Anushka dengan lembut, karena takut menyinggung keduanya.


Serempak keduanya langsung menganggukan kepalanya pelan. "Ha?" dokter Anuskha membulatkan matanya seketika.


Pasalnya, Anuskha sedang berpikir, mengapa kedua pasangan ini tidak suka mendengar kabar kehamilan yang baru saja dia katakan tadi.


Jika dilihat dari usia, mereka bukanlah pasangan yang di bawah umur, dan begitu juga dari latar pendidikan mereka yang walaupun sudah dirubah oleh Robert, tetaplah di sana tertulis jika keduanya sudah mendapatkan gelar Doktor, tentu saja pasti mereka sudah menjadi orang yang mempunyai otak pintar.


"Kenapa?" tanya Dokter Anuskha, berupaya agar bisa memahami pemikiran dari pasangan suami istri ini.


Robert dan Jenni kembali saling memandang, untuk meminta jawaban satu sama lainnya.


"Karena kita tidak mengerti apa yang Anda bicarakan Dok," jawab Robert. Ini yang membuat dirinya merasa kesal, kenapa dari kecil Lord Andreas dan Queen Amanda hanya mengajarkaanya tentang dunia bisnis dan tekhnik lainnya.


Dan berbeda dengan Jenni, yang sebenarnya paham apa maksud dari kata hamil. Akan tetapi dia sedang bertanya pada dirinya sendiri, kenapa bisa hamil? Di saat keadaan dirinya sedang kabur dari Arvan, kenapa Tuhan memberikan janin ini?


Dokter Anuskha menghela nafasnya legah, karena pemikiraan tentang kejelekaan mereka tadi, ternyata semuanya salah.


"Apakah nona juga tidak tahu apa itu hamil?" tanya Anuskha lagi.


Lalu Jenni melirik sejenak ke arah Robert, seakan takut untuk menjawabnya. "Hemm, saya tahu dok, hanya saja saya kurang memahaminya," jawab Jenni dengan ragu.


"Baiklah, kalau begitu saya akan jelaskan dulu ya Tuan, Nona."


"Kehamilan itu adalah suatu proses yang terjadi dari pembuahan sampai kelahiran, nah jika kalian inain bertanva laai aoa itu Dembuahaan. va


kalian ingin bertanya lagi apa itu pembuahaan, ya itu di saat kalian berhubungan suami istri dan mengeluarkan cairan itu harus terjadi dalam waktu 24 jam setelah sel telur dihasilkan. Setelah salah satu cairan kecebong berhasil menembus sel telur, maka sel telur akan berubah bentuk dan membentuk lapisan sehingga cairan kecebong Iain tidak bisa menembus masuk. Inilah yang disebut proses pembuahan, dan akan berlanjut menjadi proses kehamilan, karena setelah tertanam di dalam lapisan rahim, dan kemudian menjadi sebuah janin. Apakah kalian sudah mengerti?" Dokter Anuskha sudah menjelaskaan secara panjang kali lebar.


Robert akhirnya paham, apa yang sedang mereka semua bicarakan, dan kini dia hanya bisa menghela nafasnya berat. Bagaimana tidak? Jika sampai Arvan mengetahui tentang semua ini.


Maka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.


"Lalu apakah semuanya sudah selesai dok?" tanya Robert langsung to the point. Dia tidak ingi lagi berada di tempat ini.


Robert tidak menyangka bahwa dia telah mengambil dua harta yang paling berharga untuk Arvan.


Ketika Jenni melihat wajah Robert yang kini mulai dingin, Dia menggengam jemari pria itu. "Maafkan aku," lirihnya pelan, agar tidak terdengar Oleh dokter wanita itu.


Robert menganggukan kepalanya pelan, dia tersadar, bahwa dirinya memang sudah terjatuh, tidak akan pernah bisa bangkit lagi.


Namun, dia tetap harus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa berjaya di posisi saat ini. Dia tidak ingin membuat Jenni merasa bahwa dirinya akan membuang wanita itu ketika dirinya ketahuan hamil.


"Maafkan aku," ucap Jenni lagi, ketika mereka berdua telah berada di rumah.


Jenni merasa sangat bersalah, ketika melihat Robert yang kembali diam tanpa ingin berbicara apapun kepadanya.


"Jenni, biarkan aku sendiri dulu bisa?" tanyanya dengan sedikit membentak.


Dengan takut Jennu menganggukan kepalanya pelan, "apakah kamu marah denganku?" Jenni bertanya sebelum dirinya melangkahkan kakinya pergi.


"Aku tidak marah, aku hanya butuh sendiri untuk memikirkan semua ini sendiri dulu." Ucap Robert, sebelum akhirnya dia yang memilih untuk meninggalkan Jenni begitu saja.


To Be Continue.


Hey Teman - Teman, jangan lupa ya, Like, Komen,Vote dan Hadiahnya, agar mimin bisa semangat nulisnya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang Iainnya ya. Terima Kasih.