
🌹 Happy Reading 🌹
Di saat Alson masih sibuk menatap ke arah jalan yang sudah tidak nampak lagi sosok Vika.
Dari belakang datanglah pengawal-pengawal yang tadi menemaninya. "Apa yang anda lihat Tuan?" tanya kepala pengawal itu.
Alson menoleh sekilas menatap ke arah pengawal itu, lalu beralih lagi menatap ke depanya. "Menurutmu, apa yang sedang di lakukan wanita tadi itu di taman tak berpenghuni seperti ini?" tanya Alson serius kepada kepala pengawalnya.
"Maaf Tuan, di dalam sana terdapat sebuah taman bunga yang sepertinya wanita tadilah yang menciptakanya, karna tamanya begitu terawat dan sangat indah." jawab kepala pengawal itu, yang pernah mendatangi lokasi ini dan melihat taman bunga itu.
Alson menyeritkan keningnya bingung. "Taman bunga? Di sini? Tapi sepertinya dia bukanlah asli dari Negara ini Paman, dia terlihat seperti orang Asia yang berkunjung ke Negara ini," balasanya lagi, yang sangat meningat wajah manis nan galak milik Vika.
"Saya tidak bisa memastikanya Tuan, karna saya hanya memeperkirakaanya , hanya beberapa pengawal kita yang sering lewat taman ini, pasti melihat keberadaanya di taman bunga itu," serunya lagi.
Alson menanggukan kepalanya singkat sambil memahami apa yang di katakan oleh kepala pengawal itu.
"Apakah Tuan ingin melihat Taman itu ? Letaknya tidak jauh dari sini, hanya saja dia sedikit tersembunyi dari pemukiman." ajaknya, lalu mempersilahkan Alson untuk berjalan terlebih dahulu.
Di dalam perjalanan, Alson seperti ingin mengatakan sesuatu namun ragu untuk mengungkapkanya.
"Ada apa Tuan, anda bisa mengatakan apa pun yang Anda inginkan saat ini Tuan," Lirih Kepala penagwal dengan sopan.
"Ahhh tidak Paman, nanti saya akan bicara langsung saja dengan Papah, untuk mencari tahu tentang siapa wanita itu," balasnya dengan ramah, dia memang sedikit ragu jika ingin meminta bantuan dari seseorang, seperti dia yang merasa keberatan sendiri akan permintaanya itu.
Dan settelah berjalan kurang lebih beberapa meter, kini Alson dan yang lain telah sampai di Taman bunga yang tidak besar namun sangat indah dan menyejukan mata yang memandang.
Alson bisa melihat sebuah kelopak bunga mawar merah yang berbentukan nama Vika. "Ternyata memang kamu pemilik dari taman ini, jadi aku tidak akan sulit untuk menemukanmu lagi." Batinya tersenyum lagi-lagi di saat meningat wajah galak wanita tadi.
Namun tiba-tiba dia mengingat satu kalimat, "kekayaan bukanlah hasil yang menentukan,"
"Paman, kita pulang ya, tiba-tiba Alson merasa tidak nyaman saat ini, ingin kembali ke Mansion secepatnya," pintanya kepada kepala pengawalnya dengan lembut.
Inilah yang membuatnya di sukai oleh semua orang dan bawahanya.
Dia adalah sosok yang selalu menghormati dan menghargai siapapun, tanpa pernah memperdulikan derajat dan profesi seseorang.
Jika suatu saat Arvan turun dari jabatanya, sepertinya Alsonlah yang cocok untuk menggantikanya.
Karna Albert masih tergolong jauh di dalam keseriusan untuk memimpin suatu dunia, namun bedanya Alson pasti akan kalah jika berhadapan dengan dunia gelap, dan Albert akan kalah jika berada di dunia terang.
Mereka benar-benar saudara kembar yang saling melengkapi satu sama lainya.
Yang satu terang dan yang satunya lagi gelap.
Namun keduanya memiliki sifat dan kelembutan yang di turunkan dari Jenni Mamahnya, namun untuk Albert, sifat Psycho Arvan lebih mendominasinya, namun dia sama seperti Papahnya, yang mampu menyembunyikan Iblis dalam dirinya dengan sebuah topeng kelembutan.
Membuat siapa pun tidak akan pernah menyangka jika mereka adalah seorang malaikat maut paling mematikan.
Bahkan dia tidak menyadari jika di ruang tamu yang tadi dia lewati, sedang ada Arvan dan Jeseper yang terlihat tengah duduk bersama.
Arvan sekilas menoleh pada Jesper yang kali ini juga sedang menoleh kepadanya, "apakah di luar telah terjadi sesuatu? Mengap putraku kembali dengan wajah yang begitu bahagia?" tanyanya pada Jesper yang ikut tersenyum melihat tingkah Alson yang seperti anak-anak sudah mendapatkan nilai ujian yang memuaskan.
Albert yang juga berpapasan dengan kakaknya itu langsung menyeritkan keningnya bingung. Lalu berjalan menghampiri Papah dan Pamanya.
"Kakak kenapa sih Pah? Kaya orang gila gitu senyum-senyum sambil jalan?" tanyanya kepo dengan apa yang ada di dalam pikiran kakaknya itu.
Arvan dan Jesper langsung mengedikan bahunya singkat sebagai jawaban, dengan di iringi senyum bahagia.
Albert yang merasa tak puas jika tak mendapatkan jawaban, kini menoleh kepada pengawal yang tadi mengikuti kakaknya.
"Hei kamu, kemari," panggilnya, kepada salah satu pengawal yang berdiri di belakangnya.
Dengan hormat pengawal itu menundukan tubuhnya sedikit, "saya Tuan muda kedua, ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanyanya dengan sopan.
"Kamu tadi yang mengikuti kakak ku kan? Pasti kamu tau apa yang telah terjadi dengan dia?" Tanya Albert yang benar-benar tidak akan diam jika tidak mendapatkan jawabanya.
Pengawal itu terlihat terdiam sejenak, takut salah menyampaikan hal yang belum pasti dia ketahui. "Saya tidak tau Tuan," jawabnya dengan gugup.
"Oh, ayolah katakan saja, aku tidak akan memeberi tahunya, kamu akan aman," bujuk Albert, yang membuat Arvan dan Jesper tertawa mendengarnya.
"Katakan saja tidak masalah, saya juga ingin mendengar apa yang telah terjadi dengan putra saya," Titah Arvan yang langsung membuat pengawal itu menundukan kepalanya takut.
"Ehm, sebenarnya Tuan Alson sepertinya sedang jatuh cinta dengan wanita yang dia temui di taman tadi Tuan, Lord," Jawabnya dengan jujur, namun sangat gugup.
"Apa jatuh cinta,"
To be continue.
Sudah 3 chapter woy, jangan pelit hadiahnya dong 😭😭😭
Nanti hati mimin terluka loh😭
Ngambek gak mau update lagi loh🥰
Habis ide uyy😑
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra