
🌹 Happy Reading 🌹
Ketika malam hari tiba, selepas dinner keluarga saat ini seluruh keluarga tengah duduk bersama di sebuah taman belakang Mansion itu, menikmati udara malam sambil menikmati secangkir Tea herbal hangat yang menyehatkan tubuh.
"Morgan , Briell apa rencana kalian setelah ini?"Tanya Mario tiba-tiba memulai percakpan untuk memecahkan keheningan yang ada.
Morgan dan Briell saling memandang satu sama lainya, mencari keberanian untuk mengungkapkan apa yang telah mereka rencanakan, "Hem belum tau Dad, tapi kami berdua mungkin besok akan berangkat ke Spanyol untuk bertemu dengan paman Jesper." sahut Briell yang membuat Mario dan Eden saling menatap satu sama lainya.
"Jesper itu bukanya ayah dari mendiang Alson itu kan," seru Eden yang mengenali sosok Jesper di saat ingin melamat putri sulungnya.
Briell menanggukan kepalanya singkat, mengiyakan kalimat dari Mommynya.
"Apa hubunganmu dengan keluarga Emelio?" Tanya Mario to the point.
Lagi-lagi Morgan dan Briell saling memandang untuk meyakinkan bahwa mereka harus jujur pada Mario.
"Ketika tadi saya meminta penjelasan dari keluarga Terrence, mereka mengatakan bahwa saya di beli dari seorang pria yang menculik saya dari keluarga itu Dad," jawabnya jujur tanpa ada yang di sembunyikan sama sekali.
Mario dengan diam dan befikir mendengar seluruh penjelasan dari menantunya ini. Karna Morgan mulai menceritakannya dari awal kehidupanya bersama keluarga Terrence hingga seluruh perlakuan tidak adil di dalam keluarga itu. Namun Morgan tidak menceritakan jika dia adalah seorang Psychopat, karna itu terlalu berbahaya untuk saat ini.
"Jadi ada kemungkinan jika kamu dan Alson itu adalah saudara kembar iya," Timpal Eden yang akhirnya mengerti dengan duduk perkaranya.
Morgan menanggukan kepalnya singkat sebagai jawaban, "Morgan masih belum mengetahui jelas Mom, makanya besok Morgan dan Briell akan pergi ke sana untuk mencari berita kebenaranya.
Mario dan Eden saling memandang seperti bertelepati satu sama lainya, dan akhirnya sama-sama menganggukan kepalanya seperti pemikiran mereka saling terhubung padahal tidak ada pembicaraan dari keduanya. "Kami akan menemani kamu ke sana besok, we are Family now, dan masalah kamu itu adalah masalah kami semua," imbuhnya yang sontak membuat Morgan dan Briell tersenyum bahagia, mendapatkan angin segar di malam ini.
"Benarkah Dad, itu berarti Daddy mendukung hubungan kami?" tanya Briell dengan sangat antusias.
"Iya sayang, kamu adalah kebanggaan kami, jadi apa pun kebahagian yang kamu pilih, Daddy dan Mommy yakin jika itu adalah yang terbaik," balasnya lagi yang benar-benar membuat keduanya saling tersenyum satu sama lain, merasa beban masalah yang sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Mereka berempat tertawa bersanda gurau bersama, jangan tanya di mana Brina, karna dia pasti ada di dalam kamarnya bermain game online pribadinya.
Dan ketika mereka semua tengah asik tertawa bersama, tiba-tiba saja kepala pelayan rumahnya menghampiri, "permisi Tuan, di luar ada tamu yang datang," Ucapnya memberitahukan kedatangan tamu di luar sana.
Mario terdiam menyertikan keningnya, "siapa?" Tanyanya dengan singkat.
"Lord Arvan beserta keluarga utama Tuan," ungkapnya lagi, yang lalu mendapatkan kode dari Mario agar pergi dari tempat ini.
Mario langsung memandang ke arah anak dan istrinya yang saat ini juga ikut terdiam tegang mendengar siapa yang datang, sedangkan Morgan yang tidak mengenali Arvan saat ini hanya diam tanpa ekspresi.
"Kita harus menemui mereka dan menyampaikan keputusan kita ini sayang," Seru Mario pada Eden.
"Daddy kamu benar sayang, kita harus segeranya menyelesaikan masalahmu dengan Aiden, agar tidak ada lagi korban di dalam hubungan kalian ini." timpal Eden yang saat ini menggengam tangan putrinya, untuk menberikan kode bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Briell mengehembuskan nafasnya dengan kasar, merasa bingung dengan keadaan, "baiklah Mom kita keluar sekarang," Ajaknya yang menggengam tangan suaminya.
Dan akhirnya ke dua pasangan itu berjalan keluar mengahmpiri tamu besar yang datang ke Mansion mereka.
"Hallo Brother, sudah lama kita tidak bertemu," Sapa Mario pada Arvan yang merupakan paman sekligus keluarga teratas di Dunia.
Di ikuti oleh Arnon dan juga Stella yang saat ini saling menyapa satu sama lain.
Namun pandangan Arvan dan Stella jatuh pada sosok Morgan yang berada di hadapanya, yang membuat kaki Stella lemas seketika. "Wajah itu, ya wajah itu mirip sekali dengan," Batinya yang meronta sangat mengenali wajah Morgan itu.
Sedangkan Arvan saat ini melangkah mendekat ke arah Morgan agar bisa melihat wajah Morgan secara detail, karna merasa mengenali wajah itu. "Siapa dia Mario?" tanyanya pada Mario yang merupakan kunci jawab dari rasa penasraanya.
Aiden yang melihat sosok Morgan itu, langsung berdiri dan menghampirinya.
Bugggghhh tanpa aba-aba Aiden langsung memberikan pukulan telak di wajah Morgan. "Kamu ngapain ada di sini brengsek, ini Mansion tunanganku, apa mata kamu buta ha, aku dan Briell akan segera menikah. Dan kamu akan secepatnya lenyap dari bumi ini," Bentaknya yang tidak terima melihat sosok Morgan berada di sekitaran Briell.
"Calm down Aiden, kamu apa-apaan ha," bentak Arvan yang juga tidak menyukai sifat aroghant keponakanya ini.
Plaaaakkk Briell yang terdiam melihat suaminya di tinju oleh Aiden, kini membalas dengan satu tamparan yang cukup keras di pipi Aiden.
"Jangan pernah kamu lancang memukul suamiku, kamu ingat! Kamu bukan siapa-siapa di kehidupanku, sedangkan dia adalah suamiku," teriaknya yang tidak terima dengan sikap seenaknya dari Aiden.
Bahkan saat ini dia tidak perduli jika adanya Arvan dan kehadiran kedua orang tua Aiden yang melihat seluruh kejadian ini.
Aiden yang merasa tidak terima di bentak oleh Briell hanya karna sosok pria lain, kini dengan segera mengeluarkan pistol kesayanganya dan mengarahkanya pada Morgan yang masih terduduk di lantai.
Sedangkan mata Aiden saat ini sedang menatap ke dalam mata Briell yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
"Aiden kendalikan diri kamu," Bentak Arvan yang tidak terima dengan perlakuaan Aiden yang seperti ini.
Sedangkan Stella langsung berjalan menghampiri Aiden yang memegang sebuah pistol.
Stella memaksa mengambil pistol itu dari tangan putranya, lalu membuangnya ke sembarangan arah, "cukup Aiden, kita ke sini dengan niat baik untuk membicarakan hubunganmu dengan Briell, bukan begini caranya," Bentak Stella yang juga muak dalam mengendalikan sikap putrnya yang satu ini.
Dia bahkan tidak habis pikir bagaimana bisa putranya tumbuh dengan mejadi sosok keperibadian yang sangat mengerikan seperti ini.
Aiden memutuskan tatapanya dari mata Briell dan kini memandang ke arah Morgan yang saat ini juga sedang menatapnya. "Kamu jangan senang dulu, Briell milik ku dan selamanya akan mejadi milik ku, kamu adalah sosok pemeran pengganti yang sebentar lagi akan hengkang dari sisi Wanitaku." Ungkapnya dengan senyum ibilisnya, yang membuat seluruh keluarga menggelengkan kepalanya melihat semua itu.
Dengan cepat Briell menghampiri suaminya dan membantunya bangun dari posisinya, "sabar ya, anggap aja dia orang gila yang berbicara, aku gak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi, itu janjiku," Ucapnya dengan penuh keyakinan, yang mampu menghilangkan rasa gelisah di hati Morgan menghadapi situasi besar seperti ini.
Morgan sedari tadi merasa jika dirinya sedang di tatap secara intents oleh Arvan dan juga Stella mamah dari Aiden.
Namun dia berusaha untuk mengalihkan perasaanya, "mungkin mereka hanya tidak terima dengan diriku yang sudah menjadi suami Briell," gumamnya dalam hati yang mengartikan sendiri arti dari tatapan kedua orang teratas itu.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra