Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 53



Happy Reading


Jenni sejujur tidak mengerti kenapa bisa situasi seperti ini bisa terjadi, dan terlebih lagi dengan sikap Arvan, yang tiba – tiba datang, bak orang yang sedang kerasukan dan bahkan memukul dirinya dengan begitu keras.


Sungguh, Jenni ingin sekali berteriak dan menyuarakan, betapa hinanya harga diri seorang wanita di hadapan seorang pria yang dianggap Lord dunia, oleh semua masyarakat yang ada.


Jenni masih terus menatap Lia dengan lekat, menunggu jawaban apa yang sebenarnya sedang ditunggu oleh Arvan saat ini.


“Maaf Lord, saya bersalah karena telah melanggar peraturan yang dulu telah dibuat Queen utama Mira di Mansion ini.” Kalimat Lia yang menjelaskan hal itu, seketika membuat pikiran di dalam otak Jenni tiba – tiba melayang entah kemana, bahkan sekarang dirinya sudah merasakan jika jiwanya terpisah dari tubuhnya.


Arvan merasa sangat puas ketika melihat reaksi Jenni yang seperti ini, dan semakin memberikan kode kepada Kevin untuk semakin menjelaskan peraturan apa yang ada di Mansion ini.


“Queen Pertama Mira pernah mengatakan, bahwa derajat seorang pelayan dan Queen itu sangat berbeda jauh, dan Queen Mira sudah menetapkan sebuah peraturan bahwa jika ada salah satu pelayan di sini yang berani mensejejerkan duduknya dan bahkan berdekatan dengan keluarga bangsawan di sini, dia layak -,”


Dor, satu tembakan di lepaskan begitu saja tepat di kepala Lia, dan membuat wanita paruh baya itu terjatuh masuk di dalam kolam renang dan merubah air jernih itu menjadi merah karena tercampur darah dari pelayan Lia.


“Tidaaaakkkkkkkkkk, Liaaaa,” teriak Jenni dengan begitu nyaring. Dia tidak menyangka, bahwa wanita yang sudsh merawatnya selama kehamilan ini, wanita yang sudah dengan suka relanya mengabdikan kehidupannya dengan keluarga ini, bisa dibunuh dengan cara tragis seperti itu.


Melihat jika Lia sudah benar – benar mati dihadapannya, kini Jenni kembali mentap Arvan dengan penuh kemarahaan. Dengan kasar dia menepiskan tangan kedua pengawal yang sedari tadi menguncinya.


Plaaaaakkkkk, satu tamparan berhasil Jenni daratkan tepat di pipi Arvan.


“Pembunuhhhhhh kamu Pembbbunuuhhhhhh,” teriak Jenni dengan begitu histeris melihar Arvan yang dengan teganya berprilaku seperti ini kepadanya dan Lia.


“Kamu tahu, apakah kamu pernah berpikir, atau sekedar menghargai arti dari sebuah pengabdian manusia, pernahkah kamu berpikir tentang kehidupan manusia lainnya, dan bagaimana kebaikan mereka yang telah berikan kepada keluarga ini? Pernahkah kamu berpikir sampai sejauh itu, Arvvvaaannnnn.” Jenni sudah tidak memandang dengan siapa dia sedang berbicara saat ini.


Bahkan sepertinya dia sudah melupakan rasa sakit akibat pukulan Arvan yang tadi diberikan kepadanya.


Arvan tidak menyukai di saat situasi seperti ini, dia langsung memberikan kode kepada beberapa anak buahnya beserta Kevin untuk keluar terlebih dahulu.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Jenni, Arvan bisa merasakan jika saat ini sudah tidak ada manusia lain, selain mereka berdua.


“Sekarang, bicaralah secara langsung! Apa yang ingin kamu katakan?!” tantang Arvan dengan masih menggunakan suaranya yang datar.


Jenni masih tidak percaya dengan sikap Arvan yang berubah drastis kepadanya.


“Aku tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan kamu, dengan sikapmu yang seperti ini, aku benar – benar tidak dapat memahamimu,” ungkap Jenni dengan menatap wajah Arvan lekat.


Tidak ada ketakutan sama sekali, ataupun keraguan untuk berbicara dengan Arvan.


“Lima bulan kamu pergi, tanpa sedikit pun niat untuk kembali, atau sekedar melihat dan mempertanyakaan keadaan bayi kita, kamu tidak pernah melakukan itu. Kamu adalah pria yang paling egois di dunia ini.”


Arvan tersenyum tipis, mendengar segala keluh kesah atau yang lebih tepatnya disebut dengan penolakan atas keputusannya.


“Bukankah tadi wanita tua itu sudah mengatakan alasan kenapa aku membunuhnya?” tanya Arvan balik pada wanita yang berstatus istrinya ini.


Mendengar pertanyaan itu, Jenni langsung menarik nafasnya panjang, sembari mengusap kepalanya kasar, guna menghilangkan rasa sakit yang menjalar di kepalanya saat ini.


“Apakah hanya dengan sebuah peraturan itu, lantas nyawa manusia lain jadi tidak berharga menurut kamu?”


“Kamu sudah gila Arvan, kamu benar – benar tidak waras hanya karena bayangan Mira, yang bahkan sudah bahagia di sana.” Sentak Jenni dengan emosi yang sejak tadi sudah dia tahan.


Bahkan dia sama sekali tidak perduli, dengan siapa dia berbicara saat ini, penguasa, Lord, Raja atau suaminya sekalipun, sama sekali dia tidak memandang akan hal itu.


“Sudah cukup aku diam, sudah cukup aku sabar selama ini selalu kamu bandingkan, kamu samakan bahkan kamu sama sekali tidak menganggapku ada! Dan semua itu karena kamu yang masih terus saja terobsesi dengan sebuah masa lalu yang sudah lama terkubur.” Arvan hanya menatap Jenni dengan datar, ketika wanita itu sudah begitu berani teriak di depan wajahnya.


“Dari awal, aku bahkan tidak mengenal kamu siapa? Bagaimana bisa kita bertemu? dan bagaimana bisa kamu bersikap seolah – olah kamu menawarkan sebuah bantuan kepadaku dan kepada sahabatku, padahal dengan jelas dan dengan sadar kamulah penyebab semua kejadian ini terjadi.” Semua keluh kesah, semua uneg – uneg yang selama ini dia pendam, akhirnya di hari ini, dia sungguh sudah tidak sanggup lagi untuk menyimpannya.


Dia sangat – sangat bosan, ketika dia istrinya, tetapi selalu nama Mira yang diagung – agungkan.


“Kamu datang, menawarkanku sebuah bantuan, dan sebuah perjanjian one night stand with me, but you are lieds to me, you merry me, with out permission. Dan setelah itu, kamu se – enaknya membuat sebuah perjanjian atas kehidupan dari sahabatku, tanpa aku pernah menyetujuinya, aku tidak pernah mau pernikahan ini terjadi Arvan, di luar sana, begitu banyak impian yang ingin aku raih, tetapi dengan egoisnya kamu memghancurkan semuanya, semuanya Arvan semuanya.” Jenni benar – benar histeris saat ini. Dia sudah hampir gila memikirkan nasibnya yang sangat tragis ketika harus menikah dengan seorang pria yang bahkan sama sekali tidak memiliki kewarasan jiwa.


Bahkan saat ini, jika bisa Jenni berteriak, dia akan melakukannya, atau bahkan dia akan mencoba untuk bunuh diri saat ini.


Jenni yang terdiam, karena Arvan tidak menunjukkan reaksi apapun, kini arah tatapannya tidak sengaja melihat sebuah pistol yang berada di atas meja.


Dengan cepat Jenni berlari mengambilnya, lalu kembali lagi ke hadapan Arvan.


Sedangkan Arvan, yang sejak tadi hanya diam saja, kini juga masih menutup mulutnya dengan mata yang terus mengekori semua pergerakan yang Jenni lakukan, termasuk saat wanita itu membawa pistol ke hadapannya.


Mungkinkah wanita ini akan bunuh diri di hadapannya? Atau bahkan dia mau membunuh bayi – bayinya?


Namun semua itu tidak membuat Arvan merasa sangat khawatir, bahkan dia saat ini langsung memasang senyum menawannya, seakan – akan memang dirinya menunggu dan sangat bahagia untuk Jenni membunuh dirinya sendiri.


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini. Mimin mencintai kalian semua.


Terima Kasih Banyak.