Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 91



🌹 Happy Reading 🌹


"Apa jatuh cinta," teriak Albert ingin memastikan bahwa pendengaranya tidak salah.


Pengawal itu menanggukan kepalanya singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Albert.


"Oh oke, baiklah kamu boleh pergi sekarang," jawab Albert yang masih bingung mendengar kakaknya jatuh cinta.


Arvan dan Jesper yang melihat ekspresi aneh dari Albert itu langsung sama-sama melirik dan berkode masing-masing.


"Ada apa son? Bukankah bagus jika kakakmu sudah jatuh cinta pada yang lain, jadi dia tidak akan menggangu hubunganmu dengan Briell lagi." ucap Arvan yang mengingatkan putranya agar tidak takut lagi jika kakaknya akan merebut istrinya itu.


Albert tersenyum canggung mendengar Papahnya yang mengetahui bahwa dirinya itu masih saja cemburu dengan kakaknya yang seharusnya dialah yang jahat pada saat ini.


"Albert tidak takut Pah, hanya saja Albert sadar jika Albert tidak sesempurna kakak, dan bisa saja kan Briell lebih memilih kakak di bandingkan Albert," bantahnya lagi, tidak ingin di bilang takut.


Arvan menarik nafasnya dalam-dalam, dia harus ektra sabar menghadapi putra keduanya ini. Sifatnya yang begitu bertolak belakang dengan putra pertamanya, membuatnya sadar jika anak ini adalah cerminan dari dirinya. "Albert, untuk apa lagi kamu takut jika Briell akan memilih Alson kakak mu, sedangkan kamu sudah tau jelas jika Briell saat ini sedang mengandung Caby, lagian kamu dengar sendirikan jika kakak kamu sudah jatuh cinta pada wanita lain, dan itu tandanya Briell hanyalah milik kamu seorang, dan mungkin setelah kita berhasil mendapatkan Mamah kembali, kamu boleh pergi berbulan madu agar perasaan cinta kalian itu semakin besar lagi." ucap Arvan memberikan nasihat kepada putra keduanya itu.


Dan tiba-tiba saja Briell datang dengan membawa sepiring buah di tanganya. "Sayang kamu itu pergi gak bilang-bilang sih, aku nyariin tau," seru Briell dengan kesal. Karna ketika dia bangun tidur, suaminya itu selalu saja tidak ada di sampingnya.


"Sayang, kamu kok makan lagi?"tanya Albert yang bingung melihat istrinya sudah ke berapa kali memegang piring. Karna seingatnya sebelum dia turun tadi Briell sudah memakan banyak biskuit.


"Oh jadi kamu ngatain aku gendut iya? Gak terima kah kamu kalo aku makan banyak hem?" cerca Briell yang merasa tidak terima jika suaminya ini selalu menegurnya masalah makan.


Karna sesungguhnya dia juga gak tau kenapa mulutnya itu selalu saja ingin mengunyah, terkadang-kadang dia memilih untuk tidur dari pada mengunyah makanan lagi.


"Gak gitu sayang, aku hanya bertanya saja. Kamu mau makan semua juga aku gak larang kok, lagian aku gak ada kan bilangin kamu gendut tadi," jawab Albert membela dirinya, dari pada dia harus terkena amukan singa betina lagi.


Briell semakin kesal mendengar jawaban dari suaminya itu, yang memperbolehkanya memakan semuanya. "Oh, jadi kamu pikir aku ini pemakanan segalanya gitu, sayang aku ini makan berdua Caby loh ya, kamu jangan ngomong macam-macam," Ancam Briell dengan mata yang melotot ke arah Suaminya.


Cuppp, Albert memilih diam dan memberikan kecupan singkat di kening istrinya, agar istrinya itu merasa di sayang.


Dan benar saja, setelah mendapatkan kecupan itu, Briell langsung tersenyum malu-malu. "Makasih sayang," ucapnya, dengan membalas memberikan kecupan singkat di pipi suaminya.


Lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu Albert dengan masih memegang piring buah.


"Jadi kapan kita akan berangkat Pah?" tanya Albert di saat istrinya itu sudah berhasil di jinakan.


Arvan lagi-lagi tersenyum membalas ucapan anaknya itu.


Dia bukan tersenyum karna ucapan Arvan yang tidak sabar ingin membebaskan ibunya. Tapi Arvan tersenyum karna melihat tingkah laku anak dan menantunya ini yang sangat menggemaskan.


"Besok pagi Son, setelah Papah mengirim istri kamu dan juga yang lainya ke pulau Sanova, lalu pasukan kita akan berangkat ke Markas." jawab Arvan dengan tenang, meskipun saat ini hatinya sangat gelisah memikarkan nasin istrinya yang sudah 25 tahun ini di sandera oleh Jacob yang dia sendiri tidak mengerti kenapa Jenni yang dia sandera, mengapa bukan dia. Dan itu semua hanya bisa di jawab oleh Jacobnya sendiri nanti.


Briell menoleh pada Albert dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. "Sayang, berarti kita akan berpisah hem?" tanyanya dengan suara yang parau ingin menangis.


"Sayang, ini semua demi Mamah, demi bersatunya lagi keluarga kita, kamu sama Airein dulu ya, nanti mungkin Mommy akan menyusul juga, iyakan Pah," tanyanya pada Papahnya yang saat ini sedang tertunduk.


"Iya Son, nanti Mommy Eden dan Brina juga akan menyusul ke sana, karna Papah memerlukan Daddy dan Brio untuk berada di pasukan ini,"jawab Arvan yang membuat Albert mengalihkan pandanganya ke arah istrinya.


"Brio usia berapa sih sayang?" Tanyanya yang belum seberapa mengetahui pasti adik-adik dari istrinya.


"Brio usia 13 tahun, tapi dia sudah bisa mengendalikan komputer dan meretas semua sistem yang ada, seperti Papah dan Aunty Stella, entah mengapa dan dari mana dia mempunyai keahlian itu," balas Briell dengan santai menceritakan siapa adiknya Brio si Angry bird.


Arvan dan Jesper yang sudah selesai dengan dokumenya, kini beranjak bangkit dari duduknya. "Kalian kembali lah ke kamar untuk beristirahat ya, nanti keluar lagi untuk makan malam, dan mungkin Mommy dan Daddy Briell serta adiknya akan sampai sebentar lagi. Ingat ya Girl, jaga Caby baik-baik," ucap Aran memberikan wejanganya kepada menantu kesayanganya itu.


"Baik Pah, Briell akan menjaga Caby dengan sebaik mungkin," jawabnya dengan tersenyum sangat ramah.


"Ya sudah Papah mau ketemu dengan Uncle Robert dulu di sana , Jesper kamu juga boleh kembali ke kamarmu, biar aku serahkan semua urusan pada Robert dan Gina nantinya." Titahnya lagi yang langsung di anggukan oleh Jesper.


"Baiklah, jika begitu saya permisi duluan," pamit Jesper yang langsung melangkahkan kakinya pergi.


Sebelum Arvan melangkahkan kakinya, dia menoleh sejenak kepada dua insan yang tidak beranjak itu. "Kalian tidak kembali ke kamar?" tanya Arvan yang melihat Albert malah berbaring dengan menggunakan paha istrinya sebagai bantal, dan keduanya mengeluarkan ponselnya.


Albert mendangakan kepalanya sedikit untuk melihat Papahnya. "Bentar lagi Pah, istriku ngajakin main game bareng."sahut Albert yang kembali fokus pada ponselnya.


Arvan yang mendengar itu langsung merasakan kesal sendiri. "Sebentar lagi aku blok semua akses permainan game online, lihat saja." Batinyanya kesal. Lalu melangkahkan kakinya pergi untuk mengatur strategi perang bersama dengan otak-otak kekuatanya yaitu Robert dan Gina.


Banyak yang minta foto mimin kan, ini mimin kasih ya, Ini Visualnya Vika, tapi anggap aja ini mimin 😘😘



To be continue.


Sudah 4 chapter woy, ini terakhir untuk hari ini, gak pelit loh mimin ya kalian juga jangan pelit hadiahnya dong 😭😭😭


Nanti hati mimin terluka loh😭


Ngambek gak mau update lagi loh🥰


Habis ide uyy😑


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra