Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 12



🌹 **Happy Reading **🌹


Hari resepsi pernikahaan Arvan dan Jennifer.


Saat ini Jenni tengah berada di dalam kamarnya, dengan balutan gaun putih yang sangat indah menjuntai menambah aura kecantikan yang sangat merekah di wajahnya.


Namun dari wajah itu sama sekali tidak terlihat nampaknya ada senyum kebahagiaan, yang ada hanya tetesan air mata yang keluar dengan perlahan menandakan betapa hancurnya hatinya saat ini.


"Mah,Pah, kakak restuilah Jenni, walaupun pernikahaan ini hanyalah Jenni sendiri yang mencintai tapi Jenni bahagia karna bisa menikah dengan orang yang Jenni cintai, walaupun pada kenyataanya ini hanyalah sebuah cinta Jenni sendiri," doanya tulus di panjatkan meningat mendiang orang tua dan kakaknya yang dia tinggalkan.


Dan tak lama kemudian, dari arah luar terdengar seperti orang yang melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Ckelllekk pintu terbuka lebar memanandakan sesosok Arvan yang masuk ke dalam dengan bersama seorang wanita dan pria.


"Jenni, perkenalkan ini adalah adikku Shea dan kekasihnya Arnon," ucap Arvan memperkenalkan Stella dan Arnon kepada Jenni istrinya.


Jenni tersenyum dengan lembut, namun sangat terlihat sekali bahwa itu adalah senyum terpaksa.


Stella yang melihat itu langsung membawa Jenni ke dalam dekapanya sebagai kakak.


"Huaaa,,hissskk,,hisskkk," tangis Jenni akhirnya pecah di dalam dekapan hangat Stella, mencurahkan betapa dirinya sangat terluka dengan sikap kakaknya itu.


Sedangkan Arvan memilih mengalihkan pandanganya ke arah luar tidak sanggup melihat tangisan luka dari istrinya.


Stella ikut meneteskan air matanya melihat wanita baik-baik seperti Jennilah yang menjadi korban pelampiasan kakaknya, "maafkan kakak ku ya Jen, dia sebenarnya baik namun dia tidak bisa melupakan cintanya terhadap Kak Mira, ampunilah dia dan beri dia waktu untuk mengkondisikan ini semua," lirih Stella pelan mengusap lembut punggu Jenni memberikan kekuatanya.


"Hisskkk,,hisskkk,,sakitt La,,sakit," adunya sambil memegang dadanya yang terasa sangat sesak saat ini.


Arnon mengusap lembut bahu kekasihnya agar tidak ikut larut dalam kesedihan ini, "yang sabar ya Jen, kita semua mendukungmu," ucap Stella lagi lalu melepaskan dekapan tubuh Jenni.


"Tersenyumlah, tunjukan pada kakak jika kamu tidak lemah, biar pria itu tau jika kamu adalah sebuah berlian yang berharga," sindir Jenni kepada Arvan yang terlihat juga meneteskan air matanya.


Dia sangat tau betapa hancur hati istrinya saat ini, namun dia bisa apa di saat hatinya menolak cinta baru yang datang.


Dia ingin melupakan Mira namun itu sulit, Mira adalah sosok yang paling berharga di dalam hidupnya dia bahkan rela mengakhiri hidupnya sendiri demi mengalihkan perhatian Papahnya dari penyerangan itu.


"Maafkan aku Jenni," lirihnya pelan dalam hati, lalu memilih melangkah keluar agar tidak terbawa susana kesedihan ini.


Melihat Arvan yang keluar, membuat Jenni merasa sedikit merasakan lega. "Terima kasih ya Shea, kamu baik, dia juga baik namun dia tidak bisa menentukan hatinya dia sendiri." Balasnya yang akhirnya angkat bicara setelah tangisanya kini meredah.


"Sama-sama, ya sudah kamu keluar ya, para tamu sudah menungggu," ucap Stella lagi yang meminta agar Jenni segera menyus Arvan di Balroom hotel.


Jenni menyeritkan keningnya bingung, "kenapa kita tidak bareng saja? Masa iya aku keluar sendiri," tanya Jenni yang belum mengetahui kebenaraanya.


Stella tersenyum mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu. "Aku tidak bisa menampilkan wajahku pada Dunia, karna itu sangat berbahaya," balas Stella yang memberitahukan bahwa situasinya saat ini sangat berbahaya untuk dirinya dan Arvan jika ada yang mengetahui kalo dia sebenarnya masih hidup.


"Kenapa ? Menangnya kenapa dunia tidak boleh mengetahui itu? Bukankah respsi ini hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk? Lalu kenapa kamu takut seperti itu?" Cercanya dengan begitu banyak pertanyaan.


Stella mengeduskan nafasanya pelan lalu tersenyum, "dunia tidak mengetahui jika aku masih hidup, dunia taunya jika aku sudah meninggal, karna itu akan sangat bahaya bagi kita semua jika sampai hal ini bocor," jawabnya namun membuat Jenni semakin bingung.


"Sudah keluar sana, nanti akan ada pelayan yang membantu mu berjalan," serunya lagi tidak ingi bercerita lebih jauh.


Stella tidak ingin ceritanya ini malah akan jadi mala petaka untuk keluarganya nanti, bukan tidak mungkin jika Jenni adalah musuh yang menyamar.


Namun mereka menepisnya karna dari cerita Arvan dia menikah dengan Jenni hanyalah karna sebuah perjanjian kehidupan sahabatnya.


Jenni yang mengerti jika dia tidak boleh ikut campur terlalu dalam, akhirnya menganggukan kepalanya singkat, lalu kembali bercermin untuk merapikan make upnya yang tadi berantakan karna menangis.


"Aku keluar dulu ya Shea," pamitnya pada Stella dan Arnon yang terlihat duduk santai di sofa kamar itu.


Stella menganggukan kepalanya singkat dengan senyuman manis di bibirnya, sedangkan Arnon tidak memperdulikan itu sama sekali, dia terus saja fokus pada layar laptopnya untuk memeriksa email dan jadwal yang masuk.


Dengan berjalan ala pengantin, Jenni keluar dengan mengangkat sedikit bajunya, dan tak jauh dia berjalan terlihat beberapa pelayan yang membantunya berjalan melangkah menuju Ballroom hotel yang sudah di sulap bak negri dongeng.


Ketika dirinya memasuki ballroom hotel, semua mata para tamu nampak takjub melihat kecantikan dari istri pria nomor satu dunia ini.


Semuanya memandang penuh dengan rasa kagum melihat sosok bidadari yang turun dari kayangan.


Sedangkan Arvan tersenyum manis melihat penampilan Jenni yang memang begitu cantik sekali.


"Kamu cantik sekali hari ini," ucapnya memuji Jenni, ketika istrinya itu sudah berada di sampingnya.


Jenni tersenyum dengan sangat kaku membalas ucapan dari suaminya itu, "makasih,tapi kecantikan ini bukan untuk kamu, melainkan untuk suami ku kelak yang mencintaiku dengan sempurna tanpa adanya kisah masa lalu," balas Jenni dengan lembut.


Deeegggg jantung Arvan berdegup dengan sangat kencang mendengar jawaban Jenni itu.


"Shitt!! Apa-apaan dia, bahkan ini baru resepsi pernikahaan kita tapi dia sudah membicarakan suami lain, kurangkah mewah kah pernikahaan ini sampai dia menginginkan suami lain." Gumamnya dalam hati menggelengkan kepalanya pusing dengan jawaban Jenni tadi.


Sedangkan Jenni yang melihat ekspresi dari Arvan kini tersenyum puas, "ketika kamu tidak bisa mencintai ku, maka aku tidak akan memilih bersamamu meskipun aku mencintaimu, tapi aku tidak akan bersamamu selamanya," ucapnya dalam hati, memandang sendu dengan tatapan kosong ke depan.


Melihat betapa riyuh acara ini, namun sama sekali tidak mengisi kekosongan di hatinya.


Bahkan hanya para tamu yang menikmati acaranya, sedangkan kedua mempelainya sama-sama termenung dengan pemikiraan mereka masing-masing.


Bagi Arvan pernikhaan ini hanyalah sebuah sandiwara dan dia hanya menginginkan seorang keturunan saja.


Sedangkan Jenni menjalakan pernikhaan ini hanyalah sebagai penyelamat kehidupan sahabatnya.


Pernikahaan ini sangat tepat jika di sebut dengan Simbosis mutualisme, yang saling menguntungkan kedua pihaknya.


**Visual Jenni dengan balutan gaun putih **



**To be continue. **


Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra