Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 54



🌹 Happy Reading 🌹


"Sayang, apakah itu tandanya kamu sudah mencintai ku?" tanya Morgan dengan penuh semangat.


Briell sesaat terdiam mendengar pertanyaan dari suaminya itu, tiba-tiba saja lidahnya keluh tidak mampu menjawabnya sama sekali.


Dia melepaskan pelukan suaminya itu dengan pelan, lalu melangkah menuju sofa yang berada di kamarnya itu.


Dengan menghembuskan nafasnya kasar, Briell mendudukan dirinya perlahan di sofa.


Dan semua itu tak lepas dari pandangan mata Morgan yang masih setia menunggu jawaban dari istrinya itu.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Kasih aku jawab apakah kamu sudah mencintaku?" tanyanya sekali lagi karna merasa tidak sabar mendengar jawaban dari Briell.


Namun Briell menjawabnya dengan gelengan kepala singkat yang membuat Morgan tersenyum tipis membalasnya. "Tidak apa-apa sayang, aku gak akan maksa kamu untuk mencintai ku sekarang," serunya yang sudah mengerti arti kode kepala dari Briell yang menandakan bahwa dia belim mencintai suaminya.


Kini dia juga melangkah dan mendekati tubuhnya pada Briell, dia menidurkan kepalanya di pangkuan istrinya. Dan mengambil tangan Briell agar mengelus lembut kepalanya, "sayang, aku mencintaimu," Lirihnya pelan di tengan belaian lembut dari tangan istrinya.


"I see," jawab Briell tanpa membalasa perasaan cinta suaminya, namun itu semua sama sekali tidak membuat Morgan sedih, karna keberadaan Briell yang masih mau bertahan di sisinya saja itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Sayang, apakah besok aku boleh berangkat ke Spanyol?" izinya pada Briell yang saat ini sangat-sangat di perlukan.


Briell sontak menghentikan belaiannya pada kepala Morgan dan memutar kepala suaminya agar menatap ke arah wajahnya, "mau ngapain?" tanyanya tegas, takut jika suaminya itu mau macam-macam.


Pasalnya suaminya itu sudah tidak bekerja lagi sekarang, mengingat perusahaan Terrence sudah di hancurkan oleh Aiden. Dan sekarang dia malah minta izin berangkat ke luar mau buat apa? tanyanya dalam hati yang tidak ingin jika suaminya ini mulai bermain-main denganya.


Morgan yang melihat wajah garang dari istrinya itu membalas dengan senyuman kecil, lalu berbalik memeluk pinggang kecil istrinya, dan menenggelamkan wajahnya pada perut Briell.


"Morgan jawab! Kamu mau ngapain? Kamu jangan macam-macam di belakangku ya! Bisa ku penggal kamu mau," ancamnya pada suaminya yang semakin terkekeh mendengarkan omelan dari Briell.


Plaakk Briell memukul pelan tangan Morgan yang mulai menjalar kemana-mana, "jawab dulu aku Pak mesum," ucapnya benar-benar kesal, suaminya ini bukanya menjawab malah mulai berbuat mesum kepadanya.


"Dikit aja loh Yank," sahutnya lemah. Menampilkan wajah melasnya.


"Gak ada,,gak ada, kamu jawab ! Atau gak ada jatah sebulan," Ancamnya mempan, karna Morgan langsung bangkit dari tidurnya mendengar ancaman itu.


"Sayang kok kamu gitu sih, aku cumn mau pegang saja loh," tolaknya lemah.


Briell terkekeh mendengar suara suaminya yang lemah seperti tidak makan setahun. "Makanya jawab kamu mau ngapain?" bentaknya yang sudah kesal karna tak kunjung juga mendapatkan jawaban atas rasa penasraanya.


Morgan terdiam bingung harus menjawab apa, dia tidak tau harus bagaimana saat ini, apakah dia harus jujur atau harus menyembunyikanya.


"Ehmm, sayang menurut kamu bagaimana jika ada seseorang yang menjalin hubungan dengan seorang pria yang mempunyai saudara kembar?" tanyanya dengan rasa khawatir yang berlebihan.


Briell yang mendengar pertanyaan itu, langsung menyeritkan keningnya bingung. "Maksud kamu apa? Jelaskan dengan detail," serunya yang sama sekali tidak mengerti bahasa dari Morgan yang menurutnya sangat ambigu.


Morgan menghembuskan nafasnya kasar, baginya memang harus jujur di awal, karna dia tidak mau mengambil resiko untuk menghancurkan kaca yang kokoh dengan sebuah kebohongan yang dia ciptakan sendiri.


"Sayang, bagaimana jika aku adalah saudara kembar dari mantan tunangan yang kamu cintai?" tanyanya dengan pelan memandang lekat ke arah mata istrinya.


Lagi-lagi Briell yang mendengar pertanyaan dari mulut suaminya itu merasa seperti ada hal yang besar yang telah terjadi di belakangnya yang dia sama sekali tidak ketahui. "Apa yang sebenarnya coba ingin kamu tanyanyakan? Hati ku? Perasaanku? Atau bagaimana sikap dan tanggapanku mendengar kenyaataan ini? Iya?" dia ingin memastikan terlebih dahulu apa yang ada di dalam pikiran suaminya ini.


Dengan tenang Morgan mulai menceritakan apa yang terjadi tadi, hingga dia jujur tentang dirinya yang mengidap psychopat dan juga dirinya yang sudah membunuh keluarga Terrence.


Awalnya Briell terlihat murka mendengar itu, dia sangat benci sekali dengan pembunuhan, namun kali ini dia bisa memaafkan karna apa yang di lakukan suaminya ini adalah bentuk dari pembelaan dari seluruh rasa sakit yang di torehkan keluarga itu padanya.


Namun yang sedang di pikirkanya saat ini adalah, tentang kenyataan jika dia adalah saudara dari mantan tunanganya, entah kakak atau adiknya, tapi sikap mereka benar-benar serupa tapi tak sama.


Alson yang merupakan kepribadian lembut dan suka mengalah, hampir sama dengan Morgan yaitu kelembutanya, namun Alson tidak mempunyai jiwa pembunuh seperti Morgan.


Alson bahkan sangat tidak tega ketika ada seseorang yang terluka di depan matanya, sedangkan Morgan meskipun tersembunyi dia mampu melenyapkan dengan cara sadis.


Alson tidak pernah berani memegang senjata, sedangkan Morgan dengan berani dan selalu tepat sasaran mengenai lawanya.


"Apakah kamu ingin menemui paman Jesper untuk meminta penjelasaan tentang ibu kamu?" tanyanya di tengah-tengah keheningaan yang tercipta di antara keduanya.


"Iya sayang, apakah aku boleh menemui mereka? Agar aku tau bagaimana asal usul ku dan bagaimana ibuku meninggal lalu siapa ayahku? Itu semua aku sangat ingin mengetahuinya." lirihnya pelan menutup matanya, merasakan beban berat dalam menanggung beban di bahunya.


Briell tersenyum dan menggengam erat jemari suaminya menyalurkan kekuatanya agar Morgan tau bahwa sekarang dia tidak sendiri, "aku akan menemani mu bertemu dengan mereka, bagiku masalahmu adalah masalah ku juga, jadi kita hadapin semuanya sama-sama ya." serunya dengan yakin, memberikan semangat pada suaminya untuk berani menghadapi kisah masa lalunya.


Morgan langsung menarik Briell masuk ke dalam dekapanya, dia merasa sangat beruntung saat ini, di berikan istri yang sangat mendukung segala langkahnya, meskipun belum ada cinta yang tumbuh di hati Briell untuknya, namun Itu sama sekali tidak merubah tasa hormat atau pun rasa saling menghargai di antara keduanya.


Mereka sama-sama berjanji jika di dalam hubungan mereka ini, kejujuran paling di utamakan. Bagi mereka sesakit apapun itu namun itu harus di ungkapakan, karna kaca yang pecah tidak akan pernah bisa tersambungkan lagi. Meskipun mereka mencoba untuk merakitnya ulang maka itu tidak akan bisa kembali utuh seperti sedia kalla.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra