
Happy Reading 😘
Setelah menempuh perjalanan 11 jam lamanya, kini Arvan dan Jenni telah berada kembali di dalam Mansion.
"Masuklah, bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, aku yakin kamu pasti sangat lelah," ucap Arvan dengan lembut.
Dengan wajah cemberut Jenni menganggukan kepalanya, dia memang begitu risih dengan banyaknya perhiasaan yang berada di tubuhnya.
"Kenapa berat sekali perhiasaan — perhiasaan ini?" Keluhnya entah pada siapa.
Arvan tersenyum mendengar Jenni yang kembali banyak mengeluh kepadanya, karena itu tandanya, posisi dia sebagai suami kini kembali berguna.
"Jelas itu sangat berat, karena itu semya adalah emas asli, bahkan gaun pernikahaan kamu itu semua terbuat dari benang emas dan juga berlian asli," ucap Arvan sedikit sombong. Karena dia ingin memberitahu pada Jenni, bahwa hanya dirinya saja yang bisa berbuat seperti itu. "Sombong sekali Anda Lord." Sindir Jenni dengan tatapan sinis.
Dan sejenak Jenni mengingat kembali tentang persiapan pernikahaan mereka kemarin.
"Oh ya, kemarin aku sempat diberitahu, jika di dalam mahendi ini, dia telah menuliaskan namamu," seru Jenni dengan riang, sembari memperlihatkan telapak tangannya pada Arvan.
"Bisakah kamu menemukannya? Kata mereka ini juga adalah tradisi mereka." Jenni begitu semangat ingin menguji kesabaran suaminya.
Namun, sepertinya dia lupa siapa suaminya itu.
Karena baru saja dia memperlihatkan telapak tanganya, Arvan bahkan sudah bisa melihat nama itu telah berada di sana.
"Di mana? Ahh ini sangat sulit sepertinya sangat sulit sekali," ucap Arvan bohong, karena dia ingin melihat Jenni tersenyum dengan bahagia karena telah menganggap dirinya bodoh dan tidak teliti.
"Hahahah, bisakah kamu mencarinya dengan benar? Namanya hanya berada di sana saja." Jenni tertawa dengan begitu lepas. Hingga sekelilingnya bisa merasakan kebahagiaan itu.
Setelah pertengkaran mereka di dalam pesawat tadi, kini Arvan berjanji akan berusaha untuk mencintai Jenni.
Dan walaupun itu sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, tetapi Arvan akan terus mencobanya, agar Jenni tidak akan pernah pergi lagi darinya, apa lagi sakpai hatuh cinta kepada pria lainnya. Bersyukur karena dia tidak sampai terpesona dengan cinta Robert, tetapi dia harus tetap waspada, dan jangan sampai lagi ada anak buah yang berani kurang ajar dengan jatuh cinta pada Queen mereka.
Cuuppp, Arvan mengecuupp singkat bibir Jenni yang sedang tertawa lebar, membuat gadis itu merasa malu, hingga langsung berlari masuk ke dalam kamar, untuk menghilangkan segala kegugupan hatinya.
"Aku akan membuatmu merasa nyaman terlebih dahulu, hingga kamu mau mengakui tentang kehamilanmu itu," gumam Arvan, yang sedang tersenyum tipis melihat Jenni yang berlari masuk ke dalam lift Mansion mereka, untuk naik ke kamar mereka yang berada di lantai 7.
"Kevinn," teriak Arvan, memerintah anak buah Lucas itu membawa Robert datang ke dalam ruanganya.
Kevin yang sudah mengerti kode itu, langsung berlari menggunakan Hoverboard, karena jika hanya berjalan kaki, pasti mereka akan merasakan jika kaki mereka akan lepas.
Hoverboard ini memang digunakan khusus di Mansion Arvan, mulai dari Arvan dan seluruh pelayan rumahnya, semua menggunakan alat bantu jalan itu.
Jika Arvan kini terlihat memasuki ruang kerjanya, berbeda dengan Jenni yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjangnya dan melihat satu persatu perhiasaan yang melingkar ditubuhnya.
"Aku merasa bahagia, karena dia telah berjanji akan belajar mencintaiku, entah itu benar atau hanya sebuah janji belaka, tetapi aku merasa bahagia akan ungkapan itu," lirih Jenni dengan begitu lembut.
Lalu dia beralih menatap ke arah perutnya yang masih sangat rata. Di dalam sana, ada sebuah kehidupan yang berharap bisa lahir dengan sempurna ke dunia.
"Sayang, bisakah kamu membantu mamah untuk membuat papah kalian bisa mencintai mamah?" tanya Jenni pada janinnya.
Tubuh Jenni terlalu lelah saat ini, sehingga dia memilih untuk memejamkan matanya sejenak. "Ahh, aku sangat tidak nyaman menggunakan perhiasaan ini," ucapnya tebangun. Karena dia merasa sangat risih sekali dengan penampilan dirinya yang sekarang.
Hingga dirinya memilih untuk mandi saja terlebih dahulu.
Brugghh„ brugghh, plaaakkk „ plakkk, di dalam sebuah ruangan terdengar suara pukulan hingga tamparan yang begitu kerasa mendarat di tubuh pria yang terlihat begitu lemah saat ini.
Ya, dia adalah Robert, yang mau tidak mau menerima akibat dari perbuataanya kemarin. "Masih berani kamu menatapku dengan seperti itu ha?" pekik Arvan, ketika mendatapankan tatapan Robert yang begitu meremehkanya.
Robert benar — benar sudah tidak mahu tunduk pada Arvan, baginya kesalahan Arvan menyakiti Jenni itu adalah hal yang sangat — sangat memalukan sebagai contoh dari seorang pemimpin.
"Lepaskan dia!" Perintah Arvan, yang sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini.
Kevin memberikan kode pada beberapa anak buahnya, untuk melepaskan rantai yang mengikat dan menggantung tangan pria itu.
"Tinggalkan kami berdua," titah Arvan lagi, namun kali ini Kevin bereaksi tidak seperti biasanya.
"Why Lord? Bukankah kita akan membunuhnya setelah ini?" tanya Kevin begitu bingung dengan ucapan Arvan yang tidak tahu mengarah kemana.
"Kevin," suara Arvan tedengar dengan penuh penekanaan, menandakan bahwa dirinya tidak ingin dibantah sama sekali.
Kevin tersadar, bahwa tidak seharusnya dia mau ikut campur dalam urusan Lordnya. Apapun yang diinginkan oleh Arvan itu adalah hak pria itu sendiri. Sedangkan dirinya hanyalah sebuah anak buah dari anak buah kesayangannya.
"Baik Lord, saya akan pergi keluar, dan menunggu perintah Anda selanjutnya." Jawab Kevin, dan kini sudah melangkahkan kakinya keluar, begitu juga dengan anak buahnya yang mengikuti langkahnya.
Meninggalkan Arvan dengan Robert yang kini hanya berdua di dalam ruangan tersebut, dengan di temani oleh darah — darah yang telah berceceran kemana — mana, sebagai saksi pertengkaraan antara Robert dan Arvan.
"Sekarang kita hanya berdua di sini!" Ucap Arvan, sembari mengelilingi tubuh Robert yang sudah tidak mampu berdiri lagi.
"Katakan apa maumu yang sebenarnya! Aku tidak ingin bertele — tele atau apapun itu, karena aku mau semuanya jelas dan Lugas." Arvan berbicara dengan penuh wibawa, sebagai seorang Lord untuk Robert.
Amarah, sudah jelas pasti bersarang di dalam hatinya, bahkan rasa ingin membunuh pria dihadapannya ini begitu membara, menyeruak di dalam otaknya.
Namun, Arvan masih terus berusaha agar dirinya bisa mengontrol emosinya. Karena biar bagaimanapun, dia sangat — sangat membutuhkan Robert untuk berada di sisinya.
Jika ditanya kenapa tidak mempekerjakaan yang lainnya? Jawabnnya maka tidak akan pernah ada yang bisa menganggantikan posisi — posisi yang sudah diatur oleh Andreas, papah Arvan sebelum beliau meninggalkan dunia ini.
"Jika saya mengungkapkan keinginan apa yang saya mau, belum tentu Anda akan menurutinya Lord," ucap Robert, dengan nafas yang sudah terengah — engah.
To Be Continue.
Hallo Teman - Teman semua, jangan lupa ya, Like,Vote Hadiah dan Komennya untuk Mimin. Agar mimin bisa lebih semangat nulisnya.
Dan oh ya, jangan lupa juga mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih🙏🏻