
Happy Reading
Setelah menunggu sangat lama, saat ini Jenni baru saja terbangun dari tidurnya.
Kevin yang sigap, langsung menyiapkan makanan terlebih dahulu untuk Queenya itu, sebelum dia dihias dan pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Queen Jenny," sapa Kevin, sambil menundukan kepalanya hormat kepada wanita yang berstatus isri Lordnya itu.
Jenni mengusap — usap matanya yang belum terbuka sempurna. Dia sangat asinh dengan panggilan Queen di daerah baru ini.
"Siapa kamu?" tanya Jenni, dengan mengerjap — ngerjapkan matanya, menatap lekat ke arah Kevin.
Sebelumnya, Jenni memang belum pernah bertemu dengan Kevin, karena tugas Kevin yang selalu bersama dengan Lucas, membuatnya sulit untuk mengunjungi Mansion Italia.
"Silahkan makan dulu Queen," pinta Kevin, tanpa menjawab pertanyaan Jenni terlebih dahulu. Jenni menyeritkan keningnya bingung, dia bahkan duduk di depan meja makan dengan pandangan yang tidak lepas sedikitpun dari wajah Kevin.
"Siapa sebenarnya kamu? Kemana Robert? Apakah kamu orang suruhannya?" tanya Jenni lagi, dengan banyak pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh Kevin.
"Queen, Anda ingin memakan apa? Biar saya siapkan?" tanya Kevin, Seakan — akan dirinya tidak mendengar semua pertanyaan Jenni tadi.
Kevin mulai mengambilkan makanan untuk
Jenni, dan melayani Jenni dengan sepenuh hati. Ketika Jenni mendengar suara orang lain yang berada di dalam rumahnya itu, dia menolehkan pandanganya menatap kebelakang.
"Siapa mereka? Dan kenapa mereka membawa begitu banyak pakaian?" Tanya Jenni lagi pada Kevin.
Namun, lagi — lagi Kevin memilih untuk tidak menjawabnya.
Merasa diabaikan, Jenni berdiri dari duduknya, dan berusaha mencari Robert di sekeliling ruangan. "Robert„ Robert„ kamu di mana?" Teriak Jenni, sambil terus menerus memanggil nama pria yang sudah membawanya ke sini.
"Queen„ Queen, lebih baik Anda makan dulu Queen," ajak Kevin, dengan berbicara sesopan mungkin.
"Tidak, aku tidak mau makan! Sebelum kamu mengatakan siapa kamu sebenarnya? Dan kemana Robert? Apakah kamu menculiknya?" Jenni yang mulai emosi, kini terus menerus menjauh dari Kevin yang berusaha mendekatinya.
"Queen," panggil Kevin lagi, masih dengan berusaha lembut. Ini adalah tugas yang paling dibenci oleh Kevin.
Kenapa dia harus dihadapakan dengan posisi seperti bencong yang tidak memiliki ketegasaan.
Jenni yang tahu jika dirinya tidak akan pernah mendapatkan jawaban apapun, kini berusaha melarikan diri dari Kevin.
Akan tetapi, ketika dirinya baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar. Tiba — tiba saja lima orang pengawal menghalangi jalannya.
"Queen, bersikaplah dengan baik! jika kamu tidak mau membuat Lord kami murka!" ucap Kevin dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
DEG
Jantung Jenni terasa ingin lepas saat ini, entah dia dan Robert yang terlalu bodoh, atau malah Arvan yang terlalu pintar, hingga dalam waktu 48 jam, dirinya bisa mengetahui tempat di mana mereka bersembunyi.
Jenni menolehkan sedikit pandanganya ke arah Kevin, dia bingung kenapa orang suruhan Arvan ini tidak membunuhnya. Lalu kemana Robert?
"Apa yang telah kamu lakukan kepada Robert?" Jenni menatap tajam ke arah Kevin dan yang Iainnya.
Akan tetapi Kevin kembali memilih diam dan enggan untuk menjawab.
"Kemana Robert? Apa yang sudah kalian lakukan kepadanya?" Tangis Jenni pecah, dia mencengkram kuat kerah baju milik Kevin dan mendorongnya dengan kuat.
Takut, itulah yang dirasakan Jenni saat ini. Dia begitu takut, jika Arvan benar — benar akan membunuh Robert.
"Ini semua salahku, ini semua karena aku, aku yang membuat Robert berani mengambil langkah seperti ini, aku mohon jangan lukai Robert," Pinta Jenni dengan sangat, hingga tubuhnya luruh dan berlutut dihadapan Kevin.
Kevin mengalihkan pandanganya melihat makanan yang sudah dingin di atas meja, dia juga tidak mau, jika Queennya menjadi sebuah tontonan gratis oleh orang — orang sekitar.
"Bangunlah Queen!" Titah Kevin yang terdengar begitu tegas, sembari mengangkat tubuh Jenni untuk kembali duduk di kursi.
Kevin berusaha menetralkan rasa kesalnya pada sikap Jenni yang sepert ini.
"Makan dulu Queen," pintah Kevin yang terdengar seperti perintah.
Kevin yang mulai bosan kini memilih untuk menyuapi Jenni agar bisa mempersingkat waktu yang ada.
"Aku tidak mau," tegas Jenni, membuang wajahnya ke arah Iain.
Kembali Kevin menarik nafasnya dengan dalam, dirinya sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini.
"Queen, jika Anda mau keadaan Robert baik — baik saja, maka bersikap baiklah!"
"Anda perlu ingat akan satu hal! Nyawa Robert, tergantung dari bagaimana sikap Anda kepada Lord Arvan." Kevin menegaskan Jenni akan hal itu.
Hingga Jenni tersadar bahwa semua itu
Dengan rasa terpaksa Jenni langsung mengambil makanan yang ada dihadapannya, dan memakannya dengan lahap, bahkan Kevin sampai harus menelan salivanya kasar, ketika melihat Jenni yang makan dengan rakus.
"I-alu mereka untuk apa di sini?" tanya Jenni, sembari menunjuk orang — orang yang sedari tadi hanya diam duduk memperhatikan mereka. Dia sebenarnya merasa malu, karena Kevin terlalu memandanginya hingga sama sekali tidak berkedip.
"Mereka adalah orang suruhan Lord Arvan, yang akan merias dan membuat Anda terlihat cantik malam ini, Lord Arvan akan menikahi Anda kembali mengikuti tradisi sumpah dan janji orang — orang du Negara ini." Jelas Kevin, tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganya dari wajah Jenni.
Merasa malu karena ditatap lekat seperti itu, Jenni memilih untuk menundukan kepalanya takut.
Tidak lama kemudian, ponse Kevin kembali berdering, Jenni bisa melihat jika nama Arvanlah yang berada di sana.
Kevin tersenyum sinis, sambil mengangkat panggilan itu tepat dihadapan Jenni. M
"Ya Lord," ucapnya, setelah berhasil menekan icon hijau di ponselnya.
"Queen baik, dia mau menuruti perkataanku." Kevin mengatakaanya dengan memberikan kode kepada Jenni, jika dirinya mampu melindungi wanita itu, hingga dia harus berbohong. Hingga Jenni hanya bisa menelan salivanya kasar, merasa tidak enak dengan Pria itu.
Ketika Kevin sudah mematikan panggilan tersebut, Jenni memilih untuk mengakhiri makannya.
"Aku sudah kenyang," lapornya pada Kevin.
Melihat hal itu, Kevin langsung sigap memberikan Jenni air minum. "Apakah Anda sudah siap untuk dirias?" tanya Kevin pada Jenni. "Apakah kamu tidak memberikanku jeda? Mengap kamu ingin terburu - buru?" tanya Jenni balik, tanpa menjawab pertanyaan Kevin sebelumnya.
Namun, Kevin hanya diam, dan terus menatap Jenni dengan lekat.
Jenni menghela nafasnya berat, dia tidak mempunyai pilihan lain, selain menuruti keinginan Kevin saat ini.
"Baiklah, aku sudah siap," jawabnya final.
Kevin langsung menatap ke arah MUA yang sedari tadi hanya diam. "Kalian sudah bisa bekerja sekarang!" Perintah Kevin pada mereka.
"Baik Tuan," jawab MUA itu, dan lalu menbawa
Jenni masuk ke dalam kamar.
"Kalian mau membawaku kemana?" tanya Jenni bingung.
"Kami ingin Anda berendam terlebih dahulu di dalam air susu murni yang sudah kita campurkan dengan bunga kelopak mawar asli dari Perancis Queen," jawab Mereka.
Lagi — lagi Jenni ingin sekali membantah, namun, tatapan mata Kevin benar — benar tidak lepas dari pergerakaanya, sehingga Jenni hanya bisa diam, bagaikan banteng yang telah dicucuk hidungnya. Dia harus menuruti semua perintah dari Kevin.
Sejujurnya Jenni sangat mengkhawatirkan keadaan Robert, namun dia juga bingung, dengan siapa dia ingin menanyakan keadaan pria itu?
Bagaimana caranya mereka untuk bertemu. Jenni
17:14 •U LTE
Preview
sangat takut jika nanti Arvan malah nekad untuk membunuh Robert.
'Tuhan, Lindungilah Robert di manapun dia berada, jangan biarkan orang — orang jahat menyiksanya Tuhan, dia adalah pria yang baik, dan bahkan sangat — sangat baik." Jenni memanjatkan doa untuk keselamatan Robert. Walaupun dia tahu, itu semua tidak akan berguna. Karena hidup dan matinya Robert saat ini hanyalah berada di dalam tangan Arvan.
Satu jam berlalu, kini Jenni tengah duduk di ruang tamu, dengan beberapa wanita yang mengelilinginya.
"Kalian mau apa lagi?" tanya Jenni, yang melihat wanita — wanita itu ingin mengambil tanganya.
"Kami akan melakukan ritual mahendi Queen, agar kami semua bisa melihat seberapa gelap warna mahendi Anda," Jawab salah satu dari mereka.
Jenni menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan.
"Kenapa harus menunggunya menggelap?" Jenni sangat bingung dengan tradisi ini. Kenapa begitu banyak tradisi yang berada di Negara Asia ini, pikirnya.
"Karena, semakin gelap warna mahendi, kami bisa melihat, seberapa besar cinta Lord Arvan terhadap Anda," sahut salah satu dari mereka.
Jenni yang mendengar itu, hanya mampu memutar bola matanya malas. "Cinta? Hanya orang bodoh saja yang berpikir jika dia mencintaiku," batin Jenni, tertawa sinis dengan kalimat cinta Arvan yang dipertanyakaan.
To Be Continue.
Hallo Teman - teman, Jangan lupa ya, untuk Like, Komen dan Kasih Hadiahnya untuk Mimin.
Hayoo, hari ini spesial Birthday Mimin, siapa yang mau kasih hadiah like dan Komentar untu mimin nih :-)
Oh ya, jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lain ya.
Terima Kasih.