Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 67



🌹 Happy Reading 🌹


Dalam sunyi dengan di temani oleh deburan ombak malam, Albert melangkahkan kakinya menyusuri pantai itu, dia membiarkan kakinya menyentuh air yang dingin pada malam hari.


Dia sangat letih hari ini, kenyataan serta kejujuran yang dia dapatkan selamat 25 tahun ini akhirnya mampu mengubah segelanya. "Mamah, aku belum pernah melihatmu lalu mengapa kamu meninggalkanku terlebih dahulu, sebelum aku memelukmu," lirihnya pelan menatap laut lepas di temanin oleh bintang-bintang malam yang bersinar menyinari pada malam ini.


Sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang datang menghampirinya, "kamu belum tidur Nak?" tanya Jesper yang tiba-tiba menyapa.


Sepertinya dia tadi melihat Albert keluar dari kamarnya, dan mengikuti sampai ke sini.


"Uncle,"serunya melihat sosok Jesper yang ada di belakangnya.


Jesper tersenyum melihat Albert yang sepertinya sudah terbiasa dengan kehadirnya.


"Apa yang kamu rasakan saat ini Nak?" tanya Jesper yang sebenarnya juga khawtir pada ponakanya Itu.


Bagaimana pun kekuatan seorang pria, pasti akan hancur jika mengetahui cerita kehidupan keluarganya yang sudah hancur brantakan.


Albert tersenyum tipis dengan pertanyaan Pamanya itu, "Not Bad," balasnya singkat tanpa mengalihkan pandanganya dari gelombang yang membesar.


"Nak, ada yang ingin bertemu denganmu sekarang," ungkap Jesper yang sepertinya sedari tadi memang ingin memanggil Albert untuk bertemu dengan seseorang yang sejak tadi menggangunya.


Albert menaikan alisnya sebelah, dia bingung di negara baru seperti Barcelona ini siapa yang ingin menemuninya, sedangkan dia tidak memiliki teman atau krabat di negara ini.


"Siapa Uncle?" Tanyanya begitu penasaraan, karna tamu yang tak di undang itu datang pada malam hari.


Mengingat saat ini jam sudah menunjukan waktu 23.00 .


"Seseorang yang akan menjelaskan semua apa yang terjadi selama ini pada ibumu,"Jawab Jesper lagi, dan kali ini berbalik melangkah untuk masuk ke dalam rumah menenui orang itu.


Albert yang penasaraan siapa orang itu, kini ikut melangkah mengikuti langkah kaki pamanya, hingga ke sebuah ruangan yang sangat besar di rumah itu.


Ckleeekkk Jesper membuka pintu ruangan itu, "masuklah Nak, orang itu menunggu mu di dalam," ucapnya mempersilahkan Albert untuk masuk.


Tanpa banyak bertanya lagi, Albert langsung masuk ke dalam dan melihat ruangan itu sangatlah gelap.


Dan dia juga mendengar suara pintu yang di tutup kembali, sepertinya Pamanya tidak ikut masuk ke dalam ruangan ini.


Teeeekkkk,,


Lampu menyala dengan otomatis, menampilkan sosok seoarang pria yang kali ini membelakanginya.


"Hallo Mr. apakah anda yang ingin bertemu denganku? Jika iya katakan, ada apa ? Sebelum aku pergi karna istriku membutuhkan ku," Serunya malas karna melihat sosok ini yang masih membelakanginya.


Pria itu tersenyum mendengar suara yang begitu dia ingin dengar selama ini, sontak dia membalikan tubuhnya dan melihat sosok anaknya berada di depan matanya.


Deeeegggg jantung Albert seketika berdegup dengan sangat kencang, bahkan sepertinya dia sudah mau keluar dari tempatnya, melihat sosok siapa yang saat ini berada di depan matanya.


"Kamu," serunya yang sangat mengenali wajah Papahnya saat ini.


Namun Albert malah mundur dan berjalan ingin keluar dari ruangan itu. Namun di saat dia mau membuka pintu, entah mengapa pintu itu susah untuk di buka, dan mengakibatkan dirinya stuck di dalam bersama dengan Papahnya itu.


"Shittt!" Umpatnya begitu kesal dengan keadaan saat ini.


"Nak ini Papah, kamu tidak ingin memeluk tubuh tua Papah ini Nak." Seru Arvan seperti tidak ada masalah di antara keduanya.


Albert yang muak dengan sikap Arvan ini, akhirnya melangkah dengan tatapan tak sehangat biasanya. "Berhenti menyebut dirimu adalah Papah ku tuan bodoh, aku tidak akan pernah mengakui jika kamu adalah Papah ku, sekalipun kamu adalah orang yang paling berpengaruh dengan dunia ini. Tapi aku tidak bangga menjadi putramu, menjadi keturunan mu. Paham." tegasnya memperingatkan Arvan akan kesalahan-kesalahan di masa lalu.


Arvan terkekeh mendengar ucapan putranya itu, dia benar-benar melihat cerminan sifat dari dirinya yang terdapat dan melekat pada putra keduanya. "Nak, apa kamu tau, jika sifatmu itu sangat mirip sama Papah, namun wajahmu itu sangat mirip denga Mamah," lirihnya kecil, memandang wajah Albert denga lekat.


Sungguh saat ini dia sangat merindukan Jenni, merindukan seluruh nasehat dan candaan-candaan kecil yang selalu dia ciptakan.


"Mamah kamu adalah sosok yang periang, namun juga cerewet, dia selalu bisa membuat Papah tersenyum dengan tingkah lakunya walau sekecil apa pun itu, namun Mamah memiliki hati yang sangat lembut, dia mudah jatuh cinta namun sulit melepaskan. Ketika dia mencintai seseorang, maka dia akan memberikan seluruh kehidupanya oleh pria itu, dia adalah wanita yang tidak pernah memiliki perasaan buruk di masa lalu, apa pun yang terjadi dia masih berusaha untuk tersenyum bahagia, dia selalu mendukung apa pun yang Papah lakukan, tanpa memperdulikan jika hatinya akan sakit jika melakukan itu,hiskk,,hiskk Papah merindukan Mamah Nak, Papah menyesal dengan apa yang terjadi di masa lalu, ampunilah Papah Albert, jangan hukum Papah yang sudah rentah ini, Papah hanya ingin anak Papah kembali Nak, tolong jangan benci Papah, hissk,,hiskk," dia menceritakan sosok Jenni pada putranya, dengan harapan jika putranya itu tau. Jika dia tidak sepenuhnya mengabaikan istrinya, walaupun dia cuek, namun sikap dan hati istrinya selalu membuatnya tertarik masuk ke dalamnya.


Dia tidak bisa untuk mengungkapkanya, dia sadar bagaimana Jenni berharap dengan sikapnya yang terkadang memeperhatikannya, namun setiap kali dia memberikan harapan, dengan gampangnya dia mematahkanya.


Dia selalu mengingatkan Jenni untuk selalu bersikap dan bertindak layanknya seoarang wanita yang baik, namun terkadang dia juga mengingatkan jika dia sudah memiliki tambatan hatinya dia sendiri.


"Anda itu tak layak di sebut sebagai Papah, anda menyakiti Mamah saya tanpa sekalipun pernah meminta maaf, anda membuat air mata di sepanjang kehidupan pernikahaanya bersama mu, anda memberikan harapan padanya lalu detik kemudian anda patahkan, anda benat-benar pengecut Tuan, anda pengecut. Dan aku tidak sudi menjadi anak pria yang pengecut seperti Anda ini. Dan jika bisa aku mengeluarkan darah keturunan anda dari tubuhku, maka aku akan melakukanya Tuan, aku akan melakukanya," balasnya dengan menahan air matanya agar tidak keluar.


Sungguh Albert sangat-sangat tidak ingin berada di situasi seperti ini, dia tidak ingin bertemu dengan Arvan, dan jika bisa, Arvan lebih baik tidak mengtahui jika dirinya adalah putranya.


"Nak tolong ampuni Papah, jangan benci Papah Nak, Papah tau Papah salah, tapi jangan seperti ini, Mamah kamu akan sedih nantinya." balas Arvan yang kali ini dengan tidak malunya membawa nama Jenni untuk membujuk putranya.


Dan ya, benar saja, Albert langsung tersenyum sinis mendengar Arvan yang mengatakan jika Mamahnya akan sedih ketika dia tidak mau memberikan pengampunan untuk Papahnya.


"Anda meminta pengampunan kepadaku, itu salah Tuan, karna yang anda sakiti adalah Mamah saya, bukan saya. Jadi anda akan mendapatkan maaf saya jika anda bisa mendapatkan maaf dari Mamah saya terlebih dahulu." Serunya dengan memendam emosinya.


Dia tidak mau lepas kendali saat ini, mengingat siapa Arvan yang bisa mengendalikan semunya.


Dia takut jika dia berbuat kesalahan maka, Mertua dan Pamanyalah yang akan menanggung kesalahanya.


"Bagaimana mungkin Papah mendapatkan maaf dari Mamah yang sudah tidak ada Nak?" tanya Arvan bingung dengan permintaan putranya yang satu ini.


Albert yang mendengar itu, kini tertawa dengan tipis, lalu menatap tajam ke arah Papahnya, "jika anda merasa itu mustahil, maka seperti itulah yang akan anda dapatkan sekarang." Ucapnya dengan bahasa ambigu.


Lalu dia melangkah lagi menjauh dari Arvan, karna dia merasa muak melihat wajah tak berdosa dari Papahnya itu.


"Jangan mengharapkan ampunan dari seseorang yang sudah mati, jika Mamah mati dengan meninggalkan dunia ini, maka putramu ini hidup dengan hati yang mati, dan semua itu karna mu," tandasnya yang langsung menusuk ke dalam relung hati yang paling dalam.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra