
🌹 Happy Reading 🌹
Suasana di luar kini mulai terbandingi, Albert dan yang lainya terlihat mampu melumpuhkan lawan-lawanya dengan baik.
"Albert ikut saya menyusul Lord dan Princess," pinta Robert kepada Albert, karna menurutnya ini sudah begitu lama dari waktu Arvan pergi tadi.
Albert menganggukan kepalanya singkat dan menyetujui itu.
"Yang lain tetap di sini, saya dan Tuan Albert akan pergi menyusul Lord, Zein,Tuan Mario, Tuan Jesper, dan yang lainya, saya serahkan pada kalian." Ucap Robert yang mempercayakan semua ini pada yang lainya.
Dan setelah itu Robert dan Albert berlari untuk masuk ke dalam Mansion untuk mengejar Arvan dan Stella.
Suasana di dalam Mansion.
"Shea kendalikan dirimu," teriak Arvan yang tak ingin adiknya kenapa-kenapa jika bertindak berlebihan seperti ini.
Namun Stella tidak memperdulikan itu, dia terus menyerang Jacob dengan membabi buta.
Dooorr,,doorr,,duaaaaarrrrr,, buuggghhhhhh
Stella menembak ke sembarangan arah meskipun tidak mengenai targetnya, hingga menghancurkan bangunan-bangunan Mansion itu.
Dooorrr,,dooorrr,,,aaakkkhhhhh ,, satu peluru akhirnya mengenai Perut Jacob dan melumpuhkanya.
Stella berjalan mendekatinya, dan ingin menembak lagi.
Namun tiba-tiba saja Robert datang dan mengunci dirinya.
"Aaaarrrkkhh bodoh lepaskan," brontaknya dari kuncian Robert.
Sedangkan Albert langsung menyerang Jacob hingga terjadi duel di antara mereka.
Buuggghhh,,buggghh, buuugghhh,,, Albert menghajar Jacob dengan segala bentuk kemarahan ketika melihat Mamahnya yang tadi di rantai oleh pria bejad ini.
Sedangkan Stella, sudah pingsan karna kelelahan akibat dari sikap lepas kendalinya tadi.
Robet meletakanya di sebelah Arvan, "Lord, apa luka anda parah?" tanya Robert yang melihat darah di perut Arvan.
"Tidak juga, ini hanya perlu pengobatan sedikit juga pasti akan sembuh." Jawabnya santai seperti tidak merasakan sakit yang berlebih atau apa pun.
Berbeda dengan di luar, terlihat pasukan Arvan yang sudah menyatakan kemenangnya, kini berlari masuk untuk menyusul ke dalam.
Alson dan Jesper melangkah lebih dulu ke arah Jenni dan Gina yang sedari tadi duduk menepi dengan di temani oleh Brio.
"Mah, ini Alson Mah," lirihnya pelan memperkenalkan dirinya pada Jenni yang seperti orang linglung saat ini.
Jenni menoleh pada Jesper, lalu menoleh kembali pada Alson yang berada di kakinya. "Aaaall,,,ssoon,,aaa,,nnaa,,kkk,,kkuu," jawabnya dengan suara yang terbata-bata.
Tanpa aba-aba dan tanpa rasa jijik, Alson langsung mendekap tubuh tua yang sangat kotor dan bau itu, namun Alson tidak perduli akan hal itu, dia tetap memeluk tubuh Jenni tanpa merasakan jika itu kotor atau apa pun.
"Hissskkk,,hhhiiisskk, aanakk ku sudaaah daaatang menyelamatkan ku,, anaakk ku sudah datang, kakkaakka,hisskk,,hisskk," tangisnya pecah melihat sosok kakaknya yang juga ikut menangis saat ini.
Jesper ikut berhambur dalam pelukan Alson dan Jenni. "Kakak kangen sekali dengan kamu cerewet, kakak kangen,hisskk,hiskk," tangisnya yang sudah tidak tau harus berbicara apa lagi ketika melihat sosok yang sangat di rindukanya, kini sudah berada di depanya walapun dengan keadaan yang sangat memperihatinkan.
"Mah, ayo kita masuk ya, kita lihat Adik di dalam," ajak Alson yang kini sudah melepasakan pelukanya dari tubuh Jenni.
"Adikk,," lirih Jenni kembali, yang di jawab anggukan kepala oleh Alson.
"Adik,, Albert," tambahnya lagi, mengingat bahwa nama-nama itu dialah yang memberikan kepada dua bayi kembarnya.
Alson menoleh pada Jesper untuk meminta solusi, karna sepertinya Mamahnya ini belum siap untuk bertemu dengan Papahnya.
"Mah, kita hanya akan melihat adik, bukan membahas Papah." Ucapnya lagi, yang mengerti kekhawatiran dari wajah Mamahnya.
Jenni menganggukan kepalanya singkat, "Mamah mau liat Albert, Mamah tidak mau ketemu Papah," balasnya lagi yang semakin membuat Alson merasa terjepit.
"Mah, Alson tau Mamah masih marah sama Papah, tapi di dalam keadaan seperti ini, cobalah berdamai sejenak, kasihan Albert yang saat ini sedang membutuhkan dukungan kita, tapi di dalam sana masih ada Papah, Alson juga tidak bisa berbuat apa pun Mah, please lah kali ini saja," pintanya dengan lembut agar Jenni tidak bersikap seperti ini di dalam keadaan yang terdesak seperti ini.
Jenni yang mendengar itu langsung tertunduk menangis. "Baiklah Nak, Mamah akan ikut masuk ke dalam." Jawabnya yang tau jika dirinya tidak boleh egois saat ini.
Jesper dan Alson sontak tersenyum, "ayo Mah, Alson gendong Mamah," sahutnya lagi, langsung menggendong tubuh tua itu dengan sangat berhati-hati, lalu mereka melangkah masuk ke dalam menyusul langkah yang lainya.
Sedangkan Brio dan Gina, sudah lebih dulu masuk untuk menghancurkan sistem-sistem pintar dari Mansion ini.
Di saat mereka sudah masuk di dalam, sepertinya Albert berhasil melumpuhkan Jacob, meskipun banyak luka robek di tubuhnya akibat pedang yang di arahkan Jacob kepadanya, namun tidak sama sekali melumpuhkan gerakan Albert.
"Tamatlah riwayatmu Jacob." Teriak Albert langsung menembak kepala bagian belakang milik Jacob dan mengambil alih pedang yang ada di tangannya,"
Doooorrr,,dooorr,,doorr,, jlleeebbbbbb, tiga peluru di sarangkan di dalam kepala Jacob, dan Albert berhasil menusukkan pedang itu tepat di jantung milik pria itu, yang membuatnya mati seketika.
Arvan tersenyum puas dengan kemenangnya kali ini, menurutnya tidak sia-sia dia melatih anak buahnya hingga bisa menyeimbangi ratusan orang seperti ini.
Meskipun banyak yang terluka dan sepertinya harus segera mendapatkan perawatan, namun tetap saja mereka berhasil.
"Dia putraku," lirih Arvan pelan yang bangga akan kekuatan dari putra keduanya.
"Dia putraku, bukan putramu," sahut suara Jenni yang kebertan jika Arvan menyatakan Albert putranya.
"Dia memang putraku," balas Arvan lagi yang tidak terima jika Jenni mengatakan Albert bukan putranya.
"Dia memang bukan putramu." Balasnya Jenni lagi yang benar-benar tidak menyukai hal itu.
Mario yang mendengar itu langsung memutarkan bola matanya malas.
"Dia menantuku, titik gak ada koma, gak ada balasan dan harus terima." Ucap Mario tegas menyatakan kemenanganya dari pasangan yang baru bertemu namun sudah berselisih ini.
Vincent yang melihat Mario berkata seperti itu pada Lord Arvan dan Queen Jenni langsung menatap kagum, bahkan tanpa sadar menggelengkan kepalanya, hingga Martin yang berada di sebelah kini langsung menegurnya.
"Kamu kenapa Vin? Geleng-geleng gitu, pusing ha? Ada peluru nyangkut di kepalamu?" Tanyanya dengan nada yang meledek.
Vincent kembali menggelengkan kepalanya singkat . "Pantas saja Briell bar-bar, bapakanya aja begitu." Lirihnya pelan masih menatap kagum pada sosok Mario yang saat ini sedang berdiri dengan gaya coolnya.
Berharap suatu saat dia akan sekeren itu nantinya walaupun sudah tua nanti.
To be continue.
Teman-teman, Mimin tugas dulu ya, udah kesiangan nih, nanti sore kita ketemu lagi kalo enggak malam. Oke semua 😘
I love you all readers 🥰🥰
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra