Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 69



🌹 Happy Reading 🌹


Setelah mengobrol panjang penuh ekspersi tadi, kini Albert kembali masuk ke dalam kamarnya, dia takut ketika nanti istrinya itu terbangun dan mencarinya.


Cekkllekk, dia membuka pintu kamarnya dan mendengar suara istrinya yang sedang menagis.


"Hisskk,,hikss,,Albert kamu dimana ? Hiskk,,hiskhh," tangisnya sesegukan, entah apa sebabnya dia menangis sampai seperti ini.


Dan karna panik, Albert langsung berlari menghampiri istrinya yang masih duduk di atas tempat tidur. "Sayang kamu kenapa? Siapa yang gangu kamu sampai nangis begini ?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir.


"Hiskk,,hiskk, kamu dari mana? Aku takut tau, aku cariin tadi kamu gak ada, aku takut kamu di culik sama orang," tangisnya lagi, namun malah di balas dengan tawa yang mengesalkan dari suaminya.


"Hahahhahaha, sayang kamu kenapa sih,hahahha," Tawanya yang mendadak membuat Briell kesal.


Bugggghhhhh, satu tonjokan paling mematikan langsung di berikan Briell kepada suaminya, hingga jatuh terkapar di lantai.


"Addduuhhh,"ringgisnya, karna itu benar-benar sakit sekali rasanya.


Sedangkan pelaku kejahatnya, langsung mengambil posisi tidur kembali, tanpa meminta maaf ataupun merasa kasihan pada suaminya yang sudah dia tonjok.


"Salah sendiri, kita sudah perhatian dia malah ketawa mengejek, mampus sekalian sana," Gumamnya pelan, sambil memperbaiki selimutnya, dan kembali menutup matanya.


Albert yang masih terduduk di lantai itu, memandang heran ke arah istrinya, yang sepertinya saat ini sudah kembali tidur dengan nyenyak.


"Apakah tadi itu dia bermimpi? Atau dia masih kerasukan? Aaarrrggghhh kamu kenapa sih sayang? Jangan buat aku gila tambah gila dong," ucapnya frustasi, sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Briell yang berpura-pura tidur, mendengar semua itu, "hihihi,,hahah, rasain kamu, makanya jangan buat aku kesal terus," tawanya tanpa suara, agar tidak di dengar oleh suaminya.


Namun Briell sendiri menyadari fase hormon yang dia alami saat ini, dalam diam dia mengusap perutnya dengan lembut, "tumbuhlah sayang, jika kamu memang ingin tumbuh, temani Papah dan Mamah untuk melewati segala ujian cinta ini sayang, temani Papah untuk membuat Mamah mencintainya, good night calon janin," ucapnya dalam hati, dengan terus menerus mengusap perutnya itu.


Dia menyadari jika selama melakukan hubungan badan dengan suaminya, dirinya itu masih dalam masa-masa subur, namun belum dia bisa pastikan jika perubahan sikapnya ini adalah hormon pada masa kehamilan, mengingat usia pernikahaan mereka yang belum genap 1 bulan.


Masih 40% yang dia yakini telah mengandung saat ini, maka dia belum berani untuk berharap lebih, sebelum memang sudah tanggalnya nanti.


Karna dia adalah seorang dokter, pasti dia akan lebih memahami jika dirinya sudah mengandung atau tidak, namun sepertinya sekarang mungkin masih dalam masa fase pertama yaitu pembuahan dan berbentuknya sebuah kantong janin di dalam rahimnya.


Albert tau jika istrinya saat ini berpura-pura tidur, dia langsung segera memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan menggengam jemari Briell yang terletak di atas perut mulusnya itu.


"Kamu belum tidurkan sayang,"serunya sambil mencium-cium pipi istrinya.


Briell yang merasa risih dengan itu, langsung menggeser tangan suaminya yang berada di atas perutnya. "Jangan di tindis, tangamu tuh berat tau," ucapnya pelan sambil menggeser tangan Albert agar menjauh dari tubuhnya.


Albert tersenyum melihat istrinya yang tak lagi menangis seperti tadi, dan kini dia beralih kepada perut istrnya yang sedari tadi di elus oleh Briell sendiri.


"Apakah dia sudah tumbuh sayang?" tanyanya langsung menempelkan telinganya pada perut Briell.


"Belum, nanti pasti dia akan tumbuh, kita berdoa saja ya," balas Briell yang juga mengharapkan rahimnya ini cepat terisi oleh buah hati mereka.


Albert juga mengikuti langkah Briell yang mengelus perut itu dengan lembut. "Nak, Papah sudah gak sabar ingin kamu hadir di sini sayang, cepat tumbuh ya, supaya bisa cepat menjadi teman untuk Papah dan Mamah," serunya dengan penuh harapan. Bahkan tanpa dia sadari jika Briell sampai meneteskan air matanya terharu, melihat sikap lembut dari suaminya yang mampu menyentuh hatinya ini.


"Kita berusaha lagi ya, semoga dia cepat tumbuh," Tandas Albert dengan santai, yang langsung membuat Briell menatapnya dengan tajam, bahkan air matanya tadi seakan tidak mau keluar lagi di saat mendengar ucapan suaminya.


"Aku mau tidur! Aku capek!" ketusnya yang mengerti arti kata berjuang ala suaminya itu.


Albert lagi-lagi tersenyum melihat sifat galak dari istrinya. "Tidurlah Sayang, aku akan menemaimu terus di sini sampai nanti kamu membuka matamu, dan aku tidak akan pergi sebelum kamu menyuruhku pergi." Bisiknya dengan lembut di telinga Briell.


Lalu dia mendekap erat tubuh istrinya dengan penuh rasa hangat, hingga dirinya juga imut larut dalam mimpi indahnya bersama dengan istri tercintanya.


******


Sedangkan di sisi lain, di kota Valencia masih di negara Spanyol.


Terlihat seorang pria tengah berdiri dengan gagahnya di antara staf-staf rumah sakit yang ada.


"Jika kalian masih mau berada dalam zona aman, maka jangan pernah menyembunyika identitas dari seseorang," ancamnya penuh dengan ketegasaan di dalamya.


Membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan ketakutan yang hakiki.


Apalagi melihat sosoknya yang sangat menakutkan, tidak akan ada yang berani macam-macam pada sosok yang terkenal di seluruh dunia ini.


Yang memiliki kedudukan sama seperti Tuanya yaitu Lord Arvan.


Ya, Pria yang saat ini tengah berdiri dengan rasa emosi karna informasi yang berhasil dia cari, jika putra pertama tuanya itu saat ini tengah berada di Kota ini.


Namun seluruh rumah sakit menyimpan seluruh informasinya dengan sangat rapat, dan sepertinya ini ada campur tangan Aiden di dalamnya.


"Kalian dengarkan semua baik-baik! Jika dalam waktu 24 jam tidak ada yang membawa informasinya kepadaku! Maka jangan salahkan aku jika rumah sakit ini hancur hingga ke dasar, dan aku sendiri yang akan membuat seluruh fasilitas di seluruh rumah sakit di kota ini akan tutup, ingat itu!" Ancamnya lagi. Dan ya siapa pun tidak akan pernah ada yang berani membantah asisten Robert ini, karna seluruh dunia pun juga tau, jika dia sudah berkata, maka itu pantang untuk di tarik kembali.


Terlebih orang yang melindungi mereka dan mengancam mereka kemarin, kedudukanya masih di bawah Robert, maka dengan penuh keyakinan mereka memilih untuk percaya oada Robert, bahwa setelah mengatakan ini semua, Aiden tidak akan bertindak di luar batasanya.


"Waktu kalian di mulai dari sekarang! Saya mau informasi tentang tuan muda Alson saat ini, dan bawa dia kehadapanku sekarang! Aku tidak perduli bagaimana pun keadaanya, yang penting dia masih hidup." Perintahnya lagi dnegan tegas, kepada seluruh staf rumah sakit yang ada di rumah sakit milik Arvan yang paling terbesar di kota itu.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra