
Happy Reading 😘
Jenni langsung menarik nafasnya panjang, dia merasa lelah ketika melihat dua orang yang sedang bertengkar dihadapannya ditengah keadaan duka seperti ini.
"Cukup! Cukup!" Teriak Jenni menghentikan perkelahiaan di antara mereka. Robert dan Arvan terhenti, dengan nafas mereka yang terlihat memburu.
"Kalian kalau mau bertengkar, jangan di sini! Silahkan di luar! Kalian jika tidak bisa menghargai aku, kalian hargai sahabat aku, dia udah gak ada, apakah kalian tidak bisa mempunyai sedikit saja rasa kemanusiaan?" Jenni berkata dengan sangat keras, membuat kedua pria yang tidak punya akhlak itu terdiam tanpa bisa berkata apapun lagi, karena memang yang dikatakan oleh Jenni saat ini adalah benar.
Ditengah kondisi duka seperti ini, tidak seharusnya mereka malah bertengkar seperti ini, "ini semua karena Robert dan kamu!" Arvan malah menuduh Jennilah yang menjadi penyebab semua ini.
Jenni kembali menarik nafasnya dalam, saat ini dirinya sama sekali tidak mau terpancing dengan tuduhan Arvan yang sama sekali tidak beralasan.
"Robert, lebih baik kamu pergi sekarang! Urusan ini adalah tentang aku bersama dengan
Arvan."
"Tapi Jen -,"
"Jaga cara bicaramu dengan istriku! Tidak seharusnya kamu memanggil Queen kamu dengan sebutan nama seperti itu!" Sahut Arvan, yang merasa asistennya itu sama sekali sudah tidak menganggapnya ada.
Robert tersenyum kecut menanggapi kalimat dari Lordnya, "aku akan memanggilnya Queen, jika dia adalah the real Queen kami,"
"Sedangkan saat ini apa? Kamu saja tidak pernah menganggapnya ada, kamu tidak pernah menghargainya, kamu hanya selalu menganggap Mira adalah Queen kita, jadi dia adalah Jenni bukan Queen kami, karena bagi kami, Queen hanyalah Mira, sama seperti yang selalu kamu katakan kepada Jenni, bahwa cinta dan hati kamu hanya untuk Mira, bukankah begitu Master Lord Arvan yang terhormat?" Jenni membulatkan matanya tidak percaya dengan kalimat yang dilontarkan oleh Robert saat ini.
Begitu beraninya Robert melawan Arvan
karena hanya untuk membelanya.
"Robert," lirih Jenni pelan, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak mau jika Robert terus - menerus melawan Arvan. Karena dia sangat tahu, jika semua ini tidak akan pernah berakhir baik jika dibiarkan seperti ini.
"Kurang ajar kamu," sentak Arvan, lalu segera mengeluarkan pistol yang paling mematikan, untuk bersiap membunuh Robert saat ini juga. Arvan paling benci ketika harga dirinya dijatuhkan oleh pria yang merupakaan bawahaanya. Baginya, hanya dialah satu - satunya pemimpin di Dunia ini.
Dan semua kalimat ataupun keputusan yang dia buat, itu adalah hal mutlak untuk diterapkan.
"No, Arvan, No, please," tangis Jenni semakin histeris, ketika melihat Arvan mulai mengeker Pistolnya ke arah Robert.
Jenni melangkah, berdiri tepat dihadapan Arvan, dan menggeser posisi pistol Arvan agar mengarah kepadanya.
"Jenni, menyingkirlah! Aku tidak ingin kamu mati dengan konyol hanya karena melindungi pria itu," tegas Arvan, sembari berusaha mendorong tubuh Jenni agar segera menyingkir dari pandanganya.
"Enggak! Urusan ini hanyalah tentang akü, kamu dan kehidupan Lola, tidak ada hubunganya dengan Robert.” Jenni terus bersikeras untuk menghindar dari pergerakan Arvan.
"Robert, lebih baik kamu pergi sekarang!
Biarkan ini menjadi urusan aku dengan Arvan.” Ucapnya lagi - lagi, meminta dan memohon Robert untuk pergi. Karena dirinya tidak yakin, jika dia bisa menahan semua kemarahaan Arvan dalam waktu yang sekejap.
"Tidak Jenni, meskipun aku harus mati di sini, aku akan tetap berjuang untuk membebaskan kamu,” Robert terus saja menolak untuk pergi dari posisinya.
"Arvan, please, aku mohon, jangan bunuh Robert, tolong, hissk„ hissk, jangan bunuh siapa siapa hanya karena aku van, tolong,” Jenni bersujud di kaki suaminya, untuk mendapatkan pengampunan atas apa yang Robert ucapkan tadi.
Dan setelah itu, Jenni kembali menatap Robert dengan tatapan memohon, "please Robert, cukup Lola yang menjadi korban, jangan kamu, dan jangan orang lain lagi, aku mohon, please." Jenni sudah benar - benar kehabisan kata untuk bebicara dengan Robert.
"Baiklah Jen, aku akan pergi untuk sekarang, tetapi setelah ini, aku pasti akan memperjuangkan hak untuk kamu," ucapnya yang terdengar seperti janji.
"Dan untuk kamu Master Lord Arvan yang terhormat, untuk saat ini, saya Robert tidak akan pernah lagi mau menjadi asistenmu, sekarang atau nanti itu sumpahku," Robert mengatakan semua itu dengan bersungguh - sungguh. Dan setelah dirinya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jenni dan Arvan yang masih bersama dengan Jenazah Lola.
Jenni masih terduduk sambil memeluk kaki Arvan dengan erat, sedangkan Arvan hanya dim sembari menurunkan tanganya yang sedang memegang pistol.
"Persiapkan pemakaman Lola sekarang!"
Perintah Arvan pada seluruh pelayan serta pengawalnya.
"Baik Lord," jawab mereka semua dengan serentak.
Jenni yang mendengar kalimat itu, langsung melepaskan pelukannya di kaki Arvan, sembari mengalihkan pandanganya ke arah Lola yang hanya diam dan tidak beraksi apapun.
Lola sudah benar - benar pergi, tidak akan pernah ada lagi sahabat yang akan menemani dirinya sehari - hari, tidak akan ada lagi pelayan yang akan setia bersamanya, tidak akan ada lagi adik yang akan setia mendengar semua keluh kesahnya. Semuanya telah hilang, pergi bersama dengan bayangan Lola.
"Jika saja, hari itu aku tidak membawanya kabur dari Mansion, mungkin saat ini aku masih bisa duduk sambil bercanda dan tertawa bersama denganya, seandainya saja hari itu aku tidak sibuk mencari barang sendiri, pasti dia tidak akan mengorbankan dirinya untuk aku, seandainya saja, hari itu aku membawanya ke Negara ini, maka aku todak akan pernah kehilangan dia, Arvan, help me please," mohonya pada sosok yang dianggap Lord dari semua orang.
"Please help me Arvan, please, hidupkan sahabatku kembali, aku janji tidak akan pernah melawan lagi denganmu, aku janji Arvan, aku janji,” tangisnya, berharap jika Suaminya iłu bisa memberikan sebuah keajaiban untuk kehiduapan baru sahabatnya.
Namun saat ini Arvan hanya bisa diam tanpa bisa memberikan jawaban apapun, karena dirinya bukanlah seorang Tuhan.
"Seandainya aku adalah Tuhan, maka bukan sahabatmu yang aku hidupkan lebih dulu Jen, tetapi kekasihku, cintaku, Miraku,” ungkap Arvan, lalu memilih untuk pergi meninggalkan Jenni begitu saja. Tanpa ada niat sedikitpun untuk menenangkan kondisi istrinya yang pastinya saat ini sedang merasa sangat kehilangan.
Jenni tidak menyangka, jika Arvan akan kembali memikirkan Mira pada saat seperti ini. Di saat dirinya yang merupakan istri sah dari pria iłu sedang berduka, sedang dirundung oleh rasa kehilangan. Suaminya iłu terus saja memikirkan mantan kekasihnya yang sudah lama pergi.
"Apa gunanya semua ini? Apakah pernikahaan ini masih bisa dilanjutkan? Apakah pernikahaan ini masih bisa dipertahankan?” Jenni tersenyum kecut, di saat mempertanyaakan
semua pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Karena tentu saja jawabanya pasti TIDAK.
Karena untuk apa lagi dipertahankan? Jika tidak ada Cinta dan kasih sayang di dalamnya? Jika suami yang kamu nikahi hanya mencintai wanita Iain? Jika pria yang kamu puja hanya milik orang Iain?
Perjanjian pernikahaan ini dibuat hanyalah karena ada nyawa Lola yang dipertaruhkan diatasnya. Tetapi sekarang? Lola sudah tidak ada, jadi tidak akan pernah lagi ada perjanjian di antara mereka. Semuanya telah selesai, dan akan dikubur bersamaan dengan jasad Lola.
To Be Continue.
Hallo Semuanya, jangan lupa ya, Like, Komen, Vote dan Hadiahnya ya, agar Mimin bisa lebih semangat lagi untuk updatenya.
Oh ya, jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang Iainnya ya.
Terima Kasih.