
๐น **Happy Reading **๐น
"Bagaimana jika aku menginginkan cintamu? Apa kamu juga akan memberikanya?" tanya Jenni dengan nada yang meledek.
Lagi-lagi Arvan tertawa kecil mendengar permintaan dari istrinya. "Apakah kamu benar-benar mengingikanya?" tanya Arvan balik dengan nada mesumnya.
Jenni memutar bola matanya malas sebagai jawaban, "tidak juga, aku orangnya netral aja sekarang, kamu mau balas aku syukur, gak di balas juga gak maksa." Jawabnya dengan seramah mungkin.
"Jenni, aku hanyalah manusia biasa, sekarang aku memang hanya bisa mencintai Mira, tapi kita tidak pernah tau kedepanya nanti seperti apa, ya aku memang egois ketika memintamu bertahan sedangkan di hatiku masih ada Mira,-" belum selesai Arvan mengeluarkan kalimatnya, Jenni sudah lebih dulu membuang pandanganya ke arah lain.
"Apakah kita bisa memulai hubungan ini dengan sebuah pertemanan? Bisakah kita menjadi sahabat yang bisa mendukung satu sama lain, bisakah-"
"Apa pun yang kamu mau, mengapa kamu harus bertanya dulu kepadaku, bukakah kamu selalu bertindak tanpa persetujuan dari siapapun," Jawab Jenni, lalu melepaskan gengaman tangan Arvan, dia ingin melangkah pergi dari hadapan suaminya saat ini.
Namun Arvan lebih dulu menangkapnya, dan mendekapnya dari belakang. "Jenni, aku tau bagaimana perasaan mu, tapi aku juga tidak bisa menjanjikan sebuah cinta jika aku sendiri tidak bisa memastikan apa aku bisa memberikanya kepadamu, Jenni mengertilah jika Mira adalah sosok yang pertama di hidupku, ku mohon bersabarlah, ini baru awal dari pernikahaan kita, bahkan sangat awal, tolong jangan bicarkan hal ini dulu, biarkan semuanya berjalan apa adanya terlebih dahulu, bisakah seperti itu.?" tanya Arvan yang meyenderkan kepalanya di bahu belakang milik Jenni.
Sedangkan Jenni memilih diam, karna jujur dia tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya, dia sadar jika ini barulah awal dari sebuah rasa, dia masih bisa menepisnya walaupun sedikir sakit tapi itu harus.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mencintaimu sebelum kamu yang mencintaiku terlebih dahulu." jawabnya tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya yang berada di belakang tubuhnya.
Arvan membalikkan tubuh Jenni agar kembali menatapnya. "Suatu saat nanti, aku berharap kamu tidak akan pernah pergi sebelum aku yang meminta mu pergi terlebih dahulu, apakah kamu paham?" tanyanya dengan menangkupkan wajah istrinya.
Jenni menanggukan kepalanya singkat sebagai jawabanya. Arvan yang melihat itu langsung membawa Jenni ke dalam pelukanya lagi.
"Jadilah sahabat yang bisa menemani ku di dalam keadaan apapun, maafkan aku sedikit egois jika menahan mu, tapi aku hanya inginmenikah sekali walaupun itu tanpa cinta, percayalah Jenni aku tidak akan melukaimu ataupun menyakiti perasaanmu, percayalah." lirihnya pelan, membuat Jenni tertawa dalam diamnya.
"Kamu berjanji jika tidak akan menyakitiku, tapi sekarang kamu melakukanya, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu, berjanji tapi mengingkari, entah bagaimana lagi sebutan yang pantas untuk seseorang yang seperti kamu." balasnya dalam hati, namun tidak dia ungkapkan, karna jika dia sampai mengatakanya pasti akan jadi panjang dan tanpa asa ujungnya.
Kali ini Jenni memilih untuk mengalah, toh dari awal pernikahaan ini memanglah sebuah perjanjian di atas nyawa seseorang yang membutuhkan sebuah pertolongan.
Pernikahaan ini adalah sebuah taruhan yang menggunakan nyawa sahabatnya, jika dia mundur maka Lola juga tidak akan terselamatkan. Namun jika dia maju, maka akan bisa di pastikan jika begitu banyak luka yang akan dia dapat nantinya, dan ini sudah tidak ada tawaran lagi.
Pilihannya hanya dua, mundur atau bertahan. Dan pasti Jenni akan lebih memilih bertahan di bandingkan dia harus kehilangan sahabat terbaik karna kesalahanya, yang akan membuatnya merakan penyesalaan seumur hidup.
Dia tidak ingin apa yang dia lakukan saat ini menjadi sia-sia, dia sudah mengorbakan hidup dan masa depanya, demi nyawa sahabatnya yang di harapkan agar tertolong itu.
"Lord, apakah Lola sudah menjalani operasinya?" tanyanya dengan takut.
Dia takut jika Arvan merasa tersingung karna pertanyaanya ini.
"Apa kamu mengira aku bohong jika akan menolong sahabatmu itu," cerca Arvan memberikan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan dari Jenni.
"Nahkan aku bilang juga apa? Pasti tersingung," gumam Jenni dalam hati sambil tersenyum canggung.
"Bukan begitu maksud ku ya ampun, aku itu hanya bertanya apakah Lola sudah di Operasi apa belum? Aku ingin melihat keadaanya Lord," seru Jenni dengan kesal, muak dengan Arvan yang merupakan manusia baperan.
"Bisakah kamu merubah panggilan mu itu? Rasanya sangat tidak nyaman jika istri sendiri memanggilku dengan sebutan Lord, kamu itu istriku, bukan bawahanku." Tegasnya lagi menekan kata-kata jika Jenni adalah istrinya.
Sumpah demi neptunus Rasanya Jenni ingin melempar suaminya itu ke padang pasir firaun, karna tidak pernah tepat dengan pendirianya.
"Sebentar-sebentar dia ngaku sahabat, sebentar teman, sebentar lagi suami, besok dia ngaku jadi Ayahku gak ya?" batin Jenni yang memilih memejamkan matanya capek mengahadapi sikap Arvan yang labil.
Jika selama ini dia di katai labil dan lemot, rasanya predikat itu kali ini ingin di berikan pada Arvan sebagai kandidat keduanya.
"Jenni, apakah kamu mendengarkan ku?" tanyanya sekali lagi, karna melihat Jenni yang menutup matanya tanpa menjawab pertanyaanya.
"Hemm, apa?" Balas Jenni tanpa membuka matanya.
"Aku akan merubahnya jika kamu mengizinkan aku untuk melihat Lola,"balasnya sebagai jawab yang ingin di dengar oleh Suaminya.
Arvan mengenduskan nafasnya kasar, lalu melirik ke arah jam tanganya, yang memperlihatkan jika dia sudah terlambat satu jam untuk pergi ke kantor.
"Robbeertttttt," teriaknya memanggil asisten yang selalu setia mendampinginya.
Dan tak lama kemudan munculah sosok pria tampan yang tak kalah tampan dari tuanya.
"Saya disini Lord," sahut Robert dengan hormat.
"Pindahkan pasien Lola agar di rawat di Mansion ini, dan ingat pastikan Suster-suster dan Dokter yang merawatnya adalah yang terbaik dan bersertifikat kelas atas, apa kamu mengerti?" titahnya pada Robert yang dia yakini pasti akan melakukan hal yang lelih baik dari yang dia perintahkan.
Robert menganggukan kepalanya singkat, "baik Lord, akan saya kerjakan sesuai dengan perintah anda," Jawab Robert dengan menundukan tubuhnya singkat dengan hormat.
Lalu dia melangkah pergi, tanpa harus mengatakan apa jadwal dari Lordnya itu, karna Robert yakin jika Lordnya itu pasti sangat tau apa saja jadwalnya setiap hari.
Setelah kepergian Robert, Arvan kembali menatap ke arah istrinya yang masih berada di dekapanya.
"Apakah kamu sudah puas saat ini?" tanya Arvan kembali pada Jenni yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Terima kasih,, terima kasih, kak," ucapnya dengan merubah panggilanya terhadap Arvan.
Arvan menampilkan wajah tidak enak ketika mendengar panggilan itu. "Ada apa ? Apa kamu tidak suka dengan aku yang memanggilmu dengan sebutan kakak?"
"Jelaslah, karna aku bukan kakakmu, aku suamimu," tolaknya tidak ingin di panggil kakak oleh istrinya sendiri.
Jenni terlihat berfikir sejenak mencari panggilan apa yang cocok dengan suami bapernya ini.
"Baiklah aku akan memanggil mu Honey, bagaimana apakah kamu suka?" tanya Jenni dengan senyum yang manis. Karna Arvan sudah memberikan hadiah terbaik dengan membawa Lola untuk di rawat di Mansion yang berarti dia bisa melihat perkembangan Lola dengan sendirinya.
Cuuup Arvan langsung memberikan kecupan singkat di kening istrinya, sebagai jawaban jika dia setuju dengan panggilan itu.
"Baiklah Sweetheart, aku sudah terlambat sedari tadi. Aku berangkat dulu ya." Pamitnya dengan lembut yang di jawab anggukan kepala oleh Jenni.
"Hati-hati ya," Balasnya dengan senyum yang mengembang.
"Oh iya, teacher untuk mengajarkanmu merangkai bunga nanti akan datang ya, kamu jangan capek-capek, ok sweetheart," Imbuhnya lagi, sebelum melangkahkan kakinya pergi.
"Siap bos," jawab Jenni dengan sedikit tertawa menggoda suaminya.
Arvan tersenyum singkat melihat istrinya yang tidak menampilkan wajah sesedih tadi, dia berharap sedikit demi sedikit ikatan persahabatan mereka bisa memperbaiki hati yang tersakiti walaupun itu mustahil.
**Visual babang Robert nih Mimin baru sempat kasih keluar **๐๐
๏ฟผ
**To be continue. **
Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya๐๐
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
Follow IG Author @Andrieta_Rendra