
🌹 Happy Reading 🌹
"Sayang kok gitu?" sahut Albert yang merasa jika istrinya ini mulai berlebihan.
Briell menatap tajam ke arah Albert, "kok gitu, kok gitu, cukup ya aku gak mau nanti Caby kita malah ikut terjerumus ke dalam dosa kaya kamu juga," seru Briell dengan tegas.
Albert baru teringat jika dirinya juga adalah seorang Psychopat berbahaya, membutnya menyengir di depan istrinya.
"Apa senyum-senyum," sindir Briell yang kesal dengan tingkah Albert.
"Aku lupa kalo aku juga Psychopat sayang heheh,"ucapnya yang langsung membuat Briell menepuk keningnya pusing.
"Bersihkan dulu tangan kamu sana! Darahnya kemana-mana, ih kotor nah," tandasnya meminta Albert untuk membersihkan tanganya dari darah-darah yang menjijikan.
Albert mnenarik tanganya dari pelukan istrinya dan segera bangkit untuk membersihkanya. "Maaf sayang aku lupa tadi,"Imbuhnya yang melihat istrinya juga bangkit untuk mengganti pakaianya yang sudah kotor karna darah dari Albert.
"Kamu apa sih yang ingat, huhh," Desahnya kesal, melihat Albert yang hanya senyam-senyum tidak jelas.
Dan tak lama kemudian setelah Albert selesai membersihkan tubuhnya sekaligus, dia langsung mendekap tubuh istrinya dari belakang, dan menghirup aroma tubuh istrinya yang sedang berdiri di depan lemari.
"Sayang ehhmm," bisiknya pelan di telinga istrinya.
"Hemm, apa ? Kamu mau apa hemm," Tanyanya Briell dengan lembut, lalu membalikan tubuhnya, sehingga wajah mereka berhadapan.
Albert terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya.
"Ada apa ?Ngomong aja!" Sambung Briell lagi melihat suaminya yang tak kunjung Membuka suara.
"Ehmm,, Apakah jika aku merindukanmu, kita boleh melakukanya sayang?" tanya Albert dengan ragu.
Briell tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia bahagia jika suaminya mulai sedikit memahami untuk bertanya dulu sebelum melakukan hal-hal yang mungkin saja dapat membahayakan si Caby.
Dengan jahil, Briell memeluk tubuh suaminya dan mengusap lembut punggung belakang Albert, lalu dia mendekatkan mulutnya untuk berbisik di telinga Suaminya. "Kamu boleh melakukanya, asal pelan dan jangan menyakiti Caby," imbuhnya dengan suara yang sedikit berbeda, membuat Albert semakin on fire saat ini.
Merasa mendapatkan lampu hijau dari istrinya,Tanpa menunggu waktu yang lama bahkan tidak memikirkan masalah yang ada, Albert menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur.
Dia meletakan tubuh istrinya dengan perlahan, dan mulai menjelajahinya dengan sebuah kecupan-kecupan hingan lahapan di tubuh Briell, Albert seperti menggila untuk memberikan sebuah tanda-tanda di setiap centi kulit Briell tanpa berfirkir, jika nanti itu akan di liat oleh orang lain.
Briell yang juga sudah terikut masuk dalam suasana panas itu pun membalasa ciuman itu juga tak kalah panas, bahkan nafsu mereka yang menggebu seperti ini, membuat mereka lupa akan kehadiran Caby.
"Maaf sayang, aku belum terbiasa,,cuupp,,cupp, maaf ya sayang,,, cuuupp, maafkan Papah ya Caby," ucapnya meminta maaf pada Briell dan memberikan kecupan di perut istrinya sebagai perminta maafan untuk Caby.
Briell menanggukan kepalanya paham, dia juga harus tau jika ini adalah pertama kali bagi mereka melakukanya dengan hati-hati demi menjaga si Caby tetap aman.
Dan permainan pagi itu di mulai dan di habiskan dengan suasana panas yang sangat-sangat indah bagi ke dua pasangan baru itu.
Mereka melakukanya hingga lupa waktu makan siang, karna setelah Morena despacito mereka bedua memilih tidur untuk beristirahat.
Sedangkan di sisi lain, Alson terlihat baru saja menyelsaiakan pekerjaanya di ruang tamu.
Dan tiba-tiba saja Arvan datang mengahampirinya. "Apakah kamu sibuk Boy?" tanya Arvan dengan lembut pada Anak pertamanya.
Alson menoleh ke arah Papahnya, lalu dia tersenyum dengan sangat ramah seperti biasanya. "Tidak Pah, hanya saja Alson memulihlan kembali data-data Alson yang dulu sempat di matikan dan di hapus karna kematian palsu itu." balasnya dengan lembut.
Arvan terdiam menatap ke arah Alson dengan sangat teliti, lalu dia mengenduskan nafasnya dengan kasar. "Maafkan Papah ya Nak, Papah juga meminta maaf pada mu dengan nama Aiden, maafkan karna dia sudah mengurungmu selama ini." lirihnya pelan menatap putranya itu dengan senduh.
Alson yang menatap tatapan seperti itu, mengerti jika Papahnya itu pasti merasa bersalah dengan apa yang terjadi kemarin. "Pah, Alson gak papa, Alson udah maafin semuanya kok, jangan sedih lagi ya." imbuhnya yang memberita tahu Arvan bahwa dia bukanlah tipe seorang pria yang pendendam.
"Apakah kamu tidak menaruh dendam dan keinginan untuk memabalasnya Boy?" tanya Arvan yang tidak percaya jika anaknya ini mempunyai hati sebesar itu untuk memaafkan sebuah kesalahan yang cukup terbilang fatal.
Alson semakin paham, jika Papahnya ini mau dirinya untuk bertindak tegas di dalam hidup, "Alson capek jika harus bermusuhan Pah, Alson mau hidup seperti ini saja, tanpa ganguan dari apa pun," Jawabnya lagi dengan santai.
Arvan memandang Alson yang seperti dirinya, namun benar/benar memiliki sikap seperti Jenni.
Pembawaan yang tenang, hati yang bersih serta suara yang sangat enak di dengar, menambah point plus untuk manusia yang bersifat sperti ini.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra