
🌹 Happy Reading 🌹
Pagi ini terlihat keluarga Mario tengah bersiap-siap untuk berkunjung ke Spanyol, tempat negara Morgan serta Mario berasal.
Mereka ingin bertemu dengan Jesper paman Morgan yang merupak kunci dari seluruh teka teki ini.
Pagi ini Mario sudah lebih dulu memulangkan Brina kembali ke Prancis dengan menggunakan pesawat Jet mililk Mario. Karna rencananya ketika pulang nanti mereka akan langsung balik ke Prancis, dan membiarkan Morgan dan Briell memilih negara mana yang mereka sukai.
"Briell cepat kamu pergi mandi sana!" Perintah Eden yang sudah kesal melihat putrinya masih dengan santainya tidur-tiduran di pangkuan suamninya.
"Bentar lagi Mom," sahutnya sambil terus bermain game di ponselnya.
Morgan yang melihat istrinya tak kunjung bangkit untuk mandi itu hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat, "sayang ambilkan air minum itu dong," pintanya pada Briell yang tanganya lebih dekat dari gelas itu.
Dengan cepat Briell memgambilkan suaminya minum, dan karna tak mau merepotkan lagi, Morgan memilih memegang gelas itu saja, sambil bermain ponselnya juga.
Dan tiba-tiba Eden masuk kembali, kali ini dengan wajah yang lebih kesal, "Briell cepat bangun kamu tunggu apa?" Bentak Eden yang cukup kesabaran melihat putrinya itu yang malah mengulur-ngulur waktu.
"Sebentar lagi Mom," sahutnya untuk kesekian kalinya, yang membuat Eden benar-benar naik darah pagi ini.
Dan akhirnya pandangan Eden jatuh pada tangan Morgan yang memegang gelas yang berisikan air, seketika Eden memiliki Idde yang sangat jahil.
"Morgan jam berapa sekarang?" Tanyanya tegas pada Morgan yang sontak langsung membalikan tanganya untuk melirik jam yang melingkar rapi itu, tanpa mengingat bahwa dirinya tengah memegang sebuah gelas yang akhirnya tertumpah tepat di wajah Briell.
"Aaaahhh Morgan kok kamu siram aku sih," kesalnya yang langsung bangkit dari tidurnya.
Namun Eden malah tertawa melihatnya, "sudah basah pergi mandi sekarang! Kalo kamu gak mau mandi, kita semua gak jadi pergi. Ingat itu," ancam Eden yang sontak membuat Eden bangkit dan berlari masuk ke kamarnya, sedangkan Morgan kini memilih untuk mengganti pakaianya yang basah akibat air yang tumpah tadi.
++++++++++++
Sedangkan sisi lain di sebuah rumah mewah di Barcellona, terlihat seorang pria paruh baya yang tengah gagahnya duduk di sebuah ruang tamu, menunggu pemilik rumah mewah itu datang.
Ya, dia adalah Arvan Varizal Manopo yang tengah berada di kediaman Emilio, namun sejak tadi dia datang, pandanganya tak lepas dari foto seorang pria beserta keluarganya yang tengah berdiri dengan gagahnya, wajah itu sangat mirip denganya, namun kenapa dia tidak pernah melihatnya di mana pun, "apakah anak itu adalah anak aku juga? Apakah anak ku kembar? Lalu di mana dia?" Gumam Arvan dalam hati yang terus menerus memperhatikan ke sekeliling rumah.
Hingga akhirnya si pemilik rumah datang menghampirinya dengan rasa hormat yang penuh. "Selamat datang ke kediaman keluarga Emilo Lord Arvan," sapa Jesper yang merupakan anggota keluarga tertua saat ini, dengan membungkukkan tubuhnya Hormat.
Arvan memjawabnya dengan anggukan kepalanya singkat, namun matanya tak lepas dari bebrapa foto yang menunjukan seorang pria yaitu Alson.
Jesper yang merasakan ketegangan saat ini, memilih untuk mengalihkan pandanganya mengikuti arah tatapan dari Arvan. "Dia adalah putra pertama ku Tuan, Alson yang meninggal karna sebuah kecelakaan yang di sebabkan lawan bisnis." Seru Jesper yang mengerti jika Arvan sedari tadi ingin mengetahui siapa orang yang di foto itu.
Degggggg jantung Arvan terasa seperti di tusuk 1000 pisau mendengarnya, "meninggal apa maksud Anda Tuan Jesper? Dan oh ya? Apakah dia adalah anak dari Jennifer Emilio?" Tanyanya langsung to the point, dia tidak ingin berlama-lama dengan rasa penasraan yang ada.
Jesper yang mendengar seorang petinggi dunia seperti Arvan menyebutkan nama adiknya, benar-benar merasa terkejut.
Pasalnya dari mana Arvan bisa mengetahui adiknya yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu, ini sungguh sangat membingungkan.
"Maaf Lord, tapi bagaimana Anda bisa mengetahui tentang adik saya,?" tanyanya dengan raut wajah yang mulai berubah.
Arvan menaikan alisnya satu melihat Jesper yang seperti tidak menyukai ketika dia mempertanyakan tentang Jennifer. "Memangnya kenapa ? Kamu hanya perlu menjawab ku saja! Jangan bertele-tele. Di mana Jenniffer?" tanyanya dengan Tegas.
Karna dia paling tidak suka jika pertanyaanya di jawab dengan pertanyaan pula.
Tess,,tess air mata Arvan jatuh tanpa seizinya, sakit itu yang dia rasakan sekarang.
Wanita yang dulu dia sia-siakan, wanita yang dulunya hanya dia sakiti batin tanpa mau melihat ke dalam hatinya, wanita yang dulu dengan sabar selalu menanti kehadiran cinta di hatinya, kini telah pergi menyusul cinta pertamanya.
Jesper menjadi bingung seketika, melihat Arvan yang menangis seperti itu. Ini adalah hal yang luar biasa melihat seorang Lord Arvan menangis di hadapanya. "Lord, are you okay?" Tanyanya dengan ragu.
Dan sontak membuat Arvan menaikan pandanganya. "Lalu kemana bayi kembarnya? Apakah dia yang meninggal itu adalah salah satu bayinya? Iya?" Tanya Arvan dengan tegas ingin mengetahui di mana keberadaan anaknya.
Namun di detik selanjutnya lutut Arvan melemas seketika melihat Jesper yang menganggukan kepalanya untuk membenarkan bahwa yang meninggal itu adalah putranya. "Aaaaarrrggghhhhhhh kamu brengsek Arvan, Brengsekk,,hisssk,,hisskk," teriaknya mengacak rambutnya sendiri dengan tangisan yang tidak dapat di bendungkan lagi.
"Lord,, anda kenapa Lord? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" Jesper benar-benar bingung bagaimana harus bersikap saat ini.
Dia bingunh mengapa seorang Arvan memangis hanya karna Adik dan Keponakanya yang meninggal.
"Katakan di mana bayiku yang lainya! Katakan," teriaknya mencengkram keras kerah baju Jesper.
Deeeegggg bayii, "Lord Arvan jangan bilang Anda-" ucapnya terputus melihat sebuah anggukan kecil dari Arvan yang mengiyakan pertanyaanya, yang sepertinya Arvan sudah tau apa yang akan di pertanyakanya.
Bugggghhhhh,,buggghhh,,,buggghhh tanpa rasa takut Jesper menghajar Arvan dengan sangat brutal.
Bugggghhhhh "ini untuk kesakitan adik ku selama masa pernikahaanya bersama mu."
Bugggghhh "ini untuk nasib dua bayi yang keluar tanpa ada ayahnya yang mendampinginya."
Buggghhh "ini untuk pembalasan apa yang telah kamu lakukan pada adik ku,"
"Aaaaarrrrgggghhh bajingan kamu," teriaknya penuh emosi, dia sedari dulu ingin sekali melenyapkan sosok pria yang tidak bertanggung jawab menikahi adiknya seperti ini.
Dengan cepat Jesper langsung mengeluarkan pistol miliknya untuk mengirim Arvan ke Neraka saat ini juga. "Anda layak mati Lord, anda harus menebus semua dosa yang anda lakukan kepada adik dan dua keponakan saya," teriaknya langsung menaikan platuk pistol itu.
Arvan hanya tertawa di dalam tangisnya, sambil menyeka darah yang berada di bibirnya yang pecah akibat pukulan dari Jesper. "Bunuhlah, dan itu akan membuat keponakanmu yang satunya lagi saat ini benar-benar tidak memiliki orang tua," tantangnya yang juga terlihat frustasi.
Dia marah pada dirinya sendiri yang begitu terlambat hingga dia sudah kehilangan dua nyawa sekaligus, nyawa istri dan putra pertamanya.
"Keponakan." Lirih Jesper bingung.
"Iya bayi kembar ku yang di culik saat kamu lalai menjaganya dulu." Ucap Arvan yang mengingatkan kisah yang dia dapatkan dari hasil pencarian Robert semalam.
"Morgan Emilio, dia adalah putraku dan Jenniffer, sekaligus adik dari Alson yang memilih bersama ibunya di bandingkan bertemu denganku." Lirihnya pelan, sambil menundukan kepalanya merasakan penyesalaan yang sangat-sangat besar saat ini.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra