
Happy Reading BESTie 😘
"Silakan, di makan dulu Buburnya Queen, karena setelah ini akan ada dokter yang datang kemari untuk memeriksa keadaan Anda," ucap Lia, dengan mulai menyiapkan meja kecil khusus untuk membantu Jenni makan, serta menyiapkan sendok dan garpu untuk Jenni.
"Kenapa harus ada dokter ke sini? Aku merasa aku tidak sedang sakit," ucap Jenni, yang merasa bingung dengan keberadaan dokter yang akan datang.
Lia tersenyum, sambil terus menyiapkan makanan milik Jenni, "Apakah soupnya cukup
Queen?" Tanya Lia, tanpa menjawab pertanyaan Jenni terlebih dahulu.
Jenni mengaggukkan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan dari Lia, "Jangan, aku tidak menyukai kacang," seru Jenni, ketika dia melihat Lia yang ingin menumpahkan kacang goreng ke dalam buburnya sebagai topping.
"Baik Queen, bagaimana dengan sweet souce? Apakah Anda menginginkannya?" Tanya Lia, sebelum dia menumpahkannya.
Jenni menganggukkan kepalanya pelan, "Hanya sedikit saja," lirihnya dengan pelan.
Dan barulah Lia menuangkannya, "Ini dia Queen, sarapan pagi Anda sudah siap, silahkan dinikmati Queen," imbuh Lia, dengan mempersilahkan Jenni menikmati makanannya. "Terima Kasih," balas Jenni dengan lembut.
"Sama — sama Queen."
"Oh iya, apakah saat ini Queen ada merasakan sakit, atau sekedar pusing di kepala? Tanya Lia, yang ingin memastikan bahwa keadaan Jenni sedang baik — baik saja.
Jenni mengambil sendok dan baru saja ingin memakan, "Saya masih sangat mual bi, kepala saya juga rasanya sakit sekali, apakah ibu hamil selalu seperti itu bi? Tanya Jenni, sembari memberitahu, bagian mana saja dari tubuhnya yang terasa tidak enak dan sakit.
"Sebagian besar ibu hamil pasti merasakan hal yang sama Queen, dan mungkin saja Anda bisa memberitahu kepada saya jika ada suatu hal yang membuat Anda pusing atau mual ketika menghirup aroma itu." Jelas Lia lagi, namun kali ini hal itu membuat Jenni menyeritkan keningnya bingung.
"Maksudnya Bi?" Jenni sama sekali tidak paham apa yang dikatakan Lia kepadanya.
"Setiap ibu hamil itu berbeda — beda Queen, terkadang ada yang merasa mual ketika menghirup aroma bawang, aroma rempah, bau wewangiangan seperti parfum, pewangi ruangan atau bahkan bau softener pakaian, dan yang paling parah tidak bisa melihat wajah suaminya apa lagi aroma tubuh suaminya Queen," Jenni menganggukan kepalanya paham, sembari terus menyeruput buburnya yang memang sengaja dibuat cair oleh Lia, agar semakin enak masuknya ke dalam mulut Jenni yang masih terasa pahit.
"Aku belum tahu si bi, aku mual karena apa, tapi nanti pasti akan aku beritahu bi," ucap Jenni dengan ramah, sepertinya dia sudah terbiasa dengan keberadaan Lia di sekelilingnya.
"Apakah Queen juga belum ada keinginan sesuatu? Misalnya ingin memakan apa? Atau ingin melakukan apa?"
Jenni kembali menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban, karena baginya keinginan yang dia mau, tidak akan pernah ada artinya sama sekali, "Bi, tolong ambilkan barang — barang saya yang khusus untuk merangkai bunga ya, lalu letakan di dekat kolam air terjun sana, saya ingin merangkai bunga di sana bi," pintanya pada Lia. "baik, Queen, akan segera saya siapkan," sahut Lia.
"Terima Kasih Bi," balas Jenni lagi, dan tanpa terasa bubur yang dia makan saat ini juga sudah habis tidak tersisa.
"Waahh, sepertinya masakan perdana saya sangat enak ya Queen, sampai — sampai habis seperti itu," ucap Lia, menggoda Jenni yang sedari tadi hanya mampu tersenyum tipis saja.
Sambil merapikan sisa — sisa dan bekas makan Jenni, Lia tersenyum, dengan penuh harapan menatap wajah dari wanita yang saat ini juga sedang memandangnya.
"Semoga, setelah ini, senyum tipis itu akan berubah kembali menjadi senyum kegembiraan," doa Lia dengan tulus di dalam hati.
Tidak lama setelah Jenni menikmati sarapan paginya, dia kembali merasa mual, dan bahkan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. "huekkk„ hueekk„ Hueek," suara muntahan Jenni yang terdengar sampai di telinga Lia yang sedang membersihkan ruang tamu.
"ltukan, suara -," gumam Lia, dengan terus mendengar secara saksama suara siapa yang sedang dia dengar saat ini.
"Ha, Astaga, itukan suara Queen Jenni," seru Lia, dan langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan segera berlari untuk mendatangi Jenni.
"Huekkk„ Hueekk„ Huuekk," suara muntahan Jenni kembali terdengar dan itu semakin mempercepat langkah Lia untuk berlari masuk ke dalam kamar Queen — nya.
Sudah tidak ada tenaga lagi yang bisa membantunya bangkit dan kembali berjalan ke arah tempat tidur.
"Astaga Queen," Jerit Lia yang melihat Jenni terbaring di dalam kamar mandi.
"Ahh, Bi Lia, tolong saya bi, tolong saya, hiskk„ hiskk," isak Jenni yang merasakan sakit serta mual yang sangat menggrogotinya.
"l — iya Queen, saya di sini Queen, tenang ya Queen„ tenang saya di sini," ucap Lia, berharap dengan kehadirannya Jenni sedikit merasa legah. Dan dengan langkah cepat, Lia langsung menopang tubuh Jenni dan membawanya berbaring di atas tempat tidur.
"Sebentar ya Queen, saya ambilkan air hangat untuk Anda," pamit Lia, setelah memastikan Jenni sudah berbaring dengan nyaman.
Jenni menganggukan kepalanya sejenak, dan membiarkan Lia untuk pergi sejenak.
Setelah melihat langkah Lia yang hilang di balik pintu, kini Jenni mulai kembali mengatur nafas serta perasannya. Dia sangat tidak kuat jika harus merasakan mual dan pusing seperti ini setiap saat.
Tidak lama kemudian Lia kembali muncul dengan membawa segelas air hangat dan juga minyak angin yang dia harap bisa mengurangi rasa mual di perut Jenni.
"Ini Queen, bangun dulu ya, minum air hangat ini," ucap Lia, lalu membantu Jenni untuk duduk sejenak agar bisa lebih leluasa meminum air itu.
"ltu apa bi?" Tanya Jenni, yang tidak sengaja melihat Lia membawa sebuah botol yang menurutnya sangat tidak asing.
"Ah ini adalah minyak angin Queen, dan semoga ini bisa meredakan sedikit rasa mual Anda," jawab Lia, sambil meletakan gelas air hangat tadi, di atas nakas meja yang ada di sebelah Jenni.
Dengan menganggukan kepalanya pelan, Jenni mengiyakan tindakan Lia yang ingin meletakan minyak angin tersebut di atas perutnya.
"Permisi ya Queen, saya izin meletakkan ini di atas perut Anda," Lia meminta izin terlebih dahulu kepada Jenni, agar dia tidak dianggap lancang di saat situasi seperti ini.
Kembali Jenni menganggukan kepalanya dengan lemah, sudah tidak ada tenaga atau bahkan hasrat saat ini untuk dirinya mengeluarkan suara.
Dan karena sudah mendapatkan izin dari Jenni, kini dengan perlahan Lia membuka tutup minyak angin tersebut dan menuangkan sedikit demi sedikit di tangannya.
Dan baru saja Lia ingin meletakkannya di atas perut Jenni, tiba — tiba saja Jenni merasakan mual yang semakin hebat yang lebih dahsyat bergejolak ingin keluar dari perutnya.
"Hueekk„ Hueekkk„ Huekk," Jenni kembali memuntahkan semua isi perutnya yang sebenarnya sudah kosong sedari tadi.
Bahkan dirinya sudah tidak kuat lagi di saat dirinya terus memaksa memuntahkan cairan yang entah apa.
"Hhhaaa Queenn, kenapa Anda semakin parah seperti ini Queen," Lia benar — benar takut dengan situasi ini, namun dirinya juga tidak berani jika harus memanggil bantuan dari Mansion utama.
Dan di saat situasi memang semakin parah, dari luar terlihat Kevin dan dokter Bara yang baru saja datang. "Ada apa ini Lia?" Tanya Kevin yang langsung membentak pelayan Lia ketika melihat Queen Jenni yang muntah — muntah seperti itu.
To Be Continue.
Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.
Mimin mencintai kalian semua.
Terima Kasih Banyak.