
Happy Reading
Bestie π
"Jika saya mengungkapkan keinginan apa yang saya mau, belum tentu Anda akan menurutinya Lord," ucap Robert, dengan nafas yang sudah terengah β engah.
"Bagaimana bisa aku menurutinya, jika kamu saja tidak memberitahukan alasan yang tepat dari permasalahan ini!" Arvan menundukan tubuhnya, melihat jelas wajah Robert yang sudah tidak karuan bentuknya, karena Kevin dan anak buah yang Iainnya benar β benar tidak memberi ampun kepada pengkhianat ini.
Robert terbatuk, mengeluarkan darah yang bercampurkan daging dari perutnya.
Arvan hanya diam melihat itu semua, karena dia tahu, bagaimana jika sudah Kevin yang turun tangan, beruntung saja nyawa Robert masih selamat di tangan pria itu.
"Sudah tidak ada gunanya lagi saya mengatakan apa keinginan yang saya ungkapkan, yang jelas, jika saat ini memang nyawaku berada di tangan kalian, maka hanya satu permintaan yang akan saya ungkapkan." Ucap Robert dengan pelan.
Dan tiba β tiba saja terdengar suara Jenni yang memaksa ingin masuk ke dalam ruangan Arvan.
"Kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam ruangan suamiku sendiri?" bentaknya pada Kevin dan anak buah Iainnya.
"Itu karena, Master Lord tengah mengerjakan sesuatu yang penting di dalam sana Queen," balas Kevin, sambil terus menghalangi langkah Jenni yang terus saja berusaha untuk masuk.
Namun, bukan Jenni namanya, jika tidak bisa melangkah gesit dengan tubuhnya yang kecil.
Melihat ruangan Arvan yang belum tertutup dengan sempurna, itu membuat Jenni mempunyai kesempatan untuk masuk.
Apa lagi, tidak pernah ada yang mengetahui jika sebenarnya Jenni mempunyai sebuah Sixth sense atau yang biasa kita sebut dengan indra ke β enam.
Jenni melihat sebuah bayangan yang berada tidak jauh darinya, dan Jenni memerintahkan bayangan itu untuk menjatuhkan sebuah vas dan lampu yang berad tidak jauh dari sana.
Pranggg, suara pecahan itu terdengar, membuat Jenni tersenyum dengan bangga.
"Thank you," ucapnya tanpa suara, dia tersenyum dan berterima kasih kepada bayangan yang memang sedari dulu berada di dalam Mansion Arvan.
Kenapa Jenni tidak pernah membicarakan hal ini, karena jika dia menjelaskan pada siapapun, Pasti mereka akan merasa bahwa Jenni sedang tidak waras, ketika dirinya berhubungan dengan hal β hal mistik.
Sontak saja, Kevin dan beberapa orang yang menjaga di depan ruangan Arvan itu, kini menolehkan pandanganya, melihat siapa pelaku yang berani memecahkan barang di dalam Mansion.
"Here we go," batin Jenni, yang langsung Menundukkan tubuhnya dan kembali memaksa masuk ke dalam ruangan suaminya.
Dia benar β benar begitu penasaraan, kenapa sampai begitu banyak yang menjaga di luar ruangan suaminya? Dan kenapa sampai dirinya juga dilarang untuk masuk. Apakah Arvan sedang berselingkuh di dalam? Ataukah Arvan sedang menyewa wanita jalaanng untuk menemaninya di dalam? Pertanyaan itulaj yang berputar β putar di dalam pikiraan Jenni.
Sehingga dirinya harus berusaha masuk ke dalam ruangan suaminya. Dan ketika dirinya baru saja masuk, Jenni menatap ke sekitaran, dia mencium bau amis darah yang sangat β sangat membuatnya ingin muntah.
"Arvann," lirih Jenni, sembari menutup mulutnya, dia benar β benar terkejut, ketika pandanganya jatuh melihat Robert yang terkapar tidak berdaya, dengan banyaknya ceceran darah, yang membuat Jenni langsung paham, jika Arvan telah membunuh Robert.
Sontak saja, Arvan melihat ke arah suara yang begitu dia kenali, sehingga matanya membulat seketika melihat Jenni yang berada di dalam ruanganya, dan bahkan kini melangkah mendekatinya.
"Kevvvinn," teriak Arvan, memanggil manusia yang tadi berjanji akan berjaga di luar sana.
Jenni terjatuh, bersipuh melihat keadaan Robert yang sangat mengenaskan baginya.
"Robertttβ Robertβ apakah kamu baik β baik saja?" teriak Jenni ketakutan.
Jenni mulai menyentuh wajah Robert yang terlihat bengkak β bengkak, akibat bogeman mentah yang diberikan Kevin tadi.
"Jenni, kembali ke kamar sekarang!" tegas Arvan, mentap istrinya yang tengah menangisi pria lain itu dengan tajam.
Jenni menggelengkan kepalanya kuat, dia tidak mau menuruti Arvan sama sekali. Malah saat ini Jenni, tengah mengangkat kepala Robert di atas pangkuaanya.
"Arvan, apa yang kamu lakukan kepadanya? Kamu berjanji kepadaku jika kamu tidak akan pernah menyakitinya, lalu kenapa sekarang kamu -"
"Kapan pernah aku berjanji?" tanya Arvan dengan cepat. Karena dirinya tidak pernah merasa jika dirinya berjanji tentang hal ini.
Jenni menaikkan pandanganya melihat Arvan, lalu dia mencari posisi Kevin yang terlihat baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Dia," tunjuk Jenni pada Kevin.
Kevin menggelengkan kepalanya pelan, dia juga tidak pernah mengatakan janji itu pada Queennya.
Arvan menatap lekat ke arah Kevin, menunggu penjelasaan apa yang akan pria itu berikan kepadanya.
"Saya tidak pernah berjanji untuk tidak menyakiti Robert, saya hanya pernah bilang jika nasib Robert tergantung dari sikap Anda kepada Master Lord." Kevin berusaha meluruskan apa yang pernah dia katakan kepada Jenni.
"Sama saja, itu artinya jika aku sudah bersikap baik pada Lordmu ini, kalian tidak akan menyakiti Robert, lalu sekarang ini apa?" Pekik
Jenni kembali. Dia terus saja menganggap bahwa Kevin telah berjanji seperti itu kepadanya.
"Kevin!" panggil Arvan lagi, namun kali ini dengan nada yang sedikit menahan emosi.
'Sial! Pasanaan suami istri ini benar β benar sangat merepotkanku, terutama istrinya yang selalu saja menempatkanku di dalan masalah yang sulit,' batin Kevin, yang merasa terjepit dengan posisi ini.
Dia mengira jika Arvan saat ini sudah termakan dengan omong kosong istrinya itu.
"l β iya Lord, saya di sini," sahut Kevin dengan gugup.
"Bawa istriku ke kamarnya sekarang!" Perintah Arvan pada Kevin.
Dia tidak mau jika saat ini perkerjaanya untuk memberikan pelajaraan pada Robert, harus tergangu karena keberadaan Jenni di sini. "Enggakβ Arvan enggak," Jenni menolak untuk kembali ke kamar.
Dengan perlahan Jenni menyingkirkan kepala Robert dari pangkuannya, dan secepat kilat dia berlari memeluk kaki suaminya.
"Aku mohon, jangan bunuh Robert, aku mohon," pinta Jenni pada suaminya.
Namun Arvan hanya diam saja, sembari menatap tajam ke arah Kevin yang terlihat tidak bergerak sama sekali di tempatnya.
Mendapatkan tatapan seperti ingin memakannya, Kevin langsung bergegas untuk menangkat tubuh Jenni agar segera ikut bersamanya.
"Tidak, Arvan, please, berjanjilah kepadaku." Pinta dengan sorot mata yang benar β benar memohon.
Akan tetapi Arvan sama sekali tidak meresponnya, sehingga Jenni akhirnya hanya pasrah saja ketika Kevin mulai meggendongnya dengan lembut.
"Akankah Arvan membunuh Robert?" tanya Jenni pada Kevin.
"Maaf Queen, saya tidak tahu," jawab Kevin singkat. Dia tidak ingin lagi salah bicara, karena dia tidak mau menjadi sasaran umpan untuk Jenni adukan kepada Arvan.
Jenni menatap wajah Kevin dengan lekatc dia sangat tahu jika pria ini sedang berbohong kepadanya.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Jenni menatap ke belakang.
Kevin menghentikan langkahnya, lalu dia menoleh sedikit ke belakang, melihat siapa yang tengah berada di sana. Namun Kevin sama sekali tidak melihat siapapun itu.
"Aku yakin kamu bisa membantuku, bisakah kamu membantuku?" tanya Jenni mengulangi pertanyaan itu.
Kevin menelan salivanya kasar, dia sana sekali tidak mengerti, dengan siapa Jenni berbicara saat ini.
"Iya, kamu tinggal masuk ke dalam ruangan suami aku dan hentikan perbuataan mereka," pinta Jenni dengan sangat memohon.
'Aku rasa Queenku sedang tidak waras,' batin Kevin, lalu mulai ingin melangkah kembali.
"Stop! Kevin Stop! Apakah kamu tidak melihat aku sedang berbicara dengan dia?" Jenni merasa marah dengan Kevin, ketika dirinya masih bicara dengan sosok itu, tetapi Kevin malah menghalanginya.
"Queen Jenni," lirih Kevin pelan, dia sama sekali tidak mengerti, siapa yang dimaksud dia oleh Jenni.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, untuk komen,Vote, like dan hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya Nanti mimin malas - malasan loh ya.
Oh ya, jangan lupa juga untuk mampir ke karya mimin yang Iainnya ya.
Terima Kasih ππ»