Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 6



🌹 **Happy Reading **🌹


Ke esokan harinya, seperti yang sudah di rencanakan oleh Arvan.


Hari ini dia membawa Jenni untuk kembali ke Mansionya.


Dia harus mengurung Jenni agar terus berada di sisinya selama yang dia inginkan, inilah yang di sebut Barter kehidupan.


Arvan yang membantu pengobatan Lola sahabat Jenni, meminta Jenni untuk menemaninya hari-harinya sebagai teman yang merangkap menjadi patner nafsunya.


"Kamu mau bawa aku kemana Tuan? Kita udah selesai melakukannya seperti perjanjian kita di awal Tuan, tolong tepatin janji Tuan, jangan seperti ini," tolak Jenni yang mencoba melepaskan gengaman tangan Arvan yang kini terus menariknya masuk ke dalam sebuah Mansion yang sangat-sangat mewah.


Arvan yang merasa kesal dengan penolakan dari Jenni, kali ini menampilkan wajah amarahnya. "Jenni, jangan lupa kamu sekarang adalah istriku! Jadi di mana aku tinggal di situ kamu berada, mengerti," bentaknya yang memperlihatkan taringnya pada Jenni yang selalu menolak dan memberontak pada dirinya.


Namun bukanya takut Jenni malah menampilkan tatapan permusuhan pada Arvan.


"Oh kamu yang merasa aku adalah istrimu, tapi aku tidak merasa tuh." jawabnya dengan santai yang semakin membuat Arvan bertambah kesal.


Buggggghhhhh praaannngggg Arvan menghancurkan barang-barang yang berada di dekatanya saat ini.


Dan langsung membuat Jenni menatap bingung terhadap apa yang di lakukan oleh Arvan saat ini.


"Oh my god, Tuan. Kamu ini gak bisa lihat ya barang sebagus ini kamu pecahkan," serunya sedih dan lebih mementingkan barang itu dari pada tangan Arvan yang terlihat menetaskan darah segar.


"Jenni," bentak Arvan yang mulai frustasi dengan sikap Istrinya yang benar-benar membuatnya hilang kesabaran.


"Apasih brisik tau," balas Jenni yang pusing dengan Arvan yang selalu berteriak-teriak kepadanya.


Lalu dia berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Arvan yang notabenya adalah penguasa dunia. "Apa sih kamu selalu teriak-teriak? Kamu gak tau apa kalo suara mu itu sudah kaya guntur," Kesalnya yang sudah tidak tahan mendengar suara suaminya yang bagaikan tornado.


Bahkan dia sampai lupa cara bicara tata kerama dengan lembut pada seseorang yang berderajat tinggi. Sudah tidak ada bahasa baku di antara mereka.


Arvan merasa bingung dengan apa yang di lakukan oleh Jenni saat ini, bukan karna dia merasa takut, namun karna dia merasa ini adalah hal pertama kali yang di dapatkan dari seoarang wanita selain dari Mira kekasihnya.


Tidak ada wanita yang berani mengangkat wajah tepat di hadapan dirinya, seperti apa yang du lakukan oleh Jenni saat ini.


Yang ada seluruh wanita akan menjaga tata krama dan attitudenya agar terlihat pantas untuk bersanding menjadi pendamping dirinya.


"Aku sudah gak perduli dengan apa pun yang mau kamu lakukan, yang penting kamu tidak boleh keluar dari Mansion ini tanpa izin dari ku, dan yang paling penting, jangan pernah kamu menyentuh atau merubah apa pun yang ada di Mansion ini, apa kamu mengerti," bentaknya pada Jenni dengan tegas.


Namun yang di ajakin bicara hanya berekspresi seperti mengejeknya, "Jenni jawab!!" Terus dan terus Arvan memberikan peringatan pada Jenni agar mengerti dan mendengar apa yang dia sampaikan ini.


"Aku gak perduli, serah kamu mau ngomong apa, aku gak perduli, mati aja sana kamu ke laut, dasar robot," balas Jenni yang sengaja menutupi rasa sakit hatinya pada Arvan saat ini.


Sebenarnya ini adalah pertama kalinya dia di perlakukan seperti ini, namun dia mencoba untuk meredamnya agar bisa membuat pria ini tidak begitu menindasnya.


Arvan yang merasa sudah cukup untuk menahan emosinya, kini langsung melangkah pergi meninggalkan Jenni yang saat ini masih berdiri dengan acuh.


"Dasar pria tidak punya hati," lirihnya sambil menatap kepergian Arvan yang sama sekali tidak memperdulikan kehadiranya.


Dan di saat tubuh Arvan sudah tidak terlihat lagi, kini Jenni terduduk lesu tak kuat menahan sakit di hatinya, air matanya kini luruh tanpa bisa di tahan lagi, "aaaaahhhhh kenapa Jenni harus terjebak dalam situasi seperti ini Tuhan, hisskk,,hisskk, sakit,, hati Jenni sakit," adunya depresi menahan sakit teramat di hatinya.


Dia merasa bingung bagaimana cara mengakhiri ini semua, dia tidak ada pilihan untuk terus bertahan, dia bukanlah orang bodoh yang tidak mengetahui siapa sosok suaminya ini, bahkan meskipun saat ini dia meminta kepada kakaknya untuk menjempunya, itu tidak akan menjamin jika Arvan akan melepaskanya, dan yang lebih parahanya jika Arvan merasa tersingung nantinya, maka perusahaan dan kerajaan bisnis keluarganya akan hancur tanpa tersisa, mengingat apa yang bisa di lakukan oleh pria yang saat ini sudah berstatus menjadi suaminya.


"Jenni harus bertahan, iya Jenni harus bertahan demi Lola,, demi kakak,hisskk,,hissk, kuatkan Jenni Tuhan, kuatkan Jenni Tuhan,, jangan tumbuhkan rasa di hati Jenni untuk pria yang tak memiliki hati sepertinya, Jenni tidak mau mencintainya," tangisnya dengan sedikit menyakinkan dirinya, jika ini hanyalah untuk sementara saja.


Pernikahaan ini hanyalah sementara bagi mereka, perikahaan ini hanyalah sebuah ikatan perjanjian atas kesembuhan Lola sabahatnya.


Jika saja bukan karna dirinya yang tidak mempunyai kebranian untuk kembali bersama dengan kakaknya, dia pasti tidak akan memilih jalan seperti ini.


Terlebih lagi dia yang merasa tertipu dengan perjanjian yang tidak sesuai di awal, bahkan jika dia membantah pun saat ini tidak ada masalah, karna dia merasa tidak pernah menandatangai surat perjanjian pra nikah bersama dengan Arvan.


Bahkan seingatnya kemarin dia hanya menandatangani surat pernikahaan dan tidak ada surat perjanjian pernikahaan kontrak di dalamnya.


"Apa yang sebenarnya kamu harapakan dari pernikahaan paksa ini?" lirihnya pelan sambil mengahapus air matanya perlahan.


"Kamu kuat Jenni, kamu kuat." Yakinya dengan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengehelanya dengan kasar. Lalu mencoba memaksa senyumnya agar tetap bisa menghiasi wajahnya yang meskipun rasa sakit menggrogoti keyakinanya saat ini.


Jenni bangkit dari duduknya, dan kini mencoba melangkah mendekat ke arah bingkai foto kekasih suaminya.


Dia menatap dengan kagum kepada sosok yang mengisi ruang hati suaminya saat ini dan mungkin selamanya.


"Kamu cantik Nona, bahkan sangat cantik. Namun kamu mempunyai otak yang bodoh untuk berfikir, kamu melenyapkan dirimu tanpa memikirkan nasib dari orang yang kamu tinggalkan, bahkan kamu tidak akan menyangka jika pria yang kamu tinggalkan dulu, demi menahan dan tetap menyimpan rasa cinta sakaligus penyesalaan kepadamu, kini dengan tega menyakiti hati wanita lain." Lirihnya pelan memandang sendu ke arah foto Mira.


"Bagaimana jika kita berganti posisi Nona?" tanyanya pelan dengan sinis bagaikan orang tidak waras yang berbicara sendiri.


"Aku yakin kamu tidak akan bisa bertahan di posisiku, dan aku sangat-sangat yakin kamu tidak akan mungkin mampu merasakan sakitnya jika kamu menikah namun tidak bisa memilikinya, hahahha sungguh tragis bukan Nona," tawanya yang terdengar sangat menyedihkan bagi siapapun yang mendengarnya saat ini.


**Visual Mamah Jenniffer Emilio **



**To be continue. **


Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra