
Happy Reading Bestie π
Seluruh pengawal dan pelayan sudah mencari Arvan ke sekeliling Mansion, hanya saja tidak ada yang bisa menemukannya, bahkan security di depan mengatakan bahwa Arvan sudah keluar dari dua menit yang lalu, membuat Kevin dan pelayan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, karena merasa bahwa sikap Arvan tidak perduli Arvan pada Jenni ini sudah sangat β sangat keterlaluan.
"Tuan Kevin, Tuan Kevin, kita coba saja buka dengan kunci cadangan," ucap salah satu pelayan yang juga merasa panik jika ada suatu hal buruk yang terjadi pada Queen mereka, apa lagi mereka juga sempat mendengar jika Queen Jenni sedang hamil.
Kevin terdiam sejenak mendengar usul itu, bukannya dia bodoh dan tidak mau masuk ke dalam kamar utama, tetapi ini adalah sebuah peraturan, bahwa tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamar jika Jenni masih ada di dalam.
"Tuan, apakah Anda memikirkan tentang peraturan itu Tuan," sahut salah satu pengawal yang juga datang ingin membantu, dan Kevin tidak mau munafik untuk menjawab dengan anggukan kepalanya pelan. Dia tidak mau bersikap sok pemberani di saat seperti ini.
"Tuan, peraturan itu memang sangatlah mutlak dibuat oleh Lord Arvan, tetapi di dalam sana ada seorang wanita yang tidak lain adalah Queen kita, yang sampai detik ini kita sama sekali tidak tahu bagaimana keadaanya Tuan," ucap pengawal itu memberikan saran terbaik untuk pemimpinnya.
"Benar itu Tuan, saat ini bukannya kita semua mau melanggar, tetapi lebih baik kita memberontak dari pada kita harus disalahkan karena terlambat menyelamatkan Queen Jenni," sahut pelayan tadi.
Kevin mempertimbangkan baik β baik saran dari mereka semua, dan memang benar, untuk saat ini tugas mereka adalah menolong istri dari Lord mereka, tidak ada niat buruk sama sekali untuk melanggar peraturan atau apa pun.
"Baiklah, ayo kita coba saja," jawab Kevin final mengikuti saran dari teman β teman yang lainnya. Dan di sinilah mereka yang sedang berusaha membuka pintu kamar utama dengan kunci cadangan. Mereka semua sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh Arvan, bagi mereka lebih baik melihat dengan jelas terlebih dulu nasib dari Queen mereka, dari pada mereka harus mengingat kepada pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan pada sesama manusia terutama kepada istrinya sendiri.
"Queen Jenniβ Queenβ Queennn," teriak mereka mencari keberadaan Jenni yang tidak terlihat di kamar itu.
Sedangkan pelayan tadi yang melihat kedua pria turun dan masuk ke ruang utama kamar tersebut, Dengan samar β samar dia mendengar suara gemercik air yang ada di kamar mandi atas. Dan dengan perlahan dia ingin memastikan keberadaan Jenni di dalam sana.
Ckelekk pelayan tersebut membuka pintu kamar mandi dengan kasar, karena menurutnya, jika ada seseorang di dalam, pasti seseorang itu sudah teriak terlebih dulu sebelum dirinya benar β benar masuk, karena tidak mungkin suara bantingan pintu yang begitu keras Jenni tidak mendengarnya.
"Ahhhh Quennn Jenni," teriak pelayan itu, ketika melihat tubuh Jenni yang tidak sadarkan diri di dalam Bath up dengan badan yang juga mulai memucat.
Kevin beserta pengawal yang mendampinginya seketika langsung saling pandang untuk sejenak, seperti berkode dan menanyakan jika pendengaran mereka tidak salah lewat tatapan telepati mereka.
"Tuan Kevin," teriak pelayan tersebut dan sontak membuat kedua pria yang saling pandang tadi segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, pengawal tadi sepertinya sudah lebih dulu sadar dengan batasannya, Sehingga dirinya sudah lebih dulu menahan langkahnya sebelum Dia Masuk ke dalam kamar mandi dan melihat tubuh Queen β nya.
"Astaga Queen," seru Kevin, yang langsung mengambil langkah untuk menyelamatkan Jenni.
"Queen, kenapa bisa seperti ini ya Tuhan," isak Pelayan tadi yang kini juga mengikuti langkah Kevin untuk membantu Jenni keluar.
"Ehm, Bi, saya akan langsung membawa Queen ke kamar paviliun belakang," ucap Kevin, Yang sengaja menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pelayan yang sedang menangis itu.
"Ah, baik β baik Tuan, saya akan membawa pakaian ganti untuk Queen, dan -," Kalimatnya terhenti, ketika dirinya lupa tugas apa lagi yang harus dia kerjakan.
Kevin menghela nafasnya berat, lalu dia menoleh ke arah pengawal yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya. "Tugas kalian adalah rapikan semua barang β barang Queen Jenni, dan bawa semuanya ke Paviliun belakang, karena mulai saat ini Queen Jenni akan tinggal di Paviliun. Dan jangan lupa untuk kalian tidak menyentuh barang β barang milik Queen pertama Mira, apakah kalian mengerti?!" titah Kevin dengan ekspresi datar di wajahnya. Dia sudah begitu lelah dengan drama keluarga ini.
Mendapatkan kedua orang yang ada di hadapannya ini tidak bertanya apa pun, Kevin segera melanjutkan langkahnya untuk membawa Jenni pergi ke rumah barunya, dia tidak ingin berlama β lama berdiri, karena takut kondisi Jenni akan semakin parah nantinya.
"Kasian sekali Queen Jenni ya, sudah dipaksa untuk menerima pernikahan yang tidak dia inginkan, kehilangan sahabat terbaiknya, sekarang lagi suaminya sama sekali tidak memperdulikannya," lirih pelayan itu dengan nada yang sangat prihatin kepada nasib Queen β nya.
"Makanya ganteng dan kaya raya itu sama sekali tidak pernah menjamin sebuah kebahagian yang sebenarnya," sahut pengawal tadi yang secara tidak sengaja mendengar ucapan dari wanita paruh baya di sebelahnya.
"Ahh sudahlah, aku ingin segera membawakan Queen pakaian ganti, tugasmu sekarang adalah menelpon dokter dan juga panggil salah satu pelayan lagi untuk membantumu merapikan barang β barang milik Queen Jenni." Pelayan tadi berucap dengan tegas, karena dirinya memang lebih senior dari pada yang Iainnya, hingga dirinya berani memberikan perintah seperti itu.
"Baiklah," jawab mereka masing β masing
Final, dan segera mengerjakan pekerjaan mereka.
Sudah dua puluh menit berlalu, dan saat ini terlihat dokter yang juga sedang memeriksa keadaan Jenni.
Bahkan di antara mereka sudah terlihat Arvan yang baru saja datang setelah mendapatkan telpon dari Lucas.
Kenapa bisa Lucas? Karena sedari tadi Kevin yang menelpon Arvan sama sekali tidak ingin mengangkatnya, sehingga dirinya membutuhkan bantuan dari Bosnya Lucas untuk menghubungi si pria tak memiliki perasaan itu.
"Tekanan Darah Queen Jenni sangatlah tinggi saat ini, dan hal seperti ini tidak boleh dibiarkan terlalu berlarut, karena jika dibiarkan naik terus menerus, maka itu akan berakibat pecahnya pembulu darah yang akan menyebabkan struk, serangan jantung atau Bahkan kematian sekalipun, Lord," jelas dokter yang menggunakan tag name Bara itu.
"Maka dari itu saya -," kalimat Bara terhenti ketika dirinya mendapatkan sebuah tatapan tajam dari Arvan, yang seperti mengisyaratkan dia untuk berhenti memberikan penjelasan.
"Aku tidak perduli sama sekali dengan saran yang akan kamu berikan, karena saya di sini membayar kamu, untuk menyembuhkan istri saya dan memastikan dengan baik jika bayi yang ada di dalam kandungannya baik β baik saja, dan tidak sama sekali terpengaruh dengan tindakan istriku Yang terlihat sangat konyol." Arvan berucap dengan aura pemimpinnya. Membuat Bara, Kevin dan pelayan paruh baya yang masih berada di dalam sana, diam seketika tanpa bisa berkomentar apapun.
"Apakah kamu mengerti?!" tanyanya tegas pada Bara.
"l β iya Lord, saya akan mengobati Queen Jenni dengan sangat teliti." Jawab Bara dengan gugup.
"Bagus."
To Be Continue.
Hey, Teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiah untuk karya Mimin ya, agar, Mimin lebih semangat lagi untuk Updatenya.
Dan jangan lupa untuk Mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih ππ»**