
🌹 Happy Reading 🌹
Di sisi lain terlihat seorang pria yang sedang mengendarai mobilnya dengan melaju kencang.
"Aaaaarrrggghhh brengsekkk, sial,,sial,sial," teriaknya frustasi dengan situasi yang ada.
Dia merasa sudah selesai saat ini, Aiden tidak bisa menduga jika saat ini Unclenya ikut campur ke dalam urusan pribadinya.
"Gak berguna, aarrrggghhh, ini gak bisa di biarkan, gak bisa di biarkan, Briell milik ku, hanya milik ku, aarrrggghhh," Aiden benar-benar merasa frustasi, dia sama sekali tidak bisa menerima jika saat ini Briell menjadi milik orang lain.
"Aku gak perduli dia hamil atau tidak, yang jelas dia milik ku, Briell milik ku," yakinya tidak ingin mundur dalam peperangan ini.
Aiden benar-benar lepas kontrol saat ini, ketika dia mendapatkan kabar dari anak buahnya jika Unclenya datang dan membebaskan Alson yang selama ini di tawan olehnya.
Yang membuatnya mati langkah, di saat seluruh pergerakanya sudah di awasi oleh penguasa dunia yang tidak lain adalah pamanya sendiri.
Dan di saat dia tengah mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, tiba-tiba terlihat seorang wanita yang menyebrang di depanya.
"Aaarrrggghhhh," bbuuggghh," Aiden menabrak wanita itu dengan keras, meskipun dia sudah mencoba mengeremkan mobilnya, namun kecepetaannya tidak bisa di hentikan secara mendadak seperti itu.
"Shit! Ini cewek buta matanya gak liat jalan," kesalnya dan dengan malas keluar dari mobilnya untuk melihat keadaa wanita itu.
Dia melihat wanita yang tengah terduduk menangis kesakitan sambil memegang kakinya yang ketabrak oleh Aiden. "Cikh, merepotkan," ketusnya itu melihat ekspresi menyedihkan dari wanita itu.
Namun dia sadar jika ini adalah jalan raya, jika dia membiarkan dan meninggalkan wanita inu begitu saja, maka bisa jadi dia akan mendapatkan masalah yang membosakan nanti.
Dengan wajah yang malas dia menggendong wanita itu masuk ke dalam mobilnya, "kamu mau ngapain," bentak wanita itu yang tekejut mendapatkan pria menggendong dirinya dengan secara tiba-tiba.
"Diam! Jangan brisik! Atau saya lempar kamu ke kandang buaya," ancamnya dengan penuh nada bariton, membuat wanita itu langsung menutup mulutnya takut.
Aiden dengan cepat memasukan tubuh wanita itu masuk ke dalam mobilnya, dan membawanya ke rumah sakit miliknya untuk mendapatkan perawatan.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanyanya dengan ragu, takut menatap pada wajah Aiden yang terlihat sangat menyeramkan.
Aiden diam tak menjawab, dia memilih lebih baik tidak mendengarkan sama sekali apa yang wanita ini tanyakan. Dia terus melajukan mobilnya mengarah ke rumah sakit.
Selang waktu beberapa menit, mereka sudah sampai di halaman rumah sakit Madivron, Aiden menurunkan wanita itu dan menyerahkannya pada perawat yang berjaga.
Bahkan tanpa berbicara saja, seluruh perawat itu sudah mengerti apa yang di inginkan oleh anak pemilik rumah sakit itu.
"Tuan, kamu mau kemana Tuan, jangan tinggalkan saya di sini," Teriak wanita itu di saat melihat Aiden malah melangkah pergi tanpa berbicara sepatah kata pun denganya.
Melihat Pria yang mengantarnya tidak mengucapkan apa pun dan meninggalkanya seorang diri seperti ini, membuat wanita itu mendengus kesal dan menyumpah-nyumpahin sifat pria seprti Aiden.
"Ayo mbak, saya bisa bayar sendiri," ketusnya pada perawat yang memegang kursi roda yang dia pakai saat ini.
Dia kesal menanggap jika Aiden takut membayar tagihan rumah sakit, "dia yang tabrak dia yang kabur," keluhnya dengan menahan emosi di jiwanya.
*******
Kembali ke langit Barcelona.
Albert yang masih merasa kesal dengan kakaknya yang menurutnya berlebihan itu, kini dia sedikit merasakan ketenangan ketika melihat wajah damai istrinya yang sedang tertidur dengan pulas.
"Tumbuh yang pintar ya Caby, Papah dan Mamah sangat menyayangimu," lirihnya pelan sambil terus menerus mengelus perut Briell.
Briell yang merasakan jika ada yang memeluk tubuhnya, kini menggengam tangan suaminya yang berada di perutnya sambil tersenyum dengan puas. "Dia adalah bukti bahwa kita sudah saling mencintaikan," lirihnya pelan mempererat dekapan suaminya.
"Aku masih sedikit takut jika suatu saat kamu berpaling dari aku, apa lagi setelah kedatangan Alson sepeti ini, aku takut sayang, aku takut," lirihnya pelan mencurahkan segala rasa sakit dan khawatir di dalam dirinya.
Briell tidak menyalahkan suaminya jika sampai berfikir seperti itu, "aku tau kamu masih belum percaya sepenuhnya dengan perasaan ku ini, tapi yakinlah dengan Caby yang tumbuh di sini, dialah yang akan menjadi pemersatu kita selamanya,"
Albert tersenyum mendengar apa yang di sampaikan oleh istrinya ini. "Aku bukan belum percaya dengan perasaan kamu, tapi aku sadar jika gak semua yang ada di dalam diriku ini mampu bersanding denganmu."
"Tidak ada yang bisa menentukan pantas dan tidak pantasnya di antara kita, intinya sekarang kita jalanin semuanya, sekarang kita sudah memiliki Caby yang akan melengkapi hubungan kita ini, yakinlah jika nanti Cabylah yang akan mempermudah segala ujian cinta kita,"
Albert semakin tersenyum mendengar apa yang di katakan istrinya. "Terima kasih sayang, terima kasih karna kamu memilih untuk mencintaiku, aku bahagia," balasnya menciumi puncak kepala istrinya dengan sayang.
Namun di saat fokus Briell menyentuh tangan suaminya yang terlihat banyak darah.
"Sayang, ini kenapa?" tanyanya khawatir pada suaminya.
Albert teringat jika tadi dia habis menumbuk kaca hingga pecah, dia lupa untuk membersihkanya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan istrinya.
"Maaf sayang, tadi ada sedikit masalah," balasnya dengan tersenyum canggung dengan istrinya.
Briell menatap Albert dengan pandangan menyelidiki, "jujur atau gak aku tegur." pintanya dengan nada tegas.
"Sayang, kamu ingat kan perinsip hubungan kita, jangan menutupi apa pun, please jangan kecewakan aku," timpalnya lagi mengingatkan pada suaminya tentang sebuah arti kejujuran.
Albert terdiam sejenak, dia tau jika sebesar apa pun permasalahan yang dia hadapi, dia tetap harus menceritakan itu semua pada istrinya.
"Tadi Papah membawa dua tersangka yang membuat kehancuran di masa lalu, dan apa kamu tau sayang, jika ternyata sifat Psychopat yang ada di dalam diriku ini sama persis dengan yang Papah punya, terlihat Humble tapi menakutkan," ungkapnya jujur pada istrinya.
Briell menautkan kedua alisnya bingung. "Sayang, yang kamu maksud Papah juga Psychopat itu apa Papah Arvan ? Kamu yakin ?" tanyanya ingin memastikan jika pendengarnya tidak salah.
Karna seumur hidupnya, yang dia tau Arvan adalah orang yang paling memiliki sifat penyayang kepada sesama, tapi bagaimana bisa ?
Briell memutar bola matanya malas ketika mendapatkan jawaban dari apa yang dia pikirkan.
Dia mengelus perutnya dengan wajah menyedihkan. "Caby, nanti kalo lahir jangan seperti Papah dan dua kakekmu itu ya nak," keluhnya menyedihkan, mengingat jika keturunan mereka garis besar adalah Mafia dan Psychopat.
"Sayang kok gitu?" sahut Albert yang merasa jika istrinya ini mulai berlebihan.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra