
🌹 Happy Reading 🌹
Pada malam harinya, kini keluarga besar mereka sedang berkumpul bersama untuk melakukan makan malam bersama.
Albert keluar bersamaan dengan Briell, dia mencari sosok Papahnya. "Papah sma Uncle Jesper kemana Dad?" tanya Albert yang kini mencari sosok Arvan dan Unclenya yang tidak ada di meja makan.
Eden menoleh pada Albert dan Briell yang baru saja tiba di meja makan.
Mario menjawabnya dengan gedikan bahunya singkat sebagai jawaban yang acuh. "Tadi mereka bilang ada urusan yang sangat penting di Kota sebelah, besok akan kembali." jawab Eden yang melihat bahwa suaminya itu pasti memilih diam.
"Untuk apa kamu mencari yang tidak ada ? Kan di sini sudah ada Daddy yang akan membantu kalian mengurus Caby," balasnya dengan tersenyum kemenangan.
Merasa lebih unggul dari kedua pria tua yang lain, namun detik kemudian senyumnya berhenti di saat mendapatkan tatapan sinis dari istrinya.
"Kita besok harus pulang, kamu jangan lupa kalo ada Brio dan Brina di rumah yang juga anak-anak kamu." sindir Eden yang merasa kali ini Mario mulai berlebihan saat ini.
Dengan patuh Mario menanggukan kepalanya patuh. "Iyah sayang, kita pulang," jawabnya pasrah namun memandang ke arah Albert dan Briell agar mendapatkan pembelaan.
Namun Briell juga terlihat sedang berfikir saat ini. "Ehm, sepertinya Briell juga mau balik lagi ke Indo Dad, Briell masih suka tinggal di Indo di bandingkan di sini dan di rumah," izinya pada Mario, yang kali ini mungkin sudah merasa khawatir jika putrinya itu kembali ke Indo, karna saat ini negara itu sangat rawan untuk kedua pasangan ini.
Mario dan Eden menghela nafasnya kasar sambil menatap satu sama lain, "Briell tidak untuk saat ini ya, sekarang kamu hanya boleh di sini, di Mansion Papah, atau pun di Mansion Daddy," tegasnya menjawab permintaan putrinya.
Albert yang melihat istrinya itu menundukan kepala karna merasa kecewa dengan jawaban dari Daddny. "Sayang, kita di sini dulu aja ya, nanti baru kita pulang ke Mansion Daddy jika kandungan kamu sudah kuat." ucap Albert yang membujuk istrinya agar tidak merasa kecewa seperti itu.
Mario paham jika putrinya ini selalu akan seperti ini jika keinginanya di tolak oleh Daddynya.
Eden mengerti posisi Mario yang juga merasa khawatir pada putrinya, kini berusaha mendekap tubuh putrinya. "Briell sayang, maksud Daddy menolak keinginan kamu itu baik Nak, kamu pasti ingat dengan Aiden yang masih terus menggilakan, apa lagi jika dia sampai tau kamu mengandung saat ini, Mommy yakin pasti dia akan berbuat nekad kembali Briell." bujuk Eden yang mencoba memberikan pengertian pada putrinya yang saat ini pasti sedang merasa sensitif karna kehamilanya.
Briell menaikan pandanganya menatap pada Mommy dan Daddynya. "Dad, sekarang kan Papah Arvan bersama dengan kita, jadi Briell rasa gak mungkin jika Aiden berani untuk melenyapkan Caby atau pun suami Briell." balasnya yang kali ini mulai berani menggunakan nama Arvan di depan Mario.
Praaaannggg Mario memecahkan gelas kaca yang berada di gengamanya, yang membuat Eden dan Briell sontak terkejut hingga terasa sesak nafas.
Mario berdiri dari duduknya karna merasa tidak terima jika kali ini putrinya itu mulai lebih mengagungkan nama Arvan di bandingkan dirinya. "Briell cukup kamu ya, Daddy sudah bilang gak boleh itu ya berarti tidak boleh." bentaknya dengan menampilkan wajah emosinya.
Briell yang melihat kemarahan Mario itu, langsung berdiri melangkah menuju kamarnya tanpa mengeluarkan suara sama sekali, Albert juga tidak tinggal diam, dia ikut menyusul langkah istrinya, tanpa menyahut pada Mario.
Mereka berdua tau, jika suasana sedang seperti ini, maka lebih baik mereka diam dari pada kondisi semakin panas.
Begitu juga dengan Eden yang mengelus pundak Mario agar emosinya itu meredam.
"Sudahlah sayang, jangan seperti ini. Kamu tau jika putri kita sedang hamil tapi kenapa kamu membentaknya seperti itu? Kamu tau kan perasaanya itu sangat sensitif saat ini." seru Eden yang masih mengalami kesulitan mengendalikan emosi Mario meskipun pernikahaan mereka sudah terbilang lama.
"Sayang, kamu tau kan aku itu melarang karna banyaknya bahaya di luar sana, bukanya hanya Aiden tapi masih banyak bahaya yang kita tidak tau kapan musuh lama menyerang, cukup Eden, kita ini hidup bukan sebagai rakyat biasa, kita ini hidup di dalam lingkaran dunia terang dan gelap yang banyak mempunyai musuh, kamu ingat tidak beberapa pekan ini banyak yang mulai bermunculan menampakan dirinya." ucapnya frustasi, mengingat jika beberapa pekan ini adalah waktu-waktu terberatnya mengendalikan situasi yang kurang aman bagi keluarga mereka.
Eden mengerti apa yang di rasakan oleh Mario saat ini, beban berat dari masa lalu kini menopang pada pundaknya, dan harus di selesaikan secepatnya sebelum kelahiran Caby di antara mereka.
"Ya sudah, sabar jika kamu begini maka Briell akan lebih menyayangi Arvan dan Jesper kamu mau?" ancam Eden sebagai senjata mutlak untuk mengendalikan Mario saat ini.
Dan benar saja, Mario langsung tersadar dari emosinya, "oh iya ya," sadarnya namun kini kembali duduk di meja makan.
Mario yang tadinya emosi kini malah terkekeh melihat wajah istrinya yang lebih galak darinya, namun tetap terlihat cantik. "Bentar sayang, aku lapar." jawabnya dengan santai sambil terkekeh, seakan-akan dirinya lupa jika tadi dia sedang mengamuk.
Eden menepuk keningnya pusing melihat tingkah Mario ini, yang sudah ingin memiliki cucu namun masih saja bertingkah labil.
Bahkan saat ini dia terlihat sedang makan dengan tenang, tanpa mengingat jika anaknya pasti sedang marah denganya saat ini.
"Benar-benar pria yang menyebalkan." gumam Eden dengan pelan, yang juga ikut kembali duduk melanjutkan makan malam yang tertunda.
Sedangkan di dalam kamar, saat ini Briell terlihat sedang berbaring menggunakan paha suaminya sebagai bantal ternyamanya.
"Sayang, udah dong marahnya, Daddy pasti maksudnya baik kok, kamu jangan begini dong kasian Caby mommynya belum makan." bujuk Albert yang tidak tega jika istrinya terus menerus merajuk seperti ini.
"Aku gak mood Albert, mengertilah," balasnya yang kini memilih untuk memejamkan matanya, menahanan rasa kesal akibat bentakan yang di lontarkan Daddynya barusan.
"Sayang, aku tau kamu marah saat ini, kamu kecewa dengan keputusan Daddy, tapi apa kamu pikir jika Daddy akan melarang mu untuk kembali ke Indo tanpa sebab?" ucapnya pada Istrinya yang terlihat kembali membuka matanya, Briell ingin menyimak terlebih dahulu apa yang ingin di sampaikan oleh suaminya ini.
"Sayang, apa kamu memperhatikan wajah Daddy ketika kamu meminta untuk kembali ke Indo?" tanya Albert yang merasa jika saat ini para orang tua sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
Briell menggelengkan kepalanya perlahan, menjawan pertanyaan dari suaminya.
"Papah dan Uncle tidak mungkin pergi secara bersamaan dengan seperti itu, bukankah mereka tidak mempunyai hubungan bisnis? Lalu mengapa mereka pergi ke kota sebrang bersama?" seru Albert yang mulai merasa ada keganjalaan dalam hal ini.
Briell sontak terbangun dan memperbaiki posisinya, "Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan ?" tanya Briell to the point.
Dia merasa jika suaminya ini seperti menangkap suatu hal yang besar terjadi di antara keluarga ini.
"Aku belum bisa memastikanya sayang, namun entah mengapa perasaan aku megatakan jika setelah ini akan terjadi badai bencana yang sangat besar dari sebuah masa lalu yang belum usai." lirihnya yang tidak mengerti mengapa bisa berfikir seperti itu.
Namun perasaanya tidak bisa pernah di salahkan, dan dia harus bersiap melindungi anak dan istrinya apa pun yang akan terjadi di hari kedepanya nanti.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan Albert? Apakah kita harus bertanya langsung pada mereka?" Timpal Briell baru menyadari situasinya.
Dia tersadar jika Mario tidak pernah marah hingga seperti itu jika buka menyangkut masalah yang besar.
Albert langsung sigap memeluk tubuh Briell ya g kini juga mulai terlihat khawatir. "Kita tunggu Papah dan Uncle pulang dulu ya sayang, baru kita bisa memastikanya." balas Albert sambil mengusap lembut kepala istrinya agar tidak panik dalam hal yang belum pasti ini.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra