
Happy Reading
Arvan yang tengah duduk di dalam ruanganya, kini terkejut ketika mendengar laporan dari salah satu pelayan rumahnyw jika pintu kamar miliknya telah terbuka dan sepertinya Queen Jenni mereka telah kabur dari Mansion ini.
"Kemana Anki dan seluruh anak buahnya?" Pekik Arvan tidak menduga bahwa kali ini, anak buahnya yang paling senior itu akhirnya bisa gagal dalam menjalankan tugasnya.
"Maaf Lord, tetapi kami mendapatkan Tuan Anki sudah meninggal dunia tepat didepan pintu kamar Anda," lapor mereka lagi.
Braaaakkkk, Arvan menggebrak meja dengan sangat keras. Pikiranya benar - benar melayang jauh meningat jika pasti Robert yang berada di belakang ini semua.
Dengan nafas yang memburu, Arvan segera melangkahkan kakinya menuju kamar, dia ingin melihat seberapa pintarnya Robert sampai bisa masuk ke dalam Mansionya yang sudah jelas jelas mempunyai penjagaan ketat seperti ini.
"Aku salah menganggapnya lemah, Robery sama sekali tidak akan pernah aku ampunin," gumam Arvan, dengan tanganya yang terlihat mengepal menahan semua amarah yang berkecamukan dihatinya.
Arvan melihat ke arah seluruh anak buahnya yang terjatuh pingsan, lalu melihat ke arah jasad Anki yang sudah mulai membiru karena racun yang menjalar dan mematikan semua sarafnya. "Robertttt! Beraninya kau." Arvan benar benar tidak mengerti, kenapa Robert berani mengkhianatinya seperti ini? Padahal pria itu adalah satu - satunya orang kepercayaan Arvan di selama kehidupannya ini.
Namun, sekarang seperti dirinya sedang ditinggalkan oleh pilotnya, dia sama sekali merasa mati setengah dan tidak bisa menjalankan semua rencana yang ada.
Inilah yang sedang mereka rasakan, cinta segitiga, ketika dia yang mengetahui Robert selama ini tidak pernah mencintai siapapun, baru kali ini dia mendapatkan asistenya yang mendapatkan julukan Manusia robert itu akhirnya bisa jatuh cinta, namun kenapa mecintai istrinya? Kenapa mencintai ratunya? Seakan - akan tidak ada wanita lain di luar sana yang bisa dia cintai selain Jenni bekas dari Lordnya.
"Bawakan Laptopku ke sini sekarang, aku ingin melihat dan dengan cara apa Robert bisa kabur dari sini?" Perintahnya pada Delon, sekertaris pribadinya.
"Baik Lord," jawab Delon.
Arvan tadinya memang sengaja menanggil Depon ke Mansion, karena dia tahu jika sudah tidak akan ada Robert yang akan menuruti semua perintahnya.
Dan baginya juga mencari asisten baru itu bukanlah perkara muda seperti membalikkan telapak tangan, karena dia bukan Tuhan yang mampu menebak dan merasakan pemikiran manusia lain dalam waktu yang sekejap.
Arvan yang kini tengah duduk di depan laptop, dan memperhatikan seluruh gerak gerik Robert dengan kamera tersembunyi yang memang khusus dia pasang sendiri tanpa siapapun yang mengetahui lokasi itu.
"Robert, tadinya aku masih ingin memaafkan semua kesalahaan atas dosa pengkhianatan yang kamu berikan kepadaku."
"Tadinya aku berpikir, setelah kemarin aku memintamu untuk pergi, kamu benar - benar akan pergi dari Sisi kami."
"Tetapi ternyata aku salah besar, karena cintamu pada Jenni memang lebih kuat dibandingkan rasa menghargaimu kepada keluargaku.” Arvan menggelengkan kepalanya pelan, karena masih tidak percaya dengan semua yang Robert lakukaan saat ini.
"Sepertinya aku harus mengingatkanmu, bagaimana caranya keluargaku yang mengangkat derajat keluargamu pada saat dulu.” Kembali Arvan tersenyum kecut, mengingat apa yang harus dia berikan kepada Robert dan Jenni sebagai hukuman yang pantas untuk keduanya.
"Delon,” panggilnya pada sekertaris yang sedari tadi dengan setia berdiri dibelakangnya. "Ya Lord,” jawab Delon dengan menundukan kepalanya hormat.
"Tułup semua bandara, pelabuhan, stasiun, ataupun terminal yang ada di Negara ini maupun Negara tetangga!”
Sudah cukup Robert mempermainkaanya di dałam Mansionnya ini, karena iłu sudah seperti melempar kotoran di wajah miliknya. Dia harap kali ini, cepat atau lambat, Robert dan Jenni akan berhasil dia tangkap, dan pastinya keduanya akan menerima hukuman mereka masing - masing.
Sedangkan di Sisi lain, Robert yang memang lebih dulu sudah merencanakan kepergiaanya, kini telah mengetahui bahwa semua akses jalan telah diblok oleh Lordnya iłu.
Namun, ini tidak membuat Robert kehabisan akal, karena sesuai dengan pasport yang dia buat menggunakan identitas orang lain yang telah meninggal. Robert sengaja menghitamkan tubuh mereka, agar benar - benar menyempurnakaan misinya kali ini.
"Engghhh,” leguhan Jenni, yang terdengar ditelinga Robert.
"Yasinta, apakah dirimu sudah terbangun?” tanya Robert dengan suaranya yang sangat nyaring. Karena posisi mereka saat ini memanglah memakan taxi sebagai kendaraan umum.
Maka tidak mungkin Robert akan membongkar dan menggil nama mereka masing masing, karena Robert sangat tahu jika semua rakyat di Negara ini hanya mau tunduk dan patuh oleh printah Arvan iłu sendiri.
Jenni mengerutkan keningnya bingung, sembari mengingat - ingat apa yang sedang terjadi denganya sebelum ini.
Lalu dia kembali mengerjapkan pandanganya, dan melihat sosok pria yang begitu hitam dan menakutkan, "what?” Pekik Jenni, dan seketika langsung ditutup mulutnya oleh Robert. Karena dia takut malah Jenni sendirilah yang membongkar penyamaraan mereka.
"Yasinta, aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Robert lagi, namun kali ini dia sembari memeluk tubuh Jenni, sembari berbisik tentang semua rencanaya.
"Jangan pernah berteriak, atapun mengatakaan nama asli kamu! ltu tidak diperbolehkan" bisik Robert pada Jenni. Sembari mengusap punggung belakang milik Jenni.
Akhirnya Jenni mengerti tentang semua ini, karena tanpa mengatakan nama, ataupun memperkenalkaan dirinya, Jenni sudah sangat hafal dengan suara milik Robert.
"Ahhh, iya suamiku, kepalaku sangat pusing sekali, bisa - bisanya kamu memberikanku makan keju, padahal sudah jelas - jelas kita tidak bisa memakaanya," ucap Jenni, semakin mengarang cerita dengan bebas.
Robert nyaris tersenyum mendengar kalimat dari Jenni yang menurutnya terlalu dramatis, tetapi tidak apa - apa, karena itu akan semakin menunjang kebohongan admin mereka.
"Oohh, maaf istriku, karena aku tidak pernah membawamu makan di restoran istriku, itulah kenapa di saat aku mempunyai uang banyak, aku jadi ingin menghabiskaanya untukmu, istriku tercinta ini.
Sebenarnya Robert sangat merasa jijik sekali ketika dirinya berakting menjadi banyak bicara seperti ini.
Namun dirinya tidak mempunyai pilihan lain lagi, selain melakukaan ini, karena siaran radio bahkan banner tentang DPO ( Daftar Pencarian Orang ) yaitu mereka berdua, mau tidak mau Robert dan Jenni harus membuat karakter yang jauh berbeda dari seharusnya.
Jika diawal mereka adalah sosok yang tidak banyak berbicara, maka berbeda dengan sekarang, karena saat ini mereka akan dijuluki dengan manusia paling ribut sedunia.
To Be Continue.
Jangan lupa, Like, Komen, vote dan Hadiahnya ya teman - teman, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya Mimin yang lainnya ya. Terima Kasih.