Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 61



🌹 Happy Reading 🌹


Berbeda di sisi lain, saat ini terlihat ruangan yang tengah hancur berantak di saat mendengar kenyataan yang paling meyakitkan dari Asistenya Robert.


Dia yang begitu penasaran dengan kematian putra pertamannya. Langsung segera meminta Robert untuk mencari segala informasi tentang kematian putarnya itu.


Dan bertapq terkejutnya dia ketika mendapatkan berita tentang siapa dalang di balik kematian Alson.


"Aaahhhh brengsek, mengapa kamu yang membunuhnya, aaarrggghhhh." Teriaknya frustasi mendapatkan bahwa keponakannya lah yang membunuh putranya itu.


Dengan penuh emosi dia ingin segera sampai ke Indonesia saat ini. "Robertt," teriaknya memanggil Asisten andalanya.


Robert yang merasa namanya di panggil kini dengan segera melangkahkan kakinya, "Saya Lord," Sahutnya ketika sudah sampai di depan mata Tuanya itu.


Arvan menatap tajam ke arah Robert dengan menyiratkan kobaran api yang membara di matanya itu. "Siapkan pesawat tempur, aku mau segera sampai dengan cepat ke Indo saat ini, aku harus memberikan hukuman yang setimpal pada anak bodoh itu, aku akan memberitahunya bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita miliki." perintahnya dengan tegas, menandakan bahaya di setiap kalimatnya.


Robert yang mengerti itu kini mulai angkat bicara, "Lord, dia adalah keponakan Anda Lord, adik Anda Princess Shea tidak akan menerima jika Anda sampai melukai anaknya," balas Robert yang selalu memberikan peringatan pada Tuanya itu ketika hendak melakukan suatu hal yang di luar batasan.


Mendengar ucapan dari Robert, Arvan teringat akan adiknya yang begitu dia sayangi, dengan nafas yang memburu dia mengambil sebuah gelas kaca yang berisikan Wine Screaming Eagle Cabernet Sebuah Anggur Merah termahal di Dunia yang mempunyai harga sekitar Rp. 6,3 Miliar (1 botol).


Dia meminumnya dengan sangat kasar, dan detik selanjutnya dia menggengam gelas itu dengan sangat keras hingga hancur tak terisa bagaikan sebuah debu, bahkan dia tidak perduli dengan serpihan-serpihan kaca yang berada di tanganya saat ini.


"Ini semua harus di lakukan Robert,!" balasnya penuh keyakinan, bahkan dia sama sekali tidak perduli dengan adiknya yang pasti akan merasakan sakit hati akibat ulahnya ini.


Robert sangat memahami betul bagaimana Tuanya ini bertindak, dia akan mengambil langkah yang terbaik untuk semuanya, dan ini juga baik untuk memberikan pelajaran pada Aiden agar tidak sembarangan lagi menghilangkan nyawa manusia apa lagi itu adalah sepupunya sendiri.


"Robert, pastikan keamanan lengkap untuk putraku, jangan lepaskan pandangan kalian darinya hingga masalah ini selesai. Aku masih belum tau bagaimana kemampuan putraku yang satu ini, aku takut dia memiliki sifat seperti yang selalu menantang mautnya sendiri.


"Baik Lord, saya akan menghubungi Gina agar mengaktifkan seluruh perlindungan terhadap keluarga Mario yang tedapat putra anda di dalamnya." Sahut Robert dengan tegas.


"Bagus." Balas Arvan dan dengan segera bersiap untuk kembali ke Indonesia untuk memberikan pelajaran yang setimpal untuk keponakanya itu.


******


Sedangkan di sisi lain, setelah melakukan perjalanan 10 jam waktu tempuh karna menggunakan Jet pribadi. Kini terlihat keluarga Jonathan yang baru saja memasuki perkarang rumah keluarga Emelio.


Morgan yang saat ini terlihat sangat gugup tidak tau bagaimana harus bersikap, "sayang, aku kenapa gugup saat ini," bisiknya pelan pada istrinya yang saat ini tengah menggengam erat tanganya.


Briell tersenyum mengejek ke arah Morgan saat ini, "yaelah, keturuan sultan ternyata ya," godanya sambil menaikan turunkan alisnya, agar suaminya itu tidak merasa tegang lagi.


"Sayang kamu itu apaan sih," serunya yang membuat Briell tertawa mendengarnya.


Namun sikap keduanya sedari tadi sudah di perhatikan oleh Mario. "Kalian berdua jika tidak bisa serius, nanti Daddy lempar kalian ke hutan," ancamnya yang langsung membuat pasangan konyol itu berhenti seketika.


Dan kini mereka telah sampai ke depan pintu gerbang keluarga Emelio, "silahkan masuk Tuan," sapa Pelayan rumah itu dengan ramah.


"Terima kasih Bi," sahut Briell dan Eden yang memiliki jiwa kelembutan.


Bukan seperti kedua pria yang tidak tau diri ini, yang asal masuk nyelonong tanpa permisi ataupun berterima kasih kepada pelanyan yang sudah membukakan pintu pada mereka.


Ke empat orang itu duduk dengan tenang di ruang tamu, hingga akhirnya Jesper yang merupakan orang yang paling ingin di temui saat ini sudah keluar menampakan dirinya.


"Selamat datang Tuan Mario, di kediamana keluarga Emelio." sapa Jesper dengan sangat ramah, menyapa seluruh tamu yang datang.


Hingga tatapan matanya jatuh pada sosok pria yang sangat mirip dengan mendiang adiknya Jennifer, "'Morgan," lirihnya pelan mengingat nama keponakanya yang kemarin di sebuh oleh Arvan, ayahnya.


Morgan dan yang lainya terdiam mendengar Jesper yang baru pertama kali di temui itu, bisa mengetahui namanya. "Tuan anda bagaimana bisa tau jika nama saya Morgan?" tanyanya langsung to the point.


Pasalnya kedatangannya ini merupakan hal yang pertama kali dia lakukan, dia tidak pernah bertemu atau pun mengetahui jika Jesper adalah pamanya, lalu bagaimana bisa dia mengetahui namanya?


Jesper tersenyum melihat kebingungan di wajah keponakannya itu. Namu tak berselang lama dia langsung memeluk tubuh keponakanya yang sangat mirip dengan mendiang adik kesayanganya Jennifer.


"Albert, nama asli kamu adalah Albert nak, nama itu Ibu mu berikan sebelum dia mengehembuskan nafas terakhirnya, kamu putra kami yang hilang Albert, hisk,,hiskk Jenni sayang putra mu sudah ketemu," tangisnya di dalam pelukanya bersama dengan Morgan.


Sedangkan Morgan yang di peluk seperti itu, kini terdiam sesaat meminta jawaban dari istrinya apa yang harus dia lakukan sekarang, dan tatapanya itu di jawab anggukan kepala dari Briell yang menyetujui apa yang ada di dalam pikiran suaminya saat ini.


Mereka seakan-akan tengah bertelepati saat ini.


"Paman," tangis Morgan yang akhirnya membalas pelukan Jesper dengan begitu hangat.


Sungguh inilah yang di impikan Morgan sejak lama, dia sangat mendambakan sebuah pelukan hangat dari seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya. Meskipun hatinya tak bisa di bohongi, bahwa dia mengingkan pelukan hangat dari Ayahnya.


Namun saat ini bertemu dengan paman kandungnya yaitu Jesper saja itu sudah sangat-sangat membuatnya bahagia saat ini.


"Jennifer ibumu pasti akan bahagia di atas sana melihat kamu sudah kembali Nak, Ya Tuhan ini bagaikan Mimpi, anak yang sudah hilang 25 tahun ini, kini kembali kepelukan kami Tuhan, terima kasih,,terima kasih." Lirih Jesper pelan, benar-benar merasakan kebahagianya yang tak tau harus berkata apa lagi.


Setelah dia rasa cukup, kini Jesper melepaskan pelukanya itu, dan kini dia tersenyum sambil menggengam tangan Keponakanya itu, dan menariknya melangkah ke sebuah ruangan khusus.


Dan di ikuti oleh Briell beserta orang tuanya di belakang yang sedari tadi memilih diam, agar tidak menggangu proses pertemuan antara paman dan keponakan ini.


Jesper membawa Morgan masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya penuh dengan foto Jennifer dan juga Alson.


Hingga tatapanya jatuh kepada dua bingkai foto besar yang di mana itu adalah foto dari Ibu dan Kakaknya.


"Mereka-?" tanyanya pelan yang langsung mendapatkan anggukan dan sebuah senyum dari Jesper.


"Iya Nak, dia adalah ibu dan juga kakak kamu yang telah tiada," ucapnya jujur.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra


Mampir ke sebelah ya, cerita Arvan sudah mulai Mimin Publish, langsung cek Profil ya😘😘