
🌹 Happy Reading 🌹
"Papah," panggil Albert di saat Arvan mulai melangkahkan kakinya keluar.
Arvan menghentikan langkahnya ketika mendengar anaknya itu berteriak memanggilnya.
Dia sedikit menahan air matanya agar tidak keluar, sungguh dia sangat merasakan sakit ketika merasa tidak berguna sepert tadi.
Namun dia memang tidak mengerti itu alat apa? Bahkan bentuknya dia juga baru pertama kali ini melihatnya, lalu salah siapa jika dia tidak tau arti dari alat itu.
Albert yang berjalan melangkah mendekati Papahnya, kini langsung berdiri tepat di hadapan Arvan.
Bugggghhh, satu tinjuan keras Albert berikan kepada Papahnya sebagai balasan apa yang sudah dia lakukan selama ini.
"Aaarrggghhh," ringis Arvan ketika menahan sakit di perutnya.
"Albert," teriak Briell,Eden dan Mario yang terkejut melihat aksi yang di lakukan oleh Albert ini terhadap Papahnya.
"Boy, kenapa kamu pukul Papah?" tanyanya bingung, karna dia tidak merasa melakukan kesalahan namun kenapa Albert memukulnya.
"Papah mau keluar begitu saja tanpa mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada ku dan istriku," hardiknya kesal, dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri, yang tidak bisa mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan Papahnya.
"Selamat?" Lirihnya bingung apa yang di maksud selamat itu.
"Oh iya, selamat atas pernikahaan kalian berdua, kemarin Papah lupa untuk ngucapin ya," tandasnya pelan, merasa jadi orang paling bodoh saat ini.
Albert dan yang lain kini sama-sama saling mengusap keningnya pusing, bagaimana bisa Arvan di nobatkan pria dengan IQ paling tinggi di Dunia, sedangkan masalah seperti ini saja dia tidak mengerti.
Mario yang juga sudah kesal dengan tingkah bodoh besanya ini, akhirnya memilih mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah artikel baby di sana.
"Nih baca! Dan pahami !" titahnya dengan tegas memberikan ponselnya pada Arvan yang dari tadi berdiri seperti orang yang tak berguna tanpa ekspresi.
Arvan memperhatikan baik-baik vidio dan artikel itu, namun dia masih belum mengerti apa artinya. "Ini Baby, lalu apa hubunganya?" Timpalnya lagi, yang masih belum menemukan jawaban apa-apa.
Namun dia bertanya sambil terus menggeser layar ponsel Mario, dan pandanganya jatuh kepada satu gambar yang sama persis dengan apa yang tadi dia buang.
Arvan langsung melirik ke sekeliling, dan melihat alat itu berada di tangan putranya.
"Berikan Papah itu," pintanya kembali, untuk memastikan gambar alat itu, dengan alat yabg dia pegang, apakah ada kesamaanya atau tidak.
Dan dengan patuh Albert memberikan alat itu kepada Papahnya, "ini," ucapnya sambil menyodorkan alat itu kepada Arvan.
Arvan yang menerima alat itu, langsung mencocokanya dengan gambar artikel itu, dia bahkan sampai mencari beberapa gambar artikel lagi untuk meyakinkan jawaban yang mulai membuatnya tersenyum bahagia.
"Apa senyum-senyum?" sindiri Mario yang melihat senyum malu-malu bagaikan anak TK yang di tampilkan oleh wajah Arvan.
"Ini kan-" jawabnya dengan senyum yang lebar.
Albert yang mendengar itu langsung ingin menyahuti papahnya. "Iya Pah itu-" jawabnya terputus, di saat Mario menaikan satu jarinya agar Albert tidak meneruskan kata-katanya.
"Ini apa? Apa ?" bentak Mario yang kesal duluan melihat senyum tampang tak berdosa dari besanaya itu.
Namun bukanya menjawab dia langsung melangkah memeluk tubuh putranya yang kini sedang menatapnya dengan sendu.
"Selamat Nak, selamat," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Albert.
"Trima kasih Pah, terima kasih," tangisnya haru, merasakan sedikit penyesalaan tadi ketika dia membentak Papahnya karna sebuah kesalahpahaman.
Dia lupa jika Papahnya itu dulu juga pernah melakukan hal yang sama pada Mamahnya di saat Jenni memperlihatkan hasil test yang akhirnya di buang oleh Arvan karna tidak mengerti artinya.
"Lain kali jangan begitu ya Pah, jangan buat istri Albert jadi sedih." Pintanya bak anak balita yang meminta mainanya agar tidak di buang oleh Papahnya.
Arvan menganggukan kepalanya singkat mengiyakan apa yang di minta oleh putranya. "Iya Boy, Papah janji, Papah tidak akan bersikap bodoh seperti ini lagi." Sahut Arvan yang merasa tidak akan melakukan kesalahan sampai yang ketiga kalinya.
"Malam ini kita party ya," seru Eden yang tiba-tiba memberikan sebuah ide kepada semuanya, untuk menyambut kedatangan calon pewaris tahta kerjaan dunia.
Briell menganggukan kepalanya setuju, karna yang dia tau ketika Mommynya mengatakan Party, itu menandakan jika Eden akan masak banyak pada malam ini untuk makan mereka dan para pekerjaa yang lainya.
Sedangkan Mario kini kembali beralih kepada putrinya yang sedang berada di dalam pelukan suaminya. "Sayang Nak. Nanti kalian pergi cek up dokter kandunganya Daddy sama Mommy temanin ya." Pinta Mario yang juga tidak ingin ketinggalan dalam masa pertumbuhan caby itu.
Arvan langsung memandang sinis pada Mario yang di anggapnya selalu berada di bawah.
"Cikh, tak berguna. Apa untungnya kekuasaanmu itu ha." timpal Arvan yang merasa kali ini Mario lah yang paling bodoh.
Mario yang tidak terima dengan apa yang di lontarkan oleh besanya ini, kini balik menatapnya dengan tajam.
"Memangnya apa yang Anda bisa lakukan Lord Arvan yang terhormat?" tantang Mario yang juga ingin tau apa yang bisa di lakukan oleh Cabynya itu.
"Aku-" Jawabnya sombong.
Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Ada jarak beberapa saat sampai telpon itu di angkat oleh si penerima.
"Kumpulkan seluruh dokter kandungan terbaik di Eropa, dan bawa dia ke Spanyol dalam waktu 24 jam," Perintahnya mutlak tanpa bisa di bantah sama sekali.
Bahkan setelah mengatakan hal itu, dia langsung mematikan panggilan ponselnya, tanpa menunggu jawaban dari si penerima telpon itu.
Arvan langsung menampilkan wajah sombongnya pada Mario, sedangkan Albert dan Briell kini saling menatap bingung satu sama lain.
Dan dari tatapan itu Briell langsung tersenyum dengan rasa yang sangat puas. "Ternyata Suami aku sultan," Lirihnya pelan dengan sindirian yang langsung membuat Albert memutar bola matanya malas.
"Pah, ini terlalu berlebihan Pah, batalin sekarang! Albert mau Caby itu hidup biasa-bisa aja Pah, Albert gak mau dia dari dalam kandungan aja udah seperti itu," tolak Albert yang merasa bahwa kali ini Arvan mulai berlebihan menyikapi kehadiran Caby ini.
Mario yang mendengar itu, kali ini berada di pihak Arvan. "Oh tidak bisa, Caby kami harus terpenuhi apa pun yang dia inginkan nanti." balasa Mario yang kali ini satu server dengan Arvan.
Membuat Arvan menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang di katakan oleh Mario.
"Iya Nak, lagian harta kita semua ini mau kamu hamil minta seluruh dokter Dunia datang kesini juga tidak akan habis, maka biarkan lah Papah mengunakanya bersama dengan Caby-Caby yang lain nantinya." sahut Arvan yang kali ini merasakan sangat antusias sekali menanti kehadiaran calon pewarisnya.
"Oh god," Gumam Albert dan Briell bersamaan, merasa bahwa dua pria tua ini terlalu berlebihan.
"Sayang sepertinya aku ingin istirahat di kamar deh," keluh Briell yang pusing melihat tingkah Over dari para calon kakek ini.
Mario yang melihat putrinya ingin istirahat itu, langsung sigap menggendong putrinya . "Calon Mommy gak boleh capek sayang." lirihnya pelan memaksa anaknya itu untuk mau berada dalam gendonganya.
Arvan juga tidak ingin kalah, dia segera menelpon seseorang lagi untuk memenuhi keinginanya.
"Cepat bawakan aku Tandu," perintahnya yang langsung mendapatkan jitakan dari Eden.
"Tandu apa ? Kakak pikir anak aku sekarat ha? Benyaknya yang tidak terima jika anaknya sampai menggunakan Tandu.
"Oh maksud saya kursi roda, agar menantuku tidak letih berjalan." Ralatnya lagi memperbaiki kata-katanya.
Mario yang mendengar itu, malah menjadi kesal seketika. "Kamu pikir anak aku ini cacat, sampai harus pakai kursi roda iya ha?" bantahnya tidak terima dengan sikap Arvan.
Bahkan tanpa dia sadari jika Briell sudah turun dari gendonganya, dan mulai tutup telinga akibat pertengkaran dua Oppa ini.
"Oh godness," sahut Eden yang juga ikut sakit kepala melihat Oppa yang berantem akibat ingin mendapatkan perhatian dari cucunya itu.
"Udah Briell, Albert kalian masuk ke kamar ya, Mommy mau ke dapur siapkan party nanti malam." seru Eden yang memilih mengambil jalan tengah dalam masalah ini.
Pergi dan meninggalkan dua pria tua yang tidak tau aturan kekayaan ini.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra