
Happy Reading BESTie 😘
Dengan langkah tegasnya, Jesper berjalan keluar untuk menemui keluarga Enrique tersebut, dan betapa terkejutnya Jesper ketika melihat keluarga besar tersebut, membawa keluarga inti mereka, ada Dony Enrique, Selena Enrique, David dan Calista dan suaminya Jason serta anak — anaknya.
"Mau apa keluarga ini?" batin Jesper benar — benar merasa bingung.
Apa lagi kini tatapannya melihat begitu banyak bunga serta perhiasan dari berliam yang berkilau, membuat Jesper kini hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Selamat malam pak Dony, bu Selena," tegur Jesper dengan senyumnya yang begitu ramah.
"Selamat malam Jesper, maaf banget loh kami semua menganggu waktu kamu malam — malam seperti ini," balas Don't, yang diikuti senyum dari yang lainnya.
"Ahh, tidak apa — apa pak, maaf kalau saya terlalu lama keluar, karena saya tadi masih melakukan makan malam dulu bersama dengan adik saya," ucap Jesper dengan begitu sopan kepada mereka. Karena biar bagaimanapun, mereka ini adalah orang tua yang dulu begitu banyak membantu bisnis Emilio hingga sebesar sekarang.
"Calista, kamu apa kabar," sapa Jesper lagi, pada gadis cantik yang terlihat sedang menggendong anaknya.
"Aku baik kok," jawabnya sedikit canggung.
Calista ini merupakan anak pertama dari keluarga Enrique, dia juga merupakan mantan kekasih dari Jesper, namun hubungan mereka harus kandas karena kesibukan Jesper yang tidak bisa diganggu dan juga karena adanya Jenni yang terus saja mengambil perhatian dari kakaknya.
Namun sepertinya sekarang dia terlihat begitu bahagia dengan suaminya, mengurus dua anak yang begitu menggemaskan, membuat Jesper merasa sangat iri sekali melihatnya.
"Hallo Jason, Hallo David," sapanya lagi, kepada dua pria yang kini juga tersenyum ke arahnya.
"Ehh, silahkan duduk dulu yuk," ujar Jesper mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dahulu.
Lalu Jesper memanggil pelayan rumahnya untuk menyediakan minum dan juga makanan ringan untuk mereka semua.
"Oh iya, mohon maaf pak sebelumnya, ada apa masalah apa ya? Bapak sekeluarga tiba — tiba datang kemari dengan membawa keluarga besar?" tanya Jesper langsung to the point.
Dony tersenyum mendengar pertanyaan dari tuan rumah, karena memang dia menyadari jika kedatang mereka ke Mansio tersebut sangatlah tiba — tiba.
"Jadi begini Nak Jesper, saya memahami jika pasti kamu merasa sangat bingung dengan kedatangan kami kemari, karena saya sendiripun yakin, jika kami meminta izin terlebih dahulu,
"Kamu pasti tidak akan mengizinkannya," jawab Dony dengan ramah.
"Dan lagi pula, bukankah saya sudah pernah sempat beberapa kali bertanya kepada kamu, jika saya ingin main ke Mansionmu ini?" Sambung Dony lagi. Dan itu hanya membuat Jesper terkekeh mendengarnya.
"Ahh, saya lupa pak," jawabnya dengan begitu santai.
Dan obrolan mereka terhenti, ketika pelayan rumah tengah menghidangkan kepada mereka berbagai makanan ringan dan khas dari rumah mereka.
Sejenak, mereka membicarakan tentang bisnis mereka masing — masing, dan Dony juga terlihat memperkenalkan anak — anaknya serta kelebihan dari David serta Jason yang merupakan anak dan menantunya.
Dony sempat beberapa kali bertanya tentang bisnis yang dijalankan oleh Jesper, hingga keadaan keluarganya sendiri, terdengar canda tawa dari mereka semua, terutama Jesper, yang sebenarnya sangat merindukan suasana hangat bersama dengan keluarga besar, dan Dony memang kerap kali datang dan memberikan sedikit perhatiannya untuk Jesper, walaupun pria itu tidak jadi menikah dengan putrinya.
Tetapi perpisahan antara Jesper dan Calista, sama sekali tidak membuat hubungan keluarga mereka menjadi hancur ataupun renggang, Dony selalu saja bersikap dewasa, dan menganggap jika mereka memang bukan berjodoh.
Sampai kepada intinya, tiba — tiba suasana menjadi sangat hening, "oh iya, maaf pak Dony, bu Selena, maaf sekali jika saya lancang," ucap Jesper dengan penuh kesopanan.
"Sebenarnya saya ingin sekali, mengetahui niat Anda dan juga semua keluarga datang ke sini, apa lagi dengan membawa bunga dan perhiasan sebanyak itu." Jesper terkekeh pelan, sebenarnya dia bingung ingin bertanya dengan menggunakan kalimat apa? Sebenarnya dia juga merasa bahwa ini bukanlah haknya untuk bertanya, namun, karena kedatangan keluarga ini ke Mansionnya dengan membawa semua barang itu, maka itu membuat perasaan Jesper jadi merasa sedikit tergangu.
Dony menatap ke arah istrinya Selena sejenak, lalu dia mengalihkan tatapannya kepada David yang merupakan anak laki — lakinya, "sudahlah pah, mungkin ini memang saatnya kita bicara," sahut Calista, yang merasa jika papahnya hanya berkode — kode pada mamah dan adiknya. Benar — benar menunjukan sifat seperti laki — laki percundang, menurut Calista.
"Ehmmm, jadi begini nak Jesper, mungkin saja kamu pasti sudah menduga, bahwa kedatangan kita semua ke sini pasti ada niat dan tujuan tersendiri, apa lagi dengan membawa beberapa bucket bunga dan perhiasaan ini," kalimat Dony terhenti, ketika dia merasa gugup di saat dirinya ingin mengungkapkan hal ini.
Jika bisa dia katakan, hal ini adalah hal yang paling menegangkan ke dua empat kalinya yang dia lakukan sepanjang hidupnya dia.
Pertama ketika dia ingin melamar istrinya Selena, kedua ketika dia ingin mengucapkan janji suci bersama Selena, ketiga di saat dirinya mengantarkan putrinya Calista naik ke atas Altar pernikahaan, dan yang terakhir saat ini. Di saat dirinya ingin menyampaikan niat baik untuk putranya David.
Selena, Calista, Jason dan David, terlihat tersenyum bahagia, ketika papah mereka yang merupakan pimpinan di dalam keluarga mereka, telah mampu mengungkapkan tujuan niat baik mereka.
Bahkan Calista sendiri langsung menciiium pipi papahnya, karena merasa bangga ketika papahnya berhasil menaklukan rasa takutnya.
Namun, berbeda dengan Jesper, yang saat ini malah tertegun dengan niat mereka.
Dia tidak pernah menyangka jika saat ini ada seseorang yang berani melamar adiknya, padahal siapapun tahu, jika Jenni adalah perhiasan paling berharga untuk Jesper, dan tidak sembarangan orang bisa untuk memilikinya.
"Maksud pak Dony sekeluarga, ingin melamar adik saya Jennifer?" tanyanya ingin meyakini tujuan dari keluarga Enrique tersebut.
Dony kembali menggangukan kepalanya pelan, "bukankah, adik kamu hanya satu?!" Sindir Calista pasa Jesper.
Membuat pria itu tertawa renyah, ketika dia harus dihadapakan dengan wajah Calista yang memandangnya kesal.
Namun, di detik kemudian, Jesper kembali terdiam, dia tidak tahu respon apa yang akan dia berikan saat ini. Dia tidak tahu apakah dirinya harus menjawa iya atau tidak.
Melihat keraguan yang ada di wajah Jesper, Selana sebagai wanita yang memiliki beberapa anak, merasa paham jika pria itu pasti sedang merasa takut yang bercampurkan khawatir saat ini.
Selena akhirnya memilih untuk bangkit, dan berpindah duduk di sebelah Jesper, sebagai seorang ibu, dia ingin membuat Jesper bisa sedikit merasakan bahwa mereka saat ini bisa menjadi sebuah keluarga yang utuh.
"Jesper," panggil Selena pelan, dengan perlahan dia menyentuh tubuh pria yang telah dianggap seperti putranya sendiri itu.
Jesper menoleh sejenak menatap ke arahh Selena, lalu dia kembali menundukan kepalanya, dia merasa tidak enak dengan keluarga ini, karena dirinya harus bisa menjawab niat baik dari keluarga tersebut.
"Kak Jesper, saya akan berjanji, saya akan menyayangi Jenni dan mencintai Jenni dengan sepenuh hati saya Kak, saya berjanji jika setelah menikah, saya akan menyerahkan seleuruh kehidupan serta jika bisa saya akan menyerahkan nyawaku ini kak," David yang sedari tadi hanya diam, kini mulai bersuara, meyakinkan Calon kakak iparnya, jika dia sangat bersungguh - sungguh mencintai Jenni.
Karena memang itulah kenyataan yang sebenarnya, semenjak dirinya bertemu dengan wanita itu untuk pertama kalinya pada saat kunjungan James dan Eliza, yang merupakan orang tua dari Jasper dan Jenni pada saat itu ke kediaman mereka enam tahun yang lalu, membuat David benar — benar menjatuhkan hatinya pada gadis manja yang membuatnya begitu tertarik.
Awalnya Jenni adalah seorang gadis periang dan bahkan sangat cerewet, karena mereka dulu bersekolah di tempat yang sama.
Namun, semuanya berubah ketika James dan Eliza dikabarkan meninggal secara tragis karena kecelakaan tunggal yang terjadi ketika mereka baru saja pulang dari luar Kota, membuat Jenni mengalami depresi bertemu dengan orang banyak, sehingga membuat Jesper tidak mempunyai pilihan lain, selain mengurung Jenni dan juga meng Home schollingkannya, agar mengurangi intraksi dengan beberapa orang luar.
"Iya, lagian kamu sudah tahukan sifat aku seperti apa? Jadi masa kamu haru ragu lagi, ketika adikmu kamu lepaskan untuk berumah tangga bersama adikku?" Sahut Calista, yang semakin membuat Jesper berpikir, jika adiknya memang akan merasa aman jika menikah dengan David.
"Yang dikatakan oleh Calista itu benar Jesper," ucap Selana, yang kini mulai angkat bicara kepada pria yang sudah dianggap seperti anaknnya itu.
"Keluarga Emilio dan keluarga Enrique adalah keluarga yang sudah berdampingan semenjak kita semua ini belum lahir, dari nenek kalian kita semua pasti bersatu, sayang keturuan pertama mereka sesama laki — lakikan, Uncle Dony kamu dengan mendiang papah kamu James, itulah kenapa tidak ada yang melakukan perjodohan diantara mereka dulukan, karena tidak mungkin toh, laki — laki sama laki — laki, ntar kasihan dong jodoh mereka tante sama mamah kamu gak ada pasanganya, ya gak?," Selena berbicara dengan diiring dengan tawa yang membuat suasana sedikit mencair.
Mungkin memang benar apa yang sudah ditakdirkan kini bisa membuat Jesper tersadar, bahwa kasih lembut seorang ibu, pasti akan mampu mencairkan sebuah suasana yang dingin.
"Papah,Mamah, apa yang harus Jesper lakukan saat ini?" batin Jesper, merasa bersalah jika dia harus mengambil keputusanya sendiri.
"Lagian kamu tidak bisa membiarkan Jenni terus menerus terjebak dengan traumanya Jesper," ucap Calista lagi.
Dia begitu paham, apa yang sedang dirasakan oleh sang mantan kekasihnya itu.
Sedangkan Jason, sebenarnya merasa cemburu ketika istrinya Calista, masih saja seperti seorang wanita yang begitu perhatian dengan pria lain.
Namun dia harus meyakinkan dirinya, bahwa Calista melakukan ini semua, hanya demi kebahagiaan adiknya, karena dia sadar, jika kebahagian David hanya bersama dengan Jenni.
"Aku sangat paham apa yang sedang kamu rasakan saat ini Jesper, tetapi kamu sendiri sudah dewasa, kamu sendiri paham yang mana orang yang tulus dengan kamu dan Jenni, dan mana orang yang hanya memanfaatkan keluarga kamu," ujar Calista lagi.
"Keluargamu dengan keluargaku itu setara, meskipun bidang bisnis keluarga kita itu berbeda, kamu sendiri paham jika Mendiang om James dengan papah aku itu sahabatan, bahkan kamu lihat sendiri jika papah aku sampai bangkrut hanya karena dia terpuruk ketika mendapatkan kenyataan bahwa teman seperjuanganya meningga, kamu tidak lupa hal itukan?!" Calista mencoba mengingatkan kepada Jesper, bahwa saat ini keluarganya tidaj pernah berniat ingin memanfaatkan keadaan saja, atau memiliki niat lain.
Sontak saja ingatan Jesper, melampau di saat perusahaan keluarga Enrique dinyatakan bangkrut, karena pemiliknya yaitu Dony Enrique mengalami sebuah depresi, dan bahkan harus dirawat disebuah rumah sakit karena tekanan darahnya yang selalu saja rendah serta serangan jantung yang kerap kali menyerang, ketika ada rekan bisnis yang mengingatkannya lagi tentang kematian sahabat yang telah menjadi nafasnya.
"David mencintai Jenni, lama sebelum papah dan mamah kamu mengalami kejadian tragis itu Jesper, sayangnya rasa yang dia miliki harus terpendam karena kamu memilih untuk Menghome schooling untuk Jenni." Selena mencoba menjelaskan lagi semua perasaan putranya pada Jesper.
David hanya menundukan kepalanya pasrah, jika lamaranya kali ini harus ditolak oleh Jesper, dia sangat paham jika alasannya Jenni masih harus berusaha keluar dari traumanya.
"Anak saya ini, selalu saja menolak ketika kami mencoba untuk mengatur sebuah perjodohan untuknya, padahal gadis yang kami jodohkan, semuanya tidak kalah cantik dengan Jenni, tetapi mungkin saja namanya hati memang tidak akan pernah bisa dipaksakan, dan dengan tegas David selalu mengatakan jika hati dan pikirannya hanya akan di dedikasikan untuk Jenni, dan hanya Jenni saja," sambung Selena lagi.
Dia menatap putranya dengan tatapan yang begitu sendu, dia paham apa yang dirasakan putranya, ketika melihat Jesper sama sekali tidak meresepon ataupun mengatakan keputusannya.
Seperti sedang digantung, itulah yang dirasakan oleh David saat ini. Tetapi satu yang dapat dia banggakan, perasaan yang selama ini tidak mampu dia ungkapkan, saat ini walaupun dengan bantuan dari kedua orang tuanya, dia sudah berani mengakui sebuah perasaan cinta untuk wanita yang sangat ingin dia nikahi itu.
Dan ketika David terus menundukan kepalanya, dia merasakan bahwa saat ini Jesper tengah menatap ke arahnya, David mulai berusaha mengatur nafasnya yang sedari tadi terasa gugup, untuk berani mengangkat kepalanya, dan menatap wajah tampan milik Jesper tersebut.
Dengan penuh keyakinan David berani menatap mata Jesper. "Saya tahu kak, kakak pasti akan merasa ragu dengan saya, tetapi inilah sebuah kenyataan kak, saya mencintai Jenni, sangat — sangat mencintai wanita itu kak, saya siap menyerahkan nyawa saya untuknya, jika memang itu akan diperlukan," ucap David dengan Lugas.
Jesper mencari sebuah kebohongan daru tatapan mata pria itu, namun dia sama sekali tidak menemukannya, hingga dia akhirnya memilih untuk meminta sebuah waktu dari keluarga ini untuk memikirkan semuanya, dan terutama berdiskusi dengan adiknya terlebih dulu.
"Maaf pak, ibu, saya paham apa yang sedang kalian inginkan, dan sangat juga akan sangat merasa senang sekali, jika sampai Jenni adik saya menikah dengan David, karena saya sendiri sudah menganggap pak Dony dan ibu Selena, seperti orang tua saya sendiri, pengganti mamah dan papah yang sudah lama meninggalkan kami." Ucapnya terhenti, karena hatinya kembali tersayat, ketika harus mengingat kepergiaan orang tuanya dan membuat dirinya harus mengurus adiknya sendiri.
"Tetapi yang akan menikah dengan David nanti adalah Jenni, jadi saya mohon meminta waktunya hingga besok lusa, saya akan berkunjung ke kediaman kalian untuk membawa jawaban dari adik saya," sambungnya Iagi.
Dony, Selena dan sekeluarga paham, apa yang dimaksud Oleh Jesper, mereka semuapun akhirnya menyetujui permintaan waktu yang diajukan oleh Jesper, dan mereka sangat berharap jika keputusaan nanti adalah hasil yang terbaik.
To Be Continue.
Hallo Teman - Teman, jangan lupa ya, Untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin semakin semangat lagi untuk updatenya. Oh iya, cerita ini masih tahap Flash Back Masa Lalu antara Jenni dan David ya.
Dan jangan lupa juga untuk Mampir ke karya mimin yang lainnya ya. Terima Kasih.