
Warning !!
Yang gak sanggup bisa skip aja ya!!
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah beberapa saat menunggu kedatangan Vincent dan Martin, kini Morgan terlihat tersenyum bagaikan seoarang iblis yang menegerikan.
Saat ini seluruhnya sudah tidak berada di rumah sakit, dengan bantuan beberapa anak buah Mario tadi, Morgan membawa seluruh keluarga Terrence ke markas miliknya.
Dan setelah itu dia menyuruh anak buah dari Mertuanya itu pergi, karna dia ingin menylesaiakan ini semuanya sendiri tanpa bantuan mereka.
Seluruh keluarga Terrence saat ini memandang takut ke arah Morgan, anak yang dulu mudah dia siksa dan di perlakukan dengan buruk, namun selalu sabar.
Kini berubah menjadi seorang singa yang mengerikan. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu nak? Kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini?" Tangis Rose yang benar-benar takut melihat melihat putranya yang seperti ini.
"Adek biadab,lepaskan kami!! Ingat statusmu itu masih keluarga kami." Bentak Victor dengan amarah, yang membuat Morgan tertawa lepas mendengarnya.
"Hahahhahahah sebaiknya tutup mulut kalian sebelum aku meminta untuk membuka mulut kalian." Tegasnya tanpa ragu.
Tak lama kemudian muncullah Vincent dan Martin yang datang menggunakan pakaian lengkap mereka.
"Apakah kalian sudah mempersiapkan segalanya?"Tanya Morgan dengan tegas.
Vincent hanya menganggukan kepalanya singkat, menjawab pertanyaan bosnya itu. "Nih ganti dulu pakaianmu, biar gak bermasalah nantinya." Pinta Martin dengan memberikan sebuah bingkisan kepada Morgan.
"Baiklah, kalian urusin dulu mereka!" Titahnya pada kedua sahabatnya itu, lalu mengambil pakaian yang sudah di sediakan khusus pada misi mereka kali ini.
Sementara Morgan mengganti pakaianya, Martin dan Vincent kini menatap seluruh keluarga Terrence dengan tatapan mematikan.
"Hallo Om, Tante, udah siap bermain gak?" tanya Martin dengan bodoh.
"Hahahha, siap tidak siap mereka harus menerima akibat membangunkan naga yang sudah tidur bertahun-tahun ini." Sahut Vincent yang semakin membuat siapapun takut mendengarkanya.
Dan tak lama kemudian, Morgan keluar dengan baju anti api yang mereka ciptakan sendiri, karna permainan yang akan di mainkan kali ini akan sangat berbahaya pada siapapun.
"Are you ready?" tanya Morgan menatap semuanya dengan senyum.
Dan di balas dengan cepat oleh kedua sahabatnya. "Ready." Sahutnya yakin tanpa keraguan sedikitpun.
Morgan menatap kepada lima orang yang berada di hadapanya saat ini, "bawa wanita jalang itu terlebih dulu kepadaku!" Perintahnya pada Martin dan Vincent.
Dengan patuh keduanya menarik Clarissa secara paksa, "lepaskan aku, brengsek lepaskan aku," jeritnya ketakutan.
Sedangkan ke empat orang lainya, masih setia di ikat dan di tutup mulutnya agar tidak menggangu perkerjaan mereka.
Buggghhhh Clarissa di dudukan secara paksa di sebuah kursi yang di bawahnya terdapat sebuah bara api yang membara, "aaarrggh panass,,panass, tolong,,hisskk,,hissk ini sakit,, tolong saya, Morgan kenapa kamu tega seperti ini, hissk, sakit, aaarrrggghhh," jeritanya sudah tidak karuan menahan sakit yang teramat di punggung dan bokingnya.
"Hahahhahahah," tawa ketiganya yang sangat bahagia mendengar suara jeritan manusia yang meminta pertolongan kepadanya.
Plllaaakkk,,,plaaakkkk dua tamparan yang sangat-sangat keras di layangkan pada Clarissa sebagai balasan karna dia sudah berani menampar istrinya tadi.
Dan kini dia harus menerima sakit berkali-kali lipat dari yang tadi dia berikan pada Briell.
"Morgan, sadar kamu! Aku ini istri kakak kamu." Teriaknya tak sanggup menahan sakit di tubuhnya.
"Cikhh, ini baru di awal kakak ipar," balasnya dengan wajah iblisnya. Lalu dia mengambil tangan Clarissa yang tadi menampar istrinya.
"Lakban mulutnya agar tidak bersuara!" Titahnya tegas, agar aksinya ini lebih bisa di nikmati.
Dia mendekatkan wajahnya pada Clarissa yang terlihat menangis kesakitan, "tenang saja kakak ipar, kami tidak akan membunuh! Hanya kami ingin bermain-main saat ini." bisiknya pelan dengan senyum liciknya, membuat tubuh Clarissa kejang seketika.
Lalu dia beralih pada Vincent, "berikan kapak itu!" Pintanya agar bisa memulai aksinya.
"Paakkkk,,pakk,,paakk,paak,,pakk,paakk." Bunyi suara kapak memotong satu persatu jari tangan Clarissa dan terakhir pergelangan tanganya yang sudah berani menampar wajah istrinya.
"Ini akibat kamu berani menyentuh wajah istriku," ucapnya dengan sangat marah.
Apa yang bisa di lakukan Calrissa selain menangis sejadi-jadinya, karna sakit itu benar-benar luar biasa sekali dia rasakan saat ini.
Sreeeekkkkk Morgan menarik Lakban itu dengan keras, sehingga mengupas sedikit kulit wajah Clarissa. "Hissk,,hiskk ampun Morgan,,ampun,, kamu bunuh saja aku,, ini sungguh sakit," tangisnya benar-benar tidak sanggup lagi menahan semuanya.
Dengan senyuman liciknya Morgan menatapnya dengan tajam. "Siapa yang sudah menjebak ku di dalam kamar Apartemen ku pada saat itu?" Tanyanya pada Clarissa, sambil menerima sebuah tongkat besi yang sudah di panaskan terlebih dahulu. "Katakan siapa?" Bentaknya sekali lagi dengan tegas.
"Aa--aaaku tidak tau Morgan." Jawabnya bohong.
Dan tanpa basa-basi Martin langsung membuka paksa celana dan dalaman milik Clarissa dan memperlihatkan apomnya secara jelas.
Sedangkan Vincent kembali melakban mulut Calrissa agar tidak berteriak nantinya. "Sudah." seru Vincent memberikan kode pada Martin dan juga Morgan.
Setelah itu, Martin dan Vincent menarik paksa kedua kaki Clarissa sehingga terbuka dengan jelas gawang apomnya yang sudah cukup lebar itu. "Aaahheeehhmmm" jeritnya sekuat tenaga memberontak namun percuma.
Dengan perlahan tapi pasti, Morgan memasukan Besi panas itu ke dalam liang lahat apom milik Clarissa yang mungkin panjangnya sekitar 10cm itu, hingga masuk sempurna, hingga dirinya tidak sadarkan diri.
"Buang dia ke pembakaran, pastikan tidak meninggalkan jejak apapun." Perintahnya pada Vincent yang langsung membawa Clarissa yang masih setengah nyawa itu, dan melemparkanya ke api pembakaran yang sudah sejak tadi di sediakan untuk setiap korban dari Morgan.
Siapa pun tidak akan pernah menyangka jika Morgan mampu melakukan ini semua, karna selama ini dia hanya terlihat lemah dan cengeng, mungkin itulah sebabnya dia tidak mempunyai banyak teman dan juga keluarga menjauhinya.
Sehingga sedari kecil dirinya mengidap psychopat saja tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Jika di tanya bagaimana penyakit Psychopat itu bisa tumbuh di dalam diri Morgan, jawabanya adalah sebuah trauma masa kecil yang di ciptkan orang tuanya serta pola asuh yang salah terhadap dirinya.
Apakah penyakit ini bisa di sembuhkan dan di hilangkan dari dalam dirinya, jawabnya tentu tidak.
Karna penderita Psychopat sejati tidak akan pernah bisa di sembuhkan, karna tidak pernah ada penyebab khususnya.
Namun Morgan mampu meredam itu semua, agar tidak ada orang yang tau jika dia adalah seoarang Psychopay Kriminal tinggi.
Setelah melemparkan Clarissa di tempat pembakaran kini Morgan beralih kepada Trevor dan juga Rose secera bersamaan.
Mereka hanya mampu dia dan menuruti permintaan putranya itu, sungguh mereka tidak akan menyangka jika hari ini adalah nasib ajal mereka merasakan neraka di dunia.
"Katakan padaku siapa orang tua kandung ku! Tanyanya tidak ingin membuang-buang waktu saat ini.
Wajah Trevor berubah menjadi pucat pasi saat ini, dia tidak menyangka jika rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan kini terungkap ke permukaan dan akan membahakan hidupnya.
"Aaappa makasud kamu Nak." tanyanya gugup menjawab pertanyaan Morgan dengan sebuah pertanyaan juga.
Morgan yang merasakan jika bukanlah ini yang dia ingin dengar, langsung meminta sebuah cairan Soda api dari Vincent.
"Berikan itu !" Ucapnya mengulurkan tanganya menerima sebuah kaleng soda api yang sangat mematikan.
"Aku tanya sekali lagi sama kalian berdua! Siapa aku sebenarnya," tanyanya dengan tegas mencekik leher Rose dengan kuat.
"Aaarrrgghh,eehhakkk, Morgan," jerit Rose yang sudah tidak bisa melawan memberontak karna umurnya yang sudah tak lagi muda.
Tidak jauh dengan Clarissa tadi, dia hanya memangis dan menahan sakit di lehernya yang masih di cekik dengan sangat kuat saat ini.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra