
🌹 Happy Reading 🌹
setelah semuanya telah siap, kini Albert, Briell dengan di temani oleh 10 dokter terbaik serta 50 pengawal tengah terlihat berpamitan kepada orang tuanya.
Terlihat juga Arvan telah menyediakan 5 pesawat Jet yang akan mengantarkan mereka ke destinasi pantai paling indah di Negara Brazil di Ubatuba: Surfer.
Mereka mengganti destinasinya karna merasa di sana lebih bagus dan indah untuk di jadikan destinasi untuk Baby moon mereka.
"Hati-hati ya sayang, kalo ada apa-apa ingat kabarin kami semua," ucap Arvan yang memeluk tubuh putranya dengan erat bahkan sangat erat.
Albert tersenyum dengan bahagia membalas itu. "Pah, Albert gak bisa bernafas, uhukk,,uhuu," ucapnya bersandiwara seakan-akan dirinya sesak karna pelukan Papahnya.
Sontak Arvan yang mendapatkan putranya seperti itu langsung melepaskan pelukanya. "Maaf,,maaf heheh, cepat kembali ya Son," balasanya sambil memandang lembut wajah putranya.
Begitu juga dengan Mario dan Eden yanv terlihat memeluk tubuh Briell tanpa ingin di lepaskan. "Mom,Dad udah deh Briell perginya cuman beberapa hari saja kok, kalian semua itu kenapa ? Briell dan Albert akan baik-baik saja, percayalah," ucapnya yang mengerti jika orang tuanya ini sangat mengkhawatirkanya.
Mario benar-benar merasa kesal, karna dia ingin ikut bersama dengan menantu dan putrinya namun dia juga tidak bisa meninggalkan kedua anaknya yang lain.
"Sayang, aku ikut mereka ya, perasaan aku benar-benar gak tenang," ungkapnya yang merasa sangat gelisah.
Eden terlihat berfikir dan menatap ke arah Arvan dan Jenni. "Bolehkah kami menitipkan Brio dan Brina kak? Kami ingin ikut bersama dengan mereka," seru Eden dengan lembut berbicara dengan Arvan dan Jenni yang juga sedang menatap ke arah mereka.
Briell yang mengerti perasaan Daddy dan Mommynya, kini melirik sekilas ke arah Albert dan memberikan isyarat jika biarkan saja orang tuanya itu ikut.
Namun belum sempat Arvan menjawab, Mario sudah lebih dulu angkat bicara. "No sayang, kamu di sini saja ya, biar aku yang menemani mereka, lagian aku janji tidak akan menggangu liburan mereka," seru Mario yang menolak jika Eden ikut denganya ke Brazil.
"Tapi-" Ucapnya terputus ketika mendapatkan pelukan langsung dari Mario.
"Please sayang, aku hanya ingin memastikan jika mereka akan baik-baik saja," bisik Mario, yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Oh God, pertanda apa sebenarnya ini? Kenapa rasanya aneh sekali," batinya yang merasa lelah dengan perasaan gelisah ini.
Eden yang mengerti dengan sikap suaminya beberapa hari ini, akhirnya menganggukan kepalanya singkat.
"Baiklah, kamu boleh ikut bersama mereka. Tapi kamu harus pastikan jika mereka akan baik-baik saja." Pintanya dengan sangat pada suaminya.
Arvan yang melihat intraksi dari Mario dan Eden sebenarnya juga merasakan ada keganjilan, namun dia segera menepisnya demi kebahagiaan menantu dan putranya itu.
Berbeda dengan Jenni yang hanya diam saja menatap sendu ke arah wajah putranya.
Seakan-akan dia melihat se sosok yang sangat jauh sekali, namun dia masih bisa menyentuh raganya.
Karna tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Briell dan Albert langsung masuk ke dalam Jet pribadi mereka, sambil menunggu Mario selesai bersiap-siap.
Mereka terlihat duduk dengan nyaman di sofa pesawat itu dengan memandang ke arah luar.
Dan dengan sengaja Albert menyentuh jemari istrinya yang sudah terlihat pucat.
"Sayang. Tangan kamu dingin, kamu gak papah kan sayang," serunya sambil menyentuh kening Briell untuk memeriksa suhu badan istrinya.
Briell mengambil alih tangan suaminya yang sedang berada di wajahnya. "Aku gak papah kok, tangan kamu juga dingin kali, bukankah ini hal biasa ketika kita grogi untuk melakukan liburan ini." Balasnya dengan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
Albert tersenyum manis melihat tingkah istrinya yang selalu manja itu, dia langsung mengusap lembut perut istrinya yang sudah membulat sempurna.
"Hai Baby Griffin, are you ready to holiday son?" Tanyanya dengan terus mengelus perut itu.
Briell terkekeh mendengar pertanyaan dari suaminya itu. "Griffin always ready papah," jawab Briell dengan suara seimut mungkin.
"Aku juga sangat-sangat bahagia, karna kamu masih bisa sabar mengahadapi seluruh sifat kasar ku, aku beruntung terjebak malam itu bersamamu," balas Briell pelan menatap tulus ke dalam mata suaminya yang saat ini juga menatapnya dengan kelembutan.
"I Love You Gabriella Jonathan Manopo." Lirihnya pelan mengusap pipi merah istrinya.
"Love you to and More, Albert Emilio Manopo, papah dari Griffin Jonathan Manopo," balasnya yang langsung mendapatkan Lum**atan bibir dari suaminya.
Mereka menikmati masa-masa berdua mereka hingga lupa akan suasanaa di dalam pesawat.
Sangking mesranya, mereka tidak menyadari jika Mario sudah berada di dalam pesawat dan sedari tadi memperhatikan mereka.
"Teruslah bersama hingga kekal abadi nak," batinya yang terharu melihat cinta dari mata keduanya.
Kisah cinta yang berawal dari sebuah kesalahan fatal di malam itu, membuat mereka saling membenci dan menyakiti satu sama lain.
Sebuah kehidupan rumah tangga yang benar-benar hancur bagaikan nereka, di mana di dalamnya hanyalah ada sebuah pertengkaraan dan penghianaan yang di lontarkan dari keduanya.
Aksi saling sindirpun mereka lakukan, sampai bahaya orang ketiga mereka lewati dengan kejujuran dari keduanya masing-masing.
Hingga Tuhan mumbuhkan perasaan cinta di hati salah satu dari mereka, agar ke duanya tau bagaimana cara cinta memperjuangkan dengan tulus.
Walau di yakini sangat mustahil, namun mereka berhasil menyatukan cinta mereka.
Kebahagiaan yang tidak berhenti sampai di situ saja, karna lagi-lagi Tuhan mengirimkan berkat kepada mereka dengan hadirnya janin yang menjadi penyatu cinta mereka.
Cinta yang dulunya goyah tanpa keyakinan, namun sekarang berhasil berdiri tegak tanpa bisa di robohkan oleh apa pun.
Ini selalu mereka tekanan kepada kehidupan yang sekarang sedang di jalani.
Bahwa Takdir jodoh Tuhan tidak akan pernah salah dalam menempatkanya kembali kepada pemilknya.
Bagaikan kapal yang sedang berlayar di tengah laut lepas, mencari sumber mata angin yang bingung hendak membawanya kemana.
Namun tetap saja, sejauh apa pun dia berlayar pasti di dalam ujungnya dia akan kembali ke dermaga untuk bersandar.
Begitu juga dengan Albert dan Briell. Tidak perduli seburuk apa mereka di masa lalu dan berpindah-pindah hati dalam mencari cinta sejati.
Hingga akhirnya Tuhan mempertemukan mereka sebagai pasangan abadi yang tidak akan terpisahkan oleh apa pun itu.
Selalu ingat mereka ya teman-teman🥰🥰
To be continue.
Detik-detik Tamat gengs, jangan jadi pembaca gelap dong😭😭
*Sedekah ya sedekah **😭😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra