Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 66



🌹 Happy Reading 🌹


"Kenapa kamu membuatnya menangis?" tanya Daddy Mario yang tiba-tiba berdiri di depanya, bagaikan sebuah tameng yang menghadang jalan.


Albert kikuk di buat Mario saat ini, apa yang harus dia jawab, sedangkan dia saja bingung apa yang sedang terjadi. Dia menatap sendu ke arah mertuanya itu, "entalha Dad, aku juga gak mengerti, dia itu kenapa," Balas Albert yang juga bingung dengan apa yang di lakukan oleh Briell saat ini.


Mendengar jawaban yang begitu enteng dari menantunya ini, Mario langsung menjewer telinga Albert dengan keras, "adduuhhh Dad,sakit Dad," jeritan Albert di saat Mario menambahkan lagi kekuatanya.


"Gak tau, gak tau, dia nangis setelah berduan sama kamu, bilang lagi gak tau, Daddy sleding kamu baru tau rasa ya," seru Mario yang tidak mau jika anaknya ada kenapa-kenapa.


"Aduh Dad, Albert memang gak tau dia kenapa, seharian ini tuh Moodnya berubah-rubah udah kaya Bunglon, namum bedanya dia gak tepat pada sasaranya," balasnya yang sontak Mario terdiam mendengarnya.


"Jangan-jangan," sahut Mario yang langsung mengecek ponselnya untuk melihat Gogle.


Albert yang penasaran, akhirnya mengintip sedikit apa yang sedang di lihat oleh Mario.


Dan keduanya terkejut membaca artikel yang mengatakan jika hal ini mengarah kepada penyakit mental Bipolar atau kerasukan jin.


Mario dan Albert saling memandang satu sama lain, "ini harus segera di bersihkan, pasti ini dia kerasukan, kalo bipolar gak mungkin, karna dia bahagia-bahagia aja," Ucap Mario yang begitu percaya dengan hal seperti itu selama dia berada di Indonesia dulu.


Albert dengan patuh menganggukan kepalanya mengiyakan apa yang di katakan oleh mertuanya itu, "lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Dad?" tanyanya begitu khawatir jika istrinya itu dalam mara bahaya.


Mario sempat berfikir sejenak, untuk apa yang harus di lakukan pada orang yang sedang kesurupan. "Air garam," Ucap keduanya bersmaan karna merasa pernah membaca artikelnya.


"Ya kamu benar," sahut Mario yang segera menarik tangan menantunya untuk meminta air garam di dapur.


Namun tiba-tiba di perjalanan Mario seperti mau terjatuh. "Aduhhh," keluhnya di saat dirinya seperti ingin terjatuh.


Sontak Albert yang berada di belakangnya kini merasakan bulu kuduknya berdiri seketika, "daddy kenapa Dad? Jangan bikin takut dong," Ringisnya merasakan hawa-hawa yang tidak enak.


Mario yang melihat wajah ketakutan menantunya kali ini langsung memasang muka masamnya. "Cikhh, penakut. Daddy tadi kesandung kaki sendiri loh." jawabnya dengan santai, membuat Morgan merasakan malu sendiri.


Dan dengan gerakan cepat keduanya sama-sama ke dapur untuk mengambil air garam yang akan menyembuhkan Briell menurut mereka.


Setelah mendapatkanya, Mario dan Morgan langsung melangkah kembali ke dalam kamar yang di dalamnya terdapat Eden dan Briell.


Ckklleeekkk Mario membuka pintu itu dengan di ikuti Morgan di belakangnya.


"Sayang," tegur Mario di saat melihat sosok Eden yang juga berada di dalam kamar itu, bersebelahan dengan Briell yang sedang bermain ponselnya.


Eden yang mendengar panggilan dari suaminya, kini membalasnya dengan tersenyum ramah, "ada apa sayang?" tanyanya dengan lembut.


Dan tanpa basa-basi Mario memberikan air garam itu pada Briell, yang membuat putrinya itu bingung melihat Daddynya yang tiba-tiba memberikanya sebuah air minum.


"Ini minum dulu Briell," ucap Mario yang berdiri dengan sedikit membungkuk memberikan air minum itu.


Eden sontak juga merasa bingung dengan sikap suaminya, ini kali pertama Mario tiba-tiba memberikan sebuah air minum pada putrinya. "Ini air apa?" Tanya Eden yang mengambil air itu duluan, namun melihat warnanya agak sedikit butek, sehingga membuat Eden berfikir bahwa ini pasti ada campuran sesuatu di dalamnya.


Mario dan Albert kini saling menatap satu sama lainya, mereka bingung mau bilang apa, pasalnya dua wanita ini baru saja hidup dan megetahui Indonesia, namun tidak mengenal budayanya, dan pasti tidak akan tau tentang yang namanya kerasakuan itu apa.


Lalu dia membisikan sesuatu pada putrinya sambil mencubit sedikit paha Briell agar tidak ketahuan oleh Mario dan Albert, dan ya sontak Briell langsung menangis histeris, padahal baru saja dia senyum-senyum sambil bermain game ponselnya.


"Huaaawwwaa," tangisnya yang langsung membuat Albert khawatir di buatnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah yang begitu khawatir ketika melihat Briell yang menangis tiba-tiba.


Sambil sesegukan Briell menatap ke arah Mommynya, "aku,,aku,,aku pengen ketemu sama Sharul Khan," Lirihnya pelan, dengan sangat ragu dalam pengucapanya.


Sumpah demi apa pun, rasanya Briell ingin sekali melempar dirinya dari atas gedung, jika dia tidak mengatakan hal ini maka Mommynya akan mengabaikanya.


Mario dan Albert kini kembali saling menatap satu sama lainya mendengar permintaan dari Briell itu, "sayang, Are you okay?" tanya Albert lagi seperti biasanya, seakan-akan Briell lupa jika dirinya tadi sedang marah.


Mario kali ini memandang pada istrinya yang terlihat tersenyum bahagia dengan permintaan putrinya itu, Mario tidak mengenal siapa itu Sharul Khaan, tapi dia mengingat jika nama itu yang membuat dirinya tidur di kamar sebelah kemarin, akibat telah berani menolak permintaan bertemu dengan artis pujaan menurut Eden.


Merasa di tatap tajam oleh suaminya, Eden kini juga membalas tatapan itu lebih tajam lagi. "What? Kalo kamu tidak menurutinya, dia akan seperti ini terus lah, kan ini kerasukan Sharul Khan," kata Eden dengan sangat polos.


Membuat Mario sudah mengerti pasti ini hanyalah akal mulus dari istrinya sendiri, "Albert, cepat bawa istri kamu ke kamar kalian, Daddy sudah mau tidur,"ucapnya dengan tegas, jika ini hanyalah sebuah permainan omong kosong saja.


"Baik Dad," Jawabnya dengan patuh, lalu beralih pda istrinya yang telah berhenti menangis dan kembali bermain game ponselnya.


"Sayang ayo kita istirahat ya, seharian kamu gak ada tidur kan?" ajaknya dengan lembut, mengusap manja kepala istrinya.


Dan kali ini Briell kembali bersikap manja dengan mengalungkan tanganya pada leher Albert memintanya untuk menggendong ala anak Koala. "Sayang aku ngantuk," keluhnya tiba-tiba yang membuat Albert semakin gemas melihatnya.


Sedari tadi dia duduk tidak sedikitpun merasa ngantuk, lalu mengapa ketika berada di gendongan suaminya saat ini dia mulai merasakan ngantuk. "Iya sayang, setelah ini kita istirahat dan tidur." balasnya dengan sangat-sangat lembut, membuat Briell yang berada di dekapan gendonganya pun akhirnya tertidur dengan sendirinya.


"Sebenarnya kamu kenapa sih sayang? Aku merasa kamu benar-benar aneh saat ini? Apakah kamu benar kerasukan? Atau apa?" keluhnya memandang wajah damai istrinya yang tertidur saat ini.


Setelah sampai ke dalam kamar, Albert langsung menidurkan istrinya itu dengan perlahan di atas tempat tidur, dan mengecup singkat keningnya. "Have a nice dream honey." lirihnya pelan mengusap lembut pipi mulus istrinya.


Dan setelah itu dia menyelimuti tubuh Briell agar tidak kedinginan nantinya, dia sendiri yang memastikan jika istrinya itu tidur dengan nyaman serta suhu Ac yang standar, agar Briell tidak tergangu nantinya.


Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, kini dia kembali melangkah ke arah luar, menuju belakang Rumah itu yang terhubung langsung dengan pantai. Karna memang Jesper membangun rumah mewahnya itu di pesisir pantai seperti kesukaan Jenni yang selalu ingin bermain air.


Banyak yang minta visual lagi nih, jadi Mimin sedekah deh, amal woy 🥰🥰


Selingkuhan Mimin 😍



To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra