Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 15



Happy Reading


Sesampainya mereka di Brazil, Arvan langsung menggandeng tangan Jenni untuk masuk ke sebuah Vila Yang begitu mewah.


"Apakah ini juga Vilamu?"Tanya Jenni dengan wajah Yang datar.


Dengan cepat Arvan menganggukan kepalanya pelan, "iya, ini adalah salah satu Vila milikku," Jenni menatap wajah Arvan sebentar, lalu kembali menatap ke arah sekelilingnya.


Vila Yang begitu mewah, berbatasan dengan pantai Yang membuat pemandangan Vila jadi lebih mendamaikan.


"Jika sudah ada pantai, lalu kolam renang buat apa?" tanya Jenni bingung.


Namun Arvan hanya menjawabnya dengan mengedikan bahunya singkat. "Dasar," umpat Jenni, merasa bahwa suaminya ini sangat suka membangun hal - hal Yang sama sekali tidak penting.


"Vila ini adalah tempat favorite adik aku Shea, jadi kulitnya Arnon kekasihnya dia iłu tidak bisa bersentuhan dengan air asin, makanya aku membuatkannya kolam renang di sini, agar tidak marah melihat Shea Yang berenang di pantai," terang Arvan pada istrinya.


"Shea dan Arnon iłu saling mencintai ya?" Arvan kembali menganggukan kepalanya singkat.


"Mereka iłu sudah menjalin hubungan sepuluh tahun lamanya, tetapi mereka belum menikah karena keadaan Shea Yang sedang diasingkan."


"Cinta Yang mereka punya benar - benar sangat kuat, hingga tidak ada satu orangpun Yang bisa memisahkan mereka kecuali kematian," ungkap Arvan, mengingat betapa besar Yang ada di antara mereka.


"Beruntung banget ya Shea, bisa mencintai laki - laki Yang juga mencintai dia," lirih Jenni dengan pelan. Membuat Arvan langsung menoleh melihat wajah Jenni Yang berubah sendu.


Menyadari tatapan aneh suaminya, Jenni memilih untuk melangkahkan kakinya melihat - lihat ruangan Yang lainnya. Karena di dałam kondisi seperti dia sangat tidak ingin berdekatan dengan Arvan.


Karena semakin dia mendengar semua cerita Arvan Yang memuji cinta orang lain, maka dirinya akan semakin merasakan sesak Yang mendalam.


Entah sampai kapan dia harus menjalankan pernikahaan Yang seperti ini, jika di tanya kapan dia akan siap hamil? Maka jawabanya, tidak akan pernah siap.


Tetapi jika dia tidak akan pernah hamil, maka selamanya Arvan akan tetap mengurungnya seperti ini, apa Yang harus dia lakukaan sekarang? Dałam hati kecilnya, tidak mungkin dia akan rela jika anak Yang dia kandung, dia lahirkan lalu diambil begitu saja oleh Arvan.


Jenni juga sebenarnya tidak bisa menyangka sama sekali, bahwa kehidupannya Yang indah, kini terganti dengan sebuah kehidupan gelap tak berujung.


Saat ini Jenni sedang berjalan di pesisir pantai, menikmati indahnya suasana matahari terbenam. "Semoga saja kehidupanku suatu saat akan sepertl langlt saat ini, Yang terlihat mendung padahal bukan, Yang akan gelap dan menunggu waktu dia akan kembali terang," Jenni menatap matahari tersebut dengan rasa bahagianya. Hingga tanpa dia sadari, tiba - tiba ada tangan kekar Yang sedang memeluk tubuhnya.


"Ehh," Jenni terkejut menyadari pelukan itu.


"Tenang, ini aku suami kamu, kenapa kamu harus terkejut seperti itu? Bisik Arvan dengan lembut di telinga Jenni.


"Ahh, tidak, aku pikir tadi -"


"Robert?" Sahut Arvan memutuskan kalimat istrinya, seakan - akan dirinya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jenni.


"Kenapa harus membahas Robert?" tanya Jenni bingung.


"Karena kamu menyukainya." Jenni memutar bola matanya malas, sumpah demi apa pun, menurutnya Arvan saat ini sudah bersikap sangat berlebihan. Dia selalu saja mengungkit masalah Robert dan menuduhnya yang bukan - bukan.


"Aku ingin kamu hamil secepatnya," pinta Arvan dengan lebih mengeratkan pelukaanya di tubuh Jenni.


DEG


Mendengar hal itu, rasanya Jenni ingin menghilang dari muka bumi ini saia, baru saja sedari tadi dia berpikir tentang bagaimana nasibnya ketika hamil nanti, saat ini Arvan sudah memintanya untuk mengandung, entah jawaban apa yang saat ini bisa dia berikan pada suaminya.


"Ke - ke - kenapa tiba - tiba kamu meminta hal ini?" tanya Jenni dengan gugup.


"Kenapa? Maksud kamu apa? Aku adalah suami kamu, dan aku bebas meminta apapun dari kamu, termasuk anak Arvan sedang memperbaiki kalimat - kalimat dari Jenni.


Dan Arvan begitu yakin, jika semua ini pasti karena keberadaan cinta di hati Jenni untuk Robert.


"Aku akan menghilangkanmu Robert! Lihat saia," batin Arvan, menahan emosi yang nyaris memuncak.


Namun dia akan tetap bersabar, karena lagi pula saat ini mereka sedang berbulan madu bersama, akan begitu mudah jika Arvan membuat anaknya di sini, karena pasti tidak akan pernah ada yang.


Setelah menikmati keindahan matahari terbenam bersama, kini Arvan dan Jenni terlihat berjalan masuk ke dalam sambil bergandengan tangam "Kamu mau makan apa malam ini? Biar aku minta koki untuk memasakan makan spesial untuk kamu," ucap Arvan, sembari mengusap lembut puncak kepala milik istrinya.


"Kenapa kamu begitu perhatian denganku sekarang? Biasanya kamu sangat cuek bukan?" Sahut Jenni, yang merasakan perubahaan itu dari tingkah Arvan akhlr - akhir ini.


Arvan hanya tersenyum, lalu beralih untuk melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping milik Jenni. "Mungkin aku memang tidak bisa memberikan cintaku kepadamu, hanya saja, aku bisa menjadikan diriku sebagai suami yang paling terbaik di dunia inl untuk kamu. "Jenni tersenyum palsu menanggapi kalimat Arvan yang sangat terdengar seperti gurauan iblis.


Aku sangat tahu, jika kamu berubah dan ingin memberikan perhatianmu seperti ini kepadaku sekarang, itu karena kamu merasa khawatir jika perasaanku sudah beralih kepada Robert


Sudah terlambat jika saat ini kamu ingin merebut cinta itu Iagi, karena semakin kamu bersikap manis seperti ini, maka perasaanku kepada Robert akan semakin besar. Aku tidak ingin dimiliki tetapi tidak dicintai, aku hanya ingin merasakan apa itu kesempurnaan cinta, dan jika aku akan terus selalu bersamamu, maka selama itu juga aku harus merasakan sakitnya hidup menjadi istri yang tidak bisa memiliki ataupun mencintai suaminya sendiri." Jenni berkata di dalam hatinya dengan lirih, merasa hambar dengan hubungan yang tidak akan pernah ada rasa cinta.


"Heyy. kenapa kamu melamun? Apakah kamu tidak menyukai masakan koki di sini?" tanya Arvan, yang merasa khawatir jika istrinya akan merasa tidak nyaman.


Jenni menggelengkan kepalanya pelan lalu dia tersenyum tipise meyakinkan Arvan bahwa dia sedang merasa seperti biasa.


"Aku tidak apa - apa, hanya seperti biasanya saja," jawab Jenni dengan singkat.


"No,no. aku rasa kamu sedang gelisah saat ini, ada apa? Katakan saja kepadaku! Aku akan memberikan apapun yang kamu mau," balas Arvan dengan begitu penuh keyakinan.


"Ehm. benarkah?" Jenni sangat - sangat begitu ragu dengan ungkapan omong kosong pria yang berada dihadapannya


"Tentu saja, aku adalah seorang Master Lord, apapun keinginanku itu akan mudah terpenuh untuk siapapun," sahut Arvan. begitu percaya dirinya, mengungkapkan kenarsisan - nya di depan Jenni.


"Bagaimana jika aku membutuhkan cinta apakah kamu juga akan memberikaanya? Jika aku meminta kamu melupakan Mira, apakah kamu akan mengabulkannya? dika aku meminta untuk kamu menceraikanku, dan aku ingin bersama dengan Robert, apa kamu akan memberikannya? Tentu saja tidak bukan Master Lord Arvan yang terhormat." Sindir Jenni tidak ingin Iagi terlihat lemah. di depan seorang pria yang begitu berani mempermainkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


Cuuupp. Arvan mengeecup bibir Jenni dengan begitu lembut. tidak mau mendengar kalimat yang tidak pantas istrinya itu ucapkan, harus keluar dari Jenni.


"Aku perlu mengingatkan kamu sayang, bahwa jangan pernah melewati batas sikap yang sudah aku tentukan," irih Arvan, ketika bibir mereka sudah saling terpisah, lalu dia tersenyum bagaikan iblis yang siap memakan mangsanya.


"Aku akan memberiakan apa pun yang kamu mahu, tetapi aku rasa kamu sudah tahu bagaimana jalan pikiran aku, jadi apapun yang menurut kamu sangat mustahil aku lakukan, maka kamu jangan pernah memintanya, apa kamu mengerti?!" Jenni menganggukan kepalanya paham. Karena di saat Arvan sedang ada di dalam mode seperti ini, maka tidak akan pernah aman untuknya ketika memancing kemarahan suaminya.


"Kita itu berbeda Van. aku, kamu. Mira dan Robert, pasti akan memiliki cinta dan perasaan itu sendiri."


Dengan perasaan enggan untuk menjawab kalimat Jenni, tanpa basa basi Iagi, Arvan langsung melahap bibir Jenni dengan begitu ganasnya, tanpa memperdulikan pengawal ataupun pelayan yang berada di sana.


Namun, baik pelayan, koki, maupun pengawal. semua sudah paham akan apa yang terjadi selanjutnya, sehingga mereka semua memilih untuk keluar dan pergi ke belakang paviliun. tempat mereka tinggal.


Tidak akan pernah ada Salah satu dari mereka Yang berani untuk mengintip, melihat apa lagi Sampai merekam apa Yang sedang dilakukan oleh Lord dan Queen mereka di dalam, Yang jelas itu adalah seseuatu Yang mengasikan.


"Arvan kenapa kamu melakukannya di sini?• Tanya Jenni, ingin menolak perbuatan Arvan Yang ingin mengajaknya morena di atas meja makan.


Sttttt, Arvan meletakan jari telunjuknya tepat di mulut Jenni, membuat wanita itu terdiam dan hanya mengikuti saja apa kemauan dari suaminya.


Malam ini mereka habiskan waktu dengan bermorena bersama. Hingga para koki terpaksa harus membeli makanan di luar untuk menggantikan makan malam Lord mereka Yang tidak bisa mereka buat karena dapur Yang telah mereka gunakan sebagai tempat morena Yang tidak tahu tempat.


To Be Continue.


Jangan Lupa Like,Komen dan Hadianya ya, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Terima kasih.